I Still Want You

I Still Want You
Terbaring koma. * PANTHOUSE RADIKA.



Arka yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar, langsung berlari menghampiri Tuan Kaiden yang tengah melayangkan pukulannya ke arah Radika yang hanya terdiam pasrah, dan dengan cepat memegang tangan Tuan Kaiden sebelum tangan itu kembali mendarat ke wajah Radika yang sudah terlihat babak belur.


"Hukum saya saja Tuan, ini semua salah saya" Ucap Arka yang langsung bersimpuh, memohon pengampunan untuk Radika.


"BERHENTI MEMBELANYA ARKA," Teriak Tuan Kaiden semakin murka.


"Maafkan saya Tuan, ini salah saya."


"BERDIRI." perintah Tuan Kaiden.


"Tidak Tuan." Balas Arka bersikukuh yang masih tetap dalam posisinya.


"SAYA BILANG BERDIRI SEKARANG JUGA."


"Tuan.. "


"BERDIRI ARKA."


Teriak Tuan Kaiden yang semakin naik pitan, sedang Arka masih tetap bersimpuh tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya hingga membuat Tuan Kaiden menyerah sambil meraih kursi rias yang terletak di sampingnya dan langsung di lemparnya ke dinding sudut kamar dengan sangat keras, hingga membuat kursi kayu tersebut hancur berantakan.


"Ingat. Dalam waktu 24 jam istrimu sudah harus berada disini, kali ini Ayah tidak main-main dengan perkataan Ayah."


Ucap Tuan Kaiden yang penuh dengan ancaman. Meninggalkan ketiganya yang masih terdiam.


"Tuan muda, apa anda baik baik saja?"


Tanya Arka yang langsung menghampiri Radika yang masih terdiam dan Ziyi yang sejak tadi terus memeluk tubuh Radika


"Apa dia Baik baik saja Arka?" Tanya Radika dengan suara seraknya seraya menatap wajah Arka yang mengangguk perlahan dengan senyum kecil dibibirnya.


"Dia Baik baik saja." Jawab Arka perlahan.


"Aku harus menemuinya.. " pinta Radika yang berusaha untuk berdiri.


"Sabarlah Tuan Muda, kita obati dulu luka Anda." Balas Arka beranjak dari duduknya menuju lemari yang terletak di sudut kamar itu. Hingga Arka kembali dengan kotak P3K dan langsung mengobati sudut bibir dan pelipis Radika yang sobek akibat pukulan keras Tuan Kaiden.


* * * * *


* KEDIAMAN ARKA.


"Bian,"


Suara serak Ayuka seketika membuyarkan lamunan Bian yang sedang duduk di atas sofa sambil mencengkram rambutnya dengan kedua tangannya, hingga akhirnya ia berdiri saat melihat Ayuka sedang berdiri di ujung anak tangga.


"Kau sudah bangun?" Tanya Bian dengan senyum khasnya. Meskipun senyum itu tidak mampu menutupi kekhawatirannya saat ini.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Bian lagi.


"Hem... " Jawab Ayuka singkat dengan senyum kecilnya sambil menuruni anak tangga menghampiri Bian yang nampak gelisah.


"Kau di sini? Sendirian? Kak Arka kemana?"


"Dia sedang ada urusan mendadak, dia.." Jawab Bian yang kembali menghentikan kalimatnya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Ayuka yang bisa menangkap kecemasan di wajah Bian.


"Bian... "


"Arka kerumah Dika, sepertinya ada sesuatu yang terjadi, sebab Arka nampak terburu-buru." Jelas Bian yang membuat ekspresi Ayuka seketika berubah, perasaannya mulai tidak menentu sebab tiba-tiba pikirannya kembali tertuju kepada Radika.


"Apa yang terjadi... Apa dia baik-baik saja?" Tanya Ayuka yang nampak terlihat panik.


"Tenanglah Yuka, semua akan baik-baik saja." Balas Bian mencoba menenangkan Ayuka yang sudah terlihat gelisah.


"Tapi perasaanku mengatakan tidak, aku..... "


"Yuka... "


"Tidak... Aku.. Aku harus melihatnya, aku harus melihatnya.. " Balas Ayuka yang langsung berlari kecil meninggalkan Bian yang masih berdiri di sana tampa mempedulikan teriakan Bian yang sejak tadi memanggilnya. Ayuka terus berlari sambil mengusap air matanya mengintari jalan raya di sore.


