
Hari ini aku mendengar kabar bahwa kakak iparku akan pulang. Aku sibuk mempersiapkan makanan enak untuknya. Sekian lama di luar negeri, aku yakin betul dia pasti rindu masakan rumahan.
Baru selesai menyiapkan makanan di atas meja makan, aku mendengar suara mobil terparkir diikuti sambutan gembira Hafizh atas kedatangan kakaknya.
"Kak! Wah semakin ganteng saja hahaha!" Goda Hafizh sembari memukul dada kakaknya. Kak Ridwan tampak tersenyum.
Mereka masih berdiri di depan pintu utama.
"Bu! Pak! Ridwan datang!" Seru Hafizh pada Ibu dan Bapak.
"Apa kabar kak? Mari masuk sudah Isa siapkan makanan, baru saja matang." Sapaku.
"Alhamdulillah. Wah kebetulan sekali."
"Ayo-ayo masuk." Hafizh menepuk bahu kakaknya untuk menggiring masuk. Sementara aku mengambil alih koper di tangannya.
"Eh, sebentar." Kak Ridwan menghentikan langkahnya. Dia menoleh kebelakang di mana mobilnya terparkir. "Aku.. Mau memperkenalkan seseorang."
Aku dan Hafizh kompak mengernyit. Kemudian menggodanya habis-habisan. Senang melihat Kak Ridwan mulai siap memperkenalkan hubungannya kepada kami.
Kak Ridwan berbalik menuju mobil. Membantu seseorang menuruni mobil degan beberapa bawaan. Termasuk oleh-oleh.
Netra kami tertuju pada gadis bertubuh tinggi langsing dengan rambut hitam panjang yang terurai. Belum melihat wajahnya saja aku sudah yakin bahwa paras gadis itu sudah pasti cantik.
Kini dia berbalik menghadap kami. Berjalan dengan sebuah senyum yang begitu anggun, kekasih Kak Ridwan memberikan salam sapa kepada kami.
Aku sempat mematung beberapa detik. Rasa terkejut tak dapat aku sembunyikan. Dunia benar-benar sempit. Bagaimana tidak? Kekasih kak Ridwan saat ini adalah sosok yang ku kenal saat duduk di bangku SMA dulu.
"Ashana?" Sapaku memastikan. Beberapa tahun tak berjumpa dengannya membuatku agak pangling. Tidak banyak perubahan darinya, hanya saja penampilannya jauh lebih anggun dan dewasa.
"Apa kabar?" Ashana menjabat tanganku.
"Baik." Sahutku membalas senyumnya.
Kini Ashana beralih pada Hafizh yang terlihat tidak nyaman. Senyumnya memudar. Dia mengalihkan pandangan untuk sesaat. Aku menyenggol lengannya.
Hafizh menatapku, paham dengan maksudku Ia kemudian membalas sapaan Ashana dan menjabat tangannya singkat.
Tak berselang lama, Ibu dan Bapak mertuaku ikut keluar. Lalu mengajak mereka masuk kedalam. Rasa haru terpancar dari wajah keduanya. Ibu bahkan menitikkan air mata saat memeluk putra sulungnya itu. Tentu saja karena rindu berat yang akhirnya terobati.
Aku mengambil posisi duduk di samping Ashana. Sementara Hafizh duduk di sampingku. Kak Ridwan duduk menghadap Ashana. Kami sempat berbincang-bincang sejenak. Memperkenalkan Ashana pada bapak ibu juga sambil memberikan rasa nyaman pada Ashana.
"Emm.. Ridwan juga ingin segera menikah Bu, Pak." Kami serempak menaruh atensi pada kak Ridwan.
Bapak tersenyum lebar. "Wah wah, baru tiba sudah memberikan kabar gembira saja."
Aku lantas ikut tersenyum, "Alhamdulillah jika kak Ridwan sudah yakin." Sementara Hafizh, dia tidak memberikan respon apapun.
"Ridwan mau segera menikah. Karena Ashana Ridwan sudah hamil Pak."
Suasana haru dan ceria yang semula begitu kental terasa tiba-tiba saja berubah. Diambil alih dengan atmosfer tegang dan canggung.
Hafizh spontan meilirik tak percaya pada Ashana dan sang kakak. Namun dia memilih diam, tidak ingin membuat suasana menjadi semakin panas.
Tidak hanya Hafizh, kami semua terkejut dengan berita ini. Lebih-lebih bapak, senyumnya sirna. Sorot matanya penuh emosi.
"Bapak senang kamu akan menikah. Tapi bukan dengan cara seperti ini Wan."
Ibu mengusap punggung bapak. Meredam emosinya.
"Maafkan Ridwan pak. Ridwan salah, tapi Ridwan akan bertanggung jawab pak."
"Tanggung jawab, itu memang harus. Tapi semua ini tetap cara yang salah. Bapak kecewa! Bapak tidak pernah ajarkan kalian begini! Dan gadis ini, bapak tidak tahu seperti apa."
Tutur bapak dengan emosi meletup-letup. Ashana hanya menunduk, tak memiliki keberanian untuk mengangkat kepalanya. Air matanya menetes pada punggung tangan yang ia letakkan di atas pangkuan.
"Maaf jika Isa memotong pak. Tapi Isa yakin, kak Ridwan pasti sudah yakin dengan Ashana. Rasanya tidak mungkin jika kak Ridwan tidak mengenal Ashana dengan baik."
