I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
KAMI MEMBUTUHKANMU



Denting peralatan makan terdengar dari meja makan. Ashana keluar dari kamar setelah menidurkan buah hatinya. Dilihatnya Isa sedang sibuk menyiapkan makan malam. Di atas meja makan sudah tersaji beberapa hidangan yang tampak lezat.


Tanpa diminta, ia berinisiatif untuk membantu.


"Maaf ya menunggu lama." Kata Ashana yang kemudian di jawab gelengan oleh Isa. Dirinya tidak keberatan untuk menyiapkan semua sendiri.


Pergerakan tangan Ashana terhenti, dirinya fokus pada nasi yang tersaji di atas meja. Diambilnya sejumput nasi itu, kemudian merasakan teksturnya. Memastikan bahwa yang dilihatnya benar. Nasi itu belum matang. Bahkan masih berupa beras.


Rasa bersalah muncul pada benak Ashana. Ia paham bagaimana Isa tentunya bingung untuk memasak nasi tadi. Tampaknya dia telah berusaha susah payah menghidupkan penanak nasi, namun dasar dirinya keras kepala membuat Isa enggan meminta tolong orang lain.


Dengan percaya diri dia menyajikan nasi mentah itu. Seluruh anggota telah berkumpul mengambil posisi di ruang makan. Ashana sempat berpikir bagaimana caranya untuk memberitahu mereka bahwa nasinya bahkan belum matang.


"Leila sini mama ambilkan ya." Kali ini Isa lebih dulu mengambilkan nasi dan lauk untuk Leila. Putrinya itu mengangguk dengan semangat.


Spontan Ashana menahan tangan Isa untuk tidak mengambil nasi itu. Sementara Isa menatap heran pada sahabatnya itu.


"Ada apa?"


"Emm itu, bagaimana kalau malam ini kita pergi keluar saja untuk makan bersama?" Ashana merasa telah memberikan alasan bodoh.


"Maksudmu? Aku sudah memasak seperti ini tapi kau justru tidak mau yang lainnya menikmati buatanku?" Isa merasa tersinggung dengan perkataan Ashana. Percakapan diantara mereka lantas menyedot perhatian seisi meja makan. Hafizh melirik pada Ashana yang terdiam. Tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.


Ia melirik pada nasi yang tidak tersaji dengan sempurna. Paham dengan maksud Ashana.


Perhatian mereka kini beralih pada Leila yang menarik lengan Isa. Meminta sang Ibu untuk menyajikan lauk untuknya. Isa tersenyum senang melihat antusias putrinya itu.


"Maaf ya sayang menunggu lama." Isa kemudian melanjutkan mengambil jatah untuk Leila lalu meletakkan di atas meja. Ibu dan Ayah yang melihat itu sempat terkejut dengan tindakan nekat Leila.


Tanpa ada ragu, Leila mengambil satu suapan.


Pada saat ini semua orang hanya menatap Leila dengan heran kecuali Isa yang menantikan reaksi senang putrinya.


Leila mengangkat jempol kecilnya untuk sang Ibu tercinta. Bibirnya sibuk mengunyah.


"Enak kok. Mamaku memang paling hebat." Dustanya sembari merasakan renyah dari beras mentah yang tersaji dengan lauk.


"Terimakasih sayang." Isa mencubit pipi Leila. Senang dengan reaksinya. Disaat tidak ada satu orangpun yang terlihat tertarik dengan masakannya, Leila adalah satu-satunya yang begitu tertarik.


Meski sebenarnya Leila tahu bahwa nasi itu belum selayaknya untuk di santap.


"Ayo makan." Isa mengambil posisi duduk. Sementara yang lainnya mematung.


"Emm.. Kita beli makan diluar yuk." Ibu membuka suara, membuat Isa kembali memasang wajah tidak senang.


"Kenapa? Apa tidak enak?" Isa bertanya dengan wajah sedih. Tatapannya melihat ke sekeliling meja dimana masakannya tersaji.


"Masakan Mama enak kok! Leila mau makan ini saja!" Leila tidak terima dengan ide sang nenek. Ia menoleh pada Nenek sementara air matanya mulai berlinang dari sudut matanya.


Hatinya terasa hancur melihat apa yang dialami ibunya. Tidak, dia tidak ingin melukai perasaan Ibunya.


Hafizh yang berada di samping Leila lantas menenangkan. Ia mengusap bahu buah hatinya itu. Meminta si putri tercinta untuk tidak melanjutkan diri memaksa menyantap nasi mentah.


"Em Sayang hari ini kita makan diluar yuk sekalian jalan-jalan ya. Ini bisa dihangatkan untuk besok pagi ya." Bujuk Hafizh pada Isa. Senyum hangatnya menghantarkan ketenangan pada Isa. Meski semula Isa ragu, namun pada akhirnya dia luluh dan menurut dengan rayuan Hafizh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Elok kerlip bintang bersanding dengan bulan menghiasi langit malam ini. Hembusan lembut angin malam menyibak surai Leila yang terduduk pada teras rumah.


Wajahnya ditengadahkan ke langit. Pandangannya fokus pada deretan bintang.


