
(AUTHOR POV)
Pertikaian hebat itu memberikan jarak bagi mereka. Malam ini, Hafizh duduk menyandarkan punggungnya di luar pintu kamar Isa. Kali ini Hafizh benar-benar tidak dapat menebak apa yang ada di kepala Isa.
Satu kakinya di tekuk. Sementara tangannya sibuk membuka sosial media milik sang istri. Menanti jika sewaktu-waktu Isa akan mengungkapkan sesuatu di sana.
Dirinya terlalu fokus pada ponsel hingga tak menyadari kehadiran Ashana yang berdiri tak jauh dari dia bersimpuh. Tidak ada yang dilakukan Ashana, dirinya hanya memandang sendu pada sang suami yang tampak frustrasi setelah berdebat dengan Isaura.
Malam berlalu, tanpa disadari Hafizh telah tertidur di depan pintu kamar.
Sementara yang dikhawatirkan terbangun saat subuh tiba. Usai melakukan sholat Subuh, Isa mengambil posisi duduk di atas kasur. Meraih ponsel untuk kemudian bermaksud membuka akun sosial medianya.
Jempolnya berhenti bergerak sementara dahinya mengernyit. Isa memiringkan kepalanya kemudian memukulnya pelan.
"Aduh kenapa tiba-tiba lupa."
Isa mencoba memasukkan kata sandi, namun itu tidak membuahkan hasil. Tak menyerah, dirinya kembali mencoba dengan kata sandi lain. Namun lagi-lagi itu tidak berhasil.
Isa menghela nafas. Kesal, ia lantas beranjak dari tempat duduk kemudian meraih sebuah buku catatan yang tergeletak di atas nakas.
Ia membuka buku itu. Terdapat sebuah catatan kata sandi yang sempat ia tulis di sana.
Isa memasukkan kata sandi itu dan kali ini berhasil. Beralih memilih opsi pesan, Isa langsung memilih profil bergambar bunga untuk kemudian mengetikkan sesuatu padanya.
"Dear Allah,
Aku ingin meminta maaf pada suamiku. Menjalani semuanya dan memulai semuanya sebagai perjalanan baru. Aku tidak ingin menulis hal-hal buruk di sini. Tidak, tidak ingin hal-hal menyedihkan di sini. - Isa."
Ibu jarinya bergerak menekan tombol kirim pada pengguna bernama Aura.
Ia kemudian bangkit dari tempat, lalu berjalan menuju pintu kamar.
Dirinya terperanjat kaget saat seseorang limbung tepat setelah pintu kamarnya dibuka.
"Hafizh?"
Hafizh menoleh. Tangannya bergerak cepat menyembunyikan ponsel yang sempat terjatuh dari tangannya. Terpampang sebuah pesan pribadi dari sebuah sosial media. Isa mengernyit, sempat bertanya-tanya dalam hati pesan apa itu? Namun Hafizh lebih dulu mengalihkan perhatian.
"Selamat pagi." Katanya seraya bangun dari posisi. Tidak seperti kemarin, pagi ini Hafizh memberikan sebuah senyuman manis untuk Isa.
Isa terdiam. Dirinya masih merasa agak aneh dengan sikap Hafizh pagi ini. Namun, ketimbang meninggikan gengsi, Isa memilih membalas sapaan dari suaminya itu.
"Selamat pagi." Meski agak canggung, namun pada akhirnya Isa memberikan senyum hangat pada Hafizh.
Untuk beberapa saat suasana hening. Hanya pandangan mereka yang beradu saling menunggu siapa yang akan lebih dulu meminta maaf.
"M-maafkan aku tadi malam." Isa memulai topik.
Hafizh mengangguk. "Aku juga minta maaf."
Perlahan tangan Isa bergerak menyentuh pipi kiri Hafizh. Jemari lentiknya mengusap lembut di sana. "Apakah sakit?"
Hafizh menyentuh lembut punggung tangan Isa. Merasakan hangat tangan penuh penyesalan tulus dari sang belahan jiwa.
"Tidak lagi." Hafizh menggeleng. Kedua sudut bibirnya ditarik membentuk lengkungan manis. Melihat sang suami seperti ini, Isa beringsut dalam pelukan. Melepas rasa rindu dan penyesalan tadi malam.
"Maafkan aku." Bisiknya menyembunyikan wajah pada dada Hafizh.
"Sudah, aku juga bersalah. Maafkan aku. Sudah ya, jangan menangis lagi." Hafizh mengecup pucuk kepala Isa sembari memberikan usapan lembut di sana.
