I Still Want You

I Still Want You
Kamar yang terpisah.



* MANSION UTAMA.


Pagi ini ada yang berbeda dari sebelumnya, mungkin Ayuka harus terbiasa, saat semua gerakannya selalu di bantu oleh para pelayan Mansion yang di khususkan untuk melayaninya. Seperti pagi ini, Ayuka sedikit terkejut saat membuka mata, ia sudah melihat Radika tengah di duduk di sofa singel yang berada di sudut kamarnya dengan buku yang di bacanya. juga kedua pelayan yang bertugas untuk melayaninya.


"Anda di.. sini Tuan Dika?" Tanya Ayuka yang langsung beringsut turun dari tempat tidurnya.


"Bergegaslah.. yang sudah menunggu untuk sarapan bersama." Jawab Radika datar seraya beranjak dari duduknya dan langsung keluar kamar.


"Lima menit." lanjut Radika lagi yang membuat Ayuka mengernyit bingung.


"Ha?"


"Lima menit cukup kan untuk membersihkan wajahmu itu?"


"Ha?"


"Aku tidak bisa menunggu lama, lekaslah.. " Balas Radika, bahkan sebelum ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar tersebut, bayangan Ayuka sudah menghilang dari hadapannya bersamaan dengan suara percikan air dari shower yang terdengar dari dalam kamar mandi kamarnya.


"Nyonya muda, silahkan.. " Ucap salah seorang pelayan sbil menyerahkan setelan pakaian untuk Ayuka yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kami akan membantu Anda untuk... "


"Tidak, Saya bisa sendiri."


"Baiklah Nyonya,"


"Bisakah.. kalian keluar saja? Maaf." Pinta Ayuka yang merasa canggung dengan suasana dan pelayanan yang ia anggap mungkin terlalu berlebihan untuknya.


"Baik Nyonya." Ucap kedua pelayan sambil membungkuk dan langsung meninggalkan kamar Ayuka. Hingga 10 menit berlalu, langkah Ayuka terhenti di depan pintu kamarnya saat melihat Radika yang ternyata masih menunggunya sbil berdiri di depan pintu kamarnya.


"Bukankah sudah aku bilang lima menit?" Protes Radika.


"Maaf Tuan, Saya sekalian mandi untuk.. "


kalimat Ayuka terhenti saat melihat Radika yang sudah melangkahkan pergi meninggalkan, dengan langkah di percepat ia mengikuti langkah suaminya, berusaha menjejerinya. Begitu juga dengan kedua pelayannya yang mengikuti langkah mereka di belakang. Hingga mereka sampai di sebuah ruang makan.


"Selamat pagi Yuka," Sapa Ziyi lembut dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya.


"Pagi kak Yi." Balas Ayuka sedikit membungkukkan badannya sebelum ia duduk.


Ayuka yang duduk di samping sang suami terlihat nampak sedikit gugup. Sebab pagi ini adalah yang pertama kalinya ia makan bersama Radika dengan status sebagai Nyonya Radika, bahkan ia tidak berhenti tersenyum saat melihat kakaknya Arka yang juga berada di meja yang sama untuk sarapan bersama. Meski mereka masih belum memulai untuk sarapan, sebab masih menunggu sangat Tuan besar pemilik Mansion yang tidak lain adalah Ayah mertuanya sendiri.


"Selamat pagi"


Sapa Tuan Kaiden sambil duduk di kursi untuk sarapan bersama.


"Bagaimana malam kalian, apakah melelahkan?" Tanya Tuan Kaiden seraya menatap Radika dan Ayuka secara bergantian, yang sontak membuat Radika tersedak dengan pertanyaan Ayahnya.


"Aku baru tau, ternyata mulut frontal Tuan Dika berasal dari Tuan Kaiden." Batin Arka sedikit menggeleng.


"Berikan Ayah cucu secepatnya." Ucap Tuan Kaiden lagi seraya menyesap kopinya.


"Bisakah kita mulai sarapan sekarang?" Tanya Radika dengan ekspresi masamnya.


"Kenapa terburu buru, apa semalam kurang?" Balas Tuan Kaiden yang membuat Radika hanya bisa menarik nafas dalam dengan wajah datarnya dan Arka yang hanya menggeleng pelan saat melihat komunikasi antar Ayah dan anak yang menurutnya sangat unik.


