I Still Want You

I Still Want You
Masa lalu Radika.



* HOSPITAL.


Masih di lantai 5 ruang Operasi, suasana kini terlihat berbeda, jauh lebih hening di banding setengah jam lalu yang terlihat gadu.


"Bagaimana keadaannya?"


Tanya Tuan Kaiden menatap Ziyi, Arka, Bian dan putranya Radika secara bergantian.


"Yuka mengalami koma." Jawab Ziyi perlahan yang sontak membuat Tuan Kaiden terkejut dan kembali menarik nafas dalam sambil memijat pangkal hidungnya. Hingga beberapa menit berlalu Tuan Kaiden kembali menatap putranya Radika yang sejak tadi hanya duduk sambil tertunduk tampa memberi respon sedikitpun. Membuat Tuan Kaiden hanya bisa menarik nafas panjang.


"Ayah sudah menugaskan beberapa perawat khusus untuk memantau kondisi Yuka selama 24 jam, jadi kalian perlu istirahat agar tetap sehat." Ucap Tuan Kaiden perlahan sambil menatap mereka secara bergantian.


"Aku akan tetap disini." Sahut Radika dengan suara seraknya.


"Teruskan sikap keras kepalamu itu." Timpal Tuan Kaiden dengan tatapan tajamnya yang langsung membuat Radika kembali terdiam.


"Ayah.. " Sahut Ziyi seraya memegangi tangan Tuan Kaiden.


"Dan kau Ziyi, seharusnya kau bisa membujuknya untuk beristirahat, Ayah tidak ingin ada yang sakit lagi di sini." Balas Tuan Kaiden lagi.


"Baiklah Ayah.. "


"Ayah sudah menyuruh Dokter Rafi untuk memindahkan Yuka di ruangan vvip, di sana akan ada perawat 24 jam yang akan memantaunya, sebaiknya kalian pulang dan beristirahat."


"Baik ayah." Jawab Ziyi mengangguk. Sebelum beranjak pergi Tuan Kaiden menatap ruangan yang di sana masih terbaring lemah tubuh menantunya.


"Adena sayang, bisakah kau melindungi menantu kita, jagalah dia, jangan biarkan Dika kita kehilangan orang yang ia sayangi, dia sudah sangat cukup menderita saat kehilangan dirimu."


Batin Tuan Kaiden dengan tatapan matanya yang mulai berkabut. Hingga 10 menit berlalu, Ia pun melangkah meninggalkan ruangan tersebut yang langsung di susul oleh Ken. Dan 15 menit kemudian nampak beberapa perawat khusus memasuki ruangan Ayuka untuk di pindahkan ke ruangan vvip khusus. Ruangan yang di jaga dengan ketat oleh beberapa pengawal keluarga Zaferino dari berbagai macam media yang ingin meliput kabar tentang sebuah kecelakaan tabrak lari yang terjadi beberapa saat lalu, dan yang menjadi topik perbincangan saat ini sebab yang menjadi korban tersebut adalah istri seorang pengusaha ternama Zaferino Radika.


Hingga sampai 24 jam berlalu, masih banyak media yang enggan meninggalkan rumah sakit, sebab mereka belum mendapatkan berita apapun tentang perkembangan kondisi istri sang presdir, ucapan demi ucapan yang menunjukan rasa sedih dan prihatin juga doa untuk kesembuhan istri sang presiden direktur KZR Grup pun banyak yang bermunculan baik dari sosial media, ataupun lewat kiriman bunga. Meski tidak ada satupun yang sampai di tangan keluarga Zaferino. Sebab Tuan Kaiden tidak menginginkan adanya liputan atau kabar apapun yang di buat dari media untuk meliput menantunya.


Dua hari berlalu sejak Ayuka di nyatakan koma, meskipun telah di lakukan pengobatan dan perawatan khusus namun tidak ada perubahan sedikitpun. Radika meraih tangan istrinya lalu di genggamnya dengan sangat erat. Ia baru menyadari betapa hangat genggaman tangan istrinya. Air matanya kembali menitik saat mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut.


"Apakah kau akan tidur terus? Bangunlah kucing kecilku, apa kau tidak lelah terus berbaring seperti itu?" Ucap Radika terus menatap wajah istrinya ygg tidak bergeming sedikit pun.


"Aku sangat kesepian, apa kau tidak merasa kasian padaku? Atau kau tidak ingin lagi melihatku? Aku mohon bangunlah.. Aku merindukanmu Ayuka."


