
"Hafizh? Kenapa di sini?" Tanya Ibu mertuaku pada Hafizh yang kini duduk sembari bersiap menerima satu suapan dariku.
Aku hanya terdiam. Paham dengan maksud ibu mertuaku. Sementara Hafizh membuka mulutnya, kemudian mengunyah dangan dahi berkerut mendengar pertanyaan ibunya. "Ini rumahku bu."
"Iya Ibu tahu tapi kan-." Belum tuntas, Ibu menghentikan kalimatnya saat telpon Hafizh berdering. Hafizh kini memperlambat pergerakan mulutnya sembari menatap layar ponsel. Dirinya tidak langsung menjawab panggilan itu. Raut wajahnya tidak senang. Malas menjawab.
Ibu yang berdiri di samping putranya itu melirik ke arah ponsel, lalu menyenggol Hafizh. "Angkat sana." Bisiknya.
Hafizh menghela nafas. Dengan berat hati dirinya menjawab panggilan itu. Sebuah salam terucap dari mulut Hafizh, sebelum akhirnya dia menjauhkan ponsel itu dari telinga.
Aku paham siapa yang menghubungi. Samar-samar terdengar suara seorang pria paruh baya yang menggerutu tanpa jeda. Dirinya terdengar kesal.
Ya, tentu saja itu adalah Bapak dari Istri kedua Hafizh. Om Amar, bapak dari Ashana.
"Baik pak, Hafizh mohon maaf. Hafizh akan kesana." Jawab Hafizh dengan loyo kemudian menutup panggilan itu.
Hafizh menatapku dengan bersalah. Aku mencoba tersenyum dengan sebuah anggukan, mengisyaratkan aku mengerti keadaannya.
"Maafkan aku. Aku harus ke rumah Ashana, sepertinya dia perlu bantuan."
"Aku paham." Sahutku memahami.
"Aa..". Katanya membuka mulut. Aku sempat bengong tidak menyadari gestur Hafizh jika Leila tidak menarik bajuku lebih dulu lalu menunjuk mulut Papanya yang terbuka.
"Beri aku satu suapan lagi." Katanya.
Aku tertawa melihat tingkah lakunya yang tidak mau kalah dengan Leila.
"Astaghfirullah, sadar diri Fizh. Ingat umur." Ejek ibunya sembari menggelengkan kepala, tidak habis pikir melihat kelakuan putranya.
Namun apa daya, Hafizh tidak peduli. Dirinya menikmati suapanku sembari menggoyangkan kepalanya senang. Matanya menyipit membentuk lengkung indah menandakan makanan itu enak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berdiri bersandar pada meja, aku yang semula berniat mengawasi karyawanku bekerja justru berakhir melamun. Tiba di kantor aku benar-benar tidak konsen melakukan pekerjaanku. Sungguh aku tidak bisa berkonsentrasi hari ini.
Berulang kali pula karyawanku berusaha menegurku, tidak membiarkan pikiranku kosong.
Sebenarnya bukan kosong, hanya saja aku sibuk dengan pemikiranku sendiri. Sibuk memikirkan kehidupan pernikahanku yang kini harus berbagi dengan perempuan lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini aku tiba di rumah lebih awal dari biasanya. Memasuki ruang keluarga, aku melihat Ashana yang kini duduk di sana memberikan senyum hangat padaku.
Sedikit ada rasa terkejut, namun aku segera membalas senyumnya. Benar, bukankah dirinya sudah menjadi bagian dari keluarga Hafizh. Jadi, wajar saja jika dia akan tinggal di sini.
Hanya saja, apa aku benar-benar bisa melewati tiap hari-hari ku berbagi kasih dengannya?
"Mama!" Seru Leila berlari keluar kamar untuk memelukku. Kau mengecup pipinya.
"Ashana akan tinggal di sini mulai sekarang." Aku menoleh pada Ibu yang kini duduk di sebelah Ashana. Sementara itu aku tidak melihat kehadiran Hafizh.
