I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
RAHASIA MANIS



(AUTHOR POV)


Hafizh berlari dengan senyum di bibirnya. Langkahnya terhenti pada gerbang sekolah. Netranya melihat ke sekeliling, saat itu juga senyumnya memudar.


"Ashana!" Panggilanya sembari menoleh ke sekeliling, berharap sosok yang dicarinya akan muncul. Beberapa menit berlalu namun tidak kunjung berjumpa dengan Ashana.


Hafizh mengacak rambutnya dengan gusar. Bunga ditangannya di jatuhkannya asal. Tidak ada gunanya pikirnya.


Penyesalan muncul dalam dadanya. Dia terlambat, padahal sebelumnya dia berlatih maksimal untuk dapat menyatakan isi hatinya pada gadis yang selama 3 tahun ini dikaguminya.


Tangannya bergerak meraih ponsel dalam saku. Namun pergerakan jarinya dihentikan.


"Dia tidak datang karena dia tidak ingin. Dia tidak menyukaiku." Hafizh menghela nafas. Tangannya bergerak memasukkan ponsel ke dalam saku.


Berjalan dengan gontai menuju parkiran motor. Melaju dengan kecepatan tinggi, Hafizh merasa frustrasi.


Selama tiga tahun dia menahan diri untuk tidak mengungkapkan sebab pikirnya semua itu ia lakukan untuk kebaikan Ashana dan dirinya.


Dia pikir ini adalah saat yang tepat, seperti yang Isaura katakan padanya. Namun semesta memberinya hasil pahit, batinnya dibuat kecewa, tidak bisa menerima penolakan seperti ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sejak saat itu, entah mengapa Hafizh merasa semuanya menjauh. Isaura telah mengganti nomor telepon. Sementara Ashana, Hafizh tak memiliki nyali lagi untuk menghubunginya.


Semua ini karena asumsi bodoh yang ia buat sendiri. Menganggap Ashana tidak menginginkan dirinya. Dia pikir semuanya telah berubah. Semua itu membuatnya frustrasi.


Terlepas dari semua itu, Hafizh telah melupakan Ashana. Perlahan tapi pasti, dia yakin dan bertekad untuk fokus pada apa yang harus dijalaninya saat ini. Memilih menghabiskan waktu untuk kuliah dan ospek. Dia memilih untuk berkuliah di Indonesia. Pikirnya, Ibu dan Ayahnya juga memerlukan anak untuk merawatnya di rumah. Tidak tega jika harus berpisah jauh-jauh.


Lagi pula, Universitas ternama di Indonesia juga tidak kalah dengan universitas lainnya di luar negeri.


Tangannya sibuk mengeluarkan isi tas ranselnya untuk mengganti isinya dengan buku-buku lain yang diperlukan.


Hafizh mengernyit. Tangannya menangkap sebuah remasan kertas yang sudah kusut. Dia melemparnya sembarang. Kemudian melanjutkan aktivitasnya mempersiapkan keperluan kuliah.


Setelah semua dirasa siap. Hafizh menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Aduh, apaan sih ini." Gerutunya kesal saat kepalanya tidak sengaja terganjal gumpalan kertas yang semula ia buang sembarangan.


Masih dalam posisi malas dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Hafizh mengernyit. Tangannya kini sibuk membuka lembaran kertas itu.


Bibirnya otomatis melengkung, hanya sebuah kertas yang sempat ia gunakan untuk menulis kata sandi sosial media Isa ternyata.


Hafizh kemudian meletakkan kertas itu kembali. Ya, dia ingat saat Isa memintanya membuangnya, dia hanya sempat meremas kertas itu tanpa berani membuangnya di sembarang tempat. Sebab ditengah ramainya situasi saat itu, ia khawatir jika ada orang yang iseng menyalah gunakan akun Isa.


Hafizh memejamkan matanya dalam posisi terlentang menghadap langit-langit kamar, sementara tangan kanannya menutupi matanya.


