
(ASHANA POV)
Lama tidak berjumpa dengan Hafizh, aku menemukan sosok yang benar-benar aku harapkan. Ridwan.
Sosok yang ku sebut Belahan Jiwaku. Ridwan sosok yang tiada pernah meninggikan volume suaranya padaku meski aku melakukan kesalahan. Pria yang selalu berusaha menunjukkan bahwa dia akan selalu berada di sampingku meski tak seorangpun ada bersamaku.
Namun, cinta itu membutakan kami berdua. Kami terlena.
"Aku hamil Pak."
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku.Tidak, ini tidak seberapa sakit jika dibandingkan mendengar berita kepergian Ridwan.
Andai saja dia hanya pergi beberapa hari, beberapa bulan atau bahkan tahun, itu mungkin jauh lebih baik. Namun tidak dengan pergi meninggalkanku selamanya. Entah kemana lagi aku harus mencarinya, entah pada siapa lagi aku harus memintanya kembali.
Sosok yang menjadi kekuatanku untuk menjalani kehidupanku di saat-saat terendahku telah pergi. Bagaimana aku harus melanjutkan kehidupanku saat ini?
Aku tahu Tuhan begitu menyayanginya. Namun Tuhan begitu kejam padaku.
"Sekarang bagaimana dengan semua ini?! Calon suamimu pergi selamanya! Perempuan ******! Tidak bisa jaga diri! Sekarang bagaimana dengan anakmu! Ha?!" Sentak Bapak padaku.
Aku tidak menyalahkan, wajar saja dirinya menghinaku seperti ini. Semua benar kesalahanku.
"Ini kesalahan Ashana Pak. Ashana akan menjalani karma Ashana." Jawabku dengan menyentuh pipiku yang masih terasa panas.
"Mudah kau bicara! Tapi kita sebagai orang tua yang harus menanggung malu! Apa yang akan dikatakan keluarga bapak yang lain? Kerabat bapak? Tetangga? Ha?! Kau tahu kita ini keluarga terhormat! Tapi kau turunkan martabat kami dengan cara seperti ini. Tidak tahu diuntung!" Protes bapak padaku dengan leher berurat.
Bapak kembali mengangkat tangannya, hendak menamparku lagi namun diurungkan oleh Ibu.
"Pak sudah pak sudah! Jangan memukulinya terus. Tidak ada gunanya pak. Semua sudah terjadi. Kalau terus kau pukuli bisa-bisa anakmu ikut mati. Jangan berani lakukan itu, langkahku dulu mayatku!" Ibu menggertak bapak, tak ingin putri semata wayangnya ini mati sia-sia.
Tidak ingin putri yang sudah dikandungnya selama sembilan bulan lamanya ini dilukai oleh sang suami.
Aku terdiam. Ikhlas jika aku harus mati detik ini juga. Aku pikir itu lebih baik, menebus dosaku pada bapak dan pergi bersama dengan Ridwan.
Bapak menghela nafas, mencoba menahan amarahnya. "Bagaimanapun juga, kita harus tetap minta pertanggung jawaban. Laki-laki mana yang mau bertanggung jawab pada Ahsana jika begini?!"
Kami terdiam. Benar, pria mana yang bersedia menikahi wanita yang sedang mengandung dari benih pria lain? Tidak ada!
Bapak menoleh pada kami. Tersenyum licik, tampaknya dia memiliki ide bagus yang tentu akan merugikan orang lain namun menguntungkan dirinya. Ya, begitulah Bapak.
"Dia tidak hanya punya 1 putra kan?" Tanyanya dengan bibir tersungging.
Mendengar pertanyaan bapak, detik itu juga aku paham apa yang dia inginkan.
"Pak jangan pak! Ashana mohon, dia sudah punya Istri dan anak. Ashana tidak mungkin merusak rumah tangga mereka pak. Tidak mungkin Asha merebut kebahagiaan Isa. Ashana mohon, Asha tidak mau menjadi perempuan jahat." Aku menunduk, duduk bersimpuh memeluk kaki Bapak sembari menggelengkan kepala.
"Tidak mau menjadi perempuan jahat? Tidak mau menjadi perempuan tidak benar katamu? Cih! Telat." Bapak tersenyum kecut. Nada bicaranya santai namun aku bisa merasakan kebencian pada kalimatnya.
"Kau pikir kau bukan wanita biadab?! Kau sudah tidak punya harga diri!" Kini Bapak menekankan pernyataannya dengan nada tinggi. Matanya merah, penuh dengan emosi.
Ibu tidak mengatakan apapun. Dia menyadari putrinya salah. Tidak mungkin pula dia membelaku dengan membernarkan perbuatanku yang jelas-jelas salah.
