
Suasana sekolah semakin sepi. Leila masih bersabar menanti Isaura untuk datang menjemputnya. Teringat jelas pesan dari sang Mama, "Sayang hari ini mama jemput ya."
Duduk seorang diri pada kursi yang tersedia di bawah pohon rimbun, Leila bersenandung sembari menggoyang-goyangkan kaki mungilnya.
"Leila belum pulang sayang?" Seorang guru berkacamata menghampirinya. Leila menoleh, kemudian menggeleng.
"Tunggu jemputan Mama." Katanya pada wanita dengan helai putih di rambutnya itu. Sang guru menoleh pada arloji yang melingkar ditangannya. Sudah 1 jam lebih Leila menunggu jemputan sejak waktu seharusnya ia pulang.
"Ibu telpon orang tua Leila ya." Tawarnya yang dibalas anggukan oleh muridnya itu.
Baru beberapa detik berdering, seseorang segera menjawab panggilan. "Benar dengan Bapak Hafizh wali dari Leila?"
"Maaf pak, putrinya sudah 1 jam lebih menunggu jemputan. Apakah ada yang akan menjemputnya? Jika tidak, boleh saya antarkan pulang."
"Baik pak." Tutupnya pada seseorang di seberang sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Terimakasih Bu." Hafizh menutup percakapannya dengan Guru dari Leila untuk kemudian berjalan masuk ke dalam mobil.
Melajukan mobilnya menyusuri jalan, Hafizh melirik ke arah putrinya yang sejak tadi tampak lesu. Dirinya tidak mengatakan apapun.
"Sudah, Leila jangan cemberut ya. Nanti Papa yang akan marahi Mama." Bujuk Hafizh.
Leila tak menjawab. Wajahnya masih ditekuk sebal pada Ibunya. Ini adalah kedua kalinya dia mendapatkan kekecewaan dari Isaura.
Hafizh menghela nafas. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada Istrinya itu. Sesekali Hafizh melirik pada ponselnya, berharap Isa akan menjawab panggilan. Sayangnya tidak juga ada jawaban dari istri tercintanya.
"Kemana ya? Apa mungkin sedang sibuk sampai lupa dan tidak ada kabar?" Gumamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Isa terdiam di dalam mobilnya. Sudah 1 jam dirinya berada di dalam sana. Isa menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Menarik nafas dalam-dalam, mengontrol dirinya untuk tenang dan fokus. Satu menit Isa memejamkan mata. Kemudian perlahan membuka matanya, fokusnya kini kembali mencari tahu bagaimana cara melajukan mobilnya.
Semula dirinya tercenung melihat kunci yang berada di tangan. Dirinya mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukannya dengan kunci itu.
Isa memegang kepalanya. Pikirannya seolah-olah masih belum bisa fokus. Tidak paham apa yang harus dilakukannya dengan kunci itu.
Kali ini ia bernafas lega. Dia menemukan di mana kunci itu seharusnya diposisikan. Deru mesin mobil terdengar. Isa menggigit bibirnya. Tangannya gemetar, seperti baru pertamakali mengemudikan mobil dirinya tidak tahu apa yang selanjutnya harus dilakukan.
BRAK!
Kakinya tanpa sengaja menginjak gas. Membuat mobilnya bergerak maju tak beraturan. Beruntung ketika itu juga dia mampu menghentikannya.
Isa menundukkan kepalanya pada setir mobil. Wajahnya tampak ketakutan. "Bagaimana ini?" Bisiknya dengan suara bergetar.
Panik, Isa segera keluar dari mobil tanpa mematikan mesinnya. Baru saja membuka pintu, Isa tersungkur saat tanpa sengaja menabrak seseorang.
Isa menatap sosok dihadapannya dengan ketakutan. Seorang pria dengan pakaian rapi mengulurkan tangan padanya, bermaksud membantunya berdiri.
"Maaf. Maaf aku tidak sengaja." Katanya pada orang itu.
Uluran tangan orang itu diabaikannya. Kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat dengan panik. Tidak ingin jika orang itu akan menuntutnya karena telah menabrak mobilnya.
Merasa terancam, Isa kemudian berlari menjauh tidak menghiraukan meski samar-samar ia mendengar orang itu memanggil. Menurutnya, dia tidak mengenal sosok itu.
