
Ayuka berlari kecil menuruni anak tangga dengan senyum yang terkembang di bibirnya, menenggelamkan tubuhnya kedalam pelukan Arka yang hari ini sengaja datang untuk mengunjunginya di Panthouse.
"Aku sangat merindukan kakak," Gumam kecil Ayuka sambil memeluk tubuh kakaknya dengan sangat erat, seolah enggan untuk melepaskannya.
"Kakak juga sangat merindukanmu, bagaimana kabarmu?" Balas Arka sembari mengusap punggung Ayuka.
"Aku baik-baik saja kak,"
"Sayang.. Setidaknya berikan kesempatan kakakmu untuk duduk dulu.
Ucap Ziyi yang baru saja keluar dari kamar dan langsung menghampiri mereka. Sedang Ayuka hanya bisa terkekeh saat mendengar ucapan Ziyi dan langsung melepaskan pelukannya untuk membiarkan Arka bernafas lega dan duduk di atas sofa.
Hari ini untuk yang pertama kalinya Arka mengunjungi adiknya Ayuka sejak terkahir kali Ayuka menikah satu bulan yang lalu, dan mengantarkan Ayuka di Panthouse ini. Dan di hari minggu ini adalah kesempatan buat Arka untuk melepaskan rasa rindunya kepada sang Adik yang sudah satu bulan lebih tidak di lihatnya, sebab tidak ada jadwal yang mengharuskan mereka untuk tetap bekerja.
Meski ia sedikit terkejut dengan perubahan fisik Ayuka yang terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya, wajahnya yang terlihat pucat, dengan kantung mata yang sedikit berwarna hitam, terlihat seperti kurang tidur. Semua nampak berubah. Meski ia masih bisa bernafas lega dengan sikap manja, dan senyum manis juga ceria Ayuka yang tidak berubah sedikitpun. Setidaknya senyum itulah yang selalu ingin di lihatnya pada Ayuka.
"Bian apa kabar Kak?" Tanya Ayuka antusias sambil Bergelayut manja di tangan kakaknya.
"Kakak juga sudah lama tidak melihatnya, kan kau tau sendiri kakak selalu punya banyak pekerjaan."
"Aku sangat merindukannya,"
Balas Ayuka yang tampa menyadari ada sosok yang sedang berdiri memperhatikan di belakang mereka sambil menyedekapkan tangannya di atas dada.
"Kau datang?" Tanya Radika yang langsung duduk di sofa single sambil menyilangkan kakinya.
"Selamat siang Tuan Muda," Sapa Arka sedikit mebungkuk.
"Arka, Kita sedang berada di rumah sekarang, jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu." Protes Radika.
"Baik," Jawab Arka singkat sambil mengangguk pelan.
"Jika kau merasa bosan di rumah, kau. Bisa kembali bekerja sayang,"
Lanjut Ziyi yang sontak membuat Radika bereaksi, meski tidak ada yang merasakannya namun kata-kata Ziyi barusan cukup membuatnya tidak nyaman, sebab sudah beberapa hari ini ia bisa melihat perubahan dari istrinya yang sudah sangat jarang berbicara dengannya lagi, meskipun hanya sekedar menanyakan apa dia sudah makan atau belum seperti kebiasaannya dulu, sudah tidak ada lagi wajah ngantuk istrinya yang selalu ia lihat tiap malam saat menunggunya di sofa ruang tengah, juga sudah tidak ada lagi yang selalu melamun di depan pintu ruang kerjanya. Yang jelas, semua perubahan dari Ayuka membuat Radika sudah tidak pernah lagi melihat semua kebiasaan Ayuka yang kadang sering membuatnya kesal.
"Kau tidak keberatan kan Dika?"
Tanya Ziyi kepada Radika yang masih terdiam dalam lamunannya, hingga akhirnya ia kembali tersadar saat mendengar namanya di panggil oleh Ziyi dengan lumayan keras.
"Apa?" Tanya Radika tersentak.
"Kau tidak keberatan kan kalau istri kamu mulai kerja lagi?" Jawab Ziyi yang kembali menanyakan hal yang sama.
"Terserah." Balas Radika singkat.
"Jawaban macam itu?" Timpal Ziyi sedikit kesal.
"Ya.. Kalau dia merasa nyaman kenapa tidak." Lanjut Radika yang masih mempertahankan ekspresi datarnya.
"Berarti kamu setuju kan?" Tanya Ziyi lagi untuk meyakinkan.