"Maafkan aku.. Seharusnya aku tidak pergi meninggalkanmu.. " Gumam Ayuka yang terus berlari hingga netranya melebar saat satu benda berukuran besar sudah tepat berada di sampingnya.


"Dikaaaa..... "


Teriakan keras Ayuka saat sebuah mobil Box dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhnya, benturan yang amat keras hingga membuat tubuh itu terpental jauh beberapa meter dan berakhir dengan kepala beradu dengan trotoar jalan yang sore itu tidak cukup ramai. Tatapannya yang mulai gelap menengadah ke atas, napas yang semakin menipis dan pendek bersamaan dengan darah segar yang kental keluar dari kepala, mulut, dan hidung Ayuka. Mulutnya yang telah dipenuhi darah segar perlahan bergerak seolah sedang menggumamkan sesuatu.


"Kakak.. Maafkan aku, bisakah kakak memelukku.. Aku kedinginan.. Ini terlalu menyakitkan.. Ma.. Maafkan aku."


Guman kecil Ayuka dengan air mata yang menitik dari sudut mata kebiruannya, tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit, nafas pun mulai melemah, semakin pendek, bersamaan dengan tatapan matanya yang semakin gelap, tetesan air hujan yang sore itu tiba-tiba turun menyapa wajahnya yang semakin pucat dengan tubuh yang tidak bergeming lagi.


"Aku mencintaimu.. "


Gumam lirih Ayuka berbisik saat melihat samar sosok yang tengah berlari sambil meneriakkan namanya, sampai akhirnya pandangan itu benar-benar gelap, hening, dan tidak merasakan Apa-apa lagi. Tubuh dingin itu terkulai, mata yang di penuhi air mata tertutup perlahan, hanya ada suara rintik hujan dan angin yang meniup jejeran pohon maple hingga membuat daun Oranye itu berguguran bersamaan dengan suara teriakan dan isakan dari pria yang saat ini memeluk tubuhnya erat.


"Ku.. Kucing kecil... Bangunlah.. Aku mohon.. Bangun lah... "


Panggil Radika dengan air matanya yang terus menetes dari sudut matanya sambil terus menggerakkan tubuh Ayuka yang tidak bergeming sedikitpun.


"AAAARRRRGGGGHHHH..... "


Teriakan keras Radika yang terdengar pilu. Orang-orang yang sedang berada di sekitar jalan itu mulai padat mengerumuni mereka, ada juga beberapa dari mereka menghubungi rumah sakit juga kantor polisi.


Arka terdiam di sudut jalan tidak jauh dari tubuh adiknya yang sudah tidak sadarkan diri. Tubuhnya terasa kaku dengan nafas yang tercekik, tidak ada satu kata yang keluar dari mulutnya, hanya air mata yang terus menetes dari pelupuk matanya saat melihat tubuh adiknya yang sudah di penuhi banyak darah. Begitupun dengan Bian yang tiba-tiba merasakan kaku di sekujur tubuhnya. Hingga suara Ambulance yang datang membuat sekerumunan orang-orang sedikit memberi ruang pada pihak perawat untuk memberikan pertolongan pertama kepada Ayuka.


"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit Tuan," Ucap salah satu perawat kepada Radika yang sejak tadi terus memeluk tubuh istrinya."


"TIDAK... JANGAN MENYENTUHNYA... MENJAUH KALIAN.. PERGIIIIIII.... "


Teriak Radika yang semakin erat memeluk tubuh Ayuka hingga menyulitkan para perawat untuk menyentuh tubuh Ayuka.


"Tapi Tuan, Nona ini dalam keadaan kritis sekarang, jika tidak segera di selamatkan akan berakibat fatal, kita tidak punya banyak waktu."


Balas perawat tersebut yang berusaha menjelaskan kondisi Ayuka kepada Radika yang masih bersikukuh dan semakin memeluk tubuh Ayuka. Dengan langkah yang gemetar Arka berjalan mendekati Radika yang masih merangkul tubuh Ayuka erat.


"Tuan mudah, Yuka harus segera di selamatkan." Ucap Arka dengan suara seraknya, sambil memegangi bahu Radika yang bergetar karena isakkannya.


"Arka... Mereka akan membawanya.. Mereka akan mengambilnya dariku.. Tidak... Jauhkan mereka Arka, jauhkan mereka." Balas Arka yang terlihat semakin ketakutan.