"Makan yang banyak Nak, agar tenagamu kembali pulih." Timpal Tuan Kaiden yang sepertinya sudah memiliki hobi baru, yaitu menggoda anak dan menantunya.


"Berhenti menggoda mereka Ayah."


Protes Ziyi seraya menatap Ayuka yang hanya terdiam dengan wajah murungnya Sambil meletakkan sepotong Sandwich di atas piring suaminya. Merekapun mulai dengan sarapannya, sibuk mengunyah makanannya masing-masing.


"Aku akan kembali Panthouse hari ini." Ucap Radika membuka pembicaraan.


"Itu ide yang bagus, kalian berdua memang butuh privasi. Agar lebih cepat memiliki keturunan." Jawab Tuan Kaiden dengan cepat seraya menyesap kopinya.


"Kenapa mesti terburu buru, tinggalah untuk beberapa hari lagi." Sambung Ziyi dengan wajah memohon kepada adiknya.


"Mungkin tidak Kak, Aku butuh kenyamanan." Jawab Radika.


"Apa maksudmu, apa kau merasa tidak nyaman di sini?" Tanya Tuan Kaiden yang sepertinya tidak sadar, sejak tadi pertanyaannya sudah membuat anaknya merasa tidak nyaman.


"Bukan seperti itu Ayah." Balas Radika.


"Apa kau tidak berencana untuk berbulan madu?" Tanya Tuan Kaiden lagi mengernyit.


"Tidak, nanti saja. Pekerjaanku menumpuk saat ini." Balas Radika.


"Arka bisa meng-handle semuanya." Timpal Tuan Kaiden.


"Ayah.. Masih ada lain waktu."


"Baiklah, tapi ingat. Berikan Ayah seorang cucu secepatnya."


"Ayah pikir gampang untuk membuatnya?" Tanya Radika mendengus sedikit kesal.


"Apa susahnya, kau tinggal melakukannya." Jawab Tuan Kaiden santai.


"Ayah/Ayah." Serga Ziyi dan Radika secara bersamaan.


"Ada apa? Seharusnya Ayah meminta cucu darimu, dan kapan kau akan menikah?" Tanya Tuan Kaiden yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Ziyi.


"Lah kenapa jadi merembet ke Ziyi? Ayah pikir menikah itu mudah?" Protes Ziyi.


"Ayah bisa membuatnya jadi mudah, di luar sana banyak rekan bisnis Ayah yang mempunyai anak seumuran denganmu, dan mereka juga menyukaimu, kau tinggal memilih salah satu dari mereka."


"Kenapa Ziyi harus memilih, mereka bukan baju yang harus dipilih, Sudahlah Ayah, jangan bahas masalah pernikahan lagi." Jawab Ziyi terlihat kesal, dan sekarang giliran Arka yang hanya terdiam, pikirannya mulai kalut. Apa yang di katakan Tuan Kaiden memang benar, memang sudah waktunya Ziyi untuk menikah.


Hingga sekarang pun Arka selalu merasa sangat egois karena menahan Ziyi dalam genggamannya, bahkan ia  sendiri sangat menyadari jika hubungannya dengan Ziyi adalah hal yang tidak mungkin, sebab Radika sudah menjadi adik iparnya.


Untuk selang beberapa menit Arka hanya bisa terdiam seraya menarik nafas dalam. Sepertinya sudah waktunya Arka benar-benar harus melepaskan wanita yang sudah di cintainya sejak lama.


"Baiklah.. Lanjutkan sarapan kalian," Ucap Radika, "kita pulang sekarang." Sabung Radika seraya melirik Istrinya yang masih mengunyah sandwichnya, dan seolah tidak perduli dengan istrinya yang masih menikmati sarapannya, Radika langsung beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja, begitupun dengan Arka yang ikut berdiri membungkuk kepada Tuan Kaiden juga mengangguk pelan dengan senyum kepada Ayuka dan langsung beranjak mengikuti langkah Radika. Sedang Ayuka masih terdiam menatap punggung suaminya yang sudah berlalu.


"Dasar anak itu, setidaknya selesaikan dulu sarapannya." Sambung Tuan Kaiden saat melihat Ayuka yang dengan terburu buru menelan makanannya dan langsung beranjak dari duduknya.


"Ayah, kak Ziyi, maaf. Sepertinya Yuka juga harus pergi."


"Iyaa sayang, hati hatilah, jangan lupa hubungi kakak yah." Balas Ziyi tersenyum, begitupun Tuan Kaiden yang ikut mengangguk.


