I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
BERPISAH



Sejak saat itu, aku benar-benar memulai babak baru dalam kehidupanku. Aku menghindar dari hal yang di sebut cinta. Sadar atau tidak, aku tidak peduli reaksi Hafizh.


Aku cukup membatasi interaksi dengannya.


Tiba di ruang ujian. Aku mendapati sebuah permen tergeletak di atas mejaku. Aku mengambil permen itu dan mendapati sebuah tulisan 'Semangat' di baliknya.


Aku menoleh ke sekeliling, mencari tahu siapa yang memberikan ini. Aku menoleh ke kiri. Hafizh terduduk di bangku menaikkan kaki di atas bangku sementara tubuhnya disandarkan di dinding kelas. Ya, bahkan ujian pun tempat duduk kami berdekatan.


Mau bagaimana lagi, namaku diawali dengan huruf I. Sementara Hafizh diawali dengan huruf H. Tentu saja pada akhirnya kami akan tetap berdekatan.


Dia sempat menatapku beberapa detik sebelum akhirnya berbalik ke arah lain kala aku menoleh padanya. Bibirnya terlihat sibuk mengemut permen.


'Ah darinya ternyata.' Batinku. Aku menyimpannya. Meski tak kuucap terimakasih padanya, aku yakin dia akan mengerti.


"Sa. Untuk materi yang ini caranya bagaimana ya?" Salah satu teman sekelasku menghampiri kemudian duduk di bangku belakangku.


Memosisikan duduk menghadapnya, aku lantas menjelaskan rumusnya. Ekor mataku menangkap Hafizh yang masih duduk di bangku sebelahku sambil mengangguk-angguk. Sepertinya dia juga ingin tahu penjelasan ini, namun sejak aku memberikan jarak pada hubungan pertemanan kami, Hafizh tampak ragu menanyakan langsung padaku.


Aku berusaha semampuku menahan senyumku. Rasanya gemas melihatnya seperti ini. Tidak, aku tidak boleh merobohkan beteng pertahanan hati yang sudah aku bangun selama beberapa bulan ini. Aku harus fokus pada ujianku. Aku menggeleng cepat menyadarkan diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ratusan siswa dan siswi kelas XII berkumpul untuk mendengarkan pengumuman kelulusan. Kami bersorak gembira mengetahui 100 persen peserta ujian di sekolah kami lulus. Rasa senangku berlipat menerima informasi bahwa aku lulus dengan skor terbaik di sekolah.


Aku bisa sedikit membusungkan dadaku dan menegakkan kepalaku. Benar kata Ibu, meski aku hanya anak seorang janda miskin, setidaknya ada kepuasan tersendiri ketika aku bisa memiliki prestasi seperti ini.


Ujian selesai dan pengumuman kelulusan usai. Kami menutup semester ini dengan perpisahan di sekolah.


Aku duduk pada deretan peserta kelulusan. Fokusku tertuju pada panggung yang menampilkan beberapa seniman sekolahku. Salah satunya Ashana dan beberapa siswi yang kini beraksi mengikuti ketukan musik.


Rambutnya dibiarkan tergerai cantik, sementara senyumnya dan pancaran matanya sukses membius penonton. Tak terkecuali Hafizh. Dia tersenyum dengan bangga melihat aksi panggung Ashana yang memukau.


Siapa yang bisa mengabaikan pesona Ashana? Tidak ada.


Usai acara perpisahan, salah satu temanku memanggil seluruh anggota kelasku untuk berfoto bersama. Agak malas, aku mengambil posisi di samping Ana.


"Agak rapat ya teman-teman. Supaya semuanya bisa ikut dalam satu foto." Ana berseru dan di respon baik oleh warga kelas.


Kami merapat, detik itu juga dadaku berdebar kencang. Dua kali lebih cepat dari sebelumnya.


Dalam jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma parfum yang tidak asing di indera penciumanku. Selama 3 tahun bersama, aku hafal betul aroma wangi tubuh Hafizh.


Tanpa harus celingukan, aku tahu pasti di mana posisi Hafizh berdiri.


Tapat di belakangku.


Niat tersenyum dengan leluasa-ku hilang. Berubah menjadi senyum gugup, bisa ku tebak hasilnya tentu tidak sedap di pandang.


"Aku tandai kalian di media sosial ya. Tolong di sukai." Ana si bocah ekstrovert itu berseru.


Aku mengambil ponselku dari dalam tas. Iseng ingin melihat seperti apa hasilnya. Tentu saja aku juga ingin memastikan bahwa benar Hafizh ada di dekatku.


Sialnya, aku lupa kata sandi akun sosial mediaku. Maklum, aku sangat jarang menggunakannya. Menjadi siswi dengan keterbatasan ekonomi sepertiku membuatku memilih menghemat paket internetku hanya untuk membuka website pelajaran ketimbang menghabiskannya untuk membuka sosial media.


"Sa, jangan lupa sukai. Kau ini tidak pernah memberikan respon apa yang kita unggah. Bahkan postingan foto pun tidak ada lo di sosmednya." Ana mengeluh padaku.


"Hehe.. Maaf, aku bahkan lupa kata sandiku." Nyengir, aku menggaruk kepalaku.


"Sini aku bantu." Hafizh mengulurkan tangan, meminta ponselku. Aku menaikkan satu alis, sedikit ragu, namun pada akhirnya aku menyerahkan itu padanya.