"Hmm,"
Jawab Radika singkat dengan pandangan yang langsung di arahkan kearah Ayuka yang langsung tersenyum, nampak sangat jelas jika jawaban dari suaminya sangat membuatnya bahagia, sebenarnya sudah dari kemarin ia sangat ingin kembali di cafe itu untuk bekerja namun suasana hatinya yang selalu membuatnya membatalkan niatnya.
Lagi pula untuk hal yang satu itu dia juga tidak perlu persetujuan Radika, sebab dia sudah tahu jawaban apa yang akan Radika berikan padanya, jika di lihat dari rasa ketidak pedulian Radika terhadap dirinya, sudah pasti kata "terserah" Yang akan di dengarnya sperti saat ini yang sangat ingin ia berikan nilai 100 pada dirinya sendiri karena sudah berhasil menebak kata yang benar dari suaminya.
"Terimakasih kak Zi" Balas Ayuka tersenyum bahagia.
"Dasar anak ini, bukankah aku yang memberikan izin untuk dia kembali bekerja, kenapa malah mengucapkan terimakasih kepada kakak?" Batin Radika seraya menatap Ayuka yang bahkan tidak mempedulikannya sedikitpun.
Berada di ruang tengah selama 30 menit cukup membuat Radika merasa jengah, bagaimana tidak, ia merasa dirinya seperti boneka manekin yang duduk manis di sana. Sebab sejak tadi Ayuka hanya mengobrol kepada Arka dan Ziyi. Seolah tidak mempedulikan keberadaanya Bahkan saat ini Radika mulai kesal dengan suara tawa mereka.
"Apa kalian tidak lapar?" Tanya Radika, kata yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya tanpa dipikirkannya tampa ia pikirkan terlebih dahulu.
"Biar aku yang memasakkan sesuatu untuk kalian." Jawab Ayuka yang langsung menguncir rambutnya ke atas dan beranjak dari duduknya menuju kepantry dan mulai memasak, tidak lupa dengan apron biru muda yang selalu di pakainya.
"Padahal aku benar-benar tidak merasa lapar, hanya ingin melihatnya diam dan duduk tenang di sana, kenapa malah pergi kepantry," Batin Radika sambil terus memandang punggung istrinya dengan apronnya yang masih kelihatan dari tempat duduknya sekarang.
"Dan sejak kapan dia menjadi sangat manis dengan rambut berantakan seperti itu? Aaahhh sial, aku bahkan merasa mual sekarang saat melihatnya" Batin Radika yang tiba-tiba beranjak dari duduknya dan langsung melangkah menuju kamarnya.
Radika berlari kecil menuju kamar mandi di kamarnya, rasa mual benar-benar mengganggunya, bahkan ia juga merasa gerah dengan nafas yang mulai tercekik, jantungnya berdetak dengan sangat kencang, saat mulai merasakan takut.
"Aakkk sial.. Ada apa denganku."
Umpat Radika saat sudah berada di dalam kamar mandi dan mencoba untuk mengeluarkan isi perutnya yang membuatnya merasa mual sejak tadi. Dengan langkah gontai, Radika keluar dari dari kamar mandi dan langsung menuju tempat tidurnya, merebahkan tubuhnya di atas sana untuk memenangkan perasaannya yang sejak tadi di rasakannya tidak karuan. Hingga 20 menit berlalu ia masih saja merasa sesak dan kegerahan, bahkan tubuhnya mulai bergetar saat dengan tiba tiba bayangan Ayuka terlintas di pikirannya. Bagaimana Anggunnya wanita itu dengan rambut kunciran yang sedikit berantakan.
"Apa aku baru saja mengingatnya? Aaaahhh.... kenapa hanya dengan mengingat wajahnya saja sudah membuatku sekarat."
Gumam Radika sambil mencengkram dadanya yang sudah di rasakan sangat sesak. Dengan cepat Radika menarik laci yang berada di samping tempat tidurnya, mengambil beberapa pil obat penenang dan langsung menelannya. Hingga suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya. Belum sempat Radika beranjak dari duduknya Ziyi sudah terlebih dahulu masuk dan melangkah menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Ziyi terlihat panik saat melihat keadaan Radika yang di penuhi keringat dingin dengan tubuh yang sedikit bergetar.
"Aku tida apa-apa" Balas Radika dengan suara serak yang nyaris tidak terdengar.
"Tapi.. Apa kau?"
"Entahlah.. Hanya dengan melihat penampilan berantakannya saja sudah membuatku hampir mati." Balas Radika dengan nafas yang tercekik.
"Apa kau mulai menyukainya?" Tebak Ziyi.
"Aahhkk... Sepertinya aku memang harus menghindarinya."
