I Still Want You

I Still Want You
Dilema Radika. * MANSION UTAMA.



Nampak sosok pria paru baya berjalan mondar mandir dengan ekspresi yang jelas terlihat sedang kesal saat ini. Dan di sebuah sofa yang lain nampak juga seorang sosok wanita cantik yang terlihat anggun sedang duduk santai menikmati secangkir teh hangat, sesekali wanita itu menggeleng pelan saat melihat pria paru baya yang tidak lain adalah Tuan Kaiden Zaferino sedang mengumpat kesal saat panggilan telfonnya di jawab oleh seorang operator.


"Tenanglah Ayah, Ayah membuat kepala Ziyi pusing karena terus mondar mandir seperti setrikaan." Keluh wanita itu.


"Bagaimana Ayah bisa tenang, lihatlah anak kurang ngajar itu, bahkan sekarang ponselnya di non aktifkan, apa dia sengaja membuat Ayahnya kesal dengan terus menunggunya? lihatlah, akibatnya jika kau terlalu memanjakan adikmu Ziyi," Balas Tuan Kaiden yang kembali duduk di atas sofa untuk menenangkan pikirannya.


"Mungkin saja dia masih punya banyak pekerjaan di Perusahaan Ayah, bersabarlah." Balas wanita itu lembut.


"Pekerjaan apa, bisa jadi anak itu ke klub malam lagi untuk mabuk-mabukan, bersenang-senang dengan wanita seperti kebiasaannya,"


"Ayah.. Sudahlah, Dika sudah sangat dewasa sekarang, umurnya juga sudah 30 tahun, dia pasti tahu dengan apa yang di lakukannya, Ziyi percaya anak itu tidak akan melakukan sesuatu di luar batas."


"Justru karena anak itu sudah dewasa, jadi Ayah menginginkan dia untuk menikah secepatnya."


"Ayah.. "


"Tidak ada yang bisa menentang keputusan yang telah Ayah buat. Dan sebagai Kakaknya seharusnya kau bisa memberikan dia pengertian, jangan terus menerus mengikuti apa yang di Inginkannya, itu akan membuatnya semakin melunjak dan seenaknya."


"Ziyi tahu, Ziyi akan mencoba untuk membujuknya, meski tidak semudah itu. Ayah tahu bagaiaman keras kepalanya Dika kan? Jadi Ziyi mohon, tenangkan diri Ayah." Bujuk Ziyi yang berusaha untuk menenangkan perasaan Ayahnya.


Ziyi Zaferino adalah Anak perempuan dari Tuan Kaiden Zaferino juga Ayah Radika. Dan sejak Ibu mereka meninggal di usia Radika yang masih berusia 5 tahun dan Ziyi yang berusia 10 tahun langsung membawa Adiknya ke Belanda atas perintah Ayahnya. Dan sejak itu Ziyi lah yang berperan penting dalam mengurus Radika, meski usianya pada saat itu masih terbilang sangat mudah, namun ia dengan telaten menjaga Adiknya sambil tetap bersekolah hingga Adiknya bisa mandiri diusianya yang 20 tahun, dan tentunya ia dibantu oleh seorang asisten rumah kepercayaan keluarga mereka yang sengaja di kirim Tuan Kaiden untuk menjaga mereka berdua. Bahkan setelah Ziyi dewasa, ia memutuskan untuk tidak menikah karena ia tidak ingin meninggalkan Radika, adik satu satunya itu. Terlebih lagi ia sudah mendapat Amanah dari Almarhuma Ibu mereka agar ia harus terus bersama Radika sampai Radika menikah dan memiliki keluarganya sendiri.


Hingga 15 menit kemudian, nampak kedua sosok muncul dari balik pintu. sosok Arka yang dengan wajah datar penuh dengan ketegangan karena rasa bersalah dan satu lagi sosok wajah yang terlihat suci tampa dosa dengan wajah tengil khasnya, siapa lagi kalau bukan Radika.


"Malam Kak Yi, Ayah.. Maaf aku terlambat." Sapa Radika yang tiba-tiba muncul, menyusul Arka yang selalu berada di sampingnya.


"Kau pulang sayang, astaga.. Kakak sangat merindukanmu," Sambut Ziyi beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Adiknya erat.


"Bukannya minggu lalu kita baru bertemu? Masih rindu lagi." Balas Radika terkekeh.


"Tapi Kakak selalu merindukan Adik kakak yang tampan ini" Ucap Ziyi tersenyum sambil mengusap wajah Radika lembut."


"Ehheemm."


