
(Flashback)
Isa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Berjalan seorang diri ketika Leila dan Ashana sedal asyik menikmati waktunya bersama.
Berbagai pernak-pernik yang ada di sana menarik perhatian Isa. Langkahnya terhenti pada sebuah kios arloji mewah. Melangkah dengan binar mata, tangannya bergerak hendak meraih arloji mewah yang dipajang di atas etalase.
Gerakannya terhenti saat seorang pramuniaga menghampirinya.
"Ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya dengan ramah. Isa menoleh lalu tersenyum padanya.
"Aku ingin mengambilnya." Kata Isa dengan yakin.
"Selera anda sangat baik Bu. Arloji ini di desain khusus dengan tangan ahli. Apakah ini untuk orang spesial?" Pramuniaga itu mulai membual.
Isa mengangguk. "Ya, untuk suamiku. Dia suka memakai arloji."
"Tepat sekali. Kalau begitu akan kami kemas, boleh silakan membayar di kasir sebelah sini ya bu." Pramuniaga itu menunjuk ke arah kasir. Isa mengangguk menuju arah yang dimaksud.
Setibanya di meja kasir, Isa meraba pakaiannya, merogoh setiap kantong yang ada. Ditemukannya beberapa lembar uang di sana.
Ia sempat menatap sejenak pada lembaran uang itu setelah pegawai kasir menyebutkan nominal. Wajahnya tampak ragu sementara kepalanya dimiringkan, berpikir keras berapa jumlah yang ia bawa.
"Ini." Beberapa menit setelah itu, Isa langsung menyerahkan semua uang yang ia miliki. Petugas kasir itu menerimanya, kemudian menghitung.
"Maaf Bu, tapi ini tidak cukup."
Isa mengernyit. "Tidak cukup? Ini pasti sudah benar kok coba dihitung lagi." Pintanya.
Petugas kasir itu menghela nafas. Kesal dengan sikap Isa yang terlihat bermain-main dan tidak memiliki itikad baik sebagai pembeli.
"Maaf bu, tapi sudah kami hitung dan jelas ini kurang. Ibu boleh menghitungnya sendiri." Katanya sembari mengembalikan uang itu pada Isa. Jelas dirinya tidak ingin membuang waktu, sekelas arloji mahal jarang sekali seseorang membayarnya dalam bentuk uang cash.
"M-menghitung?" Gumamnya. Tatapan Isa mulai tidak tenang. Dirinya sendiri bingung kenapa merasa asing dengan deretan angka-angka itu?
"Berikan saja padaku. Aku akan memanggil temanku. Dia di sini. Aku akan menemuinya dan membayarnya." Isa memohon, sementara tangannya dengan cepat mengambil arloji yang telah dikemas rapi itu.
"Hei Nona. Kau harus membayar dulu." Pramuniaga yang sebelumnya menangani Isa itu lantas menghadang. Tidak membiarkan Isa menipunya dengan mudah. Tangannya dengan cepat berusaha merebut bungkusan yang kini di dekap erat pada dada Isa.
"Tidak! Tolong berikan padaku. Temanku di sini. Aku akan mencarinya." Isa memohon sembari menjauhkan arloji itu agar tidak dapat digapai si pramuniaga. Dekapannya semakin erat.
PLAK!
Kesal, orang itu lantas memberikan sebuah tamparan pada pipi Isaura. "Dasar penipu! Kau pantas mendapatkan ini! Tega-teganya kau mau menipu kami! Kami hanya karyawan di sini. Tidak bisakah kau berpikir bagaimana kami akan merugi?! Aku tidak akan tinggal diam!" Gertakannya membuat Isa terkejut.
Tidak percaya jika dirinya baru saja ditampar seorang lelaki. Hal itu lantas menyedot perhatian sebagian orang yang ada di sana. Mendengar kata pencuri, mereka dengan cepat menghakimi Isa. Kata-kata tidak menyenangkan terucap dari mereka.
Situasi ini semakin menyudutkan Isa. Dirinya tidak bisa berpikir jernih. Isa menggeleng, berusaha mencari cara untuk segera keluar dari tekanan ini, meski sebenarnya dirinya benar-benar ketakutan.
Mengumpulkan keberanian dan tenaga, Isa lantas berlari dari tempat menembus kerumunan orang yang semula menghakiminya.
Sial!
Dirinya tidak ingat jalan mana yang ia lalui sebelumnya. Kemana dia harus pergi, dia tak tahu. Netranya melirik ke kanan dan ke kiri, terlihat tidak tenang.
"KEJAR! PENCURI!" Teriak sebagian orang yang mengejarnya.
"Tidak! Aku bukan pencuri! Tolong aku!" Teriaknya berharap Ashana akan datang.
Namun yang dicari tidak jua menemuinya.
Isa berlari sekuat mungkin, langkahnya tidak beraturan. Ia bahkan menabrak sebagian orang.
Darah segar mulai mengalir dari hidung dan dan telinganya. Membuat orang-orang sekitar berteriak panik melihat apa yang baru saja terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Penuturan pramuniaga itu semakin membuat Hafizh geram. Ia menguatkan cengkeramannya. Memberikan tinjuan pada wajahnya.