Aku menundukkan kepalaku. Mataku bengkak, dipaksa nyaris tiap hari tetes demi tetes air mataku bercucuran dari sana.
Aku mencintai Ridwan. Hatiku dan pikiranku dimilikinya saat ini. Namun bagaimana pun juga, Hafizh adalah juga Cinta pertamaku. Cinta yang tak pernah terbalas. Dia tidak pernah menatapku ada.
Merutuki nasib, karma apa yang telah ku perbuat hingga Tuhan membiarkan aku mengalami hal seperti ini? Aku telah berusaha melupakan Hafizh. Lalu mengapa Tuhan mempersatukan kami kembali dengan cara seperti ini? Bukan cara seperti ini yang aku mau. Aku tidak ingin.
Bagaimana aku harus menebus dosa ini?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tibalah kami di kediaman Ridwan dan keluarga setelah acara Tahlilan 40 hari Ridwan usai.
Aku tidak memiliki nyali sedikitpun untuk mengangkat daguku dengan normal. Tidak sanggup memandang Hafizh, bahkan Isaura perempuan yang sangat bermurah hati itu kini mengusap bahuku. Dia memberiku ketenangan. Kami duduk berdampingan.
Tidak mampu membayangkan reaksinya setelah ini jika saja Bapak benar-benar akan menyampaikan ide gilanya di sini.
Rasanya aku sangat malu.
"Kalian tidak memikirkan bagaimana Ashana hampir kehilangan harapan hidup." Aku memalingkan wajah saat ibu Mengusap tangan dan pipi ku yang lebam.
Semua orang masih diam. Membiarkan bapak melanjutkan kalimatnya.
"Kami minta anak kami tetap dinikahi." Bapak menambahkan.
"Menikah?!" Orang tua Hafizh kini angkat bicara. Tentu saja mereka terkejut.
"Bapak sudah pak, ayo pulang. Maafkan kami om tante. Kami pamit." Aku mencoba menghentikan keinginan bapak. Tidak ingin membuat keributan, aku bangkit menarik tangan Bapak.
Sayangnya Bapak tidak mengindahkan keinginanku. Mengibaskan tanganku.
Diskusi panjang masih terus berlanjut. Aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana menghentikan bapak. Semua diperparah dengan tindakan tak terduga Ibu yang baru saja memohon pada Isaura.
Aku menggeleng. Tidak. Ibu tidak seharusnya seperti itu. Disisi lain, aku begitu kagum dengan sikap lembut Isa pada Ibuku.
Namun, tak lama kemudian aku dibuat terkejut dengan pernyataan Isa.
"Isa, akan berusaha ikhlas jika mas Hafizh juga bersedia menikahi Ashana."
Aku terkejut bukan kepalang. Tidak! Tidak seharusnya dia mengatakan itu. Kali ini aku mengatakan Isa sangat bodoh. Dia tidak harus menyenangkan tiap orang dengan membuatnya merugi seperti ini.
Aku menyanyangkan jawaban Isa. Tidak setuju dengannya. Pasalnya, pernikahan bukanlah pacaran yang bisa disambung lalu diputus dengan begitu mudahnya. Ini perihal bertaruh seumur hidup.
"Isa!" Hafizh menegur.
"Isa, tidak ingin anak Ashana seperti Isa waktu kecil. Isa tidak ingin Ashana merasakan apa yang ibu Isa pernah lalui. Tanpa suami, seorang diri. Itu tidak mudah."
"Sa, pikirkan yang matang sa. Aku tidak mungkin melakukan ini." Hafizh menimpali. Aku setuju dengan Hafizh.
Ingin aku menambahkan, namun entah mengapa bibirku kelu. Isa benar, aku tahu tentu tidak mudah jika aku harus seorang diri menghadapi semua ini.
"Isaura benar Fizh. Bagaimanapun ini adalah tanggung jawab kedua keluarga." Imbuh orang tua Hafizh.
"Bu! Tapi bukan Hafizh yang melakukan, kenapa Hafizh yang harus menanggung semuanya."
Dadaku seketika itu terasa begitu sakit mendengar kalimat Hafizh. Dia menjabarkan sebuah kebenaran yang membuat luka di hatiku.
"Hafizh!! Siapa yang mengajarkan kau berbicara angkuh di depan orang tua seperti ini?!"
Hafizh terdiam setelah Ayahnya menegur. Sementara itu, aku yakin sudah pasti mulai hari ini dia membenciku. Entah bagaimana aku harus membayar semua ini pada mereka. Aku pikir aku tidak akan pernah bisa membalas budi pada Hafizh, Leila dan tentunya pada Isaura.
Namun demikian, semua ini bukanlah keinginanku. Sungguh aku tidak pernah meminta atau bahkan merencanakan hal memilukan ini.