"Oh iya tidak apa-apa." Jawabku dengan tersenyum.
"Aku akan siapkan makan malam setelah ini." Pamitku pada mereka untuk mandi dan berganti pakaian diikuti dengan Leila.
Pergi ke kamar untuk meletakkan tasku kemudian mengambil beberapa helai pakaian dan handuk untuk kemudian kubawa menuju ke kamar mandi bersama putri kecilku.
"Aduh kaget!" Pekikku tanpa sengaja menabrak tubuh Hafizh yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Aku pikir dia sedang menggunakan kamar mandi yang ada di kamar, karena itu aku memilih kamar mandi yang berada di dekat dapur. Tapi ternyata justru dia menggunakan kamar mandi ini.
Tercium aroma segar dari tubuhnya. Tangannya kini sibuk menggosok rambutnya yang basah. Aku sempat terkesima melihat tubuh kekarnya yang hanya berbalut handuk dari pusar hingga lutut. Namun sedetik kemudian aku sadar, ada Ashana di depan sana. Aku lantas melempar handuk padanya.
"Pakai ini!" Pintaku dengan kesal.
Hafizh mengernyit. "Kenapa? Aku kan sudah pakai."
Aku melengos, malas menjelaskan. Pikirku untuk apa dirinya mandi di sini? Tidak biasanya.
Hafizh lantas tersenyum jahil. "Kau cemburu ya?"
"Papa cepat pakai. Kan ada tante Ashana." Leila memukul perut Papanya, membuat Hafizh terkekeh kemudian mencubit pipi kami berdua, membuatku makin kesal.
"Iya iya Papa pakai sekarang, supaya Mama tidak marah. Eh bukan, Leila maksud papa." Hafizh tak henti menggodaku. Aku melirik sinis padanya dengan kedua tangan kulipat di dapan dada.
"Jangan marah begitu." Pintanya.
"Kenapa kau mandi di sini? Sengaja pamer tubuh?" Tanyaku penuh selidik.
Hafizh memundurkan kepalanya. "Leila tadi sedang di toliet, jadi aku pakai yang ini sekalian mandi. Makanya aku tidak bawa baju ganti."
"Sudah, jagan marah-marah lagi ya." Hafizh mengusap pucuk kepalaku.
"Tidak tuh. Lagi pula, sudah menjadi haknya dia juga untuk melihatmu seperti ini." Aku masih membuang muka.
"Yang benar?" Hafizh mendekatkan wajahnya padaku, menatapku dengan selidik namun bibirnya tersungging menahan tawa mengejek. Paham jika aku sedang bersikap lain di mulut lain pula di hati.
"Ish. Sudah sana pergi." Aku mendorong tubuh Hafizh menepi dari jalan kami berdua. Tidak ingin membiarkan Leila bertanya-tanya apa yang sedang dibicarakan kedua orang tuanya ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai membersihkan diri, aku bergegas menyiapkan makan malam di dapur. Aku melirik saat menyadari derap langkah kaki seseorang ke sini.
"Biar aku bantu." Ashana mengambil beberapa bahan yang aku sudah aku siapkan.
Aku menoleh. "Tidak perlu. Biar aku saja. Kau perlu istirahat." Kataku padanya mengambil alih bahan itu.
"Hafizh suka masakan seperti ini?"
Pertanyaannya membuatku terdiam sejenak. Menghentikan gerakan tanganku pada potongan wortel terakhir.
"Iya." Kali ini aku memberinya jawaban singkat.
Ada rasa tidak ikhlas membayangkan jika suatu saat nanti Hafizh akan menyantap makanan kesukaannya yang disajikan oleh Ashana.
"Biar aku bantu ya." Sekali lagi Ashana menawarkan bantuan. Aku yakin dirinya merasa tidak nyaman jika harus berdiam diri, sementara aku terlihat sibuk.
Aku menggeleng padanya lalu tersenyum. "Tidak usah. Ini sudah hampir selesai kok."
