I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
I LOVE YOU



"Dia bekerja di sini sekarang." - Leon


"Kirimkan aku lokasinya." Hafizh


"ini (Berbagi lokasi)." Leon


Menghela nafas, Hafizh sedikit ragu, haruskah dia menemui Isaura atau tidak.


Seminggu berlalu, Hafizh memilih untuk tidak mencari Isa kesana walau sekedar untuk mampir sebagai pembeli.


Malam ini Hafizh baru saja selesai mengerjakan tugas kampus. Entah kenapa dirinya susah untuk memejamkan matanya. Seperti ada sesuatu yang mengusik hatinya.


Hafizh memutuskan untuk keluar mengendarai motornya. Berkeliling sepanjang jalan menikmati dinginnya malam. Motornya ia tujukan pada kedai di mana Isa bekerja. Subuh tiba, Hafizh tidak melihat Isa di sana.


Dia memutuskan untuk kembali melajukan motornya. Dari kejauhan ia mendapati dua motor terpakir di tepi jalan. Satu diantaranya ambruk.


"Motor Isa." Ya, Hafizh ingat betul motor yang digunakan Isa sewaktu ke Grosir saat itu.


Curiga, Hafizh segera mendekat ke tempat itu. Terdengar suara isak tangis seorang gadis tidak jauh dari motor itu berada. Hafizh melepas helmnya. Berjalan dengan langkah lebar, ia mengepalkan tangannya dengan kuat geram melihat seorang lelaki asing mencoba melecehkan sahabatnya itu.


"Bajingan!"


BUK!


Hafizh melesatkan satu pukulan keras pada laki-laki itu, yang kemudian dibalasnya dengan pukulan mengenai sudut bibir Hafizh.


Mereka sempat adu jotos hingga polisi yang berpatroli datang membantu dan membawa pergi sosok itu.


Sementara Hafizh, dia membawa Isa pulang ke rumah. Dirinya sempat celingukan sebab tidak ada orang yang menyahut dari dalam.


"Assalamualaikum Bu!" Panggil Hafizh panik, meminta Ibu Isa untuk membukakan pintu. Karena lama tidak ada jawaban, Hafizh terpaksa menggeledah tas Isa dan mengambil kunci dari sana.


Hafizh membopong Isa masuk kedalam kamar, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tangannya mengoleskan minyak angin pada kepala, dada dan hidung Isa. Kemudian merapikan pakaian Isa dan memasangkan kembali hijabnya yang terlepas.


Ditatapnya tiap inci wajah sang gadis yang terpejam tak sadarkan diri. Sadar ada yang janggal, Hafizh kembali memanggil. "Permisi. Bu." Panggilannya lagi.


Tapi suasana rumah tetap sunyi. Tidak ada seorangpun yang menyahuti. Hafizh melihat ke sekeliling kamar. Sebuah foto Isa yang tersenyum dengan Ibunya tergeletak di atas nakas yang usang.


Beberapa buku tertata rapi pada rak kayu yang nyaris roboh. Hafizh tersenyum kecil. Gadis yang ia kenal tangguh dan pekerja keras itu kini terbaring lemah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(ISAURA POV)


Sejak insiden subuh itu, aku kembali lebih dekat dengan Hafizh. Kami sama-sama tidak menduga jika ternyata melanjutkan pendidikan di universitas yang sama. Hanya saja kami berbeda jurusan dan gedung.


Sesekali kami berjumpa karena Leon teryata mengenal Hafizh. Dunia benar-benar sempit.


Sejak itu pula aku tahu bahwa Hafizh tidak memiliki hubungan khusus dengan Ashana.


Karena sedang tidak sibuk, Hafizh berjanji hari ini ingin menjemputku untuk bekerja dan akan mengantarku pulang hari ini. Sebenarnya aku sudah mencegahnya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Dia tidak perlu mengkhawatirkanku. Namun dia tidak mau tahu, kejadian itu membuatnya trauma.


Terdengar deru motor terparkir di depan rumahku. Tiba lebih awal dari jam seharusnya ternyata. Begitu pikirku.


Aku keluar menemuinya, menyapa dirinya dengan sebuah senyum sementara dirinya mengucapkan salam.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Ayo masuk." Aku mempersilakan, kemudian pergi ke dapur untuk membuatkannya minuman hangat. Suasana sempat hening. Hanya diramaikan dengan denting sendok yang mengenai cangkir saat aku mengaduk teh hangat.


