
Terik siang hari ini cukup menyengat di kulit. Leila berlari menuju Papanya yang sudah menunggu dalam mobil. Meletakkan tasnya di pangkuan, Leila kemudian duduk bersandar pada kursi.
"Huff." Lega rasanya mendapatkan AC dalam mobil.
"Sudah siap?" Hafizh bertanya pada Leila, kemudian melajukan mobilnya setelah mendapat anggukan dari gadis kecilnya.
Sepanjang Leila tidak mengatakan apa-apa. Namun beberapa kali dirinya sempat melirik kepada Hafizh. Seperti ingin mengatakan sesuatu, namun berulang kali niatnya ditahan.
Sadar dirinya ditatap berulang kali, Hafizh lantas melirik pada Leila.
"Bagaimana sekolah hari ini?" Hafizh membuka percakapan. Berharap putrinya akan lebih nyaman untuk terbuka padanya.
"Baik-baik saja." Jawab Leila singkat.
Hafizh mengangguk, pandangannya lurus menatap jalan dengan tangan sibuk mengemudikan setir.
"Emm apa ada yang ingin Leila katakan pada Papa?" Tanya Hafizh langsung pada inti pembicaraan. Tidak ingin dibuat penasaran oleh putrinya itu. Sebab ia yakin betul bahwa ada sesuatu yang mengusik batin Leila.
Leila menunduk. Kuku jempolnya tanpa sadar saling digesekkan. Tampak dirinya sedang berpikir keras.
Setelah berpikir agak lama, Leila pada akhirnya buka suara.
"Pa, Papa ingat surat dari sekolah yang Leila berikan waktu itu?"
Hafizh mengernyit. Mencoba mengingat apa yang dimaksud Leila. Beberapa detik setelah itu, mulut Hafizh membentuk huruf O.
Ia mengangguk. "Iya papa ingat."
"Emm.. Leila mau yang datang besok Mama ya pa." Pinta Leila memelas.
Hafizh terdiam sesaat. Dirinya bimbang harus memberi jawaban apa. Surat yang diberikan Leila saat itu adalah surat undangan dari sekolah agar orang tua/wali datang pada acara peringatan Hari Ibu.
"Emm.. Papa tahu Leila ingin Mama datang. Tapi Mama kan sedang sakit sayang." Hafizh berusaha berbicara selembut mungkin agar Leila memahami keadaan mereka saat ini.
"Leila mau mama." Sekali lagi Leila merajuk. Ia melipat kedua tangannya di depan sementara wajahnya dipalingkan keluar jendela mobil.
Tak lama setelah itu laju mobil mereka melambat setelah memasuki parkiran rumah. Leila turun tanpa menoleh Papa. Wajahnya masih tidak senang. Hafizh menghela nafas, menggeleng melihat sikap anak semata wayangnya itu.
Berjalan memasuki rumah, langkah mereka dihadang Ashana di ruang tamu.
"Kenapa cemberut begitu?" Tanyanya pada Leila. Ia menahan bocah itu dengan menyentuh kedua bahunya. Tidak biasanya Leila datang tanpa mengucapkan salam seperti ini.
Bersamaan dengan itu, Hafizh baru saja memasuki ruang tamu. Berdiri di belakang Leila, dirinya saling tatap dengan Ashana.
"Leila ingin Mama besok datang ke acara Hari Ibu di sekolah. Tapi Papa tidak izinkan." Gerutunya dengan pipi mengembung sementara bibirnya mengerucut.
"Tapi Mama sedang tidak sehat sayang." Hafizh bertahan pada pendapatnya, tetap menolak.
Ashana kembali menatap Hafizh, seolah berbicara dengan tatapan mata memohon pada Hafizh untuk mengizinkan permintaan Leila. Hafizh menggeleng. Dia tidak mau jika ada apa-apa terjadi pada Istri pertamanya itu. Namun sepertinya Ashana tidak setuju dengan keputusan Hafizh.
"Mama Ash-." Kalimat Hafizh terputus, dihentikan oleh Ashana.