"Iya kak, pasti." Jawab Ayuka tersenyum dan langsung melangkah menyusul suaminya yang masih menunggunya di luar. Sedang Ziyi menatap adik iparnya dengan perasaan cemas. 


"Apa dia akan Baik baik saja? Kenapa Ziyi jadi mengkhawatirkan mereka."


"Apa yg kau khawatirkan?" Tanya Tuan Kaiden mengalihkan pandangannya ke arah Ziyi.


"Entahlah Ayah, Ziyi juga sebenarnya memikirkan Dika, apa dia sudah menerima istrinya atau belum." Ucap Ziyi dengan nada yang penuh kekhawatiran.


"Tapi Ayah.. "


"Dika tidak mungkin menyakiti istrinya."


"Semoga saja." Jawab Ziyi yang masih merasa khawatir, sebab biar bagaimana, sebagai seorang kakak yang sudah sangat bersama Radika, ia bisa merasakan sikap dingin Radika terhadap istrinya, dan begitupun wajah sedih Ayuka yang menunjukkan bahwa dia tidak sedang baik-baik saja, meskipun gadis itu selalu tersenyum namun sebagai seorang wanita, Ziyi cukup paham dan merasakan perasaan kalut adik iparnya itu.


* * * * * * *


* PANTHOUSE RADIKA.


Mobil mewah Radika terparkir tepat di halaman gedung mewah kediamannya.


"Arka, kau ikut kami kedalam." Pinta Radika.


"Baik Tuan Muda." Balas Arka mengangguk pelan sambil melepaskan seatbelt dari tubuhnya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, aku sudah menjadi adik iparmu sekarang." protes Radika.


"Tidak masalah Tuan, saya sudah terbiasa, biar bagaimanapun Anda tetap atasan saya."


"Hei, aku yang merasa aneh sekarang, panggil saja namaku, lagi pula kita sedang berada di luar kantor." Balas Radika bersikukuh.


"Iya Tuan muda Dika."


"Silahkan turun."


Ucap Radika kepada istrinya yang masih duduk di sampingnya. Dan tampa menunggu lama Radika langsung turun dari mobil tampa menunggu Arka untuk membukakan pintu seperti kebiasaan Arka sebagai Asistennya. Meskipun sikap Radika tersebut membuat Arka sedikit terkejut. Mereka pun melangkah masuk kedalam Rumah. Arka menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk.


"Apa kakak tidak ikut masuk?" Tanya Ayuka saat melihat Arka terdiam di sana.


"Tidak perlu, kau masuklah, Tuan muda sudah menunggumu di dalam."


"Iya kak."


"Jaga dirimu, jadilah istri yang baik buat suamimu." Ucap Arka seraya membelai pucuk kepala adiknya.


"Apa Yuka akan tinggal di sini?"


"Tentu saja, ini rumah suami kamu, berarti ini rumah kamu juga."


"Tapi bagaimana dengan kakak?"


"Kakak akan baik baik saja, lagi pula kakak sudah terbiasa sendiri, kakak juga jarang di rumah, kau tau sendiri waktu kakak selalu di habiskan untuk kerja."


"Tetap saja Ayuka khawatir."


"Yuka, pikirkan dirimu sendiri, buatlah dirimu nyaman, kau sudah memiliki seorang suami yang harus kau khawatirkan, dan perhatikan." Ucap Arka.


"Iya kak, Yuka mengerti." Jawab Ayuka mengangguk pelan.


"Kakak akan sering mengunjungi mu."


Balas Arka seraya meraih tubuh adiknya untuk di peluknya.


"Baiklah, kakak harus kembali ke perusahaan, masuklah."


"Iya kak." Jawab Ayuka mengangguk menatap punggung lebar kakaknya yang semakin jauh dan akhirnya menghilang dari pandangannya. Ayuka melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah itu, sambil terus mengedarkan pandangannya mencari sosok Radika yang sejak tadi tidak di lihatnya.


"Istirahatlah."


Ucap Radika yang dengan tiba tiba muncul dari ruangan kerjanya sambil melangkah menuju ke pantry untuk mengambil air mineral.


"Iyaa.. " Jawab Ayuka yang masih terdiam di posisinya.


"Tapi di mana aku harus istirahat, aku bahkan tidak tau di mana kamarnya."


Batin Ayuka sambil menunggu suaminya keluar dari pantry.