Aku kembali ke ruang tamu, meletakkan teh hangat di atas meja untuk menjamu Hafizh. Maklum, jarak rumah kami bisa dikata agak jauh.


Hafizh tidak langsung menyeruput tehnya. Hanya melihat ke sekeliling rumah. Aku mengernyit melihat gelagatnya.


"Emm, aku merasa ada yang berbeda dengan suasana rumahmu. Mungkin karena cukup lama aku tidak ke sini. Hanya saja, rasanya sunyi."


Aku tersenyum mendengar kalimatnya.


"Ibuku sudah meninggal dunia." Kataku singkat. Hafizh sempat terlonjak. Bibirnya bergerak mengucap Innalilahi.


"Maaf, aku tidak bermaksud. Tapi sungguh aku tidak tahu. Kenapa kau tidak cerita?"


Aku menangkap rasa bersalah dari raut wajah Hafizh.


"Tidak apa-apa. Aku sudah bisa melewati semua sendiri kok." Aku berusaha tersenyum, menahan getir yang masih tersisa meski sujujurnya aku sudah lebih biasa menjalani.


Hafizh, dia meraih tanganku. Lalu menggenggamnya dengan erat. Aku menoleh ke arahnya dengan gugup. Sementara dirinya menatapku dalam-dalam. Seolah berupaya mentransfer kekuatan padaku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku bersandar pada kursi mengamati sekeliling ruangan. Mataku mulai berkabut. Bibirku bergetar mulai mencebik.


Sebentar lagi adalah ulang tahunku. Kali ini aku akan menjalani ulang tahun tanpa ibu. Begini saja aku sudah sedih, aku masih belum bisa membayangkan jika Ramadhan tiba nanti.


"Dear Aura.


Sebentar lagi aku berulang tahun. Ada banyak hal yang ingin aku lakukan, aku ingin memasak di rumah, sedikit berbagi dengan anak-anak panti dan mengunjungi makam ibu."


Aku menekan tombol kirim. Memejamkan mataku untuk beristirahat sejenak. Berharap aku dapat berjumpa dengan ibu dalam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TOK! TOK! TOK!


Seseorang mengetuk pintu rumahku sembari mengucapkan salam.


"Ayo ikut aku ke pasar." Katanya menggandengku.


Aku yang bingung hanya mengangguk-angguk saja tanpa bisa menolak. Kami pergi ke pasar tidak jauh dari tempat aku tinggal. Pergi menggunakan motor bututku dengan rombong di belakang.


Aku tertawa geli melihat tingkah kita berdua. Entah Hafizh sadar atau tidak, ini akan menjadi kenangan manis dengannya di hari ulang tahunku.


Kami kembali ke rumah usai pergi ke pasar. Kemudian lanjut memasak. Tangan kami berdua bergerak dengan lincah mempersiapkan bahan-bahan lalu mengolahnya.


Aku tertawa saat Hafizh melakukan beberapa gerakan lucu beraksi di dapur. Dia berlagak bak koki profesional. Rasa sepiku tanpa sadar hilang.


Kami lanjut sarapan sambil menghabiskan waktu menonton film pada ponsel. Bukan, bukan romansa, kami lebih tertarik pada kartun.


Tanpa aku sadari aku sempat terlelap. Aku menggosok mataku. Melihat ke sekeliling dan ternyata semua sudah rapi. Tidak aku dapati sosok Hafizh di rumah.


Sepertinya dia sudah pulang. Rasa sepi kembali menyergapku. Saat sedih datang, aku memilih mengambil wudhu untuk menunaikan shalat Dzuhur. Ada satu hal yang aku sayangkan, pada momen bahagia mengapa waktu berjalan dengan begitu cepatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku baru saja selesai shalat Ashar, mengunci pintu untuk bersiap ziarah ke makam ibuku.


"Wah, kebetulan sekali. Ayo." Aku menoleh saat suara Hafizh terdengar di belakangku. Dia berpakaian rapi. Aku mengernyit.


"Kemana?" Tanyaku padanya yang masih duduk di atas motor.


"Sudah ayo cepat naik." Katanya.


"Tapi aku mau ke-"


"Ke makam Ibu kan?" Hafizh menebak dengan mudah isi kepalaku. Aku tersenyum heran.


"Bagaimana kau tahu?"