"Aku buat menu lain juga ya. Sebagai tambahan." Tawarnya lagi. Aku dibuatnya tertawa, kali ini aku tidak bisa menolaknya. Aku pikir dia benar-benar ingin memasak. Mungkin dengan begini bisa mengusir rasa jenuh Ashana.
"Baiklah." Aku tersenyum setuju padanya.
Beberapa menit berlalu dan hidangan pun siap. Ashana membantuku menempatkan makan pada piring saji lalu membawanya ke meja makan.
Aku memanggil seluruh anggota keluarga untuk berkumpul makan malam. Tak berselang lama mereka hadir. Aku duduk diantara Hafizh dan Leila. Sementara Ashana duduk berseberangan dengan Hafizh.
"Tante sekarang tinggal di sini?" Leila bertanya pada kami. Aku sempat melirik tidak langsung memberikan jawaban, kemudian mengambilkan nasi untuk Bapak mertuaku lebih dulu.
"Iya sayang. Leila harus nurut dan sayang Tante Ashana ya. Mulai sekarang Tante Ashana mamanya Leila juga." Kataku setelah memberikan nasi pada Bapak. Kini tanganku mengusap kepala Leila. Dirinya mengangguk paham.
Aku cukup bangga dengan sikap putriku yang dewasa. Tidak banyak bertanya mengapa begini, mengapa begitu. Dengan menjelaskan secara sederhana saja dia sudah memahami keadaan kami.
Aku beralih memberikan nasi pada Ibu kemudian Hafizh.
"Leila, coba ini deh." Ashana meletakkan sepotong daging di atas piring milik Leila.
"Ini buatan Mama Ashana?" Tanya Leila, kemudian menyiapkan potongan daging itu pada mulutnya.
"Enak." Leila terlihat menikmati menu itu dengan mengangguk-anggukkan kepalanya sementara mulutnya sibuk mengunyah.
"Tentu saja. Mama Ashana hebat ya sayang." Aku senang melihatnya menyukai itu. Namun entah mengapa ada rasa khawatir dalam benakku.
Sadar dengan apa yang aku rasakan. Hafizh segera mengambil menu lain yang aku buat lalu menyuapkan dalam mulutnya.
"Hemm... Aku suka sekali ini." Katanya dengan mata terpejam, terlihat begitu menikmati masakanku. Kini semua mata tertuju pada Hafizh yang begitu antusias seperti sedang mempromosikan produk buatanku.
"Leila ambil sayur ini juga ya. Ini penting untuk pertumbuhan Leila. Rasanya... hemm Papa jamin enak!" Hafizh meletakkan sayur buatanku pada piring Leila yang dijawab anggukan paham oleh Leila.
Setelah itu, tangannya beralih meletakkan lauk buatan ku pada piringnya dalam porsi cukup banyak.
"Aku harus banyak makan sayur seperti ini supaya lebih sehat." Katanya dengan yakin, fokusnya tertuju pada piring dan tidak peduli dengan reaksi yang lain.
Namun, tidak terlihat sedikitpun Hafizh menyentuh masakan Ashana. Aku melirik sekilas pada Ashana.
Dia terlihat tertunduk menyadari Hafizh tidak memilih menu masakannya.
Menyadari rasa canggung ini, aku lantas mengambil sepotong daging itu untuk kemudian ku letakkan di piring Hafiz.
"Harus seimbang dengan daging juga." Aku memasang senyum pada wajah saat Hafizh menoleh menatapku.
Tidak peduli dengan reaksi Hafizh, aku memilih segera mengambil lauk untukku kemudian mempersilahkan semua orang untuk makan.
"Sayang!" Aku sempat memekik mencuri perhatian seisi meja makan.
"Kita lupa belum berdoa bersama!"
Pernyataanku lantas membuat semua orang nyaris tersedak. Benar, kita terlalu sibuk dengan pemikiran masing-masing hingga lupa untuk bersyukur masih dapat menikmati rezeki malam ini.