I Thought It Was A Happy Ending

I Thought It Was A Happy Ending
SEMUA ASING



Seharian ini Hafizh memerhatikan gerak-gerik Isa. Ia menangkap hal tidak biasa pada istrinya. Sedari tadi dia tidak banyak bicara, cenderung menyendiri.


Hafizh duduk bersila di atas tempat tidur menghadap Isa. Redup lampu tidur menemani perbincangan mereka.


"Ceritakan kenapa sayang?" Tanyanya sembari menggenggam kedua tangan Isa. Isa menunduk seraya berpikir keras. Sementara Hafizh dengan sabar menunggu jawaban Isa sembari menatapnya dengan penuh pengertian.


"Aku takut." Jawabnya.


"Takut?"


Isa mengangguk pelan. "Semuanya asing. Kenapa ada banyak orang asing dirumah kita?"


Hafizh memundurkan kepalanya. Tidak paham dengan maksud istrinya. Dia melirik Hafizh ke arah lain, mempelajari kalimat Isa kata demi kata.


Hafizh mengangguk, berdeham untuk kemudian bergerak memosisikan diri lebih dekat pada Isa.


"Aku paham. Jangan khawatir, aku akan berpisah segera dengan Ashana." Hafizh menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga Isa. Isa tak merespon, masih memaksa otaknya untuk bekerja keras.


Isa menoleh. Menatap Hafizh dengan serius.


"Kita pergi dari sini ya sayang, ini bukan rumahku. Rumahku tidak di sini." Genggaman tangannya semakin erat. Bisa dirasakan oleh Hafizh rasa tidak nyaman yang menyergap Isa.


"Sayang ada apa? Tenang ya. Kau mau kita pergi dari sini?"


Isa mengangguk.


Sejenak Hafizh memikirkan haruskah dia menuruti keinginan Isa atau tidak? Jika dipikir-pikir pergi dari sini bukanlah rencana yang buruk. Mungkin dengan begitu pertikaian yang terjadi di rumah belakangan ini tidak akan terulang lagi.


Menghela nafas, Hafizh lantas menyandarkan kepala Isa pada dadanya. Meski dia belum menjawab, setidaknya ia ingin memberikan ketenangan pada istrinya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa?! Kalian mau pergi dari sini? Kau tega ya Fizh. Ibu kesepian tapi kau justru pergi." Ibu menolak permintaan Hafizh.


"Hafizh mau tenangkan pikiran dulu bu, lagi pula Hafizh mungkin cari rumah dekat sini. Hafizh pasti akan sering jenguk." Hafizh menggenggam tangan Ibu, berharap penjelasannya akan dimengerti.


"Maaf bu, tapi Hafizh pikir ini pilihan tepat. Isa dan Ibu mungkin akan sering berdebat kalau seperti ini. Keadaan kita sudah tidak seperti dulu bu. Hafizh sayang kalian, tapi jika terus seperti ini semua akan kacau. Isa sepertinya perlu waktu untuk semua ini." Imbuhnya.


Tidak ada jawaban dari Ibu. Dia pun enggan menatap putranya. Sementara Bapak tidak berkomentar apa-apa. Bersamaan dengan itu, terdengar derap langkah seseorang mendekat.


Pandangan mereka kini beralih pada sumber suara. Dilihatnya Isa berdiri memandang balik ke arah Hafizh dan sang ibu yang bergandengan.


"Hafizh." Panggilnya pelan. Wajahnya terlihat kecewa.


"Apa yang kau lakukan?! Kau bilang kau hanya mencintaiku. Tapi kau berpegangan tangan dengan wanita lain. Kau jahat!" Isa mendadak emosional. Mendekat ke arah mereka dengan langkah lebar, Ia lantas melepaskan genggaman Hafizh dari tangan Ibu. Menyingkirkan tangan Ibu dengan kasar.


Karena itu, mereka melempar pandangan tidak senang dan heran dengan tindakan Isa. Selama mengenalnya, mereka tahu betul bahwa Isa tidak pernah bersikap seperti ini. Dia bukan orang yang sensitif. Yang mereka tahu, Isa adalah wanita yang bijak dan pengertian.


"Kau wanita tua tidak tahu diri! Dia suamiku! Kau tidak boleh sentuh-sentuh dia! Menjauh darinya!" Ucap Isa sembari menunjuk-nunjuk pada Ibu.


Ibu yang diperlakukan seperti itu tentu saja tidak terima. Harga dirinya seolah terinjak-injak. Tidak, lebih tepatnya menganggap sang menantu mulai hilang akal sehat.


"ISA!" Bapak bangkit dari tempat duduk. Tidak terima jika sang menantu bersikap tidak sopan pada istrinya.


"Isa! Sadar! Apa maksudmu begitu? Tidak bisakah berpikir bijak? Ibu ini sudah tua, kenapa putraku harus menjauhiku? Kau mabuk ya?" Ibu membalas hinaan Isa dengan emosi.


Melihat pertikaian ini, Hafizh lantas meminta maaf pada Ibu dan Bapak. Ia menghadang mereka dengan tangannya. Tidak membiarkan Ibu mendekati Isa, sebab Ia tahu bahwa Isa mungkin saja akan menampar Ibu seperti dirinya saat itu.