"Boleh sayang. Besok Mama dan Mama Ashana akan datang ya. Jadi tidak perlu khawatir." Janji Ahsana menyanggupi keinginan Leila.
Leila menatap tidak percaya pada Ashana. Matanya membulat. "Serius Ma?" Tanyanya memastikan.
Ashana mengangguk mantap. Sorot bahagia terpancar dari mata Leila seketika itu juga. Hal itu lantas membuat Ashana ikut tersenyum senang.
"Yey! Terimakasih Mama Ashana." Seru Leila dengan gembira sembari memeluknya mengucap terima kasih berulang kali. Jika bukan karena Ashana, entah bagaimana Leila akan membujuk Papa.
Bagi Leila, besok akan menjadi momen penting untuk pertama kalinya merayakan Hari Ibu bersama di sekolah.
Ashana tersenyum melihat aksi bocah itu. Sementara Hafizh menghela nafas. Tangan kanannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak habis pikir dengan mereka berdua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu berlalu, Leila berdiri sambil sesekali memandang gerbang sekolah. Berharap Ibunya akan segera tiba.
Hatinya diliputi perasaan cemas bila Mama Ashana akan melupakan janjinya kemarin. Matanya berkaca-kaca, kedua sudut bibirnya mulai turun, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
Ia tidak mau jika kawan-kawannya akan mengejeknya sebagai sosok yang cengeng. Meski sebetulnya benar dia ingin menangis. Iri melihat teman-temannya yang lain sudah bersama dengan ibunya saat ini, saling meminta maaf, mengucap kasih dan berpelukan.
Persetan dengan semua itu, Leila masih berusaha optimis jika ucapan Ashana kemarin bukan hanya isapan jempol belaka. Namun hingga acara hampir selesai, mereka tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Bunga ditangannya yang semula dibagikan oleh guru untuk diberikan pada ibu mereka masing-masing masih dibawanya. Pandangannya mulai sayu.
Tepat saat Ia membalikkan badan, seseorang memanggil namanya dengan lembut.
"Leila."
Leila menoleh. Detik itu juga air matanya tak mampu lagi ia bendung. Tangisnya pecah. Ia berlari mendekati si pemilik suara itu meski pandanganya kabur.
"Mama!"
Ia menghamburkan tubuhnya pada dekapan hangat Ibunya. Meski ibunya tak lagi mengingatnya, meski Ashana ada di sana, namun bagi Leila tidak ada yang bisa menggantikan posisi Mama Isaura dalam hatinya. Dia adalah satu-satunya Ibu baginya.
Isaura membalas dekapan hangat buah hatinya. Meski Ia tak mampu mengingat dengan baik, entah mengapa batinnya ikut sakit melihat tangis Putrinya itu.
Ashana menitikkan air mata, dirinya merasa bersalah sebab tiba terlambat. Ia tahu pasti Leila kecewa sebab mereka tak bisa melihat penampilan Leila di hari spesial ini. Namun demikian, merawat penderita Alzheimer bukanlah hal mudah.
Dalam hati kecilnya, Ashana berharap jika anak sambungnya itu akan memaklumi. Dia telah berusaha semaksimal mungkin.
Leila melepaskan pelukannya dari Isaura. Ia kemudian memberikan setangkai bunga padanya.
"Selamat hari ibu Mama." Katanya sembari mengecup pipi mamanya yang kini membungkukkan tubuhnya. Isaura mengusap pipi putrinya yang basah akan air mata. Sementara dirinya sendiri abai jika air mata juga masih mengalir dari kedua matanya.
Leila mengalihkan pandangan pada Ashana. Tangan kecilnya diulurkan. Setangkai bunga mawar tak luput Ia berikan pula pada Ashana.
Rasa haru terlihat jelas dari wajah Ashana. Refleks Ia menyentuh dada. Tak menduga jika Leila akan bersikap manis seperti ini padanya.
"Selamat hari Ibu juga untuk Mama Ashana." Ucapnya dengan suara menggemaskan. Ashana tak kuasa menitikkan air mata haru.
'Gadis kecil ini begitu manis. Persis seperti ibunya. Isaura.'
Begitulah batinnya saat ini.