I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
TUHAN MENCINTAIMU



Ini mungkin akan menjadi hari bahagia bagi Leila. Beribu-ribu kata terimakasih ingin sekali ia ucap pada Ashana karena sudah membawa Ibunya ke Sekolah. Perasaannya masih berbunga-bunga hingga saat ini.


Belum lagi Ashana memiliki ide membawa mereka untuk menyempatkan mampir ke Mall sebelum pulang ke rumah. Sekali-kali berjalan-jalan bersama seperti ini hanya sekadar untuk cuci mata dan menyegarkan otak setelah lama hanya berdiam diri di rumah.


Mereka sempat memilih beberapa pakian yang tanpa terencana untuk dibeli. Selain itu mereka juga mampir di area bermain. Tawa gembira tak lepas dari bibir Leila. Dia menikmati hari ini. Dengan begini Ia semakin nyaman bersama Ashana.


Terlalu larut dalam permainan mereka lantas membuat Ashana lupa dirinya tengah bersama Isa yang tidak sehat. Ashana menoleh ke belakang di mana Isa semula berada. Namun dirinya tak mendapati sosok yang dimaksud.


Batinnya mulai terusik. Ashana melihat ke sekeliling area bermain, barangkali Isa ada di sana. Namun hasilnya nihil. Wajah tegangnya mulai terlihat.


"Mama!" Panggil Leila yang kini juga ikut panik karena tidak menemukan Ibunya. Leila sempat berlari ke sana kemari mencari keberadaan Ibunya. Namun Ashana dengan sigap menggandengnya, tidak ingin jika Leila juga terpisah darinya. Tidak ingin keadaan semakin buruk.


"Tetap bersama Mama Ashana ya sayang. Kita cari mama bersama-sama. Leila yang tenang ya." Tutur Ashana berusaha tenang.


Walau sebetulnya dirinya jauh lebih panik. Ia takut jika apa yang dikatakan oleh Hafizh benar terjadi. Bagaimana jika firasat Hafizh benar? Bisa-bisa dirinya akan menerima amukan hebat dari suaminya itu.


Tidak, ketimbang takut menghadapi amarah Hafizh, Ashana lebih khawatir jika bahaya sedang mengancam Isaura.


Ia menggaruk kepalanya. Bingung harus bagaimana. Sesekali Ia memukul kepalanya. Merasa bahwa idenya kali ini benar-benar buruk.


Ashana mengangkat dagunya setelah mampu berpikir dengan tenang ia rasa dia telah menemukan solusi terbaik.


"Pusat informasi." Gumamnya dengan wajah serius.


"Ayo sayang kita cari bantuan." Ashana menggandeng tangan Leila menuju bagian pusat informasi yang dijawab anggukan oleh bocah itu.


Namun dalam perjalannya itu, dirinya mendengar sebuah teriakan yang diikuti oleh teriakan orang-orang asing disekitarnya.


Sebuah teriakan terkejut yang tidak enak untuk di dengar. Tiba di lantai dasar, ia melihat sekerumunan orang dengan wajah syok berdiri menunduk di dekat tangga.


Rasa penasaran dan tidak enak muncul pada benak Ashana. Masih dalam posisi menggandeng Leila, dirinya memaksakan diri menembus kerumunan itu.


Saat dirinya sudah berhasil mendapatkan posisi yang diinginkan, detik itu juga kakinya terasa lemas. Keringat dingin bercucuran di keningnya. Kepalanya seketika terasa berat, namun ia berusaha kuat.


"MAMA!!!" Teriak Leila tak kuasa menahan diri, Ia syok berat. Ashana refleks ingin menutup mata Leila. Namun tidak ada gunanya. Leila sudah melihat semuanya.


Entah trauma seperti apa yang akan dirasakannya nanti. Ashana tidak mampu berpikir jernih. Kakinya terasa lemas, bersimpuh di hadapan Isaura yang terbaring tak berdaya di dasar tangga. Tangannya yang bergetar perlahan bergerak menyentuh pipi Isa.


Berusaha optimis bahwa Isa masih bersama mereka dan hanya hilang kesadaran. Meski dirinya tahu, darah segar telah mengalir dari hidung dan telinga Isa.


"TOLONG! KENAPA KALIAN DIAM SAJA?! TOLONG BANTU KAMI!" Ashana tak lagi mampu menahan dirinya. Dirinya menatap penuh emosi pada orang-orang di sekitar. Sesekali tangannya menggoyangkan pipi Isa.


Tangisnya pecah, beradu dengan Leila yang kini ikut mendekati tubuh Isa yang tak berdaya.


"MAMA BANGUN MA!" Pinta Leila tersedu-sedu. Suara penuh harapnya membuat orang-orang sekitar terenyuh.


Sementara Ashana, Ia menunduk dengan tangis yang tak mampu dibendung, bentuk luapan penyesalannya. Dirinya merasa sebagai dalang dari semua ini.


Detik ini, Ia merasa sebagai makhluk paling bodoh dan tidak berguna di dunia ini.


Andai dia menuruti kata Hafizh.


Andai dia tidak mengajak mereka ke sini.


Mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Tapi waktu tak dapat diputar. Tak ada satu orang pun yang bisa memahami takdir yang ditulis oleh Sang Pemilik Nyawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Deretan orang-orang berpakaian hitam mengiringi upacara peristirahatan terakhir Isaura. Sejak berita berkabung ini disiarkan, tak ada sepatah kata pun terucap dari Hafizh.


Pandangannya kosong. Seperti orang yang kehilangan harapan dan semangat hidupnya. Hanya derai air mata tiada henti yang berbicara. Semua terasa seperti mimpi baginya.