Ashana yang semula berada di kamar segera menghampiri mereka yang berada di ruang keluarga. Dirinya tidak bisa berdiam diri jika mendengar keributan seperti ini.


Hafizh menarik tangan Isa. Menyentuh kedua bahunya dengan kasar untuk menghadap padanya. Tangannya tanpa sadar telah mencengkram erat bahu Isa. Mencoba meredam emosi dalam dadanya.


"Kau sudah keterlaluan sayang. Aku sudah bersedia pindah denganmu. Aku sedang bujuk ibu, tapi kau justru berbbicara tak berdasar seperti ini."


Paham ada yang janggal dan tidak beres dengan Isaura, Ashana lantas menengahi. Ia menarik pelan tubuh Isa dari cengkeraman Hafizh.


"Fizh sudah. Isa sepertinya tidak sehat. Sudah biar dia istirahat ya." Katanya sembari menatap Isa yang masih terdiam tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tangan Ashana bergetar melihat hasil dari diagnosa dokter. Batinnya terasa hancur. Segunung perasaan bersalah seketika itu muncul pada benaknya. Teringat pada perkataan dokter bahwa Isa mengidap Alzheimer.


"Semua ini salahku. Aku tidak seharusnya ada dalam kehidupan mereka." Begitulah kiranya batin Ashana saat ini.


Ashana segera memasukkan hasil diagnosa itu ke dalam tas. Tidak membiarkan Isa mengetahui apa yang dialaminya. Berjalan mendekati Isa yang duduk pada kursi tunggu, Ashana memberikan senyum hangat padanya.


"Ayo aku antar pulang." Isa menoleh. Menatap Ashana dengan penuh tanya, 'Siapa kau?'


Tanpa perlu menunggu pertanyaan itu terlontar dari mulut Isa, Ashana meraih kedua tangan Isa kemudian menggenggamnya dengan tulus.


"Aku sahabatmu. Jangan khawatir. Ayo aku antar pulang. Suami dan anakmu pasti sudah menunggu." Bujuk Ashana dengan penuh pengertian.


"Benar. Anak dan suamiku menunggu. Aku harus pulang." Gumam Isa membuat Ashana tersenyum mendengarnya.


Tanpa ada penolakan dari Isa, Ia menurut. Berjalan beriringan dengan Ashana yang menuntunnya keluar dari rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sambutan hangat dari putri kecil Isa menjadi obat bagi mereka setibanya di rumah. Pelukan diberikan Leila pada Ibu tercinta.


"Leila temani Mama istirahat di kamar ya." Pinta Ashana yang kemudian dijawab anggukan oleh Leila.


"Ayo Mama." Ajaknya kemudian menggiring Ibunya untuk beristirahat di kamar yang di sambut senang Isaura.


Ashana menghela nafas. Memikirkan bagaimana dirinya harus menjelaskan apa pada Hafizh setibanya dirinya pulang kerja nanti.


"Assalamualaikum." Terdengar seseorang datang. Ashana membalas salam sembari berlari membukakan pintu.


"Hafizh." Sebut Ashana setelah membukakan pintu. Tangisnya tiba-tiba pecah, membuat Hafizh kebingungan.


"Ada apa? Kau tidak apa-apa?" Hafizh menyentuh bahu kiri Ashana. Sementara yang diajak bicara masih terisak tanpa mampu menjelaskan.


"Duduk dulu. Ceritakan perlahan." Hafizh menuntun Ashana untuk masuk. Namun istrinya menahan pergerakan Hafizh. Ia menoleh menatap Ashana yang menggeleng. Tidak mengizinkan dirinya untuk mendekati kamar Isa.


"Kita bicara di sini saja." Pintanya pada Hafizh untuk duduk pada sofa.


Hafizh menurut. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Ashana yang kini mengusap pelupuk matanya setelah menyerahkan sebuah surat.


Sejenak suasana senyap. Hafizh serius mempelajari isi surat itu. Beberapa menit kemudian wajahnya berubah sendu. Tidak menduga dengan apa yang telah diketahuinya.


Ia menggeleng. "Aku harap ini tidak benar." Ucapnya lirih sementara tangannya gemetar. Netranya berkaca-kaca sembari satu tangannya lagi menjambak rambutnya.


"Isa, sakit itu. Aku pikir semua karena aku." Ucap Ashana dengan terbata, masih merasakan sesak dalam dada sebab tak seharusnya ia berada dalam hubungan mereka.


"Aku benar-benar meminta maaf." Lanjutnya lagi.


Hafizh melirik pada Ashana yang tertunduk lesu penuh penyesalan. Tangannya basah akan tetesan air mata yang berlinang.


"Tidak. Semua sudah terjadi." Katanya pasrah. Dirinya tidak habis pikir, cobaan hidup apa lagi yang telah Tuhan tuliskan untuknya. Takdir seolah mempermainkannya.


"Aku hanya tidak ingin dia melupakannku. Aku tidak mau kehilangan dirinya." Sambung Hafizh yang kini menatap kosong ke bawah.


Kalimatnya itu menarik perhatian Ashana yang kini menatap dengan sayu. Membuatnya tersadar betapa dalam cinta Hafizh pada Isa. Betapa besar kekhawatiran yang dirasakan Hafizh pada Isa.