Isa lantas mengangguk. Rasanya lega dirinya bisa kembali akur dengan sang suami. Memulai hari baru seperti tidak terjadi apapun tadi malam.
"Senangnya melihat kalian seperti ini lagi."
Ashana yang baru saja keluar dari kamar memandang Hafizh dan Isa dengan rasa lega. Keduanya menoleh pada Ashana membalas senyum Ashana dengan tersipu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Leila duduk di atas sofa dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Bibirnya dimanyunkan sementara pandangannya menatap lurus ke depan dengan wajah ditekuk.
"Leila sayang mama pulang. Tumben tidak mencari peluk mama?" Isa menghampiri putrinya yang masih memilih untuk diam.
"Mama tadi siapkan nasi untuk Leila tapi kotaknya kosong."
Isa mengernyit. Dirinya tidak merasa memberikan kotak kosong pada Leila. Bibirnya bergerak bertanya 'Kosong?'
"Mama hanya kelelahan sepertinya. Jadi tidak fokus." Isa mengalihkan perhatian pada Hafizh yang kini ikut bergabung dengan mereka. Hafizh mengambil posisi duduk di samping Leila. Tangannya mengusap kepala Leila sementara yang diajak bicara masih cemberut.
"Tapi Leila kan sudah lebih dulu pamer ke teman-teman kalau Mama itu koki terbaik. Leila menyesal." Gerutunya masih enggan menatap Isa.
Isa dan Hafizh saling tatap. Berbicara dengan mata mencari cara untuk mengembalikan suasana hati buah hati mereka.
"Emm.. Maafkan mama ya sayang. Sudah dong jangan cemberut begitu. Mama kan baru pulang kerja. Nanti semakin tidak fokus lo. Ayu senyum." Hafizh mencubit pipi putrinya, mencoba menghibur.
"Maafkan mama ya sayang. Kalau begitu, sekarang mama mandi dulu kemudian siap-siap masak untuk Leila yang enak ya." Isa memberikan kecupan pada pipi putrinya yang di balas anggukan.
Hafizh memberikan senyum pada Isa sembari mengangkat jempol.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hemm wangi sekali." Hafizh mengendus pipi Isa saat istrinya itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan aroma semerbak usai membersihkan diri.
"Sudah jangan macam-macam. Mandi sana." Isa menepis Hafizh untuk menyingkir dari jalan.
Tak mau berlama-lama dirinya lantas bergegas menuju dapur. Dilihatnya sebuah kotak nasi tergeletak di atas meja. Teringat sang buah hati yang kesal sebab dibawakan kotak kosong, Isa kemudian membuka kotak itu setelah dibuat penasaran.
"Benar kosong ya?" Gumamnya.
Isa menggeleng, tidak habis pikir bagaimana bisa itu terjadi. Daripada memikirkan itu, kini tangannya sibuk mengambil beberapa bahan untuk kemudian di cuci.
Beberapa menit berlalu, Isa menyalakan kompor untuk merebus bahan masakannya. Tangannya yang semula bergerak mengaduk kuah sup kini berhenti bergerak. Tatapannya kosong memandang isi sup.
Isa membalikkan badan. Berjalan masuk ke dalam kamar untuk kemudian pergi mengambil handuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aroma masakan dari dapur menarik perhatian Ibu mertua Isa. Melangkahkan kaki ke dapur, matanya membulat saat mendapati kuah sup yang tumpah meluber dari panci.
Tangannya sigap mematikan kompor, sementara dirinya celingukan mencari sosok Isa yang biasa masak sore.
"Isa! Isa! Kenapa kompor ditinggal nyala seperti ini?!" Ibu berteriak menarik perhatian seisi rumah, termasuk sang empunya yang kini berlari terbirit-birit sembari membernarkan kerudung.
"Maaf bu, Isa lupa. Tadi Isa tinggal mandi bu." Isa mengecek bagian kompor dan panci, memastikan bahwa saat ini semuanya sudah terkendali.
"Sayang bukannya tadi sudah mandi?" Hafizh yang ikut menghampiri menatap heran pada istrinya. Dia melihat hijab dan pakaian istrinya sudah berganti warna.
"Belum kok." Kata Isa, wajahnya ikut bingung mendengar pertanyaan Hafizh. Dia lalu tertawa.
"Kau mengigau sepertinya." Isa mengibaskan tangannya di depan wajah Hafizh.
Sementara yang diajak bicara balas menatapnya dengan berpikir keras. Dia yakin betul bahwa Isa sudah dua kali mandi sore ini.