Meratapi rasa rindu yang menyelinap di benaknya. Penasaran bagaimana keadaan Isa saat ini, namun dirinya bahkan tidak tahu bagaimana menghubungi Isa.


Terkadang dia sadar, bisa saja dirinya menghubungi Isa melalui sosial media. Namun sekali lagi, Hafizh sadar bahwa Isa terlihat sengaja menjauhinya dengan mengganti nomor ponselnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hafizh duduk memojokkan diri di sudut kasur. Netranya begitu terfokus pada ponselnya. Jemarinya bergerak sementara bibirnya bergetar, tersenyum malu-malu. Pipinya bersemu, sementara matanya berbinar.


Ada sesuatu yang menggelitik perutnya saat ini. "Ah, cukup Fizh. Jangan lanjutkan. Ini salah! Kau berdosa!" Katanya pada diri sendiri, kemudian menjauhkan ponselnya.


Beberapa detik kemudian dia memiringkan kepalanya. "Sedikit lagi saja. Isa tidak akan marah. Dengan begini semuanya lebih jelaskan." Sisi dirinya yang lain membuat pembelaan.


Hafizh kembali mendekatkan ponsel pada wajahnya. Jempol kirinya digigitnya sementara jempol kanan menggeser sebuah pesan pribadi antara Isa dan Aura.


Ya, rasa penasaran Hafizh pada Isaura menggugah sisi nakal dirinya untuk membuka sosial media Isa.


Sebuah percakapan antara Isa dengan dirinya sendiri begitu menarik atensi Hafizh. Ia sempat merasakan debaran dalam dada, sebab dirinya lah yang mejadi topik utama dalam percakapan itu.


Mulai dari bagaimana kesan pertama Isa bertemu dengan Hafizh, bagaimana Isa menyimpan tiap pemberian Hafizh. Bagaimana Isa mengungkapkan cinta dan kasih sayangnya pada tiap kalimat yang ia tuliskan.


Hafizh merasa menjadi orang yang bodoh. Bagaimana mungkin dirinya tidak pernah menyadari semua ini?


Disisi lain ia merasa menjadi sosok yang sangat beruntung. Karena dia menjadi satu-satunya lelaki yang selalu disebut pada tiap doa Isaura. Menjadi salah satu tujuan hidup Isa.


Aku pikir, salah satu alasan Allah membiarkanku ada di dunia ini adalah untuk bertemu denganmu. Kau adalah salah satu tujuan hidupku.


Sebuah kalimat yang menggetarkan Hafizh.


Hafizh, jika Allah izinkan, aku harap suatu saat kau bisa membaca surat singkat ini. Bahkan jika suatu saat kau tidak lagi sempurna seperti saat ini, aku akan berjanji tetap berada di sampingmu apapun yang terjadi. Bahkan jika tidak ada satu orangpun bersamamu, aku akan menjadi satu-satunya yang ada untukmu.


Meski selama ini Isa terlihat tidak peduli, namun dalam diamnya dia begitu menjaga Hafizh dalam doa-doanya.


Di saat dirinya mengetahui kebenaran bahwa sahabatnya itu menaruh hati padanya, Hafizh masih belum tahu bagaimana harus kembali memulai semuanya dari awal. Dia bahkan tidak tahu di mana saat ini Isa melanjutkan pendidikan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hafizh berjalan memasuki kampus. Dia memiliki janji temu dengan temannya. Leon.


Dari jarak beberapa meter Hafizh menghentikan langkahnya. Bibirnya seketika membentuk lengkungan sempurna. "Isa." Panggilnya.


Isa yang semula berbincang dengan Leon kini menoleh ke arahnya dengan wajah kebingungan. Tampaknya silau.


"Kau benar Isa kan?" Beberapa waktu tidak bertemu, dia tidak banyak berubah. Hafizh kembali memastikan bahwa yang dilihatnya bukan sebuah kesalahan.


Hafizh yakin betul, tas itu adalah tas yang ia pilihkan untuk Isa. Rasanya senang, dia masih memakainya.


