I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
TAMAT



Sejak kepergian Isaura, begitu banyak perubahan terjadi pada diri Hafizh. Dirinya terlalu terpukul dengan kepergian mendadak istri tercintanya itu.


Tiap malam dirinya terjaga. Seperti tidak bisa mengistirahatkan isi kepalanya. Dirinya tiada henti mengucap doa untuk Isa. Beriringan dengan itu, semakin kuat pula rasa bersalah Ashana bertambah. Merasa tidak seharusnya Ia di sini.


Bersandar pada dinding kamar, dari luar sana samar-samar Ia bisa mendengar percakapan dalam antara Leila dan Hafizh. Batinnya semakin perih.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara berat Hafizh menyadarkan Ashana untuk tidak terlalu larut dalam pemikirannya.


"Maaf, aku tidak sengaja mendengar." Jawabnya membenarkan posis berdiri. Hafizh tak menjawab.


Baru saja hedak melangkah, niatnya Ia urungkan saat Ashana melanjutkan kalimatnya.


"Maaf jika aku mungkin tidak bisa menjadi seperti Isa. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk Leila." Tuturnya dengan tulus. Suaranya terdengar begitu lembut, seperti sedang berupaya meluluhkan hati Hafizh.


Hafizh menundukkan kepalanya.


Menelan ludah, Hafizh buka suara.


"Isaura, dia mungkin bukan cinta pertamaku. Tapi aku pikir tidak akan ada orang yang mencintaiku sedalam dirinya." Katanya sembari tersenyum kecut.


Ashana sempat mengernyit untuk sepersekian detik setelah mendengar penuturan Hafizh.


"Melihatmu begitu mencintainya saat ini, Aku pikir dia cinta pertamamu. Terlebih lagi, kalian sangat dekat sejak dulu." Katanya tidak percaya.


Lagi-lagi Hafizh menarik salah satu sudut bibirnya. Tersenyum kecut mengingat mirisnya kehidupan percintaannya.


"Cinta pertamaku tidak pernah memiliki rasa padaku. Isa adalah cinta terakhirku, yang kemudian aku sadari bahwa aku begitu juga mencintainya." Lanjutnya.


Ashana mengangguk, "Beruntungnya."


Katanya dengan tersenyum tipis.


"Cinta pertamaku, aku pikir dia juga tidak pernah membalas perasaanku." Ashana memberikan jeda. Ragu, haruskah dia menceritakan pada Hafizh atau tidak.


"Emm jika aku boleh bercerita, dia orang yang selalu aku kagumi saat dulu di bangku sekolah. Aku sempat mencoba melupakannya. Tapi entah kenapa Tuhan kembali mempersatukan aku dan dia." Lanjutnya sedikit ragu. Pandangannya ia fokuskan pada Hafizh. Dalam dan penuh arti.


Dirinya seperti haus dengan reaksi apa yang akan diberikan Hafizh terhadap ceritanya.


Hafizh menoleh. Kedua alisnya nyaris bertautan, penasaran dengan siapa sosok yang dimaksud Ashana.


"Takdirku begitu lucu. Aku pikir jika aku bertemu dengannya lagi aku tidak akan jatuh cinta." Imbuhnya membuat Hafizh semakin bertanya-tanya.


Melihat rekasi Hafizh, Ashana semakin bersemangat untuk melanjutkan kalimatnya.


"Tapi nyatanya aku benar-benar bersamanya hingga saat ini. Emm.. Meski aku tahu dia tidak mungkin mencitaiku, tapi.." Kali ini suaranya terdengar agak ragu. Ia menunduk. Kalimatnya yang menggantung membuat Hafizh semakin penasaran apa yang dimaksud Ashana.


Ya, kata terakhir pada kalimat itu seolah-olah bergema di telinga dan kepala Hafizh.


"Apa kau bilang?" Tanyanya memastikan. Kali ini kerutan di dahi Hafizh semakin dalam, menandakan dirinya begitu bingung dan tidak percaya.


"Iya, Kau. Kau tidak salah dengar. Yang ku maksud adalah Kau. Hafizh" Tegas Ashana pada Hafizh mengulang kalimatnya.


