
Hari demi hari kami semakin dekat. Hubungan kami semakin kuat. Kami saling mendukung satu sama lain apapun yang kami lakukan.
Hafizh telah berhasil mendobrak benteng yang selama ini aku pertahankan. Dia merubah persepsiku. Menghapus ketakutanku akan pernikahan dan meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.
Kami bahkan membuat bisnis bersama. Meski belum lulus kuliah, namun bisnis kami tumbuh dengan pesat.
Tidak lupa Hafizh mengenalkan aku pada orang tuanya. Mereka sangat baik, menyayangiku seperti putri kandungnya.
Seringkali saat Ramadhan berlangsung, mereka mengundangku untuk berbuka puasa bersama. Terkadang Hafizh juga menemaniku untuk sahur. Mencoba menghapus rasa sepiku.
Bahkan hingga wisuda pun mereka hadir menggantikan posisi kedua orang tuaku. Mengusir jauh-jauh rasa pilu karena tak ada orang tua kandung bersamaku. Namun mereka, keluarga Hafizh berhasil menggantinya dengan haru.
Rasa syukur tiada henti aku ucapkan. Hafizh merubah kehidupanku.
Dia bertindak seperti sahabat yang melakukan hal-hal gila bersama. Menggendongku, membawaku, mengenalkanku menjelajahi tempat-tempat baru yang tiada pernah orang tahu.
Dia bertindak seperti kekasih dengan menghujaniku cinta yang begitu dalam.
Bertindak seperti orang tua dengan menasehatiku penuh kasih sayang.
Bertindak seperti kakak yang selalu menjaga adik perempuannya dan adakalanya dia juga seperti seorang adik yang manja.
Dia adalah segalanya bagiku. Selalu ada dalam suka duka bersamaku.
Tibalah hari itu. Hari di mana janji suci diantara aku dan Hafizh terucap. Tetes air mata haru bercampur sedih tak mampu aku bendung. Haru karena pada akhirnya Allah menjawab segala doaku. Sedih sebab saat seperti ini Ibuku tidak bersamaku.
Hafizh memeluk dan mencium keningku saat kata 'Sah' telah terucap di saksikan semesta dan seisinya.
"Aku yakin, Ibu melihat kita. Aku akan berusaha untuk tidak akan pernah mengecewakanmu. Berbahagialah bersamaku selamanya." Bisiknya padaku.
Kalimat itu tertanam jelas pada ingatkanku. Kehidupan pernikahan kami berjalan dengan begitu indah. Rasanya ingin setiap detik aku ucap Alhamdulillah.
Lebih-lebih saat ini kami telah dikaruniai seorang puteri yang cantik. Leila. Banyak yang bilang Leila memiliki paras sepertiku. Hanya pada bentuk bibir dan giginya saja yang seperti ayahnya. Hafizh.
Aku duduk di lantai, mengawasinya menggoreskan tinta pada kertas putih, membiarkan dirinya menuangkan imajinasi liarnya. Sama sepertiku, Leila tampaknya memiliki minat pada seni lukis.
Leila menghentikan aktivitasnya. Kini dia tertarik pada buku tebal milikku. Dia membuka buku itu yang kini menampilkan beberapa foto dan beberapa kutipan kalimat singkat di sana.
Dia memiringkan kepalanya. Seperti sedang menerka-nerka bahwa apa yang ada di kepalanya itu benar.
"Mama, ini Papa?" Tanyanya seraya menunjuk pada foto yang tertempel di sana.
Aku tersenyum, senang melihatnya mengenali wajah ayahnya dengan mudah. Kemudian ku jawab dengan anggukan cepat.
"Ini adalah pangeran dalam dongeng Mama. Tampan kan?"
Leila mengangguk.
"Jika Leila dewasa nanti, Leila harus mencari sosok seperti Papa ya. Dia adalah laki-laki terhebat dalam hidup mama."
Leila kembali menjawab dengan anggukan.
"Ini, adalah barang-barang dari Pangeran yang Mama simpan." Aku menunjuk sebuah kotak yang menyimpan beberapa benda pemberian Hafizh sejak awal kami bertemu.
"Mama sangat mencintai Pangeran ya?"
"Tentu saja. Karena Pangeran juga sangat mencintai Mama."
Leila kini beralih membalik halaman selanjutnya. Di usia 7 tahun saat ini, dia sudah lancar membaca. Aku mengusap kepalanya.
"Nama nenek, nama mama, nama Papa, namaku." Leila menunjuk beberapa bagian pada bulu dengan tangannya yang mungil.
"Mama kenapa ada banyak nama kita di sini?"
