I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
CEMBURU



Liburan tiba. Seperti rutinitas, Aku dan Hafizh biasa meluangkan waktu mengajak Leila pergi berlibur. Hanya sekedar berjalan-jalan ke kebun binatang saja sudah cukup membuatnya bahagia.


Keluar dari kamar usai berdandan, aku melihat Ashana yang terduduk seorang diri di sofa. Rasanya tidak tega meninggalkan dirinya bersama Ibu dan Bapak. Aku yakin dia pasti akan kesepian.


"Ikut kami yuk." Ajakku padanya.


Ashana mengangkat kepalanya menatapku, kemudian melirik kearah belakangku. Aku menyadari kehadiran Hafizh. Entah ekspresi apa yang diberikan Hafizh pada Ashana, kini dirinya menggeleng.


"Tidak apa-apa. Aku di rumah saja." Ashana menolak. Tapi aku yakin bahwa sebenarnya dia bosan.


Aku menoleh kebelakang. Melirik tajam pada Hafizh, namun dirinya melempar tatapan penuh tanya padaku. Seolah berakata 'Kenapa menyalahkan aku? Aku tidak melakukan apapun. Sungguh.'


"Ayolah cepat ikut kami. Ayo, kami akan menunggumu bersiap. Kau pasti bosan kan?" Aku mendekatinya, kemudian menarik tangannya untuk aku tuntun bersiap-siap. Meski awalnya menolak, namun pada akhirnya kami benar-benar pergi bersama.


Perjalanan kami hari ini sangat menyenangkan. Aku berjalan menggandeng Ashana, sementara Hafizh memilih menggendong Leila yang tertawa atas gurauan kecil Papanya itu.


Tak berselang lama Leila dan Hafizh memanggilku. Aku menghampiri mereka, ikut bercanda bersama. Tawaku menghilang menyadari Ashana menatap kami dari kejauhan, dia tampak kesepian. Benar, tanpa aku sadari aku sempat meninggalkannya seorang diri di sana.


Sepertinya aku terlalu hanyut dalam tawa dengan keluarga kecilku.


"Leila sama Mama ya. Papa biar bantu Mama Ashana." Kataku pada Leila.


"T-tapi." Aku memutar otak dengan cepat, tidak membiarkan Hafizh untuk protes. Aku segera menarik tangan Leila untuk ku ajak berlari-lari kecil menjauh dari posisi mereka berdua.


Dari kejauhan aku melihat canggung di antara Hafizh dan Ashana. Namun, karena Hafizh tidak memiliki pilihan lain, pada akhirnya dia mengulurkan tangan. Menggandeng Ashana berjalan perlahan beriringan.


Langkah mereka terhenti, Ashana memilih menyerah kemudian duduk pada bangku. Hafizh berjongkok di dapan Ashana, mengusap kakinya yang lecet dengan tisu.


Sejak tadi langkah Ashana terhambat akibat bengkak di kakinya. Maklum, bawaan orang hamil.


"Mama, mama tidak apa-apa?" Aku menoleh pada Leila. Berjongkok menyamakan posisi sejajar dengannya, aku menggeleng memberikan senyum padanya.


Tangan kecilnya mengusap pipiku dengan lembut.


"Kenapa Papa dekat Mama Ashana?" Sebuah pertanyaan yang tidak pernah aku pikirkan terlontar dari mulut mungilnya.


Aku pikir pertanyaan itu lumrah diutarakan Leila sebab ini adalah kedua kalinya dirinya melihat sang ayah menggandeng Ashana. Mengingat, dirinya tidak pernah melihat Papanya itu berdekatan dengan perempuan lain sebelumnya.


Aku terdiam sejenak. Memikirkan jawaban terbaik untuk Leila.


"Hemm... Karena Mama Ashana adalah keluarga kita juga. Mama Ashana perlu Papa sama seperti Mama memerlukan Papa."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(ASHAN POV)


"Maaf aku tidak bermaksud merepotkanmu."


Suasana masih terasa canggung. Tidak ada jawaban dari Hafizh. Tangannya hanya sibuk mengobati lecet di kakiku.


Aku tidak protes. Aku paham Hafizh tidak seharusnya seperti ini padaku. Atau mungkin tidak seharusnya aku ikut.


Momen canggung ini masih terus berlanjut hingga kami makan di restoran. Tepat saat Hafizh membopong ku masuk ke dalam resto, seorang pegawai resto yang melihat kejanggalan diantara kami lantas bergumam membicarakan kami.