Hafizh terdiam. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Semua terasa seperti tidak masuk akal. Ia kemudian menggeleng.


Bagaimana bisa apa yang dipikirkannya tentang hubungan itu selama ini adalah sebuah kesalahan. Kebenaran dari hal-hal yang sudah terjadi seperti seolah perlahan-lahan terungkap dengan sendirinya tanpa diminta.


"Tidak perlu menjawab. Lupakan semua ini, aku hanya ingin lebih lega mengatakannya. Belasan tahun memendam semua ini ternyata terasa tidak enak bagiku. Aku mungkin terdengar jahat. Tapi aku pikir ini adalah waktu yang tepat." Sambung Ashana semakin membuat Hafizh tercengang. Masih belum bisa mempercayai semua yang dikatakannya.


"Berikan tanganmu. Aku akan mengobatinya." Ashana berjalan mendekat. Sengaja mengalihkan topik.


Ia meraih tangan Hafizh yang terluka karena telah meninju banyak banyak benda tanpa dipikirkan itu juga dapat melukai punggung tangannya. Sementara Hafizh tidak bisa berkata-kata. Pandangannya masih fokus mengamati Ashana. Beribu-ribu pertanyaan seketika itu juga muncul di kepalanya.


Mengapa semua ini terjadi. Permainan semesta apa lagi ini? Semuanya membuatnya gila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Meski semua telah terucap, meski kebenaran telah terungkap namun semua masih tetap terasa canggung sejak percakapan itu terjadi. Hafizh memilih tetap bertahan untuk bersikap dingin. Hari demi hari mereka lalui tanpa ada hal romantis terjadi.


Bahkan ketika detik ini juga Ashana berdiri di sampingnya berbalut gaun cantik. Bersedia mendampinginya dalam acara peresmian cabang dari perusahaannya. Meski dirinya telah berdiri di depan banyak orang sebaHafizh memilih untuk tetap menjaga jarak. Hanya senyum manis yang ia berikan. Bukan sebuah perlakuan spesial seperti sepasang suami istri pada umumnya.


"Andai kau di sini. Aku akan merasa sempurna. Semua terasa sangat berbeda. Seperti apapun semesta mengujiku, dalam hatiku hanya ada dirimu. Meski semesta menulis dua nama sebagai belahan jiwa dalam takdirku, namun bagiku kau adalah satu-satunya. Tunggu aku Isaura."


Hafizh memotong pita sebagai tanda peresmian dibukanya cabang perusahaannya.


Sementara Ashana yang berada di sampingnya ikut tersenyum sembari bertepuk tangan. Raut wajah bahagia terpancar dari wajahnya.


"Sebuah hal yang membahagiakan bagiku ketika melihatnya tersenyum seperti ini. Namun, akan jauh lebih senang jika aku benar-benar berada dalam hatinya. Entah kapan ia akan luluh. Entah kapan Ia akan memandangku sebagai istri. Aku yakin, perlahan aku akan ada di dalam hatinya. Isaura, aku tidak tahu bagaimana aku harus membalas kebaikanmu. Tidak pernah ada yang menduga seperti apa takdir kita. Tidak pernah aku bayangkan aku akan di sini, seperti ini, dengan cara ini. Yang aku tahu, semua terjadi karena sebuah alasan. Semoga Allah selalu menjaga dirimu di sana. Jiwa yang suci, tenanglah bersamanya." Begitu batinnya dalam hati.


Leila berdiri dari kejauhan melihat kedekatan Ashana dan Papanya. Senyum terlihat dari keduanya. Seharusnya ini menjadi acara yang menyenangkan sebab selain melakukan peresmian, mereka juga bermaksud berlibur bersama.


Ada banyak orang di sini, namun bagi Leila ia merasa sepi. Bibirnya mengerucut, ia bosan.


"Mama bilang tidak ingin putra Mama Ashana kesepian. Tapi nyatanya Mama yang membuatku kesepian saat ini." Gerutunya seorang diri. Kepalanya ditundukkan sementara hatinya berharap sang Mama akan mendengarnya.


-TAMAT-


** Terimakasih banyak yang sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar, masukan dan saran akan sangat diterima untuk evaluasi author agar bisa lebih baik lagi nanti. Terimakasih ^_^