I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
PERNIKAHAN



Tibalah di hari itu. Hari penting dalam hidupku. Jika pada umumnya ini menjadi hari bahagia bagi kedua pengantin, tapi tidak dengan kami.


Tak ada sebuah senyum ceria terpancar dari kami berdua. Aku duduk bersanding dengan Hafizh. Bukan dengan sosok yang aku harapkan. Namun, memilih Hafizh sepertinya adalah satu-satunya jalan untukku.


Penghulu mengulurkan tangan ke arah Hafizh. Bisa aku rasakan dia tidak ingin menjabat tangan penghulu itu. Hafizh sempat menatap Isa yang duduk tak jauh dari kami berdua. Tatapan Hafizh dibalas sebuah senyum ikhlas oleh Isa. Ia lantas mengangguk singkat, mengisyaratkan agar suaminya itu melanjutkan akad.


Tidak memiliki pilihan lain, Hafizh lantas menjabat tangan sang penghulu meski penuh keraguan.


Janji suci terucap. Masih tidak ada seutas senyum bahagia di wajah Hafizh. Begitu juga Isa yang sedari tadi aku yakin dirinya memasang senyum palsu.


Aku yakin jauh dalam hatinya dia mengutuk diriku.


Agak ragu, aku mencium tangan Hafizh. Rasanya aku ingin menangis, seharusnya Ridwan yang ada di sini. Hatiku tetaplah milik Ridwan saat ini. Wajah Hafizh yang mirip dengan Ridwan membuatku semakin terenyuh.


Tidak ada sebuah kecupan kening seperti yang aku bayangkan dalam pernikahanku.


Semua ini terasa palsu. Mau menyalahkan, tapi tak ada yang bisa aku salahkan kecuali diriku sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku menghampiri Isa yang kini berdiri termenung menjauh dari keramaian.


"Sa." Panggilku padanya. Sang empunya menoleh. Dia tersenyum padaku.


Aku tidak mampu lagi membalas senyumnya. Berbicara dengan kepala tertunduk, itulah yang dapat aku lakukan saat ini.


"Maafkan aku. Aku janji, setelah anak ini lahir, aku akan bercerai dengan Hafizh." Janjiku pada Isa.


Dirinya merespon pernyataanku dengan terkejut, kemudian menggeleng.


Isa meraih kedua bahuku. "Sudah-sudah jangan pikir macam-macam ya." Jawabnya, tidak ingin mendengar kata cerai sebab kami baru saja mengucap janji suci pada Ilahi.


Hatiku semakin terenyuh mendengar pernyataan Isa. Bagaimana bisa aku bertemu dengan perempuan setegar dirinya. Tidak salah jika aku seringkali merasa iri dengannya sejak semasa sekolah. Karakternya yang begitu kuat dalam kondisi apapun membuatku merasa aku tidak akan pernah mampu menjadi seperti sosok Isaura.


"Aku sudah mengatakannya pada Hafizh. Dan Hafizh setuju kok." Imbuhku.


"Mas Hafizh setuju?" Raut wajah Isa tidak senang.


Aku mengangguk. Dengan mengatakan semua ini, aku berharap Isa tidak akan berpikir atau khawatir jika Hafizh akan membagi perhatiannya padaku.


Isa menghela nafas. Tampak tidak setuju dengan rencana kami berdua. "Sudah-sudah jangan pikirkan itu. Aku pamit pulang dulu ya, Leila rewel sepertinya dia lelah."


Pamitnya padaku setelah melihat Leila yang kini mulai tantrum. Leila tampak ingin bersama dengan Hafizh , namun Ayahnya tidak bisa ikut dengannya saat ini juga.


Isa, aku mengakui hatinya seputih salju. Dia berusaha kuat meski sejujurnya rapuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Acara pernikahan telah usai. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah tinggal bersama kedua orang tuaku dan selama di rumah suasana terasa begitu canggung.


Meski aku pernah menaruh hati pada Hafizh, namun rasanya tidak nyaman jika harus seperti saat ini. Sebab aku tahu, kami berdua tidak saling mencintai.


Aku meletakkan secangkir kopi untuk Hafizh. Sejak tadi dia hanya duduk diam di ruang tamu. Tidak mengatakan apapun.


"Maafkan aku." Kataku padanya, aku mengambil posisi duduk di sebelahnya.


"Ini salah kakakku." Jawabnya dingin, tidak sudi melirikku. Dalam keadaan seperti ini, aku sadar. Meski mereka memiliki wajah yang mirip, Hafizh tetaplah Hafizh dan Ridwan tetaplah Ridwan. Mereka berdua adalah sosok yang berbeda.


Hafizh seperti sosok yang kukenal pertama kali saat sekolah, dingin dan jarang berbicara denganku. Sementara Ridwan, dirinya selalu bersikap hangat padaku sejak pertama kali berjumpa bahkan dia lakukan setiap waktu.


Semula aku bertanya, mungkinkah aku menyukai Ridwan karena dirinya adalah versi pengertian dari Hafizh yang tidak bisa aku dapatkan sosok itu dari diri Hafizh itu sendiri?


