I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
RUMIT



Mataku mengerjap saat terdengar suara ketukan pintu kamarku. "Fizh, Isa." Panggil seseorang dari luar.


"Sayang, bangun." Kataku menepuk-nepuk pipi Hafizh. Hafizh menautkan kedua alisnya. Beberapa detik kemudian dia membuka mata sembari menggeliat.


"Isa." Panggilnya lagi. Bisa aku pastikan itu Ashana.


Karena Hafizh masih dalam kondisi setengah sadar, aku memutuskan lebih dulu turun dari kasur. Berjalan menuju pintu untuk kemudian membuka pintu. Aku mendapati Ashana yang memegangi perutnya. Bibirnya digigit, tampak sedang menahan rasa sakit.


"Aku, aku perlu seseorang untuk antar ke rumah sakit."


"Kau tidak apa-apa? Tunggu ya. Aku bersiap-siap."


Paham dengan keadaan Ashana. Aku berusaha untuk tidak panik dan segera menyanggupi permintaan Ashana.


"Sayang cepat bangun. Ashana mau melahirkan!"


Aku menarik tubuh Hafizh untuk segera bangkit dari tempat tidur hingga dirinya terduduk di atas kasur.


Dia tampak kebingungan karena belum sepenuhnya sadar. Tak mau berlama-lama aku segera melempar kunci mobil padanya sembari sibuk menyiapkan beberapa barang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Suami dari Bu Ashana boleh mendampingi." Seorang perempuan berseragam menghampiri kami. Aku melirik Hafizh yang kini berpura-pura tidak mendengar. Dirinya bersikap tidak peduli dengan momen penting ini.


Tidak mau membuang waktu, aku menarik tangan Hafizh. Dia sempat menatapku kebingungan.


"Ini suaminya." Kataku sembari melempar senyum pada perawat.


Yang aku tunjuk justru memandangku tidak terima. Tapi aku tidak peduli, kemudian mendorongnya masuk ke dalam ruangan.


Selama proses bersalin berlangsung rasa cemas menyelimuti hatiku. Doa tiada terputus aku panjatkan untuk keduanya, Ashana dan calon buah hatinya.


Mondar-mandir di depan pintu ruangan, langkah ku terhenti saat suara tangisan terdengar dari dalam sana. Tak berselang lama seseorang kemudian keluar memberikan kabar gembira bahwa proses persalinan telah berjalan dengan baik.


"Alhamdulillah bayinya sehat bu."


"Alhamdulillah." Rasa syukur terucap dari mulutku sembari mengatupkan kedua tangan.


"Bayinya tampan seperti ayahnya." Sambung sang perawat.


Mendengar kalimat itu, perasaanku seketika bercampur. Ada rasa sedih dalam benakku. Teringat keinginan Hafizh untuk memiliki seorang putra, namun ternyata Tuhan berkehendak lain.


Aku menggeleng, mungkin ini lebih baik. Dengan Ashana dikaruniai seorang putra, Hafizh akan dapat memberikan perhatian lebih pada Ashana.


Ketimbang memikirkan hal-hal lain, aku memilih menghubungi Ibu mertuaku untuk memberikan kabar gembira ini.


Rasa senang dan haru terdengar dari suara mereka. Aku yakin dengan kelahiran putra Ashana mereka dapat mengobati rasa rindu mereka pada kak Ridwan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sejak kelahiran putra Ashana, Hafizh tampak disibukkan dengan beberapa kerabat yang datang untuk menjenguk ke rumah.


"Kami pamit pulang ya."


"Terimakasih banyak sudah menyempatkan untuk ke sini." Ashana tersenyum pada kedua kerabatnya.


"Jangan begitu, kami senang bisa melihat putramu. Dia sangat tampan seperti suamimu." Salah seorang kerabat Ashana memuji ketampanan putranya. Hafizh dan Asahana lantas meresponnya dengan senyum. Namun sedetik kemudian Hafizh melirik ke arahku. Aku lantas memberikan senyum tipis.


"Ah ya sudah aku harus benar-benar pergi sekarang. Sampai jumpa lagi." Pamitnya pada Ashana untuk kemudian aku antar hingga depan pintu.


