
"Huwekk.." Sial. Aku berusaha menahan mualku pagi ini namun justru aku muntahkannya saat Hafizh masih berada di kamar.
Hafizh masuk kedalam kamar mandi memberikan pijatan lembut pada tengkukku.
"Sudah lebih baik?"
Aku mengangguk. Merasa di perhatikan, aku lantas menoleh ke arahnya. Dia menatapku dengan sumringah.
"Jangan menatapku seperti itu." Aku buang muka, curiga dengan caranya memandangku.
"Iya kan?" Tanyanya membuatku mengernyit.
"Iya apanya?"
"Akan ada Hafizh kecil setelah ini. Benar kan?" Sekali lagi Hafizh masih memandangku dengan senyum bahagia yang tak pudar dari bibir cantiknya. Tampak begitu yakin dengan dugaannya.
"Tidak ada." Kataku berbohong lalu beranjak dari tempat. Aku sempat tersentak saat Hafizh memutar balik tubuhku menghadapnya.
"Kau tahu kan kau tidak akan pernah bisa berbohong padaku."
Aku terdiam sejenak, "Baiklah aku tidak bisa berbohong."
Tubuhku direngkuhnya dengan erat. "I Love you. I love you so much." Bisa aku rasakan ketulusan dari suara dalamnya. Hafizh melonggarkan pelukannya. Memberikan sedikit jarak pada wajah kami. Tepancar jelas binar bahagia dari sorot matanya. Sebuah tatapan yang sejak dulu begitu aku harapkan dari sosoknya.
Sebuah kecupan hangat diberikannya pada keningku. "Terimakasih." Bisiknya padaku.
Rasa bahagia tak dapat aku sembunyikan. Persis seperti beberapa tahun lalu di mana pertama kalinya dia mendengar berita aku mengandung Leila.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sayangnya, rasa bahagia antara aku dan Hafizh membuat kami lupa akan kondisi kami saat ini. Keadaan yang tak lagi sama seperti pertama kali aku mengandung membuat ku harus menahan diriku.
Sejak mengetahui kehamilanku, Hafizh telah banyak melimpahkan perhatian padaku. Namun hal ini justru menjadi bumerang bagi hubungan kami.
"Hafizh cuma mau manjakan istri yang sedang hamil apa salahnya bu?"
"Ibu tahu Fizh. Tapi ini kan bukan waktu yang tepat untuk Isa hamil. Memangnya tidak bisa ditunda atau ditahan dulu? Ashana kan masih perlu perhatianmu juga."
"Tidak bisa Ibu percaya kalau istrimu seegois itu."
"Putra ibu yang tidak bisa menahan hasratnya jadi jangan salahkan istri." Bisa aku tangkap rasa tidak terima dari sisi Hafizh.
Kalimatnya itu berhasil menampar Ibu mertuaku. Dihujani kenyataan bahwa apa yang terjadi pada aku dan Hafizh saat ini sama halnya dengan apa dilakukan almarhum putra pertamanya.
"Hafizh!" Aku menegur sikap Hafizh yang telah lancang berkata demikian.
Kehadiranku yang tiba-tiba mengejutkan Ibu yang sebelumnya menaruh curiga padaku. Aku tidak menyalahkan Ibu. Tidak sama sekali. Persis seperti dugaanku pertama kali, apa yang aku khawatirkan terjadi.
Sementara Ashana sejak tadi hanya tertunduk diam. Aku yakin batinnya kecewa padaku. Juga pada kalimat Hafizh.
Kehamilanku membuatnya tidak mendapat perhatian lebih dari Hafizh. Aku harap dia tidak akan stres sebab tidak seharusnya orang hamil mendapatkan perlakuan seperti ini. Aku hanya menambah terjal dalam perjalanan hidupnya sejak menikah dengan Hafizh.
Aku merasa sangat berdosa pada dia dan janinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari sudah Hafizh tidak mengindahkan peringatan dari Ibunya. Dia tetap memilih menghujaniku dengan perhatian. Dan setiap waktu juga aku merasa bersalah pada Ashana. Seringkali aku menangkap pedih dari mimik wajahnya.
Saat seperti itu, aku menghampirinya, membagi apa yang Hafizh berikan padaku dengannya. Sebagai sesama perempuan, setidaknya aku dapat memosisikan diri jika aku menjadi dirinya aku pikir aku belum tentu bisa sekuat dirinya.
Dengan sikapku itu, sedikitnya aku memberikan senyum diwajahnya. Meski Hafizh seringkali tidak habis pikir dengan sikap tidak tegaanku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore ini cuaca cukup dingin. Angin berhembus cukup kencang diiringi rintik hujan. Aku berjalan menuju mobilku menuruni pijakan.
Tidak tahu pasti apa yang terjadi, dalam beberapa detik aku merasakan tubuhku limbung. Kakiku terasa nyeri, namun tidak lebih nyeri dari perutku.
Tubuhku yang tak berdaya ini terguyur hujan yang semakin deras. Samar-samar dalam guyuran hujana aku mendapati sosok pria berpakaian rapi menghampiriku. Wajahnya mencemaskan kondisiku.
"Isaura. Kau tidak apa-apa? Bertahanlah sebentar." Beberapa orang sempat menghampiri sementara sosok itu sigap menggotongku masuk ke dalam mobil miliknya.