"Istri pertama dan kedua sepertinya itu." Celetuknya membuat kami melirik. Aku menangkap tatapan tajam dari Isa. Sadar dengan hal itu, pegawai lainnya lantas berbisik menegur rekannya sambil mencubit.


"Ih, kau ini tidak sopan!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Perjalanan hari ini cukup membuatku lelah. Usai membersihkan diri, kami memutuskan untuk sholat bersama di rumah. Diimami Hafizh, sholat berlangsung dengan khusuk.


Usia kandunganku yang cukup besar membuatku memilih untuk sholat dengan duduk.


Rakaat terakhir ditutup dengan salam. Hafizh menoleh kebelakang menjabat tangan Isaura yang mencium punggung tangannya. Aku terduduk menatap mereka tanpa mengatakan apapun.


Mereka sempat berbicara dengan tatapan mata. Isa seperti memberi perintah pada Hafizh, sementara yang diperintahkan terlihat tidak ingin menuruti. Namun, dehaman Isa membuat Hafizh tidak bisa mengelak.


Hafizh mengulurkan tangannya padaku. Aku terkejut. Pantaskah aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Isa?


Dengan sedikit ragu, pada akhirnya aku mencium tangan Hafizh. Namun seperti dugaan, Hafizh terlihat melakukannya dengan setengah hati.


Detik itu juga, Hafizh mendekati Isa lalu memberikan kecupan pada keningnya. Hafizh, dia sangat mencintai Isa. Dia sangat tidak ingin melukai hatinya.


Disisi lain aku menangkap protes dari mimik Isa, dia tidak ingin suaminya itu bertindak kekanakan yang membuatku iri.


Aku tersenyum pada mereka, aku pikir itu wajar, pernikahan ini hanyalah sebuah formalitas bagi Hafizh dan aku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Duh, tiba-tiba ingin nyemil." Aku mengusap perutku sembari berpikir. "Hmm.. keluar ah sambil jalan-jalan cari udara segar." Lanjutku bergumam lalu mengambil dompet dan jaket untuk selanjutnya aku keluar dari kamar.


Baru saja menutup pintu kamar, seseorang menegurku.


"Mau kemana malam-malam Na?"


"Mau beli cemilan saja bu dekat sini." Sahutku melihat Ibu mertuaku yang berdiri tidak jauh dariku.


"Oh. Biar Ibu suruh Hafizh ya." Ibu lantas bergegas menuju dimana Hafizh berada. Tak ingin merepotkan Hafizh, aku cepat-cepat mencegah Ibu dengan langkah cepat.


"Tidak usah bu, Ashana bisa sendiri kok."


"Fizh." Ibu memanggil Hafizh yang kini sedang bermanja-manja pada Isa di ruang keluarga.


"Kenapa bu?" Hafizh menoleh pada kami berdua membenarkan posisi duduk setelah sebelumnya bersandar pada bahu Isaura.


"Ashana sedang ingin cemilan. Belikan ya."


Hafizh menghela nafas. Sepertinya dia sedang berat hati untuk melakukannya.


"Iya, mas Hafizh akan belikan." Isaura tanpa berpikir panjang mengiyakan perintah Ibu.


"Sudah sana. Aku ke kamar dulu ya." Isa beranjak dari tempat duduk menarik tangan Hafizh untuk segera berdiri dan berangkat keluar, sementara dirinya juga pamit untuk istirahat.


"Oh iya, Ibu tadi dengar kau mau tidur dengan Isa lagi ya? Tidak. Ibu tidak mau. Malam ini harus dengan Ashana. Dia kan istrimu juga, dia sedang hamil. Pasti perlu seseorang."


"Tidak bu, Ashana tidak apa-apa kok." Jujur aku begitu tidak enak bila pada akhirnya seperti ini.


Meskipun sebetulnya aku benar-benar memerlukan seseorang, namun sosok Ridwan lah yang aku inginkan. Bukan sosok Hafizh yang pada akhirnya hanya melukai batin Isa.


"Benar kata Ibu. Sudah sana pergi." Isa melepas genggaman Hafizh kemudian mendorong pelan punggungnya.


Dengan berat hati Hafizh berjalan keluar memandang punggung Isa yang menjauh dari kami. Dirinya berjalan menuju kamar dengan senyum getir, tampak batinnya terluka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(ISAURA POV)


Hari demi hari berlalu dan perut Ashana semakin membesar. Merasa bahwa kondisiku seperti tidak sehat, aku memutuskan untuk pergi ke dokter sebelum berangkat ke kantor pagi ini.


