I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
JANGAN LUPAKAN AKU



Hari ini rumah mereka kedatangan banyak orang untuk acara syukuran putra Ashana. Orang-orang tengah sibuk dalam acara, termasuk Hafizh dan Ashana sebagai orang tua tentu saja terlibat di dalamnya.


Ditengah acara, perhatian mereka mendadak teralihkan pada kehadiran seseorang. Isa.


Ia berjalan dengan wajah bingung. Mengapa ada banyak orang di sini. Namun yang terpenting bukan itu, Isa keluar dengan pakaian tidak rapi. Hijabnya bahkan tidak dipakainya.


"Sayang." Hafizh tidak menegur. Dia dengan sigap mendekap Isa, menutupi auratnya sebisa mungkin sembari menariknya menjauh dari kerumunan.


"Ayo kemari. Pakai dulu hijabnya ya." Katanya dengan tenang. Ya, Hafizh tidak mungkin bisa memarahi Isa seperti ini. Hatinya terlalu lemah.


Sementara itu, Ashana tidak tinggal diam. Mengekor di belakang Hafizh dan Isa, ia kemudian mengambil hijab milik Isa di dalam kamar.


Isa duduk di atas tempat tidur, sementara Ahsana menunduk di hadapannya untuk membantu memasangkan hijab. Dengan sabar dan telaten, Ashana menggerakkan jemarinya melipat beberapa bagian hijab yang membungkus wajah oval Isaura.


Bibirnya merekah.


"Sudah cantik." Puji Ashana pada Isa setelah dirinya selesai memasang hijab pada paras ayu Isa. Tatapan dan kalimatnya terdengar tulus dari dalam hati.


Sebuah senyum merekah dari bibir Hafizh. Dirinya merasa beruntung memiliki dua wanita hebat dalam hidupnya. Bagaimana bisa dia memiliki dua istri yang akur seperti ini.


"Ayo kita keluar dan melanjutkan acaranya." Pinta Hafizh membuat keduanya menoleh. Ashana balas mengangguk.


Hafizh mendekat, membantu Isa berdiri kemudian menuntun Isa keluar. Tidak ada perlawanan dari Isa kali ini. Dirinya hanya memandang ke sekeliling dengan penuh tanya setibanya di luar. Tidak memahami kenapa ada banyak orang asing di sini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Acara berjalan dengan lancar. Saat semua usai dan hanya menyisakan segelintir orang, Hafizh menghampiri Ashana yang tengah menggendong pemeran utama acara ini. Tentu saja Izzan.


Senyum terlihat pada bibir Hafizh. Ia memberikan kecupan pada pipi Izzan. Mengucapkan selamat serta doa agar putranya dapat menjadi anak yang soleh kelak. Meski sebenarnya dia agak canggung, namun bagaimanapun juga Izzan adalah putra dari kakak kandungnya. Tentu saja dia juga mencintai Izzan seperti anak kandungnya sendiri. Karena itu ia ingin menunjukkan ketulusannya kali ini.


Niat baik Hafizh disambut hangat oleh Ashana. Tentu saja Ia merasa tersentuh dengan sikap penuh perhatian Hafizh saat ini. Jarang-jarang Hafizh bersikap pengertian seperti ini pada Ashana dan putranya itu.


Namun sepertinya Ashana terlalu larut dengan kebahagiaan dalam hatinya. Hingga tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh pipi Hafizh.


Terkejut dengan apa yang terjadi, Hafizh lantas menoleh pada Ashana. Tidak dipungkiri, semenjak percakapan malam itu Ashana jauh lebih berani menunjukkan sisi dirinya sebagai seorang istri.


Pandangan mereka beradu. Gugup, Ashana lantas tersenyum pada Hafizh.


Sayang, hal itu justru membuat sebuah kesalahpahaman baru. Dari kejauhan Isa yang sedari tadi memerhatikan Hafizh merasakan panas dalam batinnya.