Air mata Ayuka tiba-tiba saja menitik, ia merespon kalimat yang keluar dari mulut Radika saat untuk pertama kalinya Radika menyebutkan namanya. Meski tubuhnya tidak bisa merespon, namun Ayuka masih bisa mendengar suara di sekitarnya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Radika mengusap air mata yang menitik dari sudut mata istrinya, Dan kembali merebahkan kepalanya di pinggiran ranjang tempat istrinya terbaring sekarang, dan terus menggenggam tangan istrinya sambil menatap wajah yang terlihat pucat itu.


* * * * *


* MANSION UTAMA.


"Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan siapa pelaku tabrak lari itu?"


Tanya Tuan Kaiden kepada Ken yang langsung mengangguk pasti sambil mengambil selembar foto dari dalam amplop coklat dan meletakkan di atas meja kerja Tuan Kaiden.


"Ternyata selama ini, Nyonya Yuka sudah menjadi incarannya, Dia sengaja menyewa orang-orang ini untuk membantunya melakukan balas dendam. Bahkan dia orang yang sama yang pernah membuat Tuan Muda kecelakaan mobil waktu itu."


"Tapi kenapa mesti Ayuka? bukankah dia menaruh dendam padaku?" Tanya Tuan Kaiden sambil menatap selembar foto yang kini sudah berada di tangannya.


"Orang ini sepertinya masih menaruh dendam kepada Arka, yang pernah membuatnya terbaring koma selama 4 minggu sejak insiden kecelakaan Tuan muda saat itu, dan yang lebih menguntungkan buat mereka sebab bisa membalaskan dendam mereka sekaligus. mengingat sekarang adik Arka sudah menjadi istri Tuan Muda."


"Sialan, seharusnya aku membunuhnya saja saat itu." Geram Tuan Kaiden yang langsung meremas foto tersebut.


"Saya sudah menyerahkan semua bukti kepada pihak berwajib, dan mereka yang akan menanganinya." Lanjut Ken lagi.


"Bagus, bereskan sekarang juga." Balas Tua Kaiden dengan tatapan yang di penuhi dengan kebencian dan langsung melemparkan foto tersebut.


"Kau pikir bisa lepas dariku begitu saja? bahkan akun yang akan membunuhmu langsung jika terjadi sesuatu dengan menantuku, sudah cukup kau meninggalkan mereka begitu saja, bahkan mereka sampai meninggalkan dengan sia-sia." Batin Tuan Kaiden yang langsung beranjak dari kursi kerjanya dan langsung melangkah keluar, yang langsung di susul oleh Ken.


* * * * *


* HOSPITAL.


1 minggu berlalu, memasuki awal bulan Juni. Musim semi telah berganti. Dan Ayuka masih betah dalam tidur panjangnya. Tidak ada yang berubah dari kondisinya, dan hal itu sangat membuat Radika prustasi, setiap malam ia terus mengkonsumsi obat penenang agar bisa menghilangkan kesedihan dan terhindar dari mimpi buruk yang akhir akhir ini selalu mengganggunya. Bahkan sejak Ayuka terbaring koma, Radika seakan kehilangan arah, ia terus berdiam diri, bahkan tidak pernah lagi mengurus perusahaan, dan Arka lah yang selama ini meng handle pekerjaannya. saat siang hari ia hanya menghabiskan waktunya di samping Ayuka, dan malam hari ia kembali kerumah. Sebab saat malam giliran Arka yang akan menjaga Ayuka. Itulah peraturan dari Tuan Kaiden yang berharap Radika bisa beristirahat agar tidak kelelahan. Tanpa mereka sadari jika di setiap malamnya saat sedang berada di Panthouse Radika tidak pernah tidur sedikitpun.


Begitupun malam ini, ia hanya seorang diri menelungkupkan dirinya di kamar Ayuka, yang di sana ia masih bisa mencium Aroma wanita itu. Radika terus menangis dalam diam, betapa ia sangat merindukan wanita itu. Rasa penyesalan benar-benar telah menyiksanya saat ini, seolah Ayuka telah membawa jiwanya pergi. Kenangan buruk masa lalu kembali memenuhi pikirannya, seolah memaksanya untuk kembali mengingat semuanya, mengingat kejadian yang sangat menyakitkan dan ingin ia lupakan.


* FLASHBACK.


"Ibuuu.... Ibu...... Huuuaaaaa..... "


Tangis Dika kecil saat membuka pintu ruangan, di mana di dalam sana ia dengan jelas melihat tubuh ibunya yang terbaring di tengah ruangan dengan darah yang sudah memenuhi lantai di sekitar tubuhnya. Darah yang keluar dari lengan ibunya yang nyaris putus di sebabkan oleh sayatan pisau yang masih tergeletak di samping sang ibu.


