I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
ASHANA POV



Aku Ashana, sosok gadis yang bisa dibilang populer di sekolah. Meski banyak siswa yang mendekatiku sejak menginjakkan kakiku di sekolah ini, aku sama sekali tidak tertarik dengan mereka.


Sejujurnya kebanyakan dari mereka bukanlah siswa biasa. Mulai dari ketua tim basket, ketua osis, kakak kelas yang populer dan masih banyak lagi.


Alasanku untuk tidak menerima satupun dari mereka adalah karena hatiku telah dicuri oleh dia.


"Maaf-maaf Fizh. Aku tidak sengaja tadinya aku ingin melempar ini pada Andre." Kataku meminta maaf pada Hafizh yang tanpa sengaja terlempar buku.


Dia menatapku dengan datar. Aku pikir dia marah padaku. Bahkan saat aku meminta maafpun dia tidak merespon.


Aku cukup iri dengan dia. Isaura, gadis manis yang soleh juga sosok gadis yang hebat dalam segala hal. Beruntungnya dia bisa setiap hari duduk dengan Hafizh.


Hafizh pun tampak begitu nyaman dengan Isaura. Meski aku tak mampu membuatnya tersenyum lebar seperti saat ini, aku ingin berterimakasih pada Isaura. Setidaknya dia sudah sering membuat Hafizh tersenyum seperti ini.


Melihat senyumnya saja sudah membuatku begitu bahagia. Membuatku semakin bersemangat untuk setiap hari datang ke sekolah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Na, aku ganti pasangan dengan Jaka saja ya. Aku rasa aku lebih nyaman.” Isaura menarik atensi kami karena telah menolak berpasangan dengan Hafizh.


“Wah yang benar saja.” Ana terdengar tidak setuju dengan pendapatnya.


“Ashana bisa dipasangkan dengan Hafizh.” Sambungku. “Kita coba dulu.” Bujuk Isa pada sang ketua kelompok, sementara Hafizh tampak memasang wajah datar. Dia tidak mengatakan apapun.


“Emm aku tidak masalah jika Hafizh mau.” Sahutku, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku pikir dengan begini aku lebih bisa mengenal Hafizh lebih dekat.


Pada awal latihan aku sempat iri melihat mereka berpasangan. Rasanya hampir setiap momen mereka selalu bersama. Seperti Tuhan sudah menakdirkan mereka sebagai ciptaannya yang tidak dapat dipisahkan.


Tapi, bukankah tidak ada makhluk di dunia ini yang benar-benar tahu seperti apa takdir Tuhan?


Pun jikalau itu takdir, bukankah takdir manusia masih dapat diubahnya jika hambanya itu berusaha?


Ya, aku adalah salah satu hambanya yang berusaha!


Sejujurnya aku gugup, tapi jika tidak begitu entah kapan lagi aku bisa mengenalnya lebih dekat. Hampir 3 tahun aku mengaguminya namun tak ada secuil keberanian untukku mengenalnya lebih jauh.


Dia terlalu dingin denganku. Reaksinya padaku sangat berbeda dengan cara dia memperlakukan Isaura.


“Mantap.” Isa mengangguk menyetujui.


“Hah.. Ya sudah kita coba.” Ana tidak memiliki pilhan lain. Dia menuruti permintaan si ketua kelas, Isaura.


Kami melanjutkan latihan, dalam posisi seperti ini, jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Aku berusaha tersenyum semanis mungkin.


Cara dia menatapku seperti menelisik jauh ke dalam hatiku. Aku menatap balik padanya. Membiarkannya membaca isi pikiranku. Andai dia bisa, aku harap dia tahu bahwa selama ini isi kepalaku hanya dipenuhi dirinya.


Gerakan selanjutnya adalah berpegangan tangan. Ini adalah kali pertama kami bersentuhan tangan. Telapak tangannya terasa dingin. Aku pikir dia gugup.


Dalam hatiku rasanya aku ingin menjerit. Aku sangat senang. Sekali lagi, aku ingin berterimakasih pada Isaura.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Tidak bisa, ibuku bisa mengomel kalau aku pulang telat lagi.” Isa menolak mentah-mentah ajakan Hafizh.


“Sebentar saja kok.” Hafizh masih terus membujuknya.


“Tidak bisa Fiz.” Tegasnya lagi.


“Ada apa?” Aku yang melihat pertikaian mereka lantas ikut menengahi. Menghampiri mereka dengan rasa penasaran.


“Oh, ada Ashana. Boleh kau temani Hafizh pulang sekolah ya!” Tak basa-basi Isa menawarkan ku untuk pergi bersama Hafizh sepulang sekolah.


“Oh, boleh. Kebetulan aku juga ada perlu.” Sahutku menyetujui. Tidak berpikir panjang harus menjawab apa. Sebetulnya tidak ada yang aku cari. Tapi, karena Hafizh, aku akan melakukan apapun yang aku bisa.