"Lagi pula, Isa mengenal Ashana cukup lama. Dari yang Isa tahu, Ashana adalah gadis yang baik." Lanjutku menjelaskan pada keluarga.
Bapak menghela nafas. Belum mampu berkata-kata. Dia memejamkan mata, mencoba mendinginkan kepalanya sejenak.
"Jangan khawatir." Aku berbisik sembari mengusap punggung Ashana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku berbaring di atas tempat tidur. Tubuhku ku miringkan menghadap Hafizh yang berbaring terpejam di sampingku.
Ingin rasanya aku bertanya, apa yang Ia rasakan setelah bertemu Ashana hari ini?
"Jangan berpikir macam-macam ya." Hafizh mencubit pipiku.
Beberapa detik aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tidak mengizinkan Hafizh membaca isi kepalaku.
"Aku tidak mengatakan apapun." Kataku dengan bibir mengerucut.
"Tapi aku bisa baca isi pikiranmu."
Aku menghela nafas.Ya, dia benar-benar bisa membaca apa yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak.
"Baiklah, aku percaya padamu. Lagi pula itu masa lalu. Aku sudah berdamai dengan semua itu." Jelasku sembari mengeratkan pelukanku pada guling.
"Bagus." Hafizh tersenyum kecil, paham jika istrinya tengah cemburu meski bibirnya mengatakan dia baik-baik saja.
CUP
Sebuah sentuhan lembut ia berikan pada bibirku. Menutup percakapan kami malam ini dan berharap aku tidak lagi memikirkan hal yang tidak perlu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Leila sini ayo satu suapan lagi." Tanganku sibuk menyuapi Leila. Dia sedang bermain-main sambil menunggu sang Papa yang kini sibuk mengenakan kaos kakinya.
Ya, suasana pagi yang sibuk seperti ini adalah hal biasa dalam keseharian kami. Leila biasa berangkat ke sekolah bersama dengan Hafizh. Sementara aku biasa berangkat agak siang ke kantor di mana aku menjalankan usaha pribadiku.
Usai memberikan suapan pada Leila, aku beralih pada Hafizh. Aku biasa memberikan suapan pada mereka setiap pagi, sebab aku tidak ingin mereka tidak fokus dengan tugas-tugas mereka.
Tidak ada rasa kerepotan, aku justru senang bisa menghujani mereka dengan kasih sayangku.
Kring..Kring...
Terdengar dering panggilan suara dari ponsel Hafizh.
"Aduh siapa sih, ini juga sedang siap-siap." Gerutu Hafizh sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
Dia sempat mengernyit, ada nomor telepon asing terpampang pada layar.
Sedikit keraguan sempat menyelimuti batin Hafizh, namun pada akhirnya dijawabnya. "Halo?" Sapanya.
"Iya betul." Jawabnya lagi.
Aktivitasku menyiapkan suapan selanjutnya terhenti menyadari suamiku memberikan gelagat tidak biasa. Hafizh mematung. Bibirnya kelu mendengar penjelasan seseorang dari seberang sana.
"Sayang ada apa?" Tanyaku.
Hafizh menatapku dengan raut wajah tidak percaya. Sorot matanya menggambarkan cemas.
"Di- Dimana sekarang?" Tanyanya lagi. Dia masih enggan menjelaskan padaku. Sibuk berdialog dengan sosok di seberang sana.
Kini aku menangkap matanya yang mulai berkaca-kaca. Namun dirinya berusaha setenang mungkin.
"Baik. Baiklah, terimakasih. Kami akan segera ke sana." Hafizh menutup kalimat. Tangannya bergerak menurunkan ponselnya dari telinga. Pergerakannya melambat, dia tampak lemas.
Menatapku dengan kesedihan yang luar biasa , aku lantas meraih bahunya.
"Ada apa sayang?"
"Kak Ridwan."
Aku memiringkan kepalaku. "Ada apa dengannya?"
"Kecelakaan." Dia kemudian menggeleng. Memang benar kak Ridwan sempat keluar pagi-pagi buta, entah ada keperluan mendesak apa, dia tidak mengatakan pada penghuni rumah.
"Dia.. Dia tidak tertolong." Lanjut Hafizh tak mampu lagi menahan air matanya.
"Innalilahi." Aku menutup mulutku tidak percaya. Menyadari kesedihan yang di rasakan Hafizh, aku cepat-cepat meraih kepalanya yang tertunduk. Lalu menyandarkannya pada bahuku.
"Papa kenapa Ma?" Leila yang belum paham lantas menghampiri kami yang terduduk di lantai dengan pilu.
Detik ini, aku belum mampu menjelaskan pada Leila apa yang terjadi. Apa yang ada di kepalaku saat ini adalah Ashana.
Aku tidak mampu membayangkan keadaannya jika mendengar berita ini. Saat ini aku merasa semesta terlalu kejam pada mereka berdua. Memisahkan dua insan yang sedang dimabuk cinta. Memisahkan dua insan yang sedang berjuang memohon restu Sang Ilahi. Memisahkan dua insan yang sedang berjuang untuk mengikat janji disaksikan semesta.
Air mataku tiba-tiba mentes, membayangkan pedih yang akan dirasakan Ashana. Sebagai seorang perempuan, aku pikir aku mampu merasakannya.
Tidak ada yang dapat aku lakukan selain memberikan dukungan dan memberikan pelukan pada Ashana saat pemakaman berlangsung. Derai air mata terus mengalir di pipinya. Aku tak henti memintanya untuk beristighfar, berharap dirinya tabah dalam menghadapi segala cobaan ini.