
Menutup pintu mobil, aku melangkah menuju rumah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Baru masuk beberapa langkah di ruang keluarga, langkahku terhenti saat menyadari ada sesuatu yang berbeda di sana.
Aku tersenyum tipis memandang ke arah foto berukuran besar terpajang di sana. Ya, kini tidak hanya ada aku, Leila dan Hafizh di sana. Foto kami bertiga telah diganti dengan foto bersama Ashana dan Izzan.
"Eh jangan! Ini untuk Mama Ashana." Perhatianku kini beralih pada Ibu dan Leila yang sedang duduk di sana.
Sedikit rasa kesal muncul saat mendapati Ibu menyentil tangan Leila yang semula hendak mengambil cemilan di atas meja.
"Untuk Mama Leila bagaimana?" Tanya Leila dengan polos sembari mengigit jarinya.
"Beli sendiri ya." Kata Ibu lalu menyembunyikan makanan itu dari hadapan Leila.
"Leila sayang. Ayo sini." Panggilku padanya. Ia kemudian berdiri dari sofa untuk kemudian berlari mendekatiku.
"Mama!" Panggilanya kemudian memelukku. "Mama mau jajan itu." Leila menunjuk ke arah sang Nenek, sementara sang Nenek berpura-pura tidak melihat keberadaan kami.
"Iya sayang setelah ini kita keluar ya. Minta maaf dulu pada Nenek. Ingat, sebelum mengambil sesuatu yang bukan milik Leila harus izin dulu ya sayang." Kataku sembari mengusap kepala putriku. Aku tersenyum saat dia mengangguk paham dengan maksudku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kepulan uap muncul dari cangkir berisi serbuk kopi. Tanganku kini bergerak mengaduknya membuat denting nyaring dari sana.
"Aduhh!! Hati-hati! Kenapa dicubit begitu. Lihat jadi menangis kan! Sini ya Leila Nenek cubit juga."
Konsentrasi ku seketika itu terpecah mendengar keributan dari ruang keluarga. Tidak hanya suara Ibu yang terdengar namun tangis Izzan dan Leila juga beradu bersama.
Tak menunggu lama aku segera datang ke sana sembari membawakan kopi untuk ku letakkan di atas meja.
"Mama." Leila beringsut dalam pelukanku saat aku tiba di sana. Hidungnya merah sementara pipinya basah, tangan kecilnya mengusap-usap lengannya yang terasa sakit. Tanpa banyak bicara, aku segera menyingkirkan tangan kecilnya untuk melihat kondisi lengannya. Bekas kemerahan tercetak jelas di sana.
"Leila yang mulai dulu. Dia mencubit pipi Izzan." Ibu mertuaku lebih dulu menjelaskan tanpa aku bertanya apa yang terjadi.
Aku menoleh ke arahnya. "Aku mengerti. Tapi aku bahkan tidak pernah mencubitnya hingga seperti ini. Tidak bisakah memberi tahunya dengan baik?! Leila bukan anak yang membangkang. Aku tahu betul dirinya. Cukup diberitahu saja dia tidak akan mengulanginya! Kenapa harus dicubit hingga memar seperti ini?!"
"ISAURA!" Hafizh berteriak menegurku yang tanpa sadar telah berbicara dengan tidak sopan pada Ibunya. Suaranya menarik perhatian seisi rumah termasuk Ashana yang bingung harus bersikap apa. Jelas dirinya tidak ingin perdebatan seperti ini terjadi.
"Siapa yang memintamu berbicara dengan nada tinggi pada Ibu? Leila yang telah mencubit pipi Izzan sampai menangis." Hafizh menatapku denga emosi sementara aku menatapnya dengan kecewa.
Tidak menduga jika dirinya akan menegurku seperti ini.
Aku menghela nafas. Mengangguk, kemudian meminta maaf.
"Benar. Aku salah. Aku meminta maaf jika kali ini aku tidak sopan pada Ibu. Tapi aku bersikap seperti ini untuk putriku. Apa kau pikir jiwa polosnya akan tega dengan sengaja melukai Izzan? Dia hanya anak kecil. Dia hanya gemas dengan adiknya. Dia memang belum paham jika tangan mungilnya bisa melukai orang lain. Tapi jangan pernah melukai putriku seperti itu."
"Dan juga, bukankah sudah tugasmu sebagai ayah mengawasi putrimu juga? Tapi apa yang kau lakukan sejak tadi? Sesibuk itu kah sampai-sampai tidak memiliki waktu bahkan untuk sekedar mengawasi putrimu?"
Nafasku terengah. Ini adalah pertama kalinya aku menunjukkan sisi pemberontakku di hadapan mereka.
Hafizh menatapku. Dia membiarkanku meluapkan isi kepalaku.
"Kau cemburu?"
Sebuah pertanyaan yang begitu aku benci. Aku melengos, enggan menjawabnya. Hafizh mendekatiku. Ia menarik daguku untuk menatap padanya.
"Jawab aku." Dia masih berusaha mencecarku.
Aku menghempaskan tangannya dari daguku namun tangan besarnya justru berbalik menarik pergelanganku untuk kemudian menarik tubuhku ke kamar.
"Jawab aku kau cemburu kan?" Kini Hafizh menyudutkanku pada dinding kamar. Menjauh dari keluarga kami.
"Iya aku cemburu lalu kenapa?!" Aku menatap nyalang padanya. Mengangkat daguku seolah menantang.
