
"Dear Aura. Aku tidak tahu harus mencari pekerjaan di mana. Hari ini aku akan membeli beberapa barang di warung yang kosong. Aku harap akan segera ada keajaiban dalam hidupku." Aku menekan tombol kirim pada pesan pribadi untuk Aura.
Aku bersiap mengendarai motor maticku yang sudah tua ini dengan membawa rombong di belakangnya. Aku mengenakan helm kemudian melaju dengan kecepatan lambat menuju toko grosir.
Tiba di sana, aku melepaskan helm. Mendengus kesal sebab karena helm itu hijabku tampak sedikit berantakan.
Aku turun dari motor. Bercermin pada kaca jendela mobil untuk membenarkan hijabku. Maklum, kaca spion motor aku gunakan untuk menggantung helm.
Saat sedang asik melihat bayanganku, kaca jendela itu tiba-tiba bergerak. Panik, aku menundukkan wajahku menyadari ada seseorang di dalam sana.
"Tidak apa-apa. Sudah cantik kok." Kata orang itu.
Deg!
Suara itu.
Aku mengangkat kepalaku, menatap lurus ke arah orang yang ada di dalam mobil.
PLAK!
Spontan tanganku bergerak menampar wajah di hadapanku. Hafizh!
Aku menggeleng, halusinasiku sudah tidak wajar. Aku mendengar suaranya dan melihat wajahnya di manapun. Sosok di hadapanku menatap syok padaku. Aku tidak peduli lalu kembali mengenakan helmku sembari bergumam.
"Sadar Isa! Sadar!" Ucapku lalu pergi menancap gas pergi dari sana. Aku pikir aku sudah tidak fokus lagi untuk berbelanja.
Aku menghentikan motorku di depan rumah. Kemudian masuk ke dalam kamar dengan langkah kesal. Duduk menyudut di tepi kasur, aku melihat tas ransel pemberian Hafizh yang tergeletak di atas meja belajar.
Benar, selama ini aku masih bertahan mengenakan tas itu. Menjauhinya bukan berarti aku tidak akan mengenakan barang yang masih dapat aku gunakan. Maklum, aku berhemat.
Aku memiringkan kepala, berpikir seorang diri. "Bagaimana jika saat itu benar-benar Hafizh? Apa dia mengenaliku dari belakang karena tas ini?" Gumamku seorang diri.
Aku membuka kembali riwayat percakapanku dengan Aura. Banyak hal yang telah aku ceritakan padanya. Mulai dari kesan pertamaku dengan Hafizh, bagaimana aku jatuh cinta, foto beberapa barang pemberian Hafizh pun tak luput aku ceritakan pada Aura.
Barang-barang itu seperti 2 koin seratus rupiah, peniti, permen 'Semangat', juga tas ini. Sejujurnya semuanya masih aku simpan rapi di kamarku.
Selain itu, aku juga mengirim fotoku hasil jepretan Hafizh juga foto kami berdua saat perpisahan.
"Aku terlalu malu untuk menyukai unggahan Hafizh, namun jauh dalam hatiku aku sangat-sangat menyukainya." Begitulah tulisku pada Aura saat itu.
"Apakah menurutmu itu benar Hafizh? Apa dia masih ingat seperti apa tas pemberiannya? Jika benar dia, kenapa Allah masih terus mempertemukan kami? Aku berharap Allah akan melumpuhkan ingatanku tentang dia bila kami tak ditakdirkan bersama di Dunia ini." Tulisku kini, Isa pada Aura.
Untuk saat ini, dia 'Aura' adalah sosok yang paling memahamiku. Sosok yang paling aku cintai, sosok yang akan selalu ada untukku dan memberikan aku kekuatan untuk aku, Isa.
Karena kita adalah satu, IsAura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Isa!" Leon memanggilku dari kejauhan. Dia berlari-lari kecil padaku lalu berhenti terengah-engah.
"Ada apa?"
"Aku dengar kau sedang perlu pekerjaan ya?"
"Iya." Aku menangguk cepat. "Bagaimana kau tahu?" Tanyaki penasaran, aku pikir aku belum pernah mengatakan ini pada siapapun di kampus.
"Oh, itu aku tidak sengaja melihatmu membuat beberapa lamaran." Jelasnya yang aku respon dengan anggukan paham.
"Aku tahu ada kedai yang mencari pegawai. Aku tidak tahu pasti berapa upahnya, tapi aku pikir tidak ada salahnya kau mencoba."
Mataku seketika berbinar. Tanpa sadar aku menakup kedua tangan Leon. "Beri tahu aku di mana. Aku siap. Aku akan coba!" Seruku bersemangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rasa terimakasih aku ucap berkali-kali pada Leon. Tanpa bantuannya, aku pikir aku sudah kelaparan saat ini. Aku tidak menduga, di dekat tempat aku tinggal ada sebuah kedai baru yang membutuhkan karyawan.
Meski jam bekerjanya agak menyiksaku, tapi setidaknya aku tetap bersyukur. Jam kerja di sini di mulai dari pukul 9 malam hingga subuh. Tidak ada pilihan lain bagiku. Aku harus kuat begadang sepanjang malam untuk bekerja mencukupi kebutuhanku seorang diri.
Jika aku mengambil waktu pagi atau sore, jam-jam tersebut bertabrakan dengan jadwal kuliah dan beberapa pertemuan himpunan mahasiswa yang aku jalani.
Jadi, aku pikir semua ini adalah pilihan yang tepat. Beruntungnya lagi, pemilik kedai ini sangat bermurah hati. Selain upah, dia juga memberikan makanan geratis untuk karyawan. Jadi, selama uang tabunganku menipis, setidaknya aku masih bisa makan enak di sini.