Berjalan dengan langkah lebar, Isa menghentikan langkahnya tepat di hadapan mereka. Membuat keduanya mengalihkan perhatian pada Isa yang saat ini lempar kecewa.


"Kau bilang di sini karena kau sahabatku. Kenapa kau seperti ini dengan suamiku?! Kau jahat Hafizh! Kau selingkuh!" Isa tak terkendali.


Tangannya mendorong tubuh Ashana, membuatnya nyaris oleh kebelakang sementara tangannya sibuk menggendong Izzan. Saat Ashana membutuhkan seseorang untuk membantu menyeimbangkan tubuhnya, Hafizh yang ada dihadapannya justru memiliki menarik tangan Isa. Sekilas tersirat rasa kecewa pada mimik wajah Ashana.


Dalam dekapan Hafizh, Ia membiarkan Isa meluapkan emosinya. Membiarkan Isa melepaskan beberapa pukulan pada dadanya yang bidang. Berharap dengan begitu Isa akan merasa lebih diperhatikan dan tenang.


Perdebatan mereka lantas mengundang perhatian segelintir orang yang ada di sana.


Sadar orang-orang memperhatikan, Hafizh segera membawa Isa masuk ke dalam kamar meskipun Isa sempat memberontak.


"Sudah ya sudah. Maafkan aku." Ucap Hafizh dalam kamar. Hafizh masih membiarkan Isa memukulinya dengan air mata yang masih menetes.


Batinnya kecewa. Ia merasa dikhianati oleh sosok yang dianggap cinta sejatinya. Belahan jiwanya.


Meski begitu, Hafizh tidak melawan, hanya memilih mendekap Isa. Mungkin dengan begitu Isa akan lebih tenang. Begitu kira-kira batinnya berbicara.


Perlahan pukulan Isa melemah.


"Kau tidak mencintainya kan?" Tanya Isa dengan terisak, wajah kecewanya disembunyikan pada dada bidang Hafizh.


"Tidak. Aku hanya mencintaimu." Bisik Hafizh sembari mengecup pucuk kepala istrinya.


"Sungguh?" Tanyanya sekali lagi memastikan.


"Hanya aku?"


"Hanya kau."


Hafizh melonggarkan pelukannya. Ia menyentuh kedua pipi Isa. Memintanya untuk menatap Hafizh. Berharap dirinya mampu meyakinkan sang istri.


"Dengarkan aku. Bahkan jika aku terlahir kembali, aku akan meminta Tuhan menjadikanmu satu-satunya." Ucapnya dengan lembut. Sorot mata Hafizh begitu tulus. Linangan air mata menetes dari sudut matanya.


Dadanya terasa sesak. Ia tidak pernah mengira akan berada pada situasi seperti ini. Sosok wanita kuat dan bijak yang ia tahu telah berubah.


Hafizh tak menyalahkan, Ia paham jika semua ini bukan pula keinginan Isa.


"Jangan pernah lupakan aku." Pinta Hafizh lirih.


Yang diajak bicara menatap lekat pada sang suami. Jemarinya bergerak meraba wajahnya. Merasakan tiap sentuhan pada kening, mata, hidung, pipi dan bibir Hafizh. Seolah sedang berusaha merekam pada ingatannya tiap fitur wajah belahan jiwanya itu.


Ia mengangguk paham lalu mengeratkan pelukannya pada tubuh Hafizh. Kepalanya disandarkan pada dada Hafizh.


"Kenapa dia terus di sini?" Tanya Isa dengan suara sedikit terisak. Dirinya begitu takut kehilangan Hafizh.


"Dia di sini untuk membantu kita, sayang." Jelas Hafizh masih dalam keadaan memeluk Isa. Paham siapa yang dimaksud Isa.


"Begitu ya."


"Hemm. Bersabarlah." Jawab Hafizh dengan lembut meyakinkan Isa.


Sementara di balik dinding Ashana menyandarkan punggungnya. Batinnya teriris menyaksikan percakapan antara sepasang suami istri itu. Dalam lubuk hati bertanya, pantaskah ia merasakan ini?


