
Rasa tenang tak kunjung pergi dari benakku. Ini adalah pertama kalinya kami berdebat sejak pernikahan.
Sebelumnya Hafizh tak pernah sekalipun menuduhku. Ini adalah pertama kalinya pula aku membanting pintu pada Hafizh. Tak ingin kesalah pahaman berlanjut, aku berniat meminta maaf pada Hafizh.
Aku mengambil nasi agak banyak seperti biasa untuk kusuapkan pagi ini pada Hafizh dan Leila. Terdengar suara pintu kamar Ashana terbuka. Bibirku mengembang bersiap menyapa Hafizh dengan senyum terbaikku.
"Se-." Kalimatku tertunda saat Hafizh berjalan menuju meja makan tanpa menoleh ke arahku. Pandangannya sibuk pada Ashana yang menggendong putranya.
Mereka tampak akrab. Senyum terpancar dari keduanya. "Dia sangat menggemaskan." Hafizh terlihat menyentuh pipi putranya.
"Selamat pagi Papa." Leila memanggil sang Papa. Suara menggemaskannya mencuri perhatian mereka.
"Hai, pagi sayang." Sapa Hafizh yang kini berjalan mendekat kemudian memberikan kecupan hangat pada Leila. Pandangan kami sempat beradu. Kali ini terasa berbeda dari pagi-pagi yang pernah kami lalui.
Tatapannya terasa dingin padaku. Seolah aku tak mengenal sosok Hafizh. Tak ada yang bisa aku katakan, semua rencana permintaan maaf yang sudah aku perisapkan di dalam otakku menguap begitu saja entah kemana.
"Papa ayo duduk, ayo kita sarapan." Leila menarik lengan papanya. Sementara yang diajak melirik sekilas ke tanganku yang tengah memegang piring berisi lauk dan nasi penuh. Sengaja ku persiapkan untuk mereka berdua.
"Ehmm.. Hari ini papa minta maaf ya sayang. Papa masih kenyang karena tadi malam makan banyak. Leila makan saja ya, papa akan tunggu Leila selesai sarapan lalu berangkat bersama. Oke?" Rasa kecewa seketika menyelimuti hatiku saat mendengar jawabannya.
Sepertinya dia benar-benar marah padaku. Ini adalah pertama kalinya dia menolak ajakan Leila.
Leila yang polos hanya mengangguk paham dengan pernyataan sang Papa. Ia kemudian menepuk telapak tangan papanya tanda dia setuju.
"Tidak, kau harus tetap sarapan. Kau baru saja sembuh. Jika tidak mau nasi, bagaimana kalau sepotong roti panggang dan susu? Biar aku siapkan. Lagi pula kau sedang menunggu Leila juga kan?" Kami kompak menoleh pada Ashana.
Senyum berseri tak lepas dari wajahnya. Tampak dia sangat bahagia pagi ini. Berbanding terbalik denganku.
Hafizh sempat melirik balik padaku yang penasaran menunggu jawaban apa yang akan diberikannya pada Ashana.
"Oh, terdengar bagus. Baiklah aku mau." Katanya kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Leila.
"Baiklah, tunggu sebentar ya."
"Istriku." Suara Hafizh membuat jantungku berdegup, pada akhirnya dia menyapaku. Aku menoleh ke arahnya dengan senyum diwajahku.
"Iya Fizh?" Senyumku memudar kala Ashana menyahut. Benar, Hafizh baru saja memanggil Ashana, dia menatap ke arah Ashana. Bukan aku.
Rasa sakit tiba-tiba menyelimuti batinku. Sebuah memori sakit hati semasa SMA kembali menyergap ingatanku. Dalam situasi seperti ini, ada rasa seolah aku adalah pihak ketiga dalam kisah cinta mereka. Seolah-olah mempertanyakan diriku sendiri, siapalah aku untuk berhak cemburu pada mereka?
Aku mengerjap, menarik nafas dalam-dalam mengontrol emosi dan sesak dalam dadaku.
"Berikan Izzan padaku." Hafizh mengulurkan tangannya. Ashana menoleh peda Hafizh, kemudian tersenyum manis menyerahkan bayi laki-lakinya pada sang suami.
Benar, aku bahkan tidak sempat bertanya siapa nama bayi laki-lakinya. Aku yakin Hafizh lah yang memberikan nama itu.
"Terimakasih. Tunggu sebentar ya." Ashana bergegas menuju dapur dengan wajah bahagia. Sementara Hafizh sibuk memangku Izzan.
Jiwa kebapakan terpancar jelas pada diri Hafizh. Bagiku dia terlihat begitu keren saat ini. Lebih-lebih dia mengenakan kemeja yang aku suka untuk dipakainya.
Tidak, mengapa aku sakit hati? Bukankah aku seharusnya bahagia melihat mereka seperti ini?