"Bukankah aku sudah bilang. Jangan remehkan instingku." Hafizh berlagak sombong meledekku. Aku hanya menggeleng melihat tingkahnya kemudian naik pada boncengan.


Tiba di makam, aku membersihkan tempat Ibuku beristirahat. Kemudian menaburkan bunga dan menyiramkan air di sana. Saat doa aku panjatkan bersama Hafizh, linangan air menetes dari sudut mataku.


Aku rindu.


Hafizh mengusap bahuku. Kemudian kami kembali ke rumah. Saat motor kami sudah dekat rumah. Aku melihat beberapa anak-anak tetanggaku berkumpul di depan rumahku. Tidak biasanya. Apa yang sedang mereka lakukan?


Mereka membawa sebuah spanduk bertuliskan Selamat Ulang Tahun kak Isaura. Aku terharu, mereka kemudian meniup terompet meramaikan suasana di rumah. Aku turun dari motor.


Menutup mulutku dengan kedua tangan lalu memandang Hafizh bergantian. Hafizh hanya memberikan sebuah senyuman padaku. Rasa puas terpancar dari wajahnya, sepertinya dia berhasil membuat kejutan untukku.


Melihat jerih payah mereka membuat kejutan seperti ini, tidak pantas jika aku tidak memberikan bayaran setimpal.


"Karena kalian sudah sibuk-sibuk mempersiapkan ini. Ayo sini masuk, kakak akan masakkan untuk kalian malam ini."


Aku mempersilakan mereka masuk. Namun saat itu juga, Hafizh menahan gerakanku. Tanganku digenggamnya. Sementara tangan yang lainnya membawa sebuah kotak. Aku terdiam.


"Emmm... Aku bukan orang yang pintar dalam membuat kejutan. Tapi aku harap kau suka."


Hafizh mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuha bros cantik berbentuk bunga dengan beberapa kilauan permata kecil menghiasi di atas sana.


"Lama mengenalmu, tapi mungkin aku terlambat untuk menyadari. Bahwa aku..." Hafizh memberikan jeda pada kalimatnya. Dia menunduk untuk sesaat, lalu menggigit bibirnya. Wajahnya terlihat gugup.


Aku masih menunggu kalimatnya. Menanti dengan penasaran apa yang ingin dikatakan.


Hafizh menghela nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya sembari melanjutkan satu kata yang belum terucap.


"Mencintaimu."


DEG!


Jantungku berdebar kencang. Apa aku hanya mimpi?


Sebuah kata yang selama ini aku nantikan untuk terucap dari mulutnya. Hafizh benar-benar mengatakan itu. Lamunanku buyar, aku menoleh pada anak-anak tetangga yang bersorak menggoda kami.


"Cie... Cie..."


Pipiku bersemu merah jambu. Begitu juga dengan Hafizh. Ini memang hal yang kutunggu, namun bukan berarti dia harus melakukannya di depan anak-anak tetanggaku. Sungguh, aku dibuatnya tersipu.


Aku menangguk. "Sejak kapan?" Tanyaku.


Hafizh menggeleng. "Entahlah. Tapi, aku rasa aku benar-benar telah menyadari siapa yang sebenarnya mengisi kepalaku setiap waktu."


Sekali lagi aku mengangguk dengan senyum yang tidak dapat aku sembunyikan lagi. "Aku juga mencintaimu." Satu kata itu menutup pembicaraan kami.


Hafizh memasangkan bros cantik itu pada hijabku. Setelahnya kami bergandengan untuk menyiapkan makan malam bersama anak-anak.


Kami melanjutkan kegiatan bermain kembang api bersama. Hari ini, malam ini, aku merasa sangat gembira. Seperti sebuah mimpi yang menjadi nyata.


Saat anak-anak dengan girang bermain kembang api, aku sempat tercenung beberapa saat.


"Kua tahu, aku merasa aneh."


Hafizh menoleh sekilas padaku, sementara tangannya sibuk memantik api untuk disulutnya pada kembang api yang digantung di pohon.


"Kenapa?"


"Aku pikir kita seperti terhubung telepati. Apa yang aku inginkan di kepalaku, tiba-tiba saja kau lakukan."


Hafizh menahan tawanya. "Tentu saja." Dia mengangguk dengan yakin. Berbicara dengan wajah serius, meyakinkanku bahwa dirinya adalah orang yang paling mengerti aku.


"Apapun yang ada di pikiranmu. Aku akan mengetahuinya." Godanya sembari memberikan satu kedipan mata.