Teriakan Radika memeluk tubuh ibunya yang sudah kaku, dengan wajah pucat dan air mata yang sudah mengering. Dika terus meneriakkan ibunya, memeluk tubuh ibunya erat, seolah masih menunggu ibunya untuk terbangun dan memanggil namanya lagi.


"Ibuuuu.. bangun.. Huuaaa.. Ibuuu.. Dika takut... " Tangis Dika semakin nyaring dengan nafas yang semakin sesak. tubuh Dika bergetar seketika saat ia menatap di sekelilingnya yang di penuhi darah, wajah itu berubah menjadi sangat pucat.


"Dikaaa... Ibuuuuu.... "


Ziyi menjerit saat mendapati tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa dan Radika yang tengah menangis sambil terus memeluk tubuh ibunya. Menyusul Tuan Kaiden yang hanya berdiri di depan pintu dengan nafas tercekik. Tubuhnya bergetar menahan tangis saat melihat tubuh istrinya yang sudah tidak bernyawa lagi. Tuan Kaiden menyeret langkahnya menghampiri mayat istrinya, air matanya mengalir dengan sangat deras, ia membelai wajah istrinya seraya mengecup kening istrinya yang sudah terasa dingin.


"Ini semua karena Ayaaaahhh.. Hhhuuaaaaaa... Aayyaaahhh... Panggil ibu biar bangun lagiii hhuaaaaa...." Tangis Radika semakin kencang, begitupun dengan Ziyi yang masih duduk bersimpuh di hadapan mayat ibunya.


Dengan cepat Tuan Kaiden meraih tubuh Radika untuk di gendongnya, saat ia menyadari wajah putranya sudah terlihat sangat pucat dengan tubuh yang gemetar. Tuan Kaiden membuka mantel yang digunakan pakainya dan langsung memakaikannya ke tubuh Radika.


"Ziyi, bawah adikmu dari sini sekarang juga." Ucap Tuan Kaiden dengan suara seraknya kepada Ziyi yang masih terisak di samping mayat ibunya, Ziyi yang masih syok hanya bisa mengangguk dengan tatapan berkabut dan langsung meraih tubuh Dika dari gendongan Ayahnya untuk menjauhkan Radika yang sudah berlumuran darah dari tubuh kaku ibunya.


"Tidaaaaaaakkkkkkkk.. Lepaskan Dikaa huuaaaaaa.... Dika mau sama ibu.... kakak..turunkan Dikaaa...huaaaaaa... " Raung Dika yang terus menangis sambil meronta dalam gendongan Ziyi yang membawanya menjauh dari ruangan tersebut.


"Jangan sampai para pihak wartawan dan media lainnya mengetahuinya." Ucap Tuan Kaiden kepada Ken yang hanya mengangguk, dan langsung meraih ponsel yang ada di sakunya untuk menelfon seseorang.


Sedang Tuan Kaiden dengan air mata yang masih menetes dari pelupuk matanya dengan perlahan meraih tubuh kaku istrinya untuk di gendongnya.


"Kenapa kau pergi Dena, kenapa kau meninggalkan mereka yang masih sangat membutuhkanmu, kenapa kau menghukumku dengan cara seperti ini, kenapa Dena.. "


Gumam lirih Tuan Kaiden saat dengan sekuat tenaga ia menyeret langkahnya untuk meninggalkan ruangan tersebut, air matanya mengalir hingga membanjiri wajah Adena yang masih berada di pelukannya.


Hingga sampai acara prosesi pemakaman berlangsung, semua di lakukan dengan sangat tertutup, tidak ada satu media pun di sana. Tuan Kaiden benar-benar menutupi semuanya, dan sehari setelah semuanya selesai, Tuan Kaiden yang masih di selimuti duka, langsung mengumumkan tentang meninggalnya Nyonya besar Adena Zaferino yang digunakan sebabkan oleh penyakit jantung yang di deritanya. Dan sejak berita tentang kematian Nyonya Adena terdengar, pihak Media dengan cepat membuat kabar tersebut hingga sampai satu minggu, hanya ada berita tentang kematian Nyonya Adena yang secara tiba-tiba menjadi perbincangan hangat.


