
(ASHANA POV)
Aku mengambil posisi duduk tidak jauh dari Hafizh di dalam bis. Sepanjang perjalanan, aku turut meramaikan momen.
Berkaraoke bersama sebagian temanku, sesekali melirik ke arah Hafizh. Berharap dia akan terpikat dengan suara emasku.
Setelah perjalanan panjang, kami tiba di hotel agak malam. Aku yang sempat membeli makanan di luar kembali ke kamar dengan menenteng beberapa kresek makanan. Aku sempat tercenung melihat Hafizh yang tersenyum malu menatap pintu kamar Isaura.
Bagaimana aku tahu itu kamarnya? Ya, tentu saja tahu, kamar kami bersebelahan. Baru hendak menegurnya, aku mengurungkan niatku. Hafizh lebih dulu berbalik menjauh meninggalkan tempat semula menuju ke arah kamarnya yang seharusnya.
Dia tidak menyadari kehadiranku. Bisikku dalam batin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kami melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya. Borobudur.
Aku sempat bergurau beberapa kali dengan Hafizh. Tentu saja juga berkesempatan mengabadikan momen bersama.
Namun demikian, aku cukup terganggu melihatnya beberapa kali mencuri pandang pada Isaura.
"Apa ada sesuatu?" Tanyaku padanya.
Hafizh menggeleng. "Hanya sedikit khawatir, aku rasa menjadi Tour Leader bukan tugas yang mudah." Katanya sembari mengamati Isa yang sedang berbicara dengan guru pendamping dan memijat salah satu teman sekelas kami yang loyo karena mabuk perjalanan.
"Iya. Dia harus kuat dan sibuk mengurusi peserta. Belum lagi jika ada yang mabuk seperti itu."
Tidak berselang lama, Isa pindah ke atas. Memosisikan diri mendapatkan sudut terbaik untuk mengambil gambar.
Bukannya membantu Isa, aku justru fokus melihat Hafizh yang tak kalah serius memotret pemandangan di mana Isaura berdiri.
Jujur, aku terusik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini adalah hari perpisahan kelas XII, aku menjadi salah satu yang ikut mementaskan tarian di panggung.
Kali ini aku melakukannya dengan semaksimal mungkin. Karena aku tahu, Hafizh ada. Aku harap dia juga akan terpukau dengan aksiku.
Senyum sumringah tak lepas dari wajahku, mengingat pesan dari Hafizh yang ia kirimkan semalam. Dia bilang, dia ingin bertemu denganku hari ini. Ada hal penting yang ingin disampaikannya.
Riuh tepuk tangan dan sorakan memenuhi ruangan usai kami menuntaskan penampilan. Netraku tertuju pada bangku di mama Hafizh duduk. Rasa puas muncul di benakku, melihat Hafizh tersenyum lebar menatapku dari kejauhan.
Setelah acara berakhir, seluruh warga kelas kami berkumpul untuk berfoto bersama. Saat sibuk mencari posisi terbaik, aku tersenyum lebar menatap Hafizh yang tampak begitu berwibawa dengan seragam kelulusan ini.
Senyumnya begitu manis. Seolah terhubung, tanpa aku sadari aku ikut tersenyum mengagumi dirinya. Aku mengambil posisi tidak jauh dari Hafizh.
Sesi foto bersama satu kelas selesai, aku mencoba menghampiri Hafizh namun urung saat sahabatku menarik tanganku. Tidak membiarkan aku mencari Hafizh dan justru mengajakku untuk berfoto bersama mereka.
Rasa kecewa menyelimuti batinku saat aku aku mendapati dirinya berbincang dengan Isa sementara dalam dekapannya ada beberapa tangkai bunga.
Aku menghindar dari pandangan mereka. Seharusnya apa yang aku lakukan sudah tepat, tidak perlu mencari dirinya.
Namun begitu aku masih teringat akan janji temu kami hari ini. Aku menunggunya di depan gerbang sekolah. Menanti dengan sabar apa yang ingin Ia katakan.
Beberapa menit berlalu, Hafizh belum juga tiba.
"Ayo pulang."Sebuah mobil berhenti di depan sekolah di mana aku berdiri. Kaca jendelanya diturunkan, menampilkan seorang pria paruh baya di dalam sana.
"Sebentar saja Pak." Pintaku.
Bapak menggeleng. "Tidak bisa. Bapak ada urusan mendadak. Cepat."