Sekelebat memori-memori indah bersama Isa yang terrekam abadi dalam ingatannya muncul. Begitu juga ingatan dimana Isa mengatakan kalimat yang tak ingin ia dengar malam itu.


"Kau bilang kau akan selalu bersamaku.


Kenapa kau begini? Kenapa saat itu kau harus mengatakan kau akan bisa pergi dengan ikhlas setelah bisa memiliku dan Leila?


Begitulah rentetan kalimat yang memenuhi kepala Hafizh. Semuanya teras berat baginya saat ini. Ia pikir tidak ada lagi alasan dirinya tersenyum tanpa Isa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Awan gelap menyelimuti langit malam ini. Deru suara petir sesekali menggelegar di atas sana. Bersamaan dengan itu, rintik hujan turun membasahi jalanan.


Namun semua itu tidak menghalangi niat Hafizh.


BRAK!


Beberapa box yang tersusun di depan gedung kosong roboh setelah Hafizh menendang seorang laki-laki yang baru dikenalnya menghantam susunan box-box itu.


"M-maafkan aku." Rintih pria itu sembari memegangi dadanya, merasakan nyeri di sana.


Hafizh tersenyum licik. Tatapannya begitu dingin. Tidak tersirat belas kasihan sedikitpun di wajahnya. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah 'Aku akan bersenang-senang dengan menghabisimu.'


"Apa.." Satu kata terucap dari mulutnya, berjalan mendekati sosok itu dengan sebuah belati di tangannya. Rambut panjang dan pakaiannya agak basah terkena guyuran gerimis. Sementara dari mulutnya tercium aroma alkohol yang menyeruak.


Kini Hafizh menatap belati tajam itu dengan penuh nafsu.


"Kau pikir.." Dua, Hafizh berjongkok menyudutkan pria itu. Tangannya bergerak mulai mendekatkan belati itu pada wajah tawanannya.


"Meminta maaf..." Tiga, Hafizh menempelkan bagian tumpul belati itu pada pipi pria itu lalu menjauhkannya kemudian menempelkannya lagi. Dia hanya senang bermain-main dengan itu. Senang melihat reaksi sasarannya yang terancam.


"Dapat mengembalikan istriku padaku?!" Tanyanya penuh emosi. Ada penekanan pada nada bicara di kalimat terakhirnya. Ia menarik kerah pria itu, sementara tangan kanannya mendekatkan belati tajam itu diantara kedua mata si tawanan. Membuatnya menelan ludah kasar begitu terancam. Pada posisi ini, dia hanya punya dua pilihan. Salah sedikit orang itu bisa saja kehilangan mata atau nyawanya.


"Ma- Ma- maafkan aku. Aku terlalu takut jika dia membawa kabur itu semua. Aku hanya karyawan." Nafas pria itu memburu dengan kalimatnya yang terbata-bata.


Hafizh menurunkan belatinya. Tertawa sinis, ia membuang muka.


"Ah kalimat itu." Katanya tidak senang bila mengingat bagaimana sudut pandang nasib karyawan dari kacamata istrinya.


Hafizh menoleh, kembali menatap pria itu, kali ini dengan wajah datar.


"K-kenapa?" Tanyanya gugup.


Untuk beberapa detik Hafizh terdiam dengan ekspresi itu, sebelum akhirnya berdecak kesal.


"Ah, kau merepotkanku." Katanya santai sembari menyisir rambut gondrongnya kebelakang menggunakan tangan kirinya.


"Kau tahu kenapa aku terdiam?" Sambung Hafiz dengan satu alis dinaikkan.


Pria itu menggeleng cepat. Wajahnya gugup ketakutan.


"Aku bingung haruskah langsung menghabisimu langsung atau pelan-pelan menyiksamu?" Bisiknya dengan senyum iblis di bibirnya.


Hafizh terkekeh.


"Kau tahu? Semasa hidupnya, dia adalah perempuan yang selalu baik pada karyawannya. Dia selalu menegurku jika aku mengeluh."


Ia kemudian menunduk. Kecewa dan merasa tak adil dengan keputusan Tuhan.


"Tapi ini yang dia hadapi di akhir ajalnya?" Hafizh menggeleng pelan. Suaranya semakin lirih. Bisa dirasakan perih dalam hatinya hanya dengan mendengar suaranya.


Hafizh menoleh. Meski sebagian wajahnya nyaris tertutup surai panjangnya, namun tetap terlihat tatapan nyalang Hafizh pada pria itu. Tak ada ampun untuk orang itu baginya.


"Katakan kenapa kau begitu kejam padanya! Kenapa?!" Tanyanya dengan geram. Nadanya tiba-tiba meninggi dan tegas. Tangan besarnya kini dengan cepat mencekik leher pria itu. Membuat nafasnya perlahan-lahan tersengal kehabisan oksigen.


"Ma-ukh. Ma-ukh- aaf." Pria itu terbata-bata. Dada dan lehernya terasa sesak.


"Tidak ada lagi alasanku hidup. Tidak ada lagi alasan aku tertawa! Tidak Ada!" Tutur Hafizh dengan volume suara semakin lama semakin menginggi. Ia meluapkan emosinya. Jiwanya terpukul, belum bisa menerima kepergian tiba-tiba istrinya itu.


Raut wajah Hafizh penuh dendam. Sorot matanya kesetanan. Hatinya kosong seperti tak mengenal Tuhan lagi sejak sepeninggalnya Isaura. Ada rasa puas pada bibirnya yang di sunggingkan dan matanya yang tajam kala mendengar suara tercekik pria itu.


"Ma-ukh mafkan Ak-aku saat itu...."