Dasar aku yang malas atau gagap teknologi, atau Hafizh yang memang canggih? Entah apa yang dilakukannya, dia kemudian menanyakan email yang biasa aku gunakan. Dan ya, seperti sulap dia bisa membuka akunku dengan mudah.


"Ini sudah bisa. Sini, aku catat di kertas ini ya kata sandinya supaya kau tidak lupa lagi." Hafizh kemudian memberikan selembar kertas berisi kata sandi akunku.


Beberapa detik aku mengamati tulisannya. Nyaris hampir membuatku juling, sayangnya aku masih belum bisa membaca dengan benar tulisan Hafizh yang menurutku terlalu seni.


"Tapi ini tidak perlu.Tidak usah, aku catat di ponsel saja. Bacakan padaku." Kali ini aku menyerah, memerlukan bantuannya.


Hafizh membacakan kata sandi itu dengan berbisik. Tidak ingin orang lain mendengarnya.


"Terimakasih." Kataku setelah menyimpan itu dalam catatan ponselku. "Itu di buang saja." Pintaku pada Hafizh.


Hafizh kemudian meremas kertas itu.


Saat itu juga, jemariku sibuk menggeser-geser isi akun sosial mediaku. Ada beberapa tag foto yang di sematkan. Tak terkecuali unggahan Hafizh saat kami di Borobudur.


Ada beberapa foto yang tanpa aku sadari di ambil oleh Hafizh. Rupanya, saat itu Hafizh diam-diam menjadikanku sebagai objeknya.


Hatiku berdesir, seperti ada kupu-kupu yang menggelitik perutku. Hasil jepretannya cukup memukau bagiku. Jempolku bergetar, bingung harus menekan suka atau tidak.


Aku menggeleng, menyadarkan diriku bahwa dia melakukan ini hanya sebatas sebagai teman. Tidak lebih.


Aku beralih pada unggahan Ana. Tersenyum kecut melihat hasil fotoku yang tampak tidak mampu menunjukkan senyum terbaikku. Aku mengamati tiap wajah teman-teman sekelasku. Mereka memancarkan aura bahagia dalam foto ini.


Tidak terkecuali Hafizh. Sesuai dugaan. Dia berdiri tepat di belakangku. Rasanya aku ingin melonjak kegirangan sebab kami pada akhirnya memiliki foto berdua. Namun aku mencoba menahan diri.


Tanganku bergerak menggeser foto selanjutnya. Dalam foto ini, tampak beberapa murid belum siap untuk di foto. Aku terkekeh geli melihatnya, ada yang memejamkan mata, dan ada pula yang tanpa sengaja bergaya aneh saking belum siapnya.


Netraku terus bergerak hingga terfokus pada sosok diriku dalam foto itu. Aku tertawa melihat Ana, sementara Hafizh terlihat tersenyum menunduk menatapku yang berdiri di depannya. Aku menggeleng, tidak. Aku semakin menggila melihat semua ini.


'Sadar Isa, dia hanya teman. Hanya teman.' Aku bermonolog dalam hati.


'Ah yang benar saja.' Sekali lagi aku mengeluh. Fokusku kini tertuju pada Ashana yang berdiri tidak jauh dariku dan Hafizh dalam foto itu. Momen ini cukup menamparku untuk sadar.


Ashana, dia menatap dengan binar mata seperti jatuh cinta pada Hafizh.


"Sibuk sekali." Hafizh kemudian membuyarkan lamunanku.


"Tidak kok." Kataku.


"Foto berdua yuk." Ajaknya tanpa ragu. Aku tercenung. Kemudian menggeleng cepat.


"Isa." Seseorang memanggilku. Aku menoleh ke sumber suara.


"Dean?"


Dean berjalan mendekat, memberikan seikat bunga. Aku cukup bingung.


"Selamat ya, sudah dapat nilai terbaik di sekolah."


Aku mengangguk tersipu atas pujiannya. "Terimakasih banyak."


Hafizh diam mengamati percakapan kami. Menyadari hal itu dan situasi yang cukup canggung, aku lantas menyenggol lengan Hafizh.


"Fizh, sepertinya kau perlu menemui Ashana. Ini adalah waktu terbaik." Kataku padanya. Kemudian merusak buket dari Dean karena aku membagi sebagian bunga dari buket itu dengan Hafizh.


"Ap-Apa maksudmu?" Hafizh tampak bingung.


"Dean, kau beri bunga ini padaku kan? Aku ingin membagi bunga ini pada Ashana. Aku dengar dia mendapatkan nilai terbaik juga di sekolah. Tapi aku tidak tahu dia di mana. Jadi aku meminta bantuan Hafizh untuk mencarinya." Jelasku pada mereka berdua.


Mereka tampak saling beradu pandang kemudian menatapku kebingungan. Maksudku melakukan ini adalah menutup kesempatan pada Dean untuk tidak mengejarku lebih jauh. Namun juga tidak ingin melukainya terang-terangan.


Memberikan sebagian bunga pada Hafizh untuk diberikan pada Ashana adalah tujuanku untuk mempersatukan mereka. Dengan begitu, aku rasa aku akan dapat memulai babak baru dalam kehidupanku lebih mudah setelah lulus.


"Maaf, aku harus pergi lebih awal. Aku ada keperluan. Sampai jumpa lagi nanti." Pamitku pada mereka berdua. Sementara yang dipamiti masih belum paham maksudku.