Beberapa hari sudah aku menjalani keseharianku sebagai karyawan di sini. Semuanya berjalan dengan baik, aku melakukan pekerjaanku dengan tulus dan bahagia.
"Terimakasih banyak ya Isa sudah bekerja dengan sangat keras di sini." Kata atasanku saat aku berpamitan pulang subuh ini.
Aku menggeleng. "Sudah kewajiban saya pak."
"Ah, ya sudah hati-hati di jalan ya!" Pesannya padaku yang ku jawab anggukan pasti.
Aku menaikki sepeda motorku, melajukannya menuju ke rumah kesayangan yang penuh dengan kenangan. Jarak dari rumah ke kedai tempatku bekerja tidaklah jauh, karena itu aku jarang menggunakan helm. Dingin, namun aku senang.
BRUK!
Entah apa yang terjadi, aku bingung ketika tiba-tiba motorku oleng. Aku terjatuh dari sana. Seseorang baru saja sengaja menendang motorku dengan kakinya, membuatku hilang kendali.
Aku merasakan sakit di kepalaku yang menghantam sisi trotoar. Untung tidak keras. Sosok itu mengenakan helm yang nyaris menutupi seluruh kepalanya.
Dia menyeretku ke tempat yang sepi. Aku berusaha berontak meski nyeri terasa di beberapa bagian tubuhku.
"Lepaskan!" Teriakku.
Sosok itu tidak peduli. Tidak memiliki belas kasih padaku. Dia membuka helmnya dan menyudutkan tubuhku pada semak-semak.
Dalam hatiku, cobaan apa lagi saat ini?
"Ayolah, jangan malu-malu. Buka saja hijabmu. Tidak usah sok berhijab. Wanita baik-baik mana yang pulang ke rumah di jam seperti ini." Godanya membuatku jijik.
"Cuih!" Aku meludahinya. Lalu menggigit tangannya yang semula bergerak membelai pipiku.
"Kurang ajar!"
PLAK!
Sosok biadab itu menampar pipiku. Panas dan nyeri terasa di sudut bibirku. Aku merasakan amis darah keluar dari sudut sana. Tangannya semakin beringas membuka hijabku, sementara tubuhnya menahanku dari atas. Aku mengatupkan kedua bibirku sembari menggeleng ke kanan dan ke kiri menghindari ciumannya.
"Diamlah ******!" Teriaknya saat aku berhasil mendorong tubuhnya menjauh dariku. Sayang, pergerakannya dua kali lebih cepat dariku. Dia kembali menarikku lalu menghantam sisi belakang kepalaku menggunakan helm miliknya.
Kepalaku terasa berat. Dalam hati aku menyebut, selamatkan aku Tuhan.
BRAK!
"Bajingan kau!" Samar-samar seseorang datang. Memberikan pukulan keras pada wajah laki-laki biadab itu. Tak tanggung-tanggung, orang itu kembali melayangkan pukulan menghantam wajah dan perutnya.
"Tolong! Tolong ak-" Pintaku lemas, pandanganku mulai kabur, tidak bisa menangkap dengan jelas sosok yang menolongku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Isa, kau sudah sadar?" Tanya seseorang padaku dengan suara beratnya.
Aku mengerjap. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, aku sadar aku sedang berada di rumah. Ya, di dalam kamarku yang nyaman. Aku bernafas lega, aku pikir aku hanya mimpi.
Aku bangkit dari posisi dan duduk bersandar pada dipan. Baru bergerak sedikit, aku merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhku.
"Aww.." Rintihku.
"Pelan-pelan." Seseorang membantuku duduk.
PLAK
Aku menamparnya. Memastikan ini bukan mimpi. Sosok itu menyentuh pipinya , menatapku dengan syok.
"A-Aku tidak melakukan apa-apa padamu. Aku membantumu. Sungguh. Jangan salah paham." Dia mengangkat kedua jarinya, bersumpah bahwa dia mengatakan yang sebenarnya.
Jemariku bergerak meraba wajahnya. Menyentuh sudut bibirnya yang terluka, sedikit lebam di pipi. Sakit. Pasti itu sakit.
Aku sadar, ini bukan mimpi atau halusinasi. Kenapa aku menambah luka dengan menamparnya?
Rambut gondrongnya di sisir ke belakang dengan sembarang. Sedikit berantakan namun tak mengurangi kharismanya yang kuat. Sorot mata yang aku rindukan.
Air mataku menetes. Tanpa sadar aku memeluknya erat. "Hafizh." Sebutku terisak.
Hafizh menurunkan tangannya. Membiarkan aku memeluknya erat, meluapkan piluku.
"Aku disini jangan takut." Ia meraih hijab yang sedari tadi tak terpasang sempurna. Sepertinya dia sempat memasangkan saat semula terlepas. Namun karena aku pingsan, cukup sulit baginya untuk memasangnya dengn benar.
Kini aku merapikan posisi hijabku setelah aku melepas pelukan dan duduk pada posisi sempurna.
"Ashana?" Tanyaku spontan.
Hafizh menyebikkan bibirnya. Dia menghela nafas. "Lupakan dia. Sejak kelulusan itu, aku tidak pernah berhubungan dengannya. Aku tidak tahu bagaimana dia sekarang."
Aku mengangguk pelan. Masih agak lemas.
"Lalu, bagaimana kau tahu aku di sana?" Tanyaku sembari mengusap mataku.
Dia sempat terlihat bingung bagaimana cara menjelaskannya padaku.
"Emm.. Ceritanya agak panjang." Lalu berakhir memilih menolak menceritakannya padaku sementara tangannya mengusap pipiku yang basah.