"Tuan muda, mereka tidak mengambilnya dari Anda, mereka hanya akan mememastikan kondisi Yuka." Jawab Arka yang penuh dengan kesabaran, hingga Radika mulai melonggarkan pelukannya, dan dengan cepat salah satu perawat yang berdiri di sana langsung memasangkan alat bantu pernapasan ke hidung Ayuka, Begitu juga dengan Arka yang meraih tubuh adiknya dan langsung menggendongnya memasukkan ke mobil ambulance dan merebahkannya di atas brangkar.


"Segeralah kerumah sakit, aku akan menemaninya." Ucap Bian yang langsung di balas anggukkan oleh Arka. Dan ambulance pun langsung meninggalkan tempat tersebut menuju rumah sakit.


Sedang Radika hanya bisa pasrah saat melihat tubuh istrinya di bawah masuk ke dalam mobil ambulance.


"Dika.. Kita harus kerumah sakit sekarang, mau sampai kapan kau akan terus disini?" Tanya Bian memegang pundak Radika yang masih bersimpuh di jalan itu dengan tangan yang penuhi darah Ayuka.


"Dia pasti tidak ingin melihatku Bian, dia... Membenciku." Balas Radika dengan suara seraknya yang sedikit bergetar.


"Dia tidak mungkin membencimu, sebab dia sangat mencintaimu Dika," Ucap Bian.


"Tapi aku sudah menyakitinya... Aku.. aku yang membuatnya jadi seperti ini.. Aku yang melakukannya.... " Balas Radika terisak, sambil menatap kedua telapak tangannya yang di penuhi darah yang bahkan sudah mulai mengering.


"Tidak Dika.. Ini kecelakaan."


"Tidak.. Ini semua karena aku.. AAARRGGGHHHH... " Teriak Radika sambil menjambak rambutnya dengan sangat keras.


* HOSPITAL.


Di depan ruang Unit gawat darurat nampak Arka yang masih terdiam sambil berdiri menatap pintu kamar operasi yang sejak 4 jam lalu masih tertutup, dan selama itu pula Arka tidak bergeming sedikitpun di depan pintu ruang operasi. Ziyi yang sejak tadi berusaha membujuknya agar duduk mengistirahatkan tubuhnya bahkan tidak di hiraukan oleh Arka.


Ziyi kembali menghampiri Radika yang masih duduk terdiam di sebuah kursi, menundukkan kepalanya dengan air mata yang terus menitik dari sudut matanya. Radika menangis dalam diam, masih terus menatap darah yang sudah mengering di telapak tangannya.


"Dika... Istirahatlah dulu." Bujuk Ziyi yang hanya di balas gelengan oleh Radika.


"Setidaknya bersihkan dulu dirimu." lanjut Ziyi yang lagi-lagi di abaikan oleh Radika.


"Dika.. "


"Tidak.... Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku tau jika dia Baik baik saja." Jawab Dika perlahan.


"Dia akan baik-baik saja, dia sudah di tangani oleh dokter Rafi sekarang." lanjut Ziyi yang terus membunjuk Radika.


"Tidak... Tidak... Aku harus menjaganya."


"Dikaa... "


Ziyi yang sepertinya sudah menyerah hanya bisa menarik nafas dalam, ia bahkan kehabisan kata-kata lagi sekarang, dan pandangan matanya kembali di tujukan kepada Bian yang hanya mengangguk pelan.


Tidak berselang lama nampak langkah kaki terdengar menghampiri mereka. Tatapan tajam yang di penuhi amarah itu lansung tertuju pada Radika yang masih terdiam di tempat duduknya. Bahkan tidak menunggu lama tubuh Radika kembali terpental ke lantai saat satu pukulan keras mendarat telat ke wajahnya.


"Ayah/Tuan.."


Teriak Ziyi dan Arka secara bersamaan saat melihat tuan Kaiden yang tampa berkata-kata lansung melayangkan pukulan keras kepada anaknya.


"KAU LIHAT SEKARANG? INI AKIBAT PERBUATANMU."


Teriak Tuan Kaiden yang seolah lupa ia sekarang sedang berada di rumah sakit, tempat di mana tidak di perbolehkan untuk membuat kegaduhan. Meskipun rumah sakit itu adalah milik keluar Zaferino.


"Ayah... Ziyi mohon, jangan lagi... " Ucap Ziyi memohon sambil memeluk tubuh Ayahnya yang sudah di penuhi amarah. Sedang Arka dan Bian memapah tubuh Radika yang sudah terlihat babak belur.