Tampa mereka sadari jika berita tersebut semakin membuat Radika semakin terguncang, sebab tiap saat ia harus melihat wajah ibunya di setiap surat kabar bahkan di televisi. dan sejak saat itu, sikap Radika menjadi berubah sangat drastis, ia menjadi pemurung, tidak perna berbicara kepada siapapun, bahkan ia terus duduk sambil menangis memanggil nama ibunya di ruangan tersebut. ruangan di mana ibunya merenggang nyawa.


"Dimana Adikmu?" Tanya Tuan Kaiden kepada Ziyi yang sedang berdiri di depan pintu ruangan di mana Dika sedang menangis sekarang. Bahkan tampa menjawabpun Tuan Kaiden sudah tau, sebab ia bisa mendengar dengan jelas suara tangusan Radika di dalam sana.


"Ini sudah satu bulan berlalu sejak kematian Ibu, dan Dika masih belum menerimanya, Ziyi takut Ayah," Ucap Ziyi dengan mata yang terlihat mulai berkaca.


"Sepertinya kalian harus ke Belanda," Jawab Tuan Kaiden yang membuat Ziyi terkejut."


"Tapi Ayah.. "


"Dika akan selalu menangis seperti ini jika ia terus di sini, Ayah khawatir, hal ini bisa mengganggu kesehatan dan mental Dika."


"Tapi Ayah, Ziyi tidak yakin jika Dika akan menyetujuinya, bahkan Dika tidak mau keluar dari kamar tersebut."


"Zizi, Ayah sudah mengatur semuanya, kau akan menemani adikmu di sana. ini semua demi kebaikan Dika, kau mengertikan maksud Ayah?" Tanya Tuan Kaiden yang membuat Ziyi hanya mengangguk setuju, meskipun ia sendiri tidak yakin dengan ide Ayahnya yang akan mengirim mereka ke Belanda dengan alasan demi kebaikan Radika.


Perlahan Tuan Kaiden membuka pintu ruangan tersebut, untuk yang kesekian kalinya ia merasakan sesak dengan nafas yang tercekik, tubuhnya bergetar dengan air mata yang kembali menitik. saat kembali mengunjak ruangan tersebut, ia masih bisa mencium aroma almarhuma Adena di sana, bahkan ia masih merasakan kehadiran Adena di sana, hingga pandangannya kembali tertuju kepada sosok bertubuh kecil yang sudah terlelap di tengah ruangan tersebut dengan badan yang menelungkup, nafas yang masih sesegukan juga mata yang terlihat sembab, bahkan masih terlihat bair mata yang tersisa dari sudut matanya.


"Anakku sayang, semua akan baik-baik saja, maafkan Ayah." Bisik Tuan Kaiden sambil meraih tubuh Radika perlahan untuk di gendongnya dan membawanya kembali kekamar, dan menyelimuti tubuh kecil Dika agar tetap hangat.


Malam semakin beranjak larut, namun Tuan Kaiden masih terdiam di beranda Mansion sambil mengamati beberapa jejeran bintang di atas langit gelap tersebut. Sesekali ia terlihat menarik nafas panjang seolah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini sangatlah berat.


"Tuan Besar.. "


Suara lembut dari wanita paru baya terdengar jelas di pendengaran Tuan Kaiden, hingga membuyarkan lamunannya.


"Bibi Zhu,"


"Apa anda memanggil saya?"


"Iya, saya hanya ingin memastikan, apa semua persiapan sudah siap?" Tanya Tuan Kaiden kepada wanita paru baya tersebut yang merupakan pelayanan pribadi Almarhuma Nyonya Adena.


"Maaf Tuan Besar, apa anda yakin dengan keputusan anda?" Tanya Bibi Zhu lagi, yang sepertinya kurang setuju dengan keputusan Tuan Kaiden.


"Yah, saya sudah mengambil keputusan. dan kau tinggal mempersiapkan semua keperluan anak-anak." Balas Tuan Kaiden tampa keraguan.


"Saya sudah menyiapkan semuanya disana, sekolah Ziyi dan Dika, dan kau tinggal mengurus mereka saja dengan baik. Terutama Dika. tolong pantau terus, saya juga sudah menugaskan Dokter Williams untuk menjadi Dokter pribadi Dika selama di sana." Lanjut Tuan Kaiden lagi tegas, sedang Bibi Zhu hanya bisa mengangguk.


"Baik Tuan besar, saya akan selalu menjaga mereka sepeetinsaya menjaga nyawa saya sendiri." Balas Bibi Zhu.


"Saya percaya padamu, seperti Adena yang sangat percaya padamu." Ucap Tuan Kaiden dengan nada suara yang terdengar bergetar, mata coklat itu nampak berkaca, saat menyebutkan nama istrinya.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.