
TOK TOK TOK
Sebuah ketukan pintu menyadarkan Ashana dari lamunan. Sejak tadi dirinya tidak bisa tidur. Bagaimana tidak? Melihat kondisi Isaura yang semakin hari semakin menurun membuatnya khawatir. Lebih-lebih dari yang ia tahu penyakit yang diderita Isa tidak bisa disembuhkan.
Ashana turun dari tempat tidur kemudian berjalan menuju pintu. Didapatinya Hafizh berdiri di sana.
"Boleh aku masuk?" Tanyanya.
"Tentu saja." Ashana mempersilakan.
Melangkah masuk kedalam kamar, Ashana tak henti memperhatikan Hafizh. Dirinya bertanya-tanya apa yang membuat Hafizh masih terjaga hingga larut malam seperti ini?
"Ada hal penting yang kau katakan?" Tanya Ashana berjalan mendekati Hafizh yang kini menunduk di samping box bayi dimana Izzan terlelap.
Yang ditanya tak langsung menjawab. Dirinya lebih tertarik mengamati tiap inci wajah mungil Izzan. Seperti sebuah obat bagi Hafizh, ekspresi lelah Hafizh seketika berubah menjadi senyum gemas saat melihat Izzan.
Ashana melipat tangannya di depan dada sementara bibirnya tersenyum. Ia tak mengatakan apapun. Membiarkan Hafizh menatap lekat pada putranya.
Bagi Ashana, pemandangan seperti ini adalah hal yang indah. Ia juga paham, mungkin ini adalah cara Hafizh melepas penat dan mengobati rasa rindunya pada Ridwan.
"Mungkin seperti ini rasanya jika Ridwan masih ada."
Kalimat Ashana menarik atensi Hafizh. Ia menoleh. Untuk beberapa detik Hafizh memberikan senyum tipis. Ada rasa sedih dalam batinnya menyadari bahwa Ashana juga sama rindunya pada Ridwan.
Hafizh membenarkan posisi tubuhnya untuk berdiri dengan sempurna. Menelan salivanya, Hafizh tampak ingin mengatakan sesuatu.
"Maafkan aku."
"Untuk?" Ashana menaikkan satu alisnya.
"Aku sudah menahanmu untuk bertahan bersama kami. Dan ternyata aku telah membawamu terlalu jauh dalam masalah keluarga kami tapi aku tidak bisa memberikan apapun padamu." Hafizh menundukkan pandangannya. Sayu dan penuh sesal.
"Terimakasih sudah bertahan. Terimakasih sudah bersabar pada Isaura. Terimakasih sudah mencintai Leila." Ucapnya kini ia mengangkat kepalanya, menatap tulus pada Ashana.
Sedetik kemudian Ia menggeleng. Menyadari betapa besar hutang budinya pada Ashana sejak saat itu hingga sekarang.
"Entah bagaimana aku harus membalasmu. Aku-" Kalimat Hafizh tertunda. Suaranya semakin lama semakin parau.
Hafizh menggigit bibirnya mencoba menahan perih yang ia rasakan dalam batinnya. Tertangkap jelas pada mata kepala Ashana bagaimana netra suaminya itu mulai berkaca-kaca.
Sadar pandangannya mulai terasa kabur, Hafizh lantas menundukkan kepalanya. Mencoba menyembunyikan air matanya dari Ashana.
"Aku tidak mau kehilangan Isa. Aku sangat mencintainya." Ucapnya lirih, seperti ada sesuatu yang mencekat lehernya.
Tak sampai hati melihatnya seperti ini, Ashana meraih kedua tangan Hafizh. Menggengam tangan kekarnya sembari mengusapnya dengan ibu jari kecil Ashana.
"Aku akan selalu di sisimu. Aku akan berusaha membantu Isa sembuh." Janjinya pada Hafizh. Hatinya yakin dia mampu, karena Ia ingin Hafizh kuat. Tidak ingin melihatnya lemah seperti ini.
Ashana melepaskan genggamannya. Tangannya bergerak menyentuh punggung Hafizh lalu memberikan dekapan hangat padanya.
Sesekali Ia menepuk-nepuk punggung Hafizh. Mencoba menenangkan. Hafizh tidak menolak. Meski dia tak mengatakan apapun, Ashana tahu pasti perasaan Hafizh saat ini. Tetes demi tetes air mata Hafizh terasa pada bahu Ashana. Jiwanya rapuh. Tidak ada orang lain yang bisa menguatkannya selain Ashana saat ini.
"Tidak apa-apa jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja." Bisik Ashana menenangkan suaminya menutup percakapan malam ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hafizh." Panggil Ashana lembut membangunkan suaminya. Nyaris menautkan kedua alisnya, dirinya merasa terganggu tidurnya telah diusik.