Ia kemudian menggeleng. 'Tidak. Tidak seharusnya aku cemburu. Aku adalah penghancur hubungan mereka.'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari demi hari terlewati, namun keadaan Isa semakin menurun. Hafizh tidak lagi mengizinkan Isaura mengurusi bisnisnya. Dia lebih memilih Isa untuk tinggal di rumah, memulihkan keadaan.


Tentu saja Ashana tidak berdiam diri, dia dengan tulus membantu Isa selama pengobatan. Seringkali Ia membantu Isa membuat catatan. Dengan begitu, mereka berharap Isa dapat mengingat hal-hal kecil di rumah.


Mereka saat ini sedang berada di kamar. Ashana duduk di samping Isa sembari memegang sebuah buku catatan. Ada beberapa barang tergeletak di atas meja. Sengaja mereka letakkan di sana untuk memudahkan Isa mengingat kembali sedikit demi sedikit benda apa saja itu.


Sorot matanya sayu, ada rasa perih di hatinya ketika membaca deretan kata demi kata yang dirangkai Isa pada buku catatan usang miliknya. Sebuah buku yang Ia tahu biasa dibaca oleh Leila. Meski Isa sempat melarang Leila untuk membaca itu lagi, namun Leila membangkang. Ia tetap saja menggeledah isi kamar sang Ibu lalu menunjukkannya pada Ashana.


Baginya, dengan begini Ibu akan tetap bisa lebih mudah untuk mengingatnya. Sebab Ia tahu, di dalam sana ada banyak foto keluarga kecil mereka. Buku yang berhasil melukiskan tiap kenangan manis yang mereka lalui bersama. Tidak lupa Isa menyelipkan sekelumit kalimat -kalimat manis di sana.


Ashana membuka halaman selanjutnya, didapatinya nama Hafizh, Isa, Leila, Ibu dan Bapak pada tiap foto mereka. Ada rasa tidak percaya dalam benaknya. Seolah-olah Isa tahu bahwa dirinya perlahan akan melupakan keluarganya, bagaimana mungkin dirinya mencatat semua ini jauh sebelum dirinya mengidap Alzheimer?


Ashana menggigit bibirnya, menguatkan diri untuk melanjutkan membuka halaman per halaman bersama Isa. Ya, dirinya setuju dengan Leila. Mungkin dengan begini Isa akan bisa mengingat siapa-siapa saja anggota keluarga ini.


"Lalu kau? Kau tidak ada di sini." Isa mengernyit. Heran mengapa dirinya tidak menulis nama Ashana di sana? Mengapa tidak ada wajah Ashana di sana?


Ashana terdiam. "A-Aku.."


"Bagus ya Ma." Ucap Leila sembari melihat bros milik Isa. Sebuah bros yang menjadi saksi bisu sejarah cinta antara Isa dan Hafizh.


Suara menggemaskan Leila berhasil mengalihkan perhatian mereka berdua. Serentak mereka menoleh pada Leila. Sementara Ashana menghela nafas lega.


Secara tidak langsung ia ingin berterimakasih pada Leila, sebab dengan begitu dirinya tidak perlu bingung menjelaskan pada Isa tentang siapa Ashana sebenarnya. Tidak mau jika kesalah pahaman seperti saat itu terulang kembali.


"Leila mau? Untuk Leila saja kalau begitu." Kata Isa menyodorkan bros itu pada putrinya.


"Wah.. Trimakasih ya Ma." Seru Leila dengan mata berbinar.


"Sama-sama sayang. Jaga baik-baik ya." Sahut Isa sembari memberikan cubitan gemas pada hidung Leila.


Ashana yang melihat interaksi mereka lantas ikut tersenyum. Tentu saja karena Ia senang melihat Isa masih mampu mengenali putrinya. Untuk saat ini, tidak ada hal yang lebih penting dibandingkan kesembuhan Isaura baginya.