"Emm.. karena ketika mama menuliskan nama seseorang di manapun, itu berarti mereka adalah sosok yang berharga bagi mama. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengisi pikiran Mama, kapanpun dan di manapun."
"Tapi nama Papa paling banyak." Dia berbicara dengan bibir mengerucut, merasa cemburu. Aku terkekeh, tidak aku sangka gadis kecilku sudah memahami kalimatku.
Aku mengusap kepalanya.
"Kau tahu nak, hubungan Pangeran dan Mama seperti sebuah keajaiban. Mama pikir kami memiliki telepati yang kuat. Setiap kali mama memikirkan sesuatu, pangeran itu selalu menjawabanya dan melakukan apa yang mama inginkan tanpa harus berbicara seperti ini padanya."
Leila lagi-lagi mengernyit. Berpikir dengan wajah menggemaskan.
"Mama dan papa berbicara dengan batin?"
"Benar." Sahut Hafizh yang baru saja tiba di depan pintu kamar. Aku kaget, sepertinya aku terlalu bersemangat bercerita dengan Leila hingga tidak mendengar salamnya saat pulang.
"Wah... Terlalu asyik cerita sampai-sampai tidak dengar aku datang ya." Godanya padaku.
"Hehe.. Maaf." Aku lantas mencium tangannya sementara Hafizh mengecup keningku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku menyandarkan kepalaku pada bantal. Menghadap langit-langit kamarku. Remang lampu menemani malam kami. Aku melirik pada jendela kamar yang kini menyuguhkan indahnya lukisan semesta. Tampak bulan malam ini berbentuk bulat sempurna, cahayanya begitu terang.
Leila aku biasakan untuk tidur seorang diri di kamar lain. Sementara Hafizh yang terbaring di sampingku memelukku dengan erat. Matanya terpejam.
"Sayang." Panggilku.
"Hemm?" Sahutnya dengan suara beratnya.
"Terimakasih sudah hadir di hidupku. Aku banyak-banyak bersyukur. Aku pikir salah satu alasanku hidup adalah untuk bertemu denganmu. Bahkan, jika aku detik ini harus mati, aku pikir aku akan sangat ikhlas."
Hafizh seketika itu membuka matanya. Kepalanya di angkat. Bangkit dari posisi tertidur untuk kemudian berbaring miring menghadapku bertumpu pada salah satu lengannya.
Dia mengernyit, tidak senang dengan kalimatku yang terakhir.
"Hush kenapa bicara seperti itu? Aku yakin Ibu di surga pasti berharap puterinya berumur panjang untuk aku dan Leila. Kita harus tetap bersama. Mengerti?" Ia kemudian menggenggam tanganku dengan satu tangan.
Aku tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan seperti ini.
"Maafkan aku jika masih memiliki banyak kesalahan. Tegur aku jika aku salah." Imbuhku.
Hafizh menggeleng. "Aku lebih banyak melakukannya kesalahan. Tapi kau selalu sabar menghadapiku. Tegur aku ya! Cubit saja aku seperti ibuku memarahiku."
Aku tertawa mendengar kalimatnya.
"Jangan tertawa. Aku serius. Maafkan aku jika belum sempurna. Ceritakan semua padaku. Jangan dipendam sendiri ya." Hafizh mengecup keningku, kemudian tanganku tak luput dari kecupannya.
"Jika suatu saat nanti.." Kalimatku terhenti. Ada sesuatu yang mencekat di leherku. Entah mengapa aku mendadak emosional. Aku pikir aku ingin mengatakannya. Harus.
"Jika nanti, aku... Aku pergi lebih dulu. Aku harap ku akan... "
CUP.
Sebuah kecupan hangat mendarat di bibirku. Rasanya lembut. Hafizh sengaja melakukannya, dia tidak ingin aku melanjutkan kalimatku.
Seperti yang dikatakannya, kami seolah terhubung telepati. Dia seperti mampu membaca pikiranku dengan mudah.
"Jangan katakan itu. Jangan pernah mengatakan itu, berpikir atau mengetiknya. Oke."
Aku tertawa mendengarnya, namun air mata tak henti berlinang dari kedua mataku. Hafizh merengkuh tubuhku dengan erat dalam dekapannya.
"Ibu, aku harap ibu tahu. Aku sudah mendapatkan semua yang aku mau. Aku berhasil menyelesaikan pendidikanku dengan baik. Aku berhasil menjadi pengusaha sukses. Aku memiliki keluarga baru yang sangat menyayangiku saat ini. Suami dan putri yang begitu menyayangiku."
Begitulah isi hatiku saat ini. Kalimat yang telah beberapa kali ku kirimkan ulang pada rekan imajinasiku. Aura.