Hafizh tersenyum kecil melihat tingkah putrinya yang terlihat begitu sibuk dengan pemikiran mendalamnya bak orang dewasa.


Leila menoleh dengan senyum tipis di wajahnya.


"Kenapa tadi memaksakan diri begitu?" Hafizh mengalihkan pembicaraan. Dirinya tergelitik untuk tahu alasan dari tindakan nekat putrinya saat makan malam.


Leila menggeleng. "Hanya ingin makan buatan Mama."


Hafizh mencebikkan bibir. "Tapi kalau sakit perut bagaimana?"


"Leila sehat kok. Lagi pula dengan begitu, Leila jadi tahu rasanya beras mentah hehe." Jawab Leila dengan nyengir.


Hafizh tertawa kecil, memberikan cubitan ringan pada hidung Leila.


"Leila serius pa. Kapan lagi Leila bisa makan beras begitu kan." Jawabnya lagi.


Hafizh menggeleng mendengar gurauan buah hatinya itu. Saat seperti ini Hafizh benar-benar melihat sosok Isa kecil dalam diri Leila. Sikap keras kepalanya jelas menurun dan sudah mendarah daging.


"Leila, ayo istirahat sayang. Sudah malam besok harus sekolah." Suara lembut Ashana menarik perhatian mereka. Keduanya menoleh pada sumber suara.


"Iya sayang, ayo masuk." Hafizh mengusap kepala Leila, memintanya dengan lembut untuk tidak begadang. Leila mengangguk.


Bangkit dari tempat duduk, Leila memberikan kecupan lembut pada papanya. "Selamat malam Papa."


"Salamat malam sayang." Hafizh membalas memberi kecupan hangat pada pipi Leila. Melihat hubungan antara anak dan Ayah yang begitu harmonis refleks membuat Ashana tersenyum. Ada rasa senang dan hangat dalam dadanya.


Tepat setelah Leila beranjak dari tempat, Ashana memberanikan diri mendekat ke arah Hafizh. Menempatkan dirinya duduk bersanding dengan Hafizh, Ia mulai membuka suara memecah hening diantara mereka.


"Aku merasa bersalah tidak membantunya tadi."


Hafizh menoleh, mempelajari maksud Ashana untuk kemudian menggeleng setelah mengerti apa yang dimaksud. Ya, tentu saja Isa dan berasnya.


"Tidak perlu minta maaf. Kami mengerti kau juga sibuk." Sahutnya santai.


Ashana menunduk. Kedua telunjuknya bergerak saling mengetuk satu sama lain di atas pangkuan. Tampaknya ia ingin mengatakan sesuatu, namun dirinya gugup. Ragu harus mengatakannya saat ini atau tidak.


"Emm.. Terkait perceraian itu.." Ashana membahasnya lagi dengan Hafizh. Namun kalimatnya terhenti. Ditahan oleh Hafizh yang kini menggenggam satu tangannya dengan lembut.


"Tetaplah bersama kami. Boleh aku memohon itu padamu?" Suara dalam Hafizh membuat sesuatu dalam dada Ashana tergetar. Sorot matanya memancarkan ketulusan. Wajahnya begitu serius.


Ashana terdiam. Ia memandang wajah Hafizh dan genggaman tangan itu secara bergantian.


"Kami membutuhkanmu." Lanjutnya lagi. Kalimat itu seperti bergema pada kepala Ashana.


Untuk beberapa saat Ashana sempat bingung harus menjawab apa. Semula ia ingin mengatakan bahwa dirinya ingin melanjutkan perceraian. Tidak tega jika melihat Isa seperti ini. Dia tidak ingin terus menjadi sosok yang menghancurkan keharmonisan rumah tangga Hafizh dan Isaura.


Namun kalimat Hafizh menyadarkannya. Benar, Hafizh dan Leila membutuhkannya saat ini. Isa tidak bisa ditinggalkan seperti ini. Dia memerlukan seseorang. Karena itu Ia membulatkan keputusannya.


Ashana mengangguk mantap.


"Aku akan tetap bersamamu." Janjinya dengan tekad. Senyum terpancar diwajahnya, sementara netranya fokus pada Hafizh yang kini juga menatapnya dengan wajah sulit dimengerti. Tatapannya sendu. Terlihat lemah dan begitu banyak hal yang ada dalam pikirannya. Namun di sisi lain terpancar rasa lega pada ekspresinya.


Dalam situasi saat ini ada satu hal yang begitu diinginkan Ashana. Meski pada awalnya ia ragu, namun Ashana memberanikan diri untuk melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Hafizh. Menghilangkan jarak diantara mereka.


Untuk pertama kalinya Ashana berani memeluk Hafizh. Untuk pertama kalinya ia kembali menghirup aroma tubuh Hafizh sedekat ini.


Meski detik ini Hafizh terlihat lemah , rasa senang tak bisa dipungkiri Ashana begitu kalimat itu pada akhirnya terucap dari mulut Hafizh, si cinta pertamanya.


Sementara yang dirangkul tak berbuat apa-apa. Ada rasa terkejut namun dirinya membiarkan si istri kedua merasakan sentuhan itu. Pikirnya, Ashana hanya ingin meluapkan rasa rindu yang belum pernah terobati sejak kepergian Ridwan.