
Beberapa waktu sudah aku tak berjumpa dengan Hafizh.
Aku dengar dia pergi melanjutkan pendidikan di luar negeri. Sama seperti Ashana. Ya, sudah pasti mereka berada di kampus yang sama. Aku pikir keputusanku kali ini sudah tepat, melepaskan semuanya dan memulai halaman baru bersamaan dengan dimulainya kehidupan kampusku.
Aku sedikit bernafas lega telah berhasil masuk di universitas ternama. Meski sempat stres karena tugas ospek yang menggunung, namun pada akhirnya aku mampu melalui semua itu.
Tepat hari ini, kami merakayakan berakhirnya ospek. Aku pululang ke rumah dengan perasaan gembira.
"Assalamualaikum." Salamku pada Ibu.
"Bu." Aku masuk ke dalam warung. Tidakku temui Ibu di sana. Tidak ada juga jawaban darinya. Aneh, tidak biasanya ibu seperti ini.
Aku memasuki tiap ruangan, kamarku, kamar Ibu, dapur tapi tak juga menemukan Ibu.
"Ibu, Isa bawa jajan. Kita makan yuk bu." Kataku sambil mengambil piring kemudian meletakkan jajan itu di sana.
Aku berjalan keluar dari dapur untuk membawa piring berisi jajan itu ke ruang tamu. Sayangnya rasa ingin pipisku tiba-tiba muncul. Belum sempat ke ruang tamu, aku memutuskan putar balik untuk kencing.
Panik khawatir mengompol, tanpa sadar aku masih membawa piring itu. Bingung akan meletakkan di mana.
Namun, langkahku terhenti. Belum sampai di dalam, tak jauh dari depan pintu kamar mandi aku menjatuhkan piringku.
PRANG!
Piring berisi jajan itu jatuh melesat dari tanganku.
Kakiku terasa lemas, mataku terbelalak mendapati tubuh Ibuku terbaring tak berdaya di dalam kamar mandi.
Aku mendekatinya. Menjatuhkan tubuhku di samping tubuh ibuku yang tak bergerak merespon kedatanganku.
"Ibu! Ibu bangun Bu!" Teriakku memohon pada Ibu. Mengguncang tubuhnya lalu menggenggam tangannya. Tepat saat menggenggam tangannya, aku terdiam beberapa saat. Jemariku bergerak beberapa senti di sekitar pergelangannya. Ada sesuatu yang aku sadari dari sana.
Air mataku seketika menetes. Dadaku terasa sesak seketika itu juga. Tanganku meraih kepala ibuku, memindahkannya di pangkuanku.
Jemariku bergetar menyentuh pipi ibuku yang basah atas air mataku yang menetes.
Pipinya terasa dingin sementara bibirnya memucat. Aku memilih mengguncang bahu dan pipinya beberapa kali ketimbang harus mengarahkan jariku ke lubang hidung atau nadi di lehernya.
Tidak, aku tidak sanggup. Aku terlalu takut dan membenci pikiran burukku.
"Bu, bangun bu. Isa pulang bu. Bu, Isa bawakan jajan karena Isa sudah selesai ospek bu. Kita makan bersama ya bu." Aku berusaha tenang. Mengontrol suaraku setenang mungkin.
Ibuku masih diam tak merespon. Dadaku terasa semakin sesak. Air mataku mentes semakin deras. Leherku tercekat, mulutku terasa kaku tak mampu mengatakan apapun.
"Ibu..hiks Isa mohon bangun hiks.. Ibu jangan bercanda seperti ini hiks.." Aku menggeleng.
"Ibu.. Hiks Isa tidak punya siapa-siapa bu Hiks.. Isa tidak mau sendirian.. Isa sayang Ibu.." Aku masih terisak-isak. Tidak tahu harus bagaimana. Tidak mampu menerima kenyataan pahit ini.
Aku bergeser menuju kaki ibuku yang masih terbaring. Aku menciumi telapak kakinya. Bersujud di bawah kakinya berharap Allah akan memiliki belas kasih padaku meski sedikit saja.
"Ibu! Isa mohon bangun bu hiks.. Isa minta maaf kalau Isa salah. Isa belum jadi anak yang baik selama ini. Isa belum bisa menyenangkan Ibu. Ibu! Isa ingin bahagiakan Ibu. Tujuan hidup Isa hanya senangkan Ibu. Hiks." Sekali lagi aku mencium telapak kaki ibuku yang sudah terasa dingin dan pucat pasi.
Aku tahu sudah tidak ada harapan lagi. Tapi dalam hati, aku masih mengharap akan ada keajaiban.
"Bu.." Ada jeda pada kalimatku. "Isa mau ikut ibu kalau begini." Bahuku bergetar masih dalam posisi bersujud mencium kaki ibuku.
"Tidak ada tujuan hidup Isa lagi. Hiks. Untuk apa, untuk apa Isa berjuang keras jika tidak ada lagi yang perlu Isa bahagiakan. Bawa Isa bu.." Aku mulai histeris. Tak sanggup lagi menahan semua sesak di dadaku.
Entah apa yang Tuhan tuliskan untukku. Entah karma apa yang sedang aku jalani. Semua terasa begitu berat saat ini. Sangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pipi, bibir, mata dan hidungku terasa berat. Bengkak dan tebal akibat terlalu banyak menangis. Kepalaku terasa berat.