"Cih.." Hafizh tertawa sinis. Dia mengangguk. "Benar, tentu saja."
Untuk beberapa detik suasana hening. Tatapan mata Hafizh perlahan berubah. Rasa geram penuh kekecewaan tersirat dari wajahnya.
"Untuk apa? Untuk apa kau cemburu? Bukankah kau yang memintaku untuk memberikan perhatian pada Ashana? Bukankah kau yang mengatakan jangan terlalu perhatikan aku bla bla.. lalu kenapa jika semua ini terjadi kau cemburu?"
"Benar! Bukankah sudah aku katakan sebelumya dan kau sudah tahu suamimu ini hanya manusia biasa lalu mengapa kau memintaku harus menduakanmu?! Memaksaku adil! Kau salahkan semua orang! Semua ini adalah keputusanmu! Kau yg membuatku berada di posisi ini!" Hafizh memukul dinding dengan kedua tangannya. Membuatku yang berada dalam posisi terhimpit antara dinding dan tubuhnya menjadi ketakutan hingga memejamkan kedua mataku.
Air mataku menetes. Selama bertahun-tahun kami bersama, ini adalah kali pertama Hafizh meninggikan suaranya padaku. Pertama kalinya dia menatapku dengan tatapan seperti ingin menelanku. Pertama kalinya pula dia memukul dinding seperti ini di hadapanku.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Mencoba mengontrol emosiku. Begitu juga Hafizh, bahunya bergerak naik turun tampak berusaha menahan amarahnya. Perlahan amarahnya mulai terkontrol.
"Iya aku salah." Aku membuka pembicaraan lagi. Hafizh beralih menatapku, masih dengan tatapan tajam.
"Aku yang salah. Tapi aku tidak menyangka bahwa kau tidak bisa memahami situasiku juga." Kataku lirih dengan sedikit terisak.
Tak ingin mendengar jawaban darinya aku lantas mendorongnya menjauh dari tubuhku. Kemudian kembali mendorongnya keluar kamar.
Saat sudah di luar kamar, aku beralih pada Leila yang sedari tadi ikut menangis mendengar pertengkaran kami.
Aku meraih tangan Leila untuk kemudian menariknya masuk kedalam kamar. "Leila! sini sayang."
Hafizh menghentikan pergerakan kami dengan menarik tanganku.
"Oh sekarang kau mau menghasut anakmu untuk menjauhiku ya? Siapa yang membuatmu begini? Dean kah?! Kau menyukainya?!"
Aku berkerut kening, tidak paham dengan maksud kalimatnya.
PLAK!
Kali ini aku benar-benar lelah mendengar celotehnya, tanganku bergerak melesatkan satu tamparan pada Hafizh.
"Hentikan fitnah kejimu! Aku tidak menduga kau akan berpikir seperti ini tentangku!"
Tak terima sang menantu membentak putranya, Ibu lantas balik menegurku.
"Isa! Isa kau ini kenapa nak? Cucuku jadi ikut nagis karena kalian ribut."
"Bu, sudah bu, sudah. Biar mereka yang selesaikan." Bapak menahan Ibu untuk tidak ikut dalam perdebatan kami. Sementara Ashana kini juga ikut melerai perdebatan kami.
"Sudah-sudah semua baik-baik saja." Ashana meraih tangan Hafizh yang mengepal disamping celananya. Menahannya untuk tidak membalas tamparanku. Rahang Hafizh mengeras, menahan diri untuk tidak terpancing emosiku.
"Kau kejam Hafizh! Kau tega! Aku begitu mencintaimu tapi begini balasanmu!"
"Tidak bisakah kau tidak menyudutkan ku? Aku tidak memiliki siapapun. Tapi semua orang dipihakmu!"
Lelah dengan perdebatan panjang ini, aku lantas menggelendeng tangan Leila untuk masuk kedalam kamar. Menutup pintu kamar dengan keras, aku segera mengunci pintu.
Mengusap wajahku kemudian memeluk Leila yang terduduk di atas kasur.
"Maaf, maafkan Mama. Leila jangan meniru apa yang mama lakukan ya. Mama salah. Mama minta maaf belum bisa menjadi mama yang baik."
Tangis Leila semakin menjadi saat aku dengan erat memeluknya sementara mulut tiada henti mengucap maaf.
Selang beberapa saat aku duduk termenung mengamati sekitar kamar. Netraku tertuju pada tumpukan buku.
Aku berjalan menuju meja untuk kemudian meraih buku bersampul monokrom. Sebuah buku yang sering dibuka oleh Leila. Buku yang kubuat dengan manis, mengisahkan perjalanan cinta aku dan Hafizh.
Tanganku bergerak cepat mengemasi buku-buku itu untuk kemudian aku masukkan kedalam kardus agar tak lagi dibuka oleh Leila.
"Jangan. Jangan pernah baca ini lagi sayang. Jangan pernah menikah! Jangan!" Aku menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Semua yang ku tulis tidak lagi ada gunanya.
Semuanya telah berjalan diluar dari harapanku. Entah akan seperti apa kisah kami setelah ini, aku serahkan pada sang pemilik hati.
Semalaman aku tidak bisa mengistirahatkan isi kepalaku. Menuruni kasur, aku melangkah kakiku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu.
Berdoa kepada sang pemilik nyawa untuk kembali menata hati yang terlukai.
"Hapuskan luka ini, hapus semua ini. Beri aku keikhlasan."