Suara deheman dari tuan Kaiden yang terdengar Horor membuat keduanya terdiam sesaat, Radika hanya mengatup kan bibirnya saat melihat tatapan tajam sang Ayah.


"Apa kalian sudah makan malam?" Bisik Ziyi lagi sambil menatap Radika dan Arka secara bergantian yang hanya di balas anggukan pelan oleh Arka dan Radika secara bersamaan yang membuat tuan Kaiden menggeleng perlahan.


"Bagaimana keadaan kakak? Aku harap kakak lebih bersabar menghadapi Singa tua itu."


Bisik Arka berbisik pelan yang langsung membuat Ziyi tersenyum sambil menggeleng menepuk lengan Radika. Tidak berselang lama mereka pun duduk di ruangan tengah yang sangat luas. Ruangan yang memang di sediakan khusus untuk pertemuan keluarga, yang bagi Radika sendiri adalah ruangan eksekusi, karena setip kali ada masalah pasti akan di selesaikan juga di putuskan di ruangan tersebut.


"Arka."


panggil Tuan Kaiden mulai membuka suara, hingga membuat ketiganya terdiam sambil mengalihkan pandangan mereka kearah Tuan Kaiden yang saat ini tengah fokus menatap Arka, yang membuat pria itu menarik nafas dalam.


"Bagaimana perkembangan Perusahaan cabang di Belanda?" Lanjut Tuan Kaiden dengan tatapan tajamnya yang sambil duduk menyilangkan kakinya dengan menyandarkan tubuh tegapnya di sandaran sofa single yang ia duduki seorang diri.


"Perkembangannya cukup pesat Tuan, dan tidak ada masalah sedikitpun. Sejauh ini semua berjalan dengan sangat lancar, dan selang waktu satu tahun ini sudah ada beberapa perusahaan besar yang mengajukan proposal untuk bekerja sama dengan perusahaan kita." Jelas Arka panjang lebar yang di balas anggukan oleh Tuan Kaiden. Lalu tatapan tajam itu seketika mengarah ke arah Radika yang masih asik dengan ponselnya.


"Bagus. Jadi dengan begitu akan lebih memudahkan Dika untuk menjalankan Perusahaan itu, bukankah begitu Dika?" Tanya Tuan Kaiden yang masih menatap tajam wajah anaknya yang tiba-tiba menjadi pias saat mendengar perkataan Ayahnya. Matanya melebar, begitupun dengan Ziyi dan Arka yang juga sama terkejutnya saat mendengar perkataan Tuan Kaiden barusan. bahkan tampa Radika sadari, ponsel yang sejak tadi di pegangnya terjatuh begitu saja tampa ia pedulikan lagi.


"Apa maksud Ayah?" Tanya Radika yang nampak terlihat panik.


"Ayah, apakah Ayah akan mengirim Dika ke Belanda lagi seperti waktu itu?" Tanya Ziyi menatap Ayahnya. Namun Tuan Kaiden tidak menjawab pertanyaan anak perempuannya itu, tatapannya masih fokus ke arah Radika yang sejak tadi menatapnya.


"Apa kau kurang paham? Ayah menginginkanmu untuk menjalankan Perusahan kita yang baru di Belanda." Ucap Tuan Kaiden dengan nada datar.


"Aku tidak bisa." Tolak Radika dengan cepat.


"Maka menikahlah." Sela Tuan Kaiden menarik sudut bibirnya keatas, hingga terlihat sebuah senyum yang nampak mengerikan.


"AYAH."


"Aku tidak akan menikah Ayah, aku belum siap untuk itu." Gerutu Radika dengan suara pelan namun sebenarnya sudah di penuhi dengan rasa emosi. berharap Ayahnya akan berubah pikiran.


"Dari dulu jawabanmu selalu sama, lalu kapan kau akan siap?" Tanya Tuan Kaiden lagi yang sontak membuat Radika hanya bisa terbungkam, karena memang sudah tidak ada jawaban lagi untuk Ayahnya. Radika hanya tertunduk sambil mengepalkan tangannya kuat hingga buku-bukunya terlihat memutih.


"Tuan muda,"


panggil Arka pelan memanggil Radika saat ia melihat presdirnya mulai gelisah dengan nafas yang mulai tidak beraturan. Radika menatap Arka sambil berusaha untuk mengatur perasaannya.


"Menikahlah dengan wanita yang Ayah tentukan, atau berangkat ke Belanda tanpa Arka." Mendengar perintah Tuan Kaiden barusan membuat ketiganya kembali terkejut. Dan Satu satunya yang tersenyum di antara mereka hanya Tuan Kaiden.


kau tidak bisa apa apa lagi sekarang Nak.