"Isa! Isaura!" Panggilanya pada Isa yang semakin menjauh. Sosok itu menengok pada bagian mobil depan Isa yang penyok, begitu juga dengan bagian belakang mobilnya yang tertabrak milik Isa.
Ia sempat menatap Isa dan mobilnya secara bergantian. Bingung harus mengambil langkah mana yang baiknya didahulukan. Tangannya dengan cepat mematikan mobil, mencabut kunci kemudian berlari mengikuti arah kemana Isa pergi.
Nafasnya mulai memburu. Netranya diedarkan ke sekeliling jalan. Sesekali dirinya memanggil nama Isaura. Tepat pada persimpangan jalan, ia sempat menghentikan langkahnya. Berpikir sejenak, arah mana yang harus dipilih.
Melangkah mengikuti intusi, sosok itu tersenyum saat kakinya menuntun ke jalan yang tepat. Dirinya mendapati Isa berdiri di tepi jalan. Masih dalam wajah kebingungan, Isa mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Sedetik kemudian, senyum dari orang itu seketika sirna. Matanya membulat dengan wajah berbalut cemas tat kala wanita yang dicarinya itu perlahan berjalan ke tengah jalan tanpa mempedulikan kondisi jalanan yang ramai kendaraan berlalu-lalang. Seperti sedang menantang maut, Isa tidak menyadari bahaya itu dan masih lanjut memaksa hendak menyebrang.
TINN!!!
Lengking klakson nyaris memecahkan gendang telinga. Beruntung, Isa lebih dulu terselamatkan dari sambaran sebuah truk yang melaju kencang.
Pria yang terasa asing itu menarik tubuhnya ke tepi jalan. Membuatnya limbung pada dekapan. Ia kemudian mengangkat kepala dari dada sosok yang semula dijauhinya itu.
Untuk beberapa saat mereka beradu pandang. Nafas keduanya terengah. Panik tidak karuan dalam situasi ini.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya pria itu pada Isa.
Isa tak menjawab. Matanya diedarkan ke sekitar. Tatapannya takut dan bingung.
"Tolong, aku mau pulang, aku mau menjemput anakku. Dia sudah menunggu dari tadi." Isa memohon, pipinya kini mulai basah.
Pria itu mengernyit. "Apa yang terjadi?"
Isa menggeleng cepat. "Aku tidak tahu. Aku hanya ingin pulang dan bertemu putriku. Dia sudah menungguku. Aku- Aku tidak tahu harus lewat mana."
Sekali lagi pernyataan Isa membuat lawan bicaranya mengerutkan keningnya dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sejak kelahiran Izzan, perasaan senang menyelimuti hari-hari Ashana. Dirinya tersentuh akan sikap Hafizh yang lebih perhatian dari sebelumnya. Setidaknya Ashana merasa jika Hafizh mulai menganggap keberadaannya sebagai seorang istri.
Namun, pertengkaran hebat malam itu membuatnya tertampar keras. Hafizh memberikan perhatian tidak lebih hanya sekedar untuk tanggung jawab dan mengetes seberapa besar Isa mencitainya. Bukan lebih dari itu.
Karena itu, Ashana telah mengurus perceraian seperti janjinya di awal.
Meski kedua orang tuanya sempat menolak, namun Ashana bersikukuh untuk mengurus semuanya.
"Kenapa? Tidak. Ibu tidak mau kalian cerai. Ibu mau cucu ibu. Kau di sini saja ya Ashana. Maaf ya kalau Isa kadang-kadang seperti itu. Padahal dia dulu tidak begitu lho." Bujuk sang mertua sembari mengusap bahu Ashana.
Hafizh yang semula sibuk mondar-mandir sambil menatap ponsel menantikan kabar Isa kini melirik tajam pada sang Ibu. Tidak terima dengan perkataan Ibu terhadap istri pertamanya itu.
Ia menghentikan aktivitasnya. Lalu membela Isaura.
"Bu, berada di posisi Isa juga bukan perkara mudah." Belanya.
Ibu berdeham, lalu menoleh pada putra bungsunya itu.
"Pernikahan itu kan sakral. Bukan seperti pacaran yang putus nyambung. Kau tahu Allah tidak suka perceraian." Katanya.
"Apa yang dikatakan Ibumu benar Fizh." Ayah menambahkan namun Hafizh tidak menjawab. Ia melengos, mengalihkan perhatiannya kembali pada ponsel, harap-harap cemas menanti Isa.