Melihat ke sekeliling, aku menyadari saat ini tengah terbaring di rumah sakit. Ku dapati suamiku berdiri tidak jauh dari pintu kamar. Dia tampak sibuk berbincang dengan seseorang yang tidak asing.
Dean.
"Terima kasih sudah menolong Isteri ku. Kau bisa tinggal pulang." Hafizh menepuk bahu Dean.
"Kita kan saudara, sudah seharusnya aku membantu." Jawabnya dengan senyum. Ah rupanya dia yang menolongku tadi. Masih sama seperti belasan tahun lalu, Dean tetaplah sosok yang murah hati. Tapi sangat disayangkan sosok sepertinya belum juga menemukan pasangan terbaik.
"Aku pamit ya. Jika perlu bantuan jangan sungkan menghubungi." Imbuhnya.
"Ah jangan khawatir." Hafizh menjawab dengan senyum terimakasih menutup perbincangan mereka. Ia lantas menoleh ke arahku setelah Dean pergi.
Menyadari aku siuman, dirinya lantas bergegas menghampiriku. "Syukurlah kau sudah sadar sayang." Hafizh meraih tanganku lalu memberikan kecupan kecil di sana.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku masih agak lemas pasca operasi.
Hafizh menggeleng. Bibirnya berat menceritakan padaku.
"Tidak usah dipikirkan ya." Katanya menenangkanku.
"Ada apa?" Tanyaku sekali lagi.
"Tuhan mengambil calon bayi kita." Hafizh menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat kecewa. Begitu juga dengan apa yang aku rasakan. Aku tak lagi mampu menahan air mataku.
Lagi-lagi aku merasa bersalah telah membuatnya kecewa. Rasanya Tuhan tiada pernah lelah mengujiku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sejak kejadian itu Hafizh semakin protektif terhadap aku. Aku sempat terpuruk sejak kejadian itu. Namun beruntungnya Hafizh selalu mendukungku.
"Jangan bersedih lagi ya." Hafizh mencubit pipiku setelah kami memesan makan malam. Ya, saat ini kami sedang meluangkan waktu bersama. Hanya sekedar menghilangkan jenuh di kepalaku.
Aku mengangguk. Namun tepat saat itu seorang pramusaji yang baru saja lewat di sampingku tanpa sengaja menumpahkan minuman di pakaianku.
"Bagaimana sih?!" Hafizh sempat naik darah melihat tubuhku terguyur minuman.
"Sudah-sudah. Aku tidak apa-apa."
"Untung bukan sup panas! Kalau iya bagaimana?" Hafizh geram. Dia terlalu mencemaskanku. Tangannya kini sibuk mengusap pakaianku yang basah sembari menegur pramusaji itu. Sementara yang ditegur hanya bisa meminta maaf.
"Sudah jangan di permasalahkan. Yang penting kan sekarang bukan itu yang terjadi." Kataku menengahi.
"Sudah tidak apa-apa. Lain kali lebih hati-hati ya. Semangat!" Aku tersenyum pada pramusaji itu, lalu memintanya meninggalkan tempat. Memberikan isyarat bahwa aku baik-baik saja.
"Kenapa dibiarkan pergi sih? Aku kan belum sempat menceramahinya."
Aku tersenyum melihat sikap Hafizh lalu menahannya gerakan tangannya. Menggenggamnya dengan erat dan menatapnya beberapa detik.
"Aku baik-baik saja."
"Tapi dia harus diberi pelajaran. Masa membawa minum saja tidak becus? Pekerjaan semudah itu."
"Bukankah sudah cukup aku memberi tahunya untuk lebih hati-hati lain kali?"
"T-tapi kan."
Aku menggeleng. "Aku pernah berada di posisi dirinya dulu. Kau ingatkan?"
"Karena itu aku paham dia pasti sedang belajar. Kita tidak tahu seperti apa yang dilaluinya. Ini mungkin menjadi salah satu hari terburuknya. Tidak mungkin dia sengaja menumpahkan itu padaku. Dia perlu bekerja. Memarahinya secara berlebihan hanya akan membuat harinya semakin buruk. Setiap pekerjaan memiliki kesulitan masing-masing yang tidak bisa dipahami orang lain yang tidak menjalani pekerjaan itu. Jadi, aku pikir tidak ada salahnya jika kita cukup memberikan senyum atau tidak memperpanjang masalah."
"Tapi bagaimana jika dia mengulangi kesalahan itu?" Hafizh masih belum bisa menerima penjelasanku.
Aku tersenyum mendengarnya. "Memberikan teguran dan sanksi sudah pasti bukan ranah kita sebagai pengunjung. Aku yakin atasannya akan memberinya pengarahan lagi. "
"Sayang..." Aku mengusap tangannya. "Aku tahu kau mencemaskanku. Tapi dengan memarahinya di depan umum seperti ini hanya akan berakhir mempermalukan dirinya tanpa kita tahu apa dia akan berubah lebih baik atau dia justru akan semakin takut menunjukkan dirinya. Aku harap kau mengerti maksudku."
Hafizh menghela nafas. Menggeleng mendengar pernyataanku. "Aku benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir istriku."
"Mungkin dengan begini aku juga bisa berkesempatan memakai jaket baru suamiku kan." Godaku melirik jaket baru Hafizh yang kini ikut tersenyum sembari mengusap kepalaku.