I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
MENJAUH



Sebelum ujian benar-benar di mulai, sekolah kami mengadakan Study Tour. Aku lega, tabunganku cukup untuk kugunakan sebagai pegangan selama perjalanan.


Aku begitu bersemangat dengan kegiatan ini. Karena salama ini aku juga belum pernah melakukan perjalanan jauh. Sayangnya, aku tidak bersama ibu.


Tepat saat ini, aku memiliki cita-cita baru. Mengajak Ibuku berkeliling dunia bersama. Aku yakin ibu pasti begitu jenuh setiap hari hanya di rumah mengurus dagangan.


Di samping itu, ada satu hal lain yang sedikit mengusikku. Percakapan diantara aku dan Hafizh terakhir kali itu agaknya memberikan jarak di antara kami berdua.


Entahlah, hanya aku yang sengaja menghindar atau dia juga canggung karena itu. Sejujurnya tidak ada jawaban darinya saat itu. Tapi, aku pikir akan lebih baik jika menjauh, daripada akhirnya aku benar-benar dibuatnya kecewa. Aku pikir aku lebih tahu segalanya meski belum benar-benar terucap dari mulutnya.


Aku duduk di depan tanpa teman sebangku di dalam bis. Sebagai seorang ketua kelas, tentu saja sesekali aku membantu memandu.


Ada kalanya suasana terasa begitu canggung ketika aku harus berdiri memandu menghadap penumpang sementara tatapan mataku beberapa kali bertemu dengan Hafizh.


Aku menghela nafas lega ketika kami tiba di hotel. Agak berat aku membopong tas ranselku untuk Kemudian ku bawa ke dalam kamarku setelah selesai membagikan kunci.


Karena kami tiba agak malam, aku bergegas untuk membersihkan diri, keramas dan melanjutkan shalat.


Mengucapkan sebait doa untuk Ibu dan berharap Allah akan mengetuk pintu hati seseorang yang ditakdirkan untukku.


TOK TOK TOK


Terdengar suara ketukan pintu kamarku. Aku melepas mukena usai mengamini deretan doa yang dipanjatkan.


Berdiri melangkah menuju pintu usai terdengar suara seorang perempuan memanggil.


"Oh Ana." Pikirku.


Tepat saat aku membuka pintu, mulutku dibuat ternganga. Aku memekik kecil. Terkejut mendapati Hafizh berdiri di depan pintu kamarku sementara aku belum mengenakan hijab.


Panik, aku spontan menutup pintu. Bersandar di balik pintu, kemudian menarik nafas dalam-dalam.


Aku pikir mulanya dia juga terkejut melihatku. Mungkin bukan kamarku yang sebenarnya dituju. Di sisi lain, sekelebat aku menyadari Hafizh sempat berusaha menahan senyumnya sebelum aku segera menutup pintu.


Tanganku bergerak menyentuh dada kiriku. Merasakan debaran di dalam sana yang tidak bisa aku kontrol. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku merasa berdosa telah memperlihatkan wajahku tanpa hijab.


Beberapa detik kemudian seseorang kembali mengetuk pintu. Aku meraih handuk yang terselempang dekat sana. Kemudian menutup kepalaku dengan itu. Menanti suara dari balik pintu untuk memastikan yang di depan sana benar-benar teman sekamarku.


"Ini aku Ana."


Aku membukakan pintu setelah yakin kali ini benar itu Ana.


"Tadi kau sempat ketuk pintu ya?" Aku memastikan


"Iya, tapi tidak jadi masuk. Ada urusan di kamar sebelah. Kenapa?"


"Hafizh, tadi dia di depan pintu kita."


Ana berpikir sejenak. "Oh sepertinya dia salah kamar. Kau tahu kan kadang-kadang Hafizh itu tolol." Canda Ana kemudian mengambil posisi tidur di atas kasur hotel.


Ah benar rupanya salah kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Esoknya perjalanan kami berlanjut. Kali ini kami mampir ke Candi Borobudur. Aku menghela nafas, cuacanya sangat panas.


Seseorang tiba-tiba mendekatiku. Ada bayangan di tanah. Kepalaku terasa lebih sejuk. Aku menoleh, kaget melihat Hafizh berdiri di sebelahku.


"Panas loh." Katanya masih dalam posisi memayungiku dengan jaketnya.


"Tidak perlu. Aku bisa sewa payung." Kataku, tidak ingin memberikan kesempatan untuknya berada di dekatku.


Tepat saat itu seorang pria paruh baya datang menyewakan payung.


"Saya sewa satu pak." Hafizh cepat-cepat membayarnya. Lalu mengambil alih payung untuk kemudian memayungi kami berdua.


Tak berselang lama, penyewa lainnya datang menghampiri. Menawarkan payungnya.


"Saya ambil 1 pak."


"Eh tidak usah pak. Sudah cukup satu saja." Hafizh mencegahku.