Dia memang tidak melakukan talak, namun dari gelagatnya Ashana yakin jika dia tidak menolak untuk berpisah.
Hafizh menghampiri Putrinya yang sedari tadi termenung. Kesal Ibunya tidak kunjung pulang. Mereka menyadari belakangan ini memang Isa terlihat aneh. Entah apa yang disembunyikannya, mereka tidak tahu.
"Assalamualaikum." Terdengar suara laki-laki mengetuk pintu.
Kompak mereka menoleh ke arah pintu utama. Tak mau menunggu lama, Hafizh segera bangkit dari tempat duduk untuk kemudian berlari menuju pintu diikuti yang lainnya.
Dibukanya pintu sembari menjawab salam.
"Dean?" Sapanya terkejut dengan kunjunganya secara tiba-tiba.
Lebih-lebih Hafizh mendapati sang Istri yang terlihat kacau tengah berdiri di samping Dean dengan bahu dirangkul oleh sepupunya itu.
Hafizh sempat menyadari istrinya itu tampak melihat ke sekeliling dengan wajah ketakutan. Risih, Hafizh segera menyingkirkan tangan Dean dari bahu istrinya sembari menatap sinis pada Dean.
Isa mengalihkan perhatian pada Hafizh saat dirinya digelendeng mendekat.
"Sayang, dari mana saja? Kau tidak apa-apa?"
Sadar Hafizh menaruh curiga, Dean lantas buka suara.
"Dia mendadak linglung." Celetuk Dean menyedot perhatian lainnya.
"Dia bahkan tidak mengenaliku." Lanjut Dean yang dibalas dengan menatap heran dari mereka.
Hafizh menggeleng. Tidak ingin berdebat di luar rumah, Hafizh memilih mempersilakan masuk untuk membicarakan di dalam.
"Ah sudah, Ayo duduk masuk dulu." Ia memandu Isa untuk masuk lalu duduk pada sofa.
Bersamaan dengan itu, Ashana kembali dengan segelas air.
"Tenang dulu ya sayang." Hafizh memberikan segelas air itu. Setelah Isa mengambil satu tegukan, Hafizh lalu memeluk Isa yang masih terlihat kebingungan. Pandangannya menatap pada Dean.
Yang di tatap menggeleng. Dirinya juga tidak paham dengan apa yang terjadi pada Isa.
Hafizh melepas pelukannya kemudian berlanjut menyentuh pipi Isa.
Tangan Isa bergerak menyentuh punggung tangan Hafizh. Merasakan hangat sentuhannya. Pandangan mereka beradu. Seperti sedang mengamati sesuatu, Isa lantas bergumam menyebut nama Hafizh dengan lembut.
"Hafizh."
Hafizh mengangguk. "Iya sayang."
"Sayang, aku tadi di sebuah jalan, aku tidak tahu dimana. Kemudian Mas ini bantu aku." Isa mulai menjelaskan perlahan sembari mengingat.
"Mas?" Hafizh memastikan. Tidak biasanya Isa memanggil Dean dengan sebutan itu. Dia merasa aneh.
Isa mengangguk. "Iya mas itu. Aku belum tahu namanya. Tapi aku mau berterima kasih." Isa mengalihkan pandangan pada Dean. Kemudian memberikan senyum hangat.
"Terimakasih ya Mas." Katanya sembari tersenyum. Rasa terimakasih Isa dibalas senyum hangat oleh Dean. Sementara yang lain terheran-heran dengan tingkah Isa. Terlihat aneh, namun ini juga terasa bukan sebuah akting.
"Mama!" Seru Leila berlari kecil sembari membuka kedua tangannya lebar-lebar. Meminta pelukan hangat dari Ibunya. Dirinya lelah sejak tadi menunggu.
"Mama. Mama Kemana saja? Leila kesal menunggu dari tadi." Leila memukul pelan pangkuan sang Ibu. Isa mengusap pipi putrinya.
"Mama minta maaf ya sayang, tadi mama mau jemput Leila, tapi mama salah arah. Mama bingung." Jelasnya.
"Leila sayang, biar mama istirahat dulu ya." Hafizh mengusap rambut Leila. Tidak ingin jika kondisi Isa semakin memburuk jika diteror banyak pertanyaan oleh putrinya.