
Malam ini seperti malam-malam biasanya, keluarga Hafizh melakukan rutinitas makan malam bersama. Mereka duduk melingkar di meja makan, sementara Isaura memilih untuk duduk di samping putrinya.
Semula semua berjalan normal. Namun tidak dengan Hafizh yang sejak tadi belum menyentuh makanannya sedikit pun. Dirinya lebih tertarik pada Isaura.
Diperhatikan sejak tadi Isa hanya memandangi piringnya. Perlahan kini Ia mengambil sendok, namun gerakannya terhenti. Ia melirik ke arah Ashana yang kini sibuk menyuap. Tangannya kini bergerak penuh keraguan mengumpulkan nasi di atas sendok, mengikuti bagaimana Ashana menggerakkan tangannya.
Dirinya tampak gugup. Gerakannya tidak rapi, membuat isi piringnya berantakan. Isa mendengus kesal. Diletakkannya sendok itu dengan kasar di atas piring, membuat denting yang menyedot perhatian seisi meja makan.
Isa menyerah. Ia memilih untuk makan langsung dengan tangan. Namun entah mengapa tangannya terasa sangat kaku untuk bergerak. Tidak seperti biasanya.
Hafizh hendak beranjak dari kursi namun urung saat Ahsana lebih dulu menyadari itu. Ia sigap memberikan satu suapan pada Isa. Namun niat baiknya justru membuat Isa salah paham.
Isa menepis tangan Ashana. Sendok nasi itu jatuh berdenting di atas lantai, menggulingkan isinya hingga berceceran. Hal itu lantas membuat seluruh anggota keluarga terkejut, termasuk Ibu dan Bapak.
"Aku bisa makan sendiri." Katanya tidak senang jika dibantu.
Ashana mengurungkan niatnya. Ia paham jika Isa sedang tidak bisa mengendalikan emosinya saat ini. Di sis lain Hafizh merasa bersalah pada Ashana atas sikap Isa. Namun ia juga tidak bisa menyalahkan Isaura.
Perhatian Ashana kini beralih pada Leila yang terduduk dengan wajah ditundukkan. Tampak dirinya tidak nafsu makan.
Batin Ashana tersayat. Tidak kuasa melihat gadis kecil itu yang tempak murung. Sudah pasti ia sedang memikirkan kondisi sang Ibu.
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Hafizh beranjak dari tempat duduknya. Berjalan mendekati istrinya untuk kemudian mengambil alih piringnya.
Isa tidak menolak. Ia membiarkan Hafizh melakukan apa yang ia mau. Karena menurutnya saat ini hanya Hafizh yang bisa ia percaya. Ya, hanya Hafizh yang dapat meluluhkan Isa.
"Aku suapi ya. Ayo buka mulutnya." Hafizh menyodorkan satu suapan pada Isa yang dibalas anggukan oleh Isa tanpa ragu. Ia kemudian membuka mulutnya dan menikmati makanan itu.
Hafizh menatap lekat pada Isa. Terenyuh hatinya melihat sosok Istrinya yang biasanya menyuapinya kini justru berbalik harus disuapi.
Baru dua kali mengunyah, fokus Isa berganti pada hijabnya yang terkena cipratan kuah.
"Kerudungku kotor, aku mau ganti dulu." Katanya dengan mulut terisi penuh makanan.
"T-tapi selesaikan makan dulu sayang." Permintaan Hafizh tidak digubris. Isaura sudah lebih dulu bangkit dari kursi kemudian pergi meninggalkan meja tanpa memperdulikan yang lainnya.
Hafizh dan Ashana saling tatap. Terpancar jelas prihatin di wajah mereka.
Tidak berselang lama, Isa kembali ke ruang makan. Namun lagi-lagi ulahnya membuat yang lain melongo. Isa kembali dengan wajah kesal sementara hijabnya tidak dipasang dengan benar.
"Sayang brosku hilang!" Panik Ia mengadu pada Hafizh. Hafizh berkerut kening.
"Bros?"
"Iya bros kesukaanku. Bros darimu sayang. Bantu aku cari. Aku tidak mau kehilangan itu." Katanya merengek pada Hafizh.
Ia kemudian menoleh ke belakang. Membongkar laci-laci yang ada di sekitar sana dengan panik, benar-benar tidak ingin kehilangan bros kenangan dari suami tercintanya itu.
"Iya kita cari pelan-pelan ya sayang." Hafizh menghampiri istrinya sembari menenangkan.
Ia mengulurkan tangan mungilnya pada Isa. Di telapak tangannya terdapat sebuah bros cantik.
"Ini Ma."
Hafizh menghela nafas berat. Ia tak kuasa melihat putrinya seperti ini. Bisa ia rasakan getar dari suara putrinya itu berusaha menahan tangisnya untuk tidak pecah.
Untuk beberapa saat Isa terlihat gembira. Ia dengan cepat mengambil alih bros itu dari tangan Leila.
"Ini sayang. Sudah ketemu!" Isa menoleh pada Hafizh seraya menunjukkan bros itu.
Hafizh tak mengatakan apapun, Ia hanya merespon dengan anggukan serta senyum singkat.
Tepat setelah itu, Isa balik badan untuk menatap Leila. Ekspresinya seketika berubah. Tatapannya nyalang, sementara bibirnya mengerucut.
"Kau yang mencuri ya?" Sebuah kalimat tak terduga terlontar dari mulutnya. Ia menuduh putri semata wayangnya sebagai pencuri bros miliknya.
Ia tersentak, syok dengan tuduhan Ibu kandungnya itu. Tuduhan itu memberikan tekanan pada jiwa Leila. Seketika itu tangis Leila pecah. Dadanya terasa sesak. Ia terisak menjelaskan bahwa dia bukanlah pencuri.
"T-tidak Ma. Le-leila tidak mencuri." Katanya terbata-bata.
"Jangan bohong! Aku selalu menyimpan di dalam kamar. Bagaimana bisa ada padamu? Kau ini siapa?!" Isa masih menyudutkan Leila.
Nada tingginya semakin membuat Leila tertekan. Leila menggeleng dengan tangis yang terus mengalir dari kedua matanya.
Dirinya tidak pernah sekalipun mendengar ibunya berbicara dengan nada tinggi padanya sebelumnya. Yang Ia tahu ibunya adalah sosok yang lemah lembut.
Tidak tega melihat Leila seperti ini, Ashana lantas menghampiri. Ia memeluk Leila dengan erat. Memberikan ketenangan sembari berbisik.
"Sudah tidak apa-apa. Leila yang sabar ya. Mama sayang Leila." Bisiknya pada Leila.
Yang di ajak bicara tidak merespon, masih berusaha mengontrol dirinya namun tetap saja larut dalam tangis tersedu-sedu.
"Lei-Leila sayang Mama." Katanya terisak sembari menatap penuh arti pada Isa.
Sesekali tangan mungilnya mengusap mata dan pipinya. Hidung dan bibirnya mulai memerah. Hatinya hancur tidak bisa menerima kenyataan bahwa saatnya telah tiba. Saat dimana ibunya tidak lagi mengenali dirinya.
Hafizh menatap putrinya dengan sendu. Ia mengangguk, berbicara dengan mata seolah-olah mengatakan 'Tenang nak. Mama juga menyayangimu.'
Sementara kedua tangannya menahan Isa untuk tidak menuduh Leila yang polos. Ia merangkul Isa.
Bibirnya bergerak lembut berbisik di telinga Isa.
"Dia Leila. Anak kita sayang. Buah hati kita." Bisiknya pada Isa spontan mengernyit.
"Anak?"