Entah harus senang atau sedih, sebuah berita mengejutkan terlontar dari mulut sang dokter. Aku hamil.


Keluar dari rumah sakit dengan perasaan campur aduk, aku tidak segera memberitahu Hafizh atau bahkan keluargaku tentang hal ini. Sebab, aku pikir tidak seharusnya aku mengandung di saat Ashana juga sedang hamil tua. Hafizh, sudah pasti akan bingung membagi waktu.


Di sisi lain aku ingat bagaimana Hafizh selalu saja merayuku menginginkan anak laki-laki. Tentunya ini menjadi kabar gembira bagi kami berdua. Namun, aku pikir lebih baik jika aku tidak mengatakan ini lebih dulu sebelum Ashana melahirkan nanti.


Sepanjang di kantor, segala kebimbangan tak juga menghilang dari kepalaku. Aku sempat mengetik sesuatu untuk Aura tentang kabar gembira ini. Tepat saat aku mengirim pesan itu, rasa mual tiba-tiba menyergap.


Aku berlari menuju toilet untuk memuntahkan rasa mual dari perutku. Mengusap bibirku, aku menggelengkan kepala. "Tidak, aku harus berusaha agar orang-orang dirumah tidak curiga."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selama ini aku dan Ashana selalu akur. Tidak pernah ada pertikaian diantara kami. Setidaknya aku berharap dirinya juga akan berpikir demikian. Kami telah berusaha merawat dan membuatnya merasa nyaman di sini. Meski kadang-kadang kelakuan suami kami cukup mengesalkan dan tidak adil. Ya, 'suami kami'.


Pergerakan tanganku di dapur terhenti saat seseorang meraihnya. Memeluk dengan hangat dari belakang. Ya, siapa lagi jika bukan Hafizh. Bentuk jemarinya, aroma tubuhnya dan kebiasaan dirinya menempatkan dagunya di bahuku adalah kebiasaan yang sepertinya akan sangat mustahil aku lupakan.


"Jangan mulai deh. Aku sedang buatkan menu kesukaan Ashana, jadi jangan ganggu ya." Tegurku pada Hafizh. Namun dia memilih tetap pada posisi itu.


"Aku harap anak laki-laki." Bisiknya padaku. Meski aku tak bisa melihat ekspresinya dengan jelas, namun aku yakin dia sedang tersenyum menggodaku.


"Apa sih tiba-tiba bahas itu lagi." Kataku padanya berusaha menutupi kenyataan bahwa aku tengah berbadan dua.


"Kenapa? Aku sedang berdoa untuknya." Tangan Hafizh kini bergeser pada perutku kemudian mengusapnya.


Aku berkerut kening. Ada rasa gugup di dalam dadaku. Gelagatnya seolah dia tahu aku sedang mengandung.


"Hafizh! Sudah deh aku pegang sutil panas loh." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ehemm." Lembut dehaman Ashana berhasil membuat kami terperanjat kaget. Membuat Hafizh melepaskan pelukannya.


Ah benar saja, Ashana memang sempat membantuku di dapur namun kemudian pamit ke toilet sebelum Hafizh datang. Ada rasa bersalah di benakku karena telah membuat Ashana tanpa sengaja melihat kami bercumbu seperti ini.


Aku harap dirinya tidak mendengarkan pembicaraan kami sejak tadi.


"Sudah sana pergi." Kataku mendorong tubuh Hafizh keluar area dapur.


Tak ada penolakan dari Hafizh, dia meninggalkan kami berdua. "Maaf, dia memang suka mengganggu." Kataku pada Ashana. Rasa canggung kembali hadir di antara kami.


Ashana mengangguk memberikan senyum tipis padaku.


"Hafizh." Ashana memberikan jeda pada kalimatnya. "Dia masih dingin padaku."


Kalimat itu berhasil membuatku merasakan kesedihan. Benar, kami telah cukup akrab selama ini, namun Hafizh tetap bersikukuh untuk bersikap dingin pada Ashana.


Memberikan senyuman hangat, aku lantas menyentuh bahu Ashana untuk sekedar mengikis sedikit rasa sedihnya.


"Lama-lama dia pasti juga akan menjadi hangat kok." Kataku sembari tersenyum. Jauh dalam hatiku, ada sedikit rasa khawatir jika suatu saat nanti aku benar-benar akan melihat Hafizh memberikan segunung perhatian pada Ashana. Apakah aku akan benar-benar ikhlas jika tiba waktu itu?