Apakah aku mencintai Ridwan hanya karena dia mirip Hafizh atau justru karena aku luluh dengan sosok Ridwan sendiri yang memiliki karakter hangat padaku?


Begitu juga aku mempertanyakan alasan kenapa dulu aku menyukai Hafizh. Padahal dirinya begitu dingin padaku.


"Kau bisa pulang jika kau memang tidak nyaman. Aku baik-baik saja."


Kali ini penawaranku berhasil membuat Hafizh menoleh padaku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku mencuci wajahku bersiap untuk tidur. Rasa perih kembali datang padaku tiap kali aku mengingat apa yang aku korbankan hari ini.


Apakah aku sudah melakukan hal yang tepat? Apakah aku yakin aku mampu?


Aku menjatuhkan diriku berjongkok di dalam kamar mandi. Terisak seorang diri. Aku membungkam mulutku, meredam gema suaraku. Tidak ingin Leila atau mertuaku terbangun mendengar isak tangisku.


Tidak bisa mengelak, pernikahan itu benar-benar membuatku perih.


Ashana benar-benar menjadi rivalku sejak SMA. Entah hubungan apa yang kami miliki di kehidupan masa lalu hingga semesta menulis kisah kami seperti ini.


Aku menghentikan tangisku saat terdengar seseorang mengetuk pintu rumah. Aku membasuh wajahku, tidak ingin terlihat seperti usai menangis.


Meraih kerudungku, aku menghela nafas berusaha senormal mungkin lalu berjalan keluar kamar dan membuka pintu rumah.


Terbelalak, aku tidak percaya mendapati sosok yang kini berdiri di hadapanku dengan senyum bahagia.


"Hafizh?"


Seyumnya seketika itu memudar. "Kau habis menangis ya?" Hafizh menatapku cemas. Dia meraih pipiku, kemudian jemarinya bergerak mengusap pelupuk mata.


"Tidak. Aku baik-baik saja." Bohongku padanya. Hafizh merangkulkan lengannya pada tubuhku. Mendekapku dengan erat.


Tentu saja dia tahu aku berbohong. Dia sadar apa yang terjadi padaku. Percuma saja aku berbohong, Hafizh adalah satu-satunya orang yang dapat membaca hati dan pikiranku dengan mudah.


"Maafkan aku." Katanya.


"Sudah, ayo kita masuk. Aku kedinginan." Hafizh melepas rangkulannya kemudian menggelendengku masuk.


"Fizh, kenapa kau di sini? Ashana bagaimana?" Tanyaku bingung mengkhawatirkan keadaan Ashana.


Hafizh menghentikan langkahnya. Ia menoleh melihat tangan kami yang bergandengan namun Ia menyadari aku tidak mau mengikuti langkahnya.


"Dia memintaku pulang. Jadi aku pulang." Jelasnya padaku dengan enteng.


"Fizh. Dia saat ini adalah istrimu juga, dia memerlukanmu."


Untuk beberapa detik Hafizh memejamkan mata sembari menghela nafas. Sepertinya dia kesal mendengar kalimatku.


"Tidak. Istriku hanya kau seorang." Hafizh mencubit pipiku lalu menarikku ke dalam dekapannya.


Ia kemudian mengangkat tubuhku untuk digendongnya ala Bridal Style.


Hafizh tersenyum jahil. "Aku rindu."


Aku berontak menggerakkan kakiku sambil memukul dada Hafizh. "Hafizh turunkan aku. Bapak Ibu bisa marah dengan kita jika begini. Kau bahkan belum sehari di rumah Ashana."


"Sstt.. Sudah tahu Bapak Ibu akan marah, jadi jangan menolak. Jangan berteriak, mereka bisa terbangun." Bisiknya padaku dengan senyum jahil yang masih melekat di wajahnya.


Dia berjalan membawaku ke kamar. Lalu menutup pintu menggunakan kakinya.


Kini dia menurunkanku di atas kasur.


"Kau tidak senang aku di sini?" Hafizh mendekatkan posisi kami berdua.


"Bukan, bukan begitu. Tapi aku khawatir. Kau sudah bukan milikku seorang." Aku mengalihkan wajah saat dirinya menatap wajahku lekat. Hanya menyisakan jarak beberapa senti.


"Tapi aku tidak mau dengannya. Aku hanya milikmu seorang."


"Kenapa?" Tanyaku padanya.


"Kau tanya kenapa? Kau meragukan suamimu? Tentu saja karena aku mencintaimu seorang." Tegas Hafizh meyakinkan.


Entah mengapa pandanganku mendadak sayu. Meski aku berusaha sekuat tenaga untuk baik-baik saja. Namun aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku merasa khawatir.


"Kau menghindarinya karena kau takut akan jatuh cinta lagi dengannya."


Hafizh menghela nafas mendengar pernyataanku.


"Hentikan sayang. Aku ingin bersamamu malam ini." Hafizh memilih untuk tidak mau membahas itu. Daripada berdebat, Ia kemudian meraih tubuhku dalam pelukannya. Entah bagaimana esok Ibu dan Bapak akan bereaksi kepada kami, kita pikirkan besok. Kali ini, aku membiarkan Hafizh melakukan apa yang ia inginkan.