Aku termenung, siapa yang bisa aku ajak bercerita saat ini? Tidak ada.
Aku meraih ponselku. Membuka sosial mediaku dan memilih tombol pesan di sana. Jempolku bergerak mengetikkan sesuatu, bercerita meluapkan isi hatiku di sana. Aku menekan tombol kirim pesan pada seseorang yang ku sebut Aura.
Beberapa detik kemudian aku keluar dari sosial mediaku. Lalu mengisi kolom kata sandi dan nama akun lainnya yang ku sebut Aura.
Ada sebuah pesan masuk di sana. Aku membukanya. Membaca isi pesan itu, namanya Isa. Ini adalah kesekian kalinya dia mengirim pesan pada Aura. Dapat dilihat dengan jelas dari riwayat percakapan mereka, Isa tampak nyaman bercerita banyak pada Aura.
"Berikan aku semangat untukku hari ini! Katakan Tuhan menyayangiku dan Ibuku."
Tulisnya pada Aura.
Aku tercekat. "Tentu saja. Tetaplah tersenyum apapun yang terjadi Isa. Tuhan menyayangimu. Tuhan memiliki rencana indah untukmu. Jangan menyerah hanya karena semua tidak berjalan seperti yang kau harapkan. Lihatlah, sudah seberapa jauh kau melewati semua ini."
Mulutku bergumam mendikte jemariku untuk mengetikkan sederet kalimat itu pada Isa, mengikuti cara berpikir Aura.
Suaraku parau, kalimatku terbata-bata. Sementara beberapa kali aku menghapus ketikanku, sedikit kesulitan jika harus mengetik dengan baik sementara pandangku kabur terhalang air mata.
"Sangat disayangkan jika kau berhenti sebelum mencapai puncak yang Tuhan perisapkan untukmu. Ibumu bangga padamu. Percayalah. Terkadang tidak apa-apa untuk sedih dan menangis. Tapi, semesta akan lebih senang jika melihatmu tersenyum manis. Go Isa Go Isa Go! ^.°"
Aku terisak. Menarik ingusku yang nyaris menetes pada layar ponselku. Namun tetesan air dari sudut mataku justru berhasil jatuh membuat layar ponselku bergerak tak terkendali. Aku menekan tombol kirim pada Isa lalu mengusap ponselku.
Dala suasana yang begitu sunyi, aku meringkuk seorang diri di atas kursi. Memejamkan mataku. Berharap Allah akan memberikan kekuatan baru padaku saat mataku kembali terbuka. Membawa kesedihan ini bersama dengan menyingsingnya malam. Detik ini, aku tersadar tidak ada yang dapat menguatkan diriku selain diriku sendiri dan Tuhan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Belakangan ini aku begitu sibuk. Sibuk mengurus kampus, pemakaman Ibuku dan memutar otak bagaimana aku harus mendapatkan uang.
Sementara ini aku jarang berada di rumah selain mengurus tahlilan. Di kampus aku sangat sibuk dengan beberapa kegiatan Himpunan Mahasiswa. Jika tidak aktif, beasiswaku bisa saja dicabut.
Jika sudah begitu, bagaimana aku harus membiayai pendidikanku. Untuk makan saja saat ini aku kesusahan. Tabunganku habis. Sementara aku belum mendapatkan pekerjaan sampingan.
Fokusku yang terbagi membuat warung warisan ibuku terbengkalai. Aku jarang membuka warung karena tidak bisa menjaganya. Sehingga pemasukan pun sedikit. Mau minta bantuan keluarga lain? Sayangnya Ibuku sama sepertiku, anak tunggal.
"Ya sudah nanti kita lanjutkan di ponsel ya." Kataku pada Leon teman kampusku. Aku melambaikan tangan padanya.
"Isa?" Seseorang memanggilku dari belakang.
Spontan aku menoleh.
"Isa. Kau benar Isa kan?" Tanyanya sekali lagi saat aku memilih untuk diam. Aku tahu, aku tidak asing dengan suara ini. Namun aku menggeleng, aku yakin ini mungkin hanya halusinasiku. Dia tidak mungkin di sini. Aku hanya terlalu lelah.
Aku mengerjap. Berharap segera sadar. Namun apa yang ada di hadapanku tetap sama.
Pria setinggi 180cm, berdiri di hadapanku dengan jaket putih, celana jeans dan sepatu kets. Tas ranselnya di gantung di sebelah bahunya.
Ditengah terik siang ini, sosoknya tampak menyilaukan mataku. Wajahnya tampak berseri. Rambutnya terlihat lebih panjang dari sebelumnya, namun terawat dan tertata rapi. Sangat cocok dengan rahang tegas dan hidungnya yang tajam.
Hafizh?
B-bagaimana mungkin? Bukankah dia di luar negeri? Batinku.
Tidak ingin kembali berinteraksi dengannya, aku lantas bergegas balik kanan menghindarinya tanpa membalas sapaannya.
BLUK!
"A!! Aduh!" Pekikku saat seseorang menabrakku dengan sepeda gayungnya dari belakang.
Tidak, bukan salahnya. Hanya aku saja yang terlalu ceroboh. Tidak tengok kiri-kanan sebelum menyebrang, malah nyelonong begitu saja saking paniknya.
"Ma-Maaf!" Kataku padanya lalu bergegas pergi. Aku menggeleng sepanjang jalan. Aku berhalusinasi berat. Aku pikir aku harus mencari psikiater.