Bel berbunyi, Hafizh menungguku di gerbang sekolah dengan sepeda motornya. Kami berboncengan hari ini. Meski awalnya agak ragu, aku membulatkan tekadku untuk berpegangan pada pinggangnya.


"Tidak apa-apa?" Tanyaku padanya.


Begitulah alasanku dalam hati.


Kami berhenti pada sebuah mall. Masuk ke dalam sana menuju ke sebuah tempat di mana beberapa tas dipajang.


"Hemm yang ini atau ini ya?" Hafizh menunjuk pada dua tas.


"Aku rasa ini sangat cocok dengan Isa." Aku menunjuk pada tas selempang yang tampak feminin. Pasti akan sangat manis dikenakan Isa.


Hafizh sempat menatapku heran. Aku paham apa maksudnya. Aku lantas terkekeh. "Tidak usah kaget begitu. Aku tahu kau mencari sesuatu untuk Isa kan?"


Ia tersenyum, menundukkan kepalanya.


"Bagaimana menurutmu?" Tanyaku melanjutkan pembicaraan kami di awal.


Hafizh menggeleng. "Manis. Tapi aku pikir dia lebih suka ini."


Telunjuknya kini mengarah pada ransel. Aku menghela nafas. Jika seperti ini bukankah lebih baik dia tidak menanyakan pendapatku? Dia terlihat sangat mengenal Isaura dengan baik.


Aku menangguk. "Benar juga. Dia selalu membawa banyak buku. Jadi aku rasa ini juga tepat."


Hafizh menjentikkan jarinya. Tersenyum lebar lalu mengangguk mantap. "Saya ambil ini."


Aku senang melihatnya senyumnya. Tapi di sisi lain, aku bertanya mungkinkah suatu saat aku bisa merasakan menjadi Isaura? Mendapatkan perhatian dari sosok Hafizh.


"Ayo." Hafizh menarikku kembali dari lamunan. Kami berjalan beriringan, punggung tangan kami sempat bersenggolan. Berharap dia akan menggandengku, namun tidak.


Hafizh mengedarkan pandangannya jauh ke sekeliling Mall. Langkahku terhenti pada area bermain.


"Ayo kesana." Ajakku padanya. Hafizh terdiam, tak ingin menerima penolakan aku lantas spontan meraih tangannya. Menarik dirinya untuk ikut bermain.


Aku rasa ini akan menjadi salah satu hari terindah dalam hidupku. Hafizh terlihat sumringah. Senyumnya tak lepas dari bibirnya. Aku senang, hari ini aku berhasil membuatnya tersenyum dan menikmati waktu bersamaku.


Tidak lupa, aku menyempatkan diri mengajaknya foto bersama.


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Aku kesal, mengapa disaat aku begitu bahagia waktu berjalan 2 kali lebih cepat dari biasanya. Tidak bisakah aku menghentikannya?


Keluar dari Mall, kami berjalan beriringan. Tanganku sibuk memegang es krim. Kami memilih eskrim yang sama.


"Kalian berkencan?" Celetukku iseng.


"Tidak." Jawabnya santai. Aku cukup terkejut mendengarnya. Aku kira dia akan menghindari pertanyaan ini. Nyatanya hari ini aku tahu, Hafizh bukanlah orang yang sedingin itu.


Aku menoleh. Yes! Dalam hati aku berseru.


"Jadi boleh aku mengunggah foto kita tadi?"


Hafizh terdiam. Hanya menjawabnya dengan anggukan. Bibirku mengembang, senyum senang terlihat pada wajahku. Karena tidak keberatan, tanpa ragu aku mengeluarkan ponselku. Lalu mengunggahnya pada sosial mediaku. Tidak lupa menandai Hafizh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya kami mempersiapkan kejutan untuk Isaura. Kali ini tidak ada rasa cemburu di benakku.


Sebab, pengalaman berdua antar aku dan Hafizh kemarin sudah cukup membuatku yakin bahwa tidak ada bumbu asmara di antara mereka berdua.


Hubungan mereka murni hanya pertemanan. Aku senang memberikan kejutan untuk Isaura, teman dekat Hafizh yang juga menjembatani aku dan Hafizh untuk lebih dekat.


Ya, bisa aku rasakan perubahan hubunganku dan Hafizh jauh lebih dekat. Aku semakin yakin untuk menyelinap masuk di kehidupannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu berlalu dengan cepat, tibalah di mana kami melakukan penilaian Tari. Rasa senang yang menyelimuti benakku membawa berkah pada kelompok kami.


Ya, kami mendapatkan hasil terbaik. Momen itu, menjadi bagian dari terbaik dari kisah asmaraku.