Sayangnya, Isa tidak terlihat ramah. Hafizh bingung, apakah ada yang salah? Sikapnya berbanding terbalik dengan apa yang ia ungkapkan pada pesan itu.


Isa tidak mengatakan apapun, dia justru menghindar berbalik meninggalkan tempat hingga tanpa sengaja tertabrak sepeda.


"Isa! Isa!" Panggil Hafizh berniat mengejarnya namun urung saat Leon menahannya.


Hafizh melirik Leon. Bibirnya disunggingkan, tampak Hafizh memiliki ide cemerlang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wajah Hafizh ditekuk, sejujurnya dia sangat malas untuk mengantarkan ibunya pergi berbelanja ke toko grosir. Tapi tidak ada pilihan lain, bukankah ini tujuan utamanya untuk tetap berkuliah di Indonesia?


Bosan menunggu sang ibu di dalam mobil, Hafizh memutar musik pada Radio mobil. Tepat saat itu, sebuah lagu cinta terputar. Seolah-olah semesta merestui pertemuan mereka kali ini, Hafizh menoleh ke kanan.


Tangannya bergerak menutupi wajahnya. Dia tersenyum gemas degan apa yang dilihatnya.


Seorang gadis cantik yang dikenalnya kini sibuk berkaca pada jendela mobilnya. Hafizh sempat membiarkan sang gadis melakukan aktivitasnya. Sementara dirinya menikmati tiap inci fitur wajah yang dirindukan.


Tidak mampu menahan rasa isengnya. Hafizh lantas menurunkan kaca jendela.


"Sudah cantik kok." Pujinya pada Isa yang kini spontan menundukkan kepalanya karena malu. Tak menunggu lama, Isa kemudian mengangkat kepalanya.


Beberapa detik mereka saling beradu pandang sebelum akhirnya sebuah tamparan keras menghantam wajah Hafizh.


PLAK!


Hafizh mengerjap beberapa kali, terlalu syok dengan apa yang baru saja terjadi.


"Sebenci itukah dia padaku sekarang?" Begitulah batin Hafizh saat itu.


Kejadian di kampus terulang kembali. Isa tidak mengatakan apapun, Hafizh hanya sempat mendengar dirinya bergumam sebelum kemudian menaiki motor bututnya yang berisi gerobak. Isa tampak terburu-buru, dia berputar balik menancap gas motornya hingga ngepot.


Hafizh menggeleng. Kemudian membuka kembali akun sosial media Isa.


"Dear Aura. Aku tidak tahu harus mencari pekerjaan di mana. Hari ini aku akan membeli beberapa barang di warung yang kosong. Aku harap akan segera ada keajaiban dalam hidupku." Tulis Isa beberapa menit lalu. Sepertinya dia menulis sebelum pergi ke grosir.


"Perlu tempat kerja rupanya." Gumam Hafizh. Ia memutar otak, netranya menerawang ke atas. Kemudian menjentikkan jarinya.


Aku tahu kau mengenal Isaura. Bantu beri dia lowongan pekerjaan jika kau tau!


Hafizh mengirim sebuah pesan singkat pada Leon.


Kini Hafizh menggigit jari, harap-harap cemas Hafizh menanti jika ada pesan baru yang ditulis Isaura pada teman imajinasinya itu.


Hafizh begitu penasaran mengapa Isa seperti ini?


Tring!


Hafizh berdeham, menarik nafas panjang untuk kemudian melihat isi pesan itu.


"Apakah menurutmu itu benar Hafizh? Apa dia masih ingat seperti apa tas pemberiannya? Jika benar dia, kenapa Allah masih terus mempertemukan kami? Aku berharap Allah akan melumpuhkan ingatanku tentang dia bila kami tak ditakdirkan bersama di Dunia ini."


- Isa.


Hafizh mengusap wajahnya. Kini dia sadar bahwa Isa benar-benar berusah melupakan dirinya. Isa khawatir jika apa yang dilihatnya hanyalah sebuah halusinasinya semata.


"Aku harus mencari cara untuk kembali dekat dengannya." Ucapnya dengan yakin