"Ada apa? Kenapa masih di situ?"


Tanya Radika saat keluar dari pantry dan masih menemukan istrinya yang masih berdiri di sana.


"Kamarnya.. " Jawab Ayuka sedikit ragu.


"Ah iya.. Ikut aku." Balas Radika yang masih membawa segelas air mineral di tangannya sambil berjalan menaiki anak tangga, lalu di susul oleh Ayuka yang langsung mengikuti langkah lebar suaminya.


"Ini kamarmu." Ucap Radika yang langsung berhenti di depan pintu sebuah kamar yang terletak di lantai dua. Dan langsung membuka pintu ruangan tersebut dan mempersilahkan Ayuka untuk masuk.


"Ka.. Kamarku?" Tanya Ayuka sedikit terkejut saat melihat ruangan tersebut, sebuah ruangan yang sangat luas, di lengkapi semua fasilitas mewah, suatu kamar yang bernuansa Biru muda. sepertinya seseorang yang menyiapkan kamar ini sudah sangat mengetahui warna favoritnya.


"Iyaa.. Kamarmu, ada apa? Apa kau tidak menyukai dekorasinya?" Tanya Radika mengernyit saat melihat ekspresi Ayuka saat ini.


"Tidak, bukan begitu, aku... "


"Ya sudah, istrahatlah."


"................. "


"Apalagi sekarang?"


"Tidak apa apa."


"Baiklah.. Kalau kau lapar kau tau kan pantry di mana? Aku masih banyak pekerjaan." Balas Radika yang langsung berlalu dari hadapan Ayuka yang masih terdiam.


"Kenapa dia selalu bersikap dingin seperti ini." Guman Ayuka termenung di pinggir tempat tidurnya, ia mengedarkan pandangannya di tiap sudut ruangan, semua telah di siapkan, mulai dari baju, alat make-up, bahkan sepatu, tas dan aksesoris sudah tertata rapi di dalam ruangan khusus dalam kamarnya.


"Apa Anda pikir aku membutuhkan semua kemewahan ini? Aku hanya membutuhkan anda, aku hanya ingin anda tersenyum untukku, memanggil namaku, dan selalu menemaniku." Gumam Ayuka yang kembali tertunduk manatap lantai kamarnya.


Ayuka menyandarkan tubuhnya di atas sofa untuk melepas lelahnya, tempat yang cukup membuat dirinya nyaman hingga ia terlelap.


Sedang di sebuah ruangan yang terletak di lantai dasar, nampak Radika yang tengah menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi kerjanya sambil memejamkan matanya. sedang sebuah laptop yang berada di atas meja kerjanya masih menyalah. Sore ini Radika cukup kelelahan setelah sejak pagi ia berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk, beberapa berkas dan dokumen sudah sangat menumpuk untuk di tanda tanganinya.


perlahan Radika beranjak dari duduknya dan langsung keluar dari ruang kerjanya, menuju ke sebuah kamar utama yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruangan kerjanya. Untuk sesaat pandangan Radika tertuju pada satu ruangan yang terletak di lantai dua, sebuah kamar yang tadinya kosong kini sudah berpenghuni, kamar dengan pintu yang masih tertutup rapat. Di rebahkan tubuhnya di sana sambil menatap langit-langit kamarnya.


meski saat ini ia merasa kehidupannya berubah, sebab dia yang selama ini selalu sendiri harus mulai terbiasa dengan kehadiran satu sosok yang kini akan selalu menemaninya. Meskipun saat ini Radika sudah mulai membangun sebuah tembok kokoh untuk melindungi dirinya sendiri. Bahkan ia tidak memberikan cela sedikitpun kepada Ayuka untuk mendekatinya.


"Ibu," Gumam Radika perlahan sambil mengalihkan pandangannya di sebuah pigura berukuran besar yang terpampang di tembok kamarnya.


"Jangan mendekatinya jika kau tidak menginginkannya sebab kau hanya akan menyakitinya." Ucapan Ibunya yang kembali terngian di pikiran Radika saat ini. Lama Radika terdiam dengan lamunannya di sana, hingga akhirnya rasa lapar membuatnya beringsut turun dari tempat tidurnya dan langsung keluar dari kamarnya, melangkah keluar menuju parkiran mobil, hingga tidak berselang lama mobil sport Radika terdengar meninggalkan garasinya dan melaju meninggalkan Panthousenya.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.