Hafizh kini memberikan perhatian penuh pada Izzan yang sedang berusaha berinteraksi dengan sang ayah.
"Izzan menggemaskan." Leila ikut memberikan pujian pada adiknya yang berada dalam dekapan Papanya. Sementara mulutnya sibuk mengunyah suapan dariku.
"Benar, dia lucu kan?" Hafizh tersenyum melihat interaksi Izzan dan Leila. Tanpa aku sadari aku juga ikut tersenyum melihat mereka berdua.
Tak berselang lama Ashana datang dengan beberapa potong roti dan segelas susu hangat.
"Ayo di makan dulu." Ashana meletakkan semua itu di atas meja kemudian mengambil alih Izzan dari pelukan Hafizh.
Tepat saat itu Izzan merengek. "Oh sayang, lapar juga ya? Iya ayo sini minum susu juga."
Ashana mengambil posisi duduk berhadapan dengan Hafizh. Tangannya bergerak membuka kancing baju untuk kemudian bersiap menyusui putranya.
Aku melirik pada Hafizh. Menelisik mengamati reaksinya, aku sedikit bernafas lega saat dirinya memilih buang muka dan menjaga pandangannya dari pemandangan itu. Meski sejujurnya itu wajar.
Ashana adalah isteri sah Hafizh, sudah haknya dan bukan masalah lagi jika Hafizh melihat aurat Ashana. Namun Hafizh memilih bersikap tidak tertarik dengan itu.
Dan untuk kesekian kalinya tatapan kami bertemu, kali ini Hafizh tampak gugup. Seolah mengatakan padaku 'Aku tidak melihatnya. Sungguh.'
Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada roti yang tersaji di meja.
"Wah terlihat enak." Pujinya.
Hafizh mengambil seteguk susu kemudian mengigit roti panggang yang sudah diolesi selai. Mengambil satu gigitan, Hafizh memejamkan matanya. Merasakan nikmat pada tiap gigitan roti tersebut.
"Hemm... Ini sangat enak. Wah buatan istriku memang luar biasa." Hafizh memberikan pujian pada Ashana. Mereka saling melempar senyum.
"Benarkah? Boleh Leila coba?" Leila mengabaikan suapanku. Dia lebih tertarik untuk mencoba apa yang dimakan Papanya.
"Tentu saja sayang. Ayo buka mulutmu. Aa.." Hafizh menyuapkan sepotong roti pada Leila. Membuat Leila bergabung memuji masakan Ashana. Ia memberikan jempol mungilnya pada Ashana.
"Mama, Leila sudah kenyang." Leila kini beralih padaku. Ia menolak menerima suapan selanjutnya.
"Tapi ini masih ada banyak sayang. Mama juga makan deh. Ayo satu suapan lagi." Bujukku pada Leila. Namun ia memilih menutup mulut.
Saat seperti ini aku melempar tatapan kesal pada Hafizh yang sengaja mengunyah roti dengan senyum berlebihan di wajahnya.
Tak ada pilihan lain, aku terpaksa menelan sisa makanan Leila seorang diri.
"Isa, ini masih ada rotinya. Untukmu saja." Ashana menyodorkan piring berisi roti ke hadapanku. Aku menggeleng dengan senyum.
"Tidak usah. Aku mau menghabiskan sisa Leila saja." Kataku sembari mengunyah sembari tersenyum semanis mungkin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sarapan usai, Leila berpamitan padaku. Seperti biasa dia mencium tangan dan pipiku. Begitu juga dia kini kubiasakan untuk berpamitan pada Ashana.
Sama seperti Leila, Hafizh pun juga berpamitan. Dia lebih dulu menjabat tangan Ashana. Senyum masih melekat pada wajah keduanya. Sejujurnya, aku tidak pernah melihat Ashana seceria ini sejak tinggal di sini.
Ya, sudah seharusnya aku senang melihatnya bahagia seperti ini. Lamunanku buyar saat Hafizh mengulurkan tangannya padaku. Berbeda dengan Ashana, dia tidak memberikan senyum padaku. Ekspresinya datar.
Aku meraih tangannya, lalu mencium punggung tangannya. Sedetik setelah itu, tangannya bergerak mendekati kepalaku. Ya biasanya dia akan memberikan kecupan pada keningku, namun tidak dengan hari ini.
Gerakan tangannya seketika terhenti. Kami terdiam saling pandang, mempertanyakan apa yang akan dilakukan tangannya di samping kepalaku ini?
"Sampai jumpa Izzan. Papa akan segera pulang. Daa.." Hafizh merubah haluan tangannya. Ia melambaikan tangannya pada Ashana dan Izzan.
"Sampai jumpa Papa." Ashana membalas lambaian tangan Hafizh dengan ceria. Sementara aku melempar senyum kecut pada Hafizh.