"Tuan, tenanglah.." Bisik Ken sambil berusaha membujuk tuan Kaiden yang sudah sangat murka.


"Ken.. Urus tiket penerbangan anak ini ke Belanda sekarang juga." Perintah Tuan Kaiden dengan ekspresi datarnya sambil mengalihkan obsidiannya ke arah Radika yang balas menatap ayahnya dengan tatapan nanar, tatapan memohon, sambil sedikit menggeleng.


"Tapi Tuan.. Nyonya muda.. " Balas Ken terbata.


"SEKARANG KEN, APA KAU TULI?" Bentak Tuan Kaiden yang sepertinya sudah tidak mampu lagi mengontrol emosinya.


"Baik.. Baik Tuan." Ucap Ken bergegas meninggalkan ruangan tersebut.


"Ayah.. Apa yang ayah lakukan?" Ziyi meraih lengan Ayahnya dengan mata berkaca, begitupun dengan Radika yang lansung bersimpuh di hadapan ayahnya sambil menunduk dan memandangi ujung sepatu Ayahnya.


"Tidak ayah.. Jangan sekarang, aku harus berada di sampingnya sekarang, aku mohon." Pinta Radika memohon.


"Kenapa baru sekarang kau mengatakan itu?" Balas Tuan Kaiden dengan tatapan daratnya.


"Ayah.. Aku..... "


"Kemasi barangmu sekarang juga, dan jangan harap kau akan menginjakkan kaki lagi di sini jika terjadi sesuatu terhadapnya.


"Ayah... "


Radika terus terisak di bawah kaki Ayahnya. terlihat juga Arka yang kembali mendekati Radika dan meraih tubuh itu agar berdiri.


"Tuan muda.. bangunlah, tenangkan diri Anda.. "


"Tapi aku tidak mau meninggalkannya Arka, tolong bujuk Ayah.. " Pinta Radika memohon.


"Iya Tuan muda, saya akan melakukannya. berdirilah terlebih dulu."


"Tsk, apa kau sudah sadar sekarang? Seharusnya dari dulu kau bersikap baik pada istrimu." Ucap Tuan Kaiden yang langsung beranjak pergi meninggalkan Radika yang masih berdiri di sana. Hingga Arka dengan cepat menghampiri Radika dan menuntunnya ke tempat duduk untuk menenangkan dirinya. Hingga lampu yang berada di atas pintu ruang operasi berganti warna menjadi hijau. Pertanda operasi telah selesai, Hingga 5 menit kemudian, nampak Dokter Rafindra keluar dari ruang operasi.


"Tuan muda," Panggil Dokter Rafindra dengan raut wajah yang terlihat muram.


"Dokter Rafi bagimana keadaannya?"


Tanya Radika yang lekas berdiri mendekati Dokter Rafindra, begitupun dengann Arka dan Ziyi.


"Maaf.. Luka yang di alami Nyonya muda saat ini sangat serius, meskipun operasinya berjalan dengan lancar tapi Nyonya muda belum melewati masa kritis dan masih dalam keadaan koma sampai saat ini." Jelas Dokter Rafindra yang membuat keempatnya terlihat syok.


"Ko.. KoMa??" Tanya Radika yang seolah tidak percaya dengan pendengarannya.


"Iya, Nyonya Muda mengalami cidera berat di kepala. Dan bagian otak yang mengalami kerusakan pada penderita koma adalah bagian yang mengatur kesadaran seseorang. Tapi kita belum memastikan apakah koma yang di alami Nyonya muda sekarang ini sementara atau permanen. Kita masih harus menunggu."


Jelas Dokter Rafindra yang membuat Radika sangat syok tubuhnya merosot kebawah, seakan tidak mampu lagi menopang berat badannya. Radika mencengkram rambutnya dengan sangat keras, air matanya kembali mengalir. Perlahan Ziyi mendekati dan langsung memeluk tubuh adiknya dengan erat.


"Tenanglah.. Dia akan Baik baik saja."


Bisik Ziyi dengan air mata yang juga menitik dari pelupuk matanya.


Sedang Bian langsung menepuk-nepuk punggung Arka yang masih terdiam sejak tadi, seolah telah kehilangan kesadarannya, Arka hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong menatap ruangan yang di dalamnya terbaring tubuh adiknya dengan beberapa alat bantu pernapasan, dengan kepala yang terbungkus perban, dan selang infus di lengannya.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.