Pada panggilan itu, Hafizh mengerjap. Ia menggeliat. Tepat saat Ia benar-benar membuka mata, seketika itu pula ia terbelak mendapati wajahnya dan Ashana beradu. Hanya menyisakan jarak beberapa senti diantara mereka.
Hafizh mengernyit heran, ada sesuatu yang aneh dirasakan pada kepalanya. Rasa bantal dan posisinya tidak biasa. Beberapa detik kemudian ia paham apa yang terjadi. Sadar, Ia kemudian bangkit dari posisi berbaring.
Ya, dirinya telah terlelap dengan kepala beralaskan pangkuan Ashana semalaman. Entah bagaimana hal itu terjadi Hafizh sendiri tidak paham.
Ia bangkit dari posisi. Memijat kepalanya karena merasa telah melakukan kesalahan.
"Maafkan aku." Katanya pada Ashana. Lawan bicaranya tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa. Bukankah aku juga istrimu? Lagi pula kau hanya tidur dipangkuanku, bukan yang melakukan macam-macam kok."
Hafizh berdeham lalu menelan salivanya. Meski begitu masih saja ada rasa canggung pada Ashana. Hafizh memalingkan pandangannya.
Turun dari tempat tidur, Ia kemudian menyisir rambutnya menggunakan jari sembari berjalan keluar kamar tanpa mengatakan apapun pada Ashana. Ia tidak ingin membahas itu lebih jauh.
Ashana turut mengekor di belakang Hafizh. Keluar kamar untuk kemudian bergegas melakukan shalat Subuh.
Di tengah perjalanan mereka mengambil air wudu, atensi mereka tertuju pada pintu kamar Leila yang terbuka.
Dari celah yang ada, mereka mendapati anak gadis itu lebih dulu melakukan Shalat Subuh. Kini Ia duduk di atas sajadah dengan kedua tangan menengadah meminta sesuatu pada sang pemilik semesta.
Pipinya basah. Linangan air mata menetes dari sudut matanya. Meski tak mendengar doa yang digaungkan, Hafizh tahu betul apa yang ada dalam hati putri semata wayangnya itu.
Sorot matanya sendu.
"Papa." Panggil Leila setelah menyelesaikan doanya. Ia menyadari Ayah dan ibunya itu tengah mengamatainya.
Ia bangkit dari sana. Melepas mukenanya kemudian berjalan menuju pintu menemui Ayahnya.
"Sudah selesai?" Basa-basi Hafizh yang dijawab anggukan oleh Leila.
"Leila sayang, semua akan baik-baik saja. Tetap tersenyum ya sayang." Ashana menambahkan, tangannya mengusap lembut rambut gadis kecil itu.
Leila menggeleng. "Leila tidak apa-apa kok. Leila mengerti mama sakit."
Kalimat itu melukis senyum pada wajah Hafizh. Ia memandang kagum pada putrinya yang memiliki pemikiran dewasa.
"Mama." Seru Leila saat melihat Isa keluar dari kamar lain. Ia memandang datar pada mereka bertiga dan berdiri mematung. Hingga sebuah cairan mengalir di kakinya membanjiri lantai.
Hafizh agak tersentak kaget. Ia tidak menduga jika Istri pertamanya itu akan mengeluarkan air seni begitu saja di sana. Ia bergegas mendekati Isa.
"Ganti baju ya sekalian mandi yuk." Ajaknya pada Isa yang masih berdiri dengan tatapan linglung.
Sementara di sisi lain, Leila sigap mengambil lap untuk mengepel bekas air seni Ibunya.
"Mandi?"
"Iya ma bersihkan badan. Sini Leila ajari." Leila ikut bergabung pada percakapan ibu dan ayahnya. Sementara tangannya masih sibuk mengepel.
"Leila, biar papa saja yang lanjutkan. Sudah Leila sekarang bersiap untuk sekolah ya." Pinta Hafizh pada Leila. Namun putrinya itu justru memasang wajah cemberut. Bibirnya mengerucut, dia hanya ingin bersama-sama dengan Ibunya.
"Tidak apa-apa, aku akan melanjutkan mengepel." Ashana mendekat, berinsiatif menawarkan bantuan. Tentu saja dia tidak tinggal diam melihat Leila seperti itu. Baginya membiarkan Leila memiliki banyak waktu dengan Isa itu penting. Setidaknya sedikit demi sedikit Isa bisa kembali mengingat siapa sosok Leila ini. Dia tidak ingin melihat Leila menangis kembali karena telah dilupakan Ibunya.