"Eh, ini tadi pelangganku. Kau tidak seharusnya merebut pelangganku." Aku menggaruk kepalaku yang terbalut hijab. Rasanya gatal, di tengah terik seperti ini bukan hanya Hafizh yang mengajak berdebat tapi justru kedua penyewa ini tak mau mengalah.


"Sudah pak kita ambil satu saja." Hafizh mencoba menengahi. Namun aku justru menganggap sikapnya tidak adil.


"Sudah-sudah pak. Saya ambil satu ya dari bapak." Kataku pada bapak-bapak yang belum menerima sewaan. Tidak tega melihatnya seperti ini hanya karena ingin mendapatkan sedikit hasil untuk sesuap nasi. Aku hanya tidak bisa membayangkan jika ini adalah bapakku.


Aku lantas berjalan meninggalkan mereka, sementara Hafizh tersenyum kecil melihat sikapku yang sepertinya dia sadar aku sedang memberikan jarak.


Aku berjalan menaiki beberapa anak tangga. Mengambil beberapa jepretan foto namun aku cukup kesusahan.


Aku bergeser saat melihat Hafizh dari kejauhan sedang sibuk memotret pemandangan di belakangku. Aku tidak ingin menghalangi objek dan pemandangan yang dituju.


Sejujurnya, aku ingin meminta bantuannya untuk mengabadikan momenku namun aku terlalu gengsi.


Turun dari sana, kami mampir ke tempat deretan oleh-oleh dan souvenir dipajang. Mataku dimanjakan dengan cantiknya benda-benda itu.


Aku tertuju pada satu baju panjang yang di pajang. Teringat untuk memberikan sedikit kejutan untuk Ibu. Aku yakin dia akan senang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab Ibu dari dalam warung. Aku mencium tangan ibuku setelah beberapa hari tidak berjumpa dengannya karena study tour.


"Bu, lihat ini. Isa belikan ini untuk Ibu." Tanpa bercuci tangan, tanpa berganti pakaian, aku langsung menunjukkan baju yang aku belikan untuk ibuku dengan antusias. Kemudian membongkar lipatannya untuk aku jajalkan ke tubuh ibu.


Ibu menghela nafas. Tidak ada senyum di bibirnya.


"Dari pada beli baju. Lebih baik uangnya ibu pakai belanja keperluan warung."


Senyumku seketika itu juga memudar. Sebuah reaksi yang tiada pernah aku harapkan. Kecewa tak dapat aku bendung. Tidak pernah aku duga ibuku memiliki hati sedingin ini.


Aku menurunkan tanganku dari tubuh ibu.


"Bu, tapi Isa rela tidak jajan di sekolah supaya bisa bekal untuk study tour. Isa rela tidak beli makanan selama study tour supaya bisa belikan oleh-oleh untuk Ibu. Isa ingin ibu juga merasakan suasana liburan meski isa belum bisa bawa ibu ke sana. Tapi ini yang Isa dapatkan dari Ibu. Apa kalau Isa ada bapak, Isa juga akan diperlakukan seperti ini?"


Tanpa aku sadari aku telah terlalu banyak bicara. Pipiku mulai basah berderai air mata. Suaraku bergetar, ada rasa yang mencekik di leherku.


"Isa! Cukup! Jangan pernah membahas Bapak atau pernikahan! Ibu tidak suka!"


"Dengar ya Sa. Ibu yang sudah ada selama ini untukmu! Ibu yang selama ini bertaruh nyawa untuk menghidupimu! Bukan bapak! Jadi jangan pernah ungkit bapak! Paham!"


Ibu mengecam tindakanku. Kemudian pergi meninggalkanku.


Aku terduduk di sudut warung. Meratapi nasibku, aku bahkan tidak tahu seperti apa sosok bapak. Tidak pernah mendapatkan sedikit belas kasih sayang darinya.


Aku memilih untuk diam. Tidak meluapkan isi kepalaku pada Ibu. Aku paham, ibu telah bersusah payah untukku. Namun, kalimatnya tidak sepenuhnya benar bagiku.


Di masa pubertasku seperti ini, aku pikir cukup sulit untuk memahami keadaan ibu. Aku pikir tidak sepantasnya ibu menyalahkan keadaan dan merasa dirinya paling tersiksa diantara yang lainnya dalam situasi ini.


Bukan pula aku yang meminta untuk dilahirkan. Lalu mengapa Ibu memaksakan kehendak agar aku melakukan apapun yang ia mau. Bahkan untuk sekedar tahu siapa Bapak pun tak boleh.


Jika ibu tidak izinkan aku menikah karena khawatir aku akan disakiti. Dalam hati, keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan pernah menikah. Aku tidak ingin jika anakku akan bernasib sama sepertiku.


Rasanya aku tidak sanggup membayangkan sakit yang akan ia rasakan nanti jika aku tidak bisa membahagiakannya.