Batin Pria paru baya itu terus menatap anaknya yang sudah terlihat gelisah.


"Ayah, pilihan macam apa itu? Aku tidak setuju. Kenapa Ayah selalu seenaknya."


protes Radika menatap wajah datar sang Ayah.


"Ayah.. Apa Ayah tidak terlalu keras padanya? Ayah tau sendiri dia... "


"Berhenti membelanya Ziyi. Ayah  tau dengan apa yang Ayah lakukan."


"Tapi Ayah.. " Ziyi menghentikan kalimatnya saat Tuan Kaiden mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Ziyi berhenti untuk berbicara.


"Ini pilihanmu, menuruti perintah Ayah atau kau ke Belanda, bukankah itu sangat adil Bagi anak keras kepala sepertimu." Ucap Tuan Kaiden lagi.


"Bukankah itu terlalu berlebihan Ayah, dan kenapa aku mesti berhubungan dengan wanita yang bahkan tidak aku kenal sama sekali, apalagi untuk menikahi mereka seperti apa yang Ayah inginkan."


"Kenapa tidak, lalu bagaimana dengan kegiatanmu yang selalu menghabiskan waktu di club malam untuk mabuk-mabukan, gonta-ganti pasangan semaumu, jika kau terus melakukan hal buruk seperti itu kau bisa merusak citra Ayah dan perusahaanmu sendiri. Apa kau sadari itu? Atau memang kau sengaja untuk melakukan semuanya?" kelakar Tuan Kaiden sambil melempar beberapa lembar foto yang di dalamnya ada gambar Radika dengan beberapa wanita yang berbeda. Seketika mata Radika melebar sempurna dan langsung menatap Arka yang juga sama terkejutnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Gumam kecil Radika pada Asistennya. Arka hanya menggeleng pelan seolah meyakinkan Radika agar tetap tenang. Sedangkan Ziyi yang ikut melihat foto itu hanya terbatuk dan langsung meneguk tehnya hingga tandas.


"Dan kau Arka, kali ini kau tidak bisa lagi membelah anak kurang ajar ini. Kau dan Ziyi sama saja, selalu membelah anak keras kepala ini," Ucap tuan Kaiden kembali menatap Arka yang hanya bisa mengangguk pelan.


"Aku bahkan tidak menyukai mereka, sedikitpun aku tidak memiliki nafsu untuk meniduri mereka meski mereka yang memintanya, Arka juga mengetahui hal itu, karena dia yang selalu membantuku untuk menolak ajakan mereka ke Hotel."


Jawab Radika dengan wajah polos yang membuat Tuan Kaiden naik pitam, Arka  hanya menarik nafas panjang mendengar pernyataan Radika yang entah bodoh atau polos.


Ayo Tuan Dika, kita lompat kejurang bersama aku sudah siap mati sekrang.


Batin Arka menangis sambil terus berdoa agar kali ini ia bisa selamat dari amukan Tuan Kaiden, sedang Ziyi yang tiba-tiba tersedak liur sendiri hanya bisa menarik nafas dalam sambil mengurut dadanya.


"Dasar anak kurangajar, apa otakmu memang selalu kotor seperti itu?" Balas Tuan Kaiden beranjak dari duduknya mengambil ancang-ancang untuk melayankan pukulan ke arah Radika, untung saja dengan sigap Ziyi langsung beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Ayahnya.


"Tenanglah Ayah. Ayah bisa melukainya."


Ucap Ziyi memohon, dan perlahan mengusap lengan Ayahnya. Nafas tuan Kaiden naik turun akibat menahan emosi.


"Kau anak muda, tidak ada tawar menawar, Ini buka pasar. Menikah dengan wanita pilihan Ayah atau berangkat ke Belanda sekarang juga. Dan ingat, kau berangkat tampa Arka." Ucap tuan Kaiden tegas dengan nada datar, sedang Radika hanya terdiam menunduk tak bergeming. Entah apa yang sedang dipikirkannya, terlihat sesekali ia meremas jari jari tangannya yang sudah terlihat memerah.


"Baiklah jika kau tetap keras kepala, biar Ayah yang menentukan. Sekarang juga kemasi barangmu, besok Ayah akan mengirimmu ke Belanda."


Ucap tuan Kaiden dan langsung meraih ponselnya lalu menghubungi orang kepercayaan untuk membeli tiket penerbangan ke Belanda.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.