"Pokonya harus kuliah di luar negeri ya." Pinta bapak padaku. Aku tidak menjawab. Aku tidak ingin ke sana. Sebab yang ku tahu, Hafizh juga belum pasti apakah akan ke luar negeri atau tidak.
Bapak yang terduduk di sampingku tampak tidak senang dengan responku. Dirinya lantas memintaku menghadapnya. Aku menoleh ke arahnya namun tak berani menatap matanya.
PLAK!
Bapak menamparku dalam mobil. Membuat sopir pribadinya terkejut.
"Kau harus bisa seperti bapak! Kalau gagal itu memalukan. Semua keluarga kita lulusan universitas luar negeri. Nilaimu saja kalah dengan anak janda miskin itu kan. Memalukan!"
Aku menitikkan air mata. Terlalu tega rasanya jika Bapak harus menamparku hanya karena ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tetes demi tetes air hujan turun sore ini. Aku mengeratkan sweater hangat yang aku kenakan. Dalam perpustakaan, aku duduk di sudut ruangan dengan sebuah buku yang ku letakkan di atas meja.
Rasanya sangat cocok dan nyaman dapat menghabiskan waktu membaca buku dalam ruangan yang tenang seperti sekarang.
Sesekali aku mengamati keadaan luar melalui jendela. Seseorang datang dengan sebuah payung. Pria dengan tubuh tinggi berpakaian rapi yang mengenakan masker menutup sebagian wajahnya. Tubuhnya di balut coat tebal. Ya, saat ini sedang musim dingin di Paris.
Dia memasuki ruang perpustakaan setelah meletakkan payungnya di luar. Maskernya belum di lepas. Menatap ke sekeliling ruangan. Aku merasakan debaran dalam dada.
Bentuk mata itu, aku tidak asing. "Hafizh?" Bisikku lirih.
Deg!
Sosok itu menatapku. Bukan, bukan karena dia mendengarku, hanya saja ada sesuatu yang menarik baginya.
Dia mendekat, kemudian meilirik pada kursi kosong di dekatku. Aku masih menatapnya tak berkata.
"Ah di sana rupanya." Pria itu mengelus dada, sepertinya lega telah menemukan sesuatu yang di cari.
Aku menghela nafas. Dari suaranya aku sadar, dia bukan Hafizh. Dia memiliki suara yang sedikit lebih nyaring dari Hafizh.
Aku melirik ke arah bangku kosong yang di tuju. Rupanya sedari tadi aku tidak menyadari jika ada sebuah dompet terjatuh di sana.
"Silakan." Kataku langsung memberikan akses untuknya mengambil dompet itu.
"Orang Indonesia?" Tanyanya padaku, menyadari aku menjawabnya dengan Bahasa. Aku mengangguk.
Dari lengkung matanya, aku tahu dia sedang tersenyum meski tidak melepas maskernya.
"Ah dingin, boleh aku bergabung? Hujan seperti ini aku pikir agak merepotkan." Di menunjuk pada kursi, lalu berjalan mendekat saat aku menjawabnya dengan anggukan.
Pria itu mengambil posisi duduk di dekatku. Lalu tangannya bergerak membuka masker. Netraku sedikit terbelalak mengetahui wajah di balik masker itu benar-benar mirip Hafizh.
"Aku Ridwan." Pria itu tersenyum, lalu mengurulan tangannya untuk mengajak berkenalan.
Aku tertegun sejenak. Beberapa detik, aku mengamati wajahnya. Benar, dia hanya mirip Hafizh. Namun dia bukan Hafizh.
Betuk wajah Hafizh lebih tegas. Sementara Ridwan memiliki wajah yang cenderung kecil dan imut. Sorot mata Ridwan jauh lebih ramah, sementara Hafizh akan membuatmu terintimidasi.
"Aku Ashana." Jawabku menjabat tangannya.
Sejak saat itu, kami jauh lebih dekat dan sering bertemu. Latar belakang yang sama serta berada pada lingkungan kampus yang sama membuat kami begitu cepat memahami satu sama lain.
Tidak perlu waktu lama, kami menjadi sepasang kekasih. Bersama Ridwan, aku melalui semuanya. Dia adalah kakak tingkat yang begitu memahamiku. Tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri, menceritakan segala hal dari kecil hingga besar bersamanya.
Bukan, aku bukan jatuh cinta padanya karena dia memiliki wajah seperti Hafizh. Namun, sikapnya yang begitu lembut membuatku luluh padanya.