"Jadi kau benar-benar menampar istriku! Terima ini!" Satu pukulan lagi diberikan. Membuatnya tak berkutik.
"Kau tahu aku bahkan bisa membeli sekiosmu! KENAPA! KENAPA KAU TIDAK PERCAYA PADA ISTRIKU! KENAPA KAU MEMBUATNYA MENINGGALKANKU!" Hafizh memberikan tinju berulangkali pada wajah pria itu.
"T-tolong maafkan aku. T-tapi sekuat apapun kau memukulku, itu tidak akan mengembalikan istrimu."
Hafizh menahan pergerakan tangannya. Menghentikan pukulannya, jiwanya kini rapuh. Kalimat itu menyadarkan dirnya. Benar, tidak ada gunanya dirinya meluapkan emosinya seperti ini. Hatinya hancur, ia melepas cengkeraman itu. Duduk pada tanah dengan tidak berdaya bersandar pada beberapa tumpukan box yang ada.
Bersamaan dengan itu, terdengar sirine patroli. Namun Hafizh tak peduli, dia tidak melarikan diri. Tak ada gunanya melarikan diri, tidak ada lagi penyemangat dalam hidupnya. Tak ada lagi alasan baginya untuk hidup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"BODOH!" Bapak meluapkan emosinya sembari memberikan tamparan keras pada wajah Hafizh untuk kesekian kali. Dirinya kecwa berat pada Hafizh yang meluapkan kekecewaannya pada orang lain.
"Pak, sudah pak. Maafkan Hafizh." Ashana memohon pada bapak mertuanya. Tidak tega melihat kondisi Hafizh yang begitu kacau. Darah kental keluar dari sudut bibirnya. Tapi Hafizh tidak peduli, hatinya jauh lebih sakit dibandingkan luka kecil itu.
Bapak tidak menjawab, sementara Hafizh hanya mematung.
"Ashana ingin bicara dengan Hafizh pak." Bujuk Ashana pada Bapak. Bapak menghela nafas, melirik pasa Ashana kemudian pergi meninggalkan mereka masih dengan perasaan kesal.
Untuk sesaat keadaan terasa begitu sunyi. Tidak ada yang membuka percakapan. Ashana menarik nafas, baru saja membuka mulut untuk berinisiatif membuka percakapan, Hafizh lebih dulu beranjak meninggalkan dirinya, melewatinya begitu saja tanpa peduli. Mungkin ini adalah pertama kalinya ia mencium aroma alkohol yang menyeruak dari tubuh Hafizh. Tidak biasanya ia seperti ini.
Ashana terdiam untuk beberapa saat. Paham dengan apa yang dirasakan Hafizh. Tidak menampik jika dirinya lebih dulu merasakan bagaimana beratnya ditinggal oleh sosol yang begitu dicintai dan berarti dalam hidup.
Ia lantas mengekor mengikuti kemana Hafizh pergi. Dirinya hanya tidak ingin jika Hafizh melakukan hal-hal diluar kendali lagi.
Langkah kakinya membawa mereka ke kamar mendiang Isaura. Ia memilih menahan diri untuk tidak masuk ke dalam.
Sementara di dalam sana, Leila duduk seorang diri dengan sebuah buku di pangkuannya. Hafizh bergabung duduk di samping putrinya itu.
Leila lantas menoleh. Terkejut melihat kondisi papanya.
"Papa! Itu pasti sakit!" Katanya sembari menunjuk sudut bibir Hafizh. Yang di ajak bicara tersenyum, kemudian menggeleng pelan.
Tangannya mengusap lembut kepala Leila. Kemudian meilirik pada isi buku yang dibuka.
"Mama bilang di buku ini dia berakhir bahagia dengan pangeran. Tapi di halaman yang satu ini, mama tulis aku pikir itu akan berakhir bahagia." Kata Leila sembari menunjuk pada halaman buku yang di maksud.
"Papa tau? Mama sangat menyayangi papa. Sangat."
Hafizh tersenyum mendengar kalimat putri semata wayangnya. Ia mengangguk pelan.
"Mama bilang, setiap orang memiliki 1 belahan jiwa. Tapi ternyata Papa ditakdirkan dengan memiliki dua bidadari di dunia ini." Leila masih melanjutkan kalimatnya, masih bertanya-tanya dengan apa yang dituliskan ibunya di sana.
"Tidak sayang, tidak ada yang menggantikan posisi mama." Hafizh mengusap lembut pucuk kepala Leila.
"Tapi, Mama selalu bilang padaku. Aku harus selalu menghormati Mama Ashana seperti Mama." Leila menoleh memandang Hafizh dengan polos.
Sementara Hafizh balik menatap dengan dalam. Melihat wajah Leila seperti ini benar-benar mengobati rasa rindunya pada Isa.
"Kita memiliki Mama Ashana di sini. Tapi, Mama akan tetap ada di hatiku." Tutur Hafizh sembari menyentuh dada kirinya. Menjelaskan pada Leila bahwa tidak ada yang dapat menggantikan posisi Ibunya itu.