Tepat saat mereka pergi dari halaman rumah kami, Hafizh memelukku dari belakang.


"Maaf." Bisiknya. Bisa aku rasakan Hafizh mencemaskan keadaanku.


"Berhentilah meminta maaf karena hal ini."


"Baiklah." Hafizh menurut.


"Aku rindu." Sambungnya. Kali ini aku berbalik menghadap padanya. Jemari Hafizh membelai pipiku merapikan sudut hijabku.


"Boleh aku tidur bersamamu malam ini?" Hafizh mengatakan dengan bibir mengerucut. Memohon belas kasih dariku.


Dengan cepat aku menggeleng. "Tidak. Tidak boleh."


"Kenapa?"


"Tentu saja kau harus menemani Ashana. Kau tahu kan tidak mudah mengurus bayi seorang diri malam hari."


Hafizh lantas menghela nafas mendengar penjelasanku. Dia mengangguk paham.


"Baiklah kalau begitu."


"Semangat!" Kataku memberikan dirinya kekuatan. Aku tertawa gemas melihat wajah cemberutnya seperti anak kecil. Bagiku, dia terlihat seperti Leila jika seperti ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Angin malam ini cukup kencang, aku menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku. Berharap untuk dapat segera terlelap, namun tak berselang lama aku justru membuka selimutku kembali.


Entah mengapa aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dengan alasan itu, aku memutuskan keluar kamar untuk sekedar berjalan-jalan di dalam rumah. Siapa tahu dengan kelelahan akan membuatku segera tertidur.


Berjalan beberapa meter dari kamar, aku dibuat terkejut dengan kehadiran seseorang di atas sofa.


Hafizh membuka matanya. "Tidak ada pilihan lain sayang. Aku tidak bisa tidur di sana."


"Jangan beralasan. Ayo cepat masuk ke sana." Pintaku sembari menarik tangannya. Detik itu juga aku menyadari suhu tubuh Hafizh tidak normal. Aku menyentuh keningnya dengan telapak tanganku.


"Sayang kau demam." Pantas saja dirinya memilih tidur d sini sebab ia tak mau jika putra Ashana akan tertular.


"Iya, jadi aku boleh tidur bersamamu? Rawat aku." Hafizh berbicara dengan mata terpejam, tangannya di dekap dalam dadanya.


"Baiklah-baiklah, ayo masuk." Tidak sampai hati melihatnya seperti ini, aku lantas membopongnya ke dalam kamar.


Merebahkan tubuhnya di atas kasur, sigap tanganku segera mengambil peralatan untuk mengompres kepalanya setelah memberikan obat penurun panas.


Hafizh menggerakkan tangannya dengan mata terpejam. Bermaksud memintaku untuk mendekap tubuhnya yang kedinginan. Paham maksudnya, aku mendekatkan tubuh kami. Memeluknya dalam selimut lalu mengusap kepalanya.


"Cepat sembuh ya." Bisikku padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam berlalu, aku bernafas lega setelah yakin suhu tubuh Hafizh mulai normal. Sepertinya dia hanya kelelahan.


Aku terbangun subuh ini saat dari luar kamar terdengar Ibu mertuaku menggerutu. Dia tidak senang dengan keberadaan Hafizh di kamar kami.


Aku membuka pintu, menghampiri Ibu yang kini berdiri di depan pintu kamar Ashana sembari mengawasinya.


"Maaf bu, mas Hafizh tadi malam demam. Jadi aku minta dia tidur di sini."


"Ibu tidak mau tahu. Kau tidak boleh egois seperti itu ya Isa."


Penjelasan Ibu cukup membuatku kesal. Pasalnya bukan seperti itu kenyataannya, namun apa daya. Tidak ada gunanya aku menjelaskan.


Hafizh kini keluar dari kamar mencoba menjelaskan pada Ibunya. "Uhuk-uhuk. Hafizh tidak enak badan Bu. Ini juga Hafizh batuk."


Aku menepuk punggung Hafizh, tidak menduga dia terserang batuk juga. Ibu memutar bola matanya. "Yang jelas setelah sehat nanti segera bantu Ashana."


"Iya bu." Aku dan Hafizh mengangguk paham.


"Sudah istirahat dulu sana." pintaku meminta Hafizh kembali masuk kamar. Hafizh mengangguk lalu kembali masuk ke dalam kamar sementara aku pergi ke dapur untuk menyiapkan kopi pagi.


Beberapa menit usai menyiapkan kopi, aku membawanya untuk ku sajikan di meja. Aku pamit dari hadapan Ibu dan Bapak, lalu menuju kamar.


"Setidaknya dengan pura-pura batuk seperti ini bisa membantuku lebih dekat dengan Isa."


"Apa kau bilang?" Tanyaku pada Hafizh yang terduduk di atas kasur sembari bermain game pada ponselnya.


Ia kini menurunkan ponselnya. Menatapku dengan wajah menyesal tertangkap basah bahwa dirinya telah berbohong.


"Cepat kembali ke kamar Ashana."


"Tidak. Izinkan aku bersamamu dulu. Aku tahu aku salah aku minta maaf ya." Hafizh melangkah mendekatiku, kemudian meraih tanganku.


"Sayang, aku tahu kau rindu aku juga." Masih berusaha merayuku, kini dia kembali berbicara seperti seorang anak kecil yang merengek pada Ibunya.


"Ayolah, kita hanya berbeda kamar saja. Kita setiap hari juga bertemu." Aku mulai kesal dengannya.


"Justru karena itu aku mencemaskanmu. Kau tidak cemburu melihatku bersama Ashana? Maksudku, kau bahkan baru beberapa waktu lalu keguguran. Bukankan dengan aku disini kita bisa memulainya lagi hehe." Hafizh menutup kalimatnya dengan cengengesan menggodaku.


Hafizh mendekatkan wajah kami, berusaha mencuri sebuah ciuman namun urung saat aku mendorong tubuhnya dengan keras hingga terjatuh ke belakang.


"Hentikan!"


Aku menarik nafas panjang mendengar penjelasan Hafizh. Memberikan respon serius pada tiap kalimatnya. Ia terdiam, tidak percaya melihat tindakanku.


"Sayang, kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat Ibu menganggapku egois dengan semua ini? Tidak bisakah kau bersikap adil pada Ashana juga? Lalu soal keguguran itu, tidak kah kau berpikir kenapa Tuhan mengambilnya dariku? Karena Tuhan ingin kau bersikap adil pada kedua istrimu!"


Detik itu juga air mataku mentes. Rasa sakit dalam dadaku mengingat tiap kalimat Ibu mertuaku.


Hafizh bangkit dari posisi semula, sudut bibirnya digigit menahan emosinya.


"Kau benar aku tidak bisa adil. Aku bukan Nabi. Aku tidak meminta berada di posisi ini karena aku hanya memandangmu. Bukan perempuan lain."


Sorot matanya penuh dengan kekecewaan. Tak ada sebuah senyum di bibirnya. Nada bicaranya masih terdengar tenang.


"Tapi kau justru selalu mendorongku untuk tetap dekat dengan Ashana. Bahkan soal calon anak kita yang keguguran itu, Dean membantumu ke rumah sakit."


Hafizh memberikan jeda pada kalimatnya. "Apa mungkin..."


Hafizh menghentikan kalimatnya. Memandangku dengan curiga namun kemudian dirinya berdecak. Membuang muka dariku.


"Lupakan." Katanya tidak ingin melanjutkan kalimatnya.


"Jadi sekarang ini kau mencurigaiku dengan Dean? Luar biasa. Dean menyelamatkan nyawaku. Bagaimana bisa kau mencurigainya seperti itu."


Aku menarik tangan Hafizh menggelendengnya menuju pintu kamar kemudian mendorongnya keluar kamar.


"Hentikan omong kosong itu. Pergi dan rawat Ashana dengan baik."


BRUK


Aku menutup pintu kamar, tidak memberikan kesempatan untuk Hafizh menolak. Berjongkok dibalik pintu kamar, tidak menduga jika aku akan meluapkan emosiku pada Hafizh pagi ini. Pun tidak percaya dirinya mencurigaiku degan sepupunya itu.