"Tapi Dika.. "
"Apa kakak ingin melihatku mati?" Balas Radika.
"Dika.. Maafkan kakak." Ucap Ziyi perlahan, wajahnya sudah di penuhi dengan kesedihan.
"Tidak perlu minta maaf, aku hanya butuh istirahat sekarang."
Ziyi keluar dari kamar dengan wajah yang terlihat sangat panik, dan langsung menghampiri Arka yang masih duduk di sofa sambil menatap tablet di tangannya untuk mengatur schedule Radika esok hari. Menyadari kedatangan Ziyi, Arka langsung mendongakkan kepalanya ke atas untuk menatap Ziyi yang sudah berdiri di hadapannya sambil meremat jari-jari tangannya.
"Zizi.. Ada apa?" Tanya Arka perlahan,
"Dika.. " Jawab Ziyi yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah kamar Radika.
"Lagi?" Tanya Arka panik.
"Iyaa... "
"Tapi dia... "
Kalimat Arka terhenti saat Ziyi mengalihkan pandangannya ke arah Ayuka yang masih sibuk dengan masakannya yang sepertinya saat ini sedang bersemangat, sebab Radika sendiri yang menginginkan sebuah makan siang darinya.
"Sepertinya Dika sedang jatuh cinta, dan hal itu membuatnya tersiksa sekarang." Lanjut Ziyi yang membuat Arka terkejut.
"Jatuh cinta?"
"Iya, aku sangat khawatir sekarang. Aka.. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Ziyi semakin panik.
"Kita pikirkan nanti, aku akan melihatnya sekarang." Balas Arka yang langsung beranjak menuju kamar Radika. Sedang Ziyi hanya bisa menarik nafas panjang dan mulai gelisah.
"Kenapa kau harus menderita seperti ini,"
Gumam kecil Ziyi yang masih terdiam menatap pintu kamar Adiknya.
"Ada apa kak? Mana yang lain? Masakan sudah siap." Tanya Ayuka bersemangat sambil melepaskan apronnya.
"Ayo, kita makan duluan saja." Jawab Ziyi sedikit terkejut, sebelum akhirnya ia kembali tersenyum agar Ayuka tidak merasa curiga.
"Berdua? Kemana Tuan Dika dan kak Arka?" Tanya Ayuka masih terlihat bingung.
"Ada yang harus mereka kerjakan sekarang, kita tidak perlu menunggu." Jawab Ziyi mencoba meyakinkan Ayuka.
"Ahh... Iyaa... " Balas Ayuka yang tiba-tiba merasa kecewa. Ia kembali menatap pintu ruang kerja Radika sambil menghela nafas dalam. Dan saat mereka akan mulai menyantap makan malamnya, Arka terlihat keluar dari kamar Utama dan langsung menghampiri mereka di meja makan.
Arka mengangguk perlahan saat pandangannya tertuju ke arah Ziyi yang sejak tadi menatapnya, seolah sedang menanyakan keadaan Radika. Dan saat melihat anggukan dari Arka dengan senyum kecilnya, hati Ziyi menjadi lega dan kembali melanjutkan makannya.
"Kakak sendirian? Di mana Tuan Dika?" Tanya Ayuka sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Radika yang belum juga datang untuk makan siang.
"Tuan Muda kecapean dan harus beristirahat." Jawab Arka perlahan.
"Tapi ini baru jam 8 malam, bahkan dia belum makan." Balas Ayuka yang nampak terlihat sedikit khawatir, sedang iyi hanya bisa terdiam, ia bahkan tidak punya alasan untuk menjawab pertanyaan Ayuka lagi. Ziyi lebih memilih untuk tidak berkomentar, dan menyembunyikan keadaan Radika padanya. bukan tampa alasan dia melakukan itu, Ziyi hanya tidak ingin membuat Ayuka merasa sedih lagi dan kembali menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah terjadi ke pada Radika saat ini, apalagi saat tau jika sekarang Radika kembali merasakan sakit karena ternyata Radika sudah mulai jatuh cinta padanya.
"Makanlah sayang.. Dika akan makan nanti jika dia sudah bangun." Jelas Ziyi yang hanya di balas anggukan pelan oleh Ayuka.
Pandangan Ziyi kembali tertuju ke arah Arka yang juga lebih memilih untuk diam.
Hingga makan malam merekapun selesai, dan Ayuka kembali menyibukkan dirinya untuk membereskan semua piring kotor untuk di cucinya. Sedang Arka dan Ziyi kembali ke ruang tengah.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Tanya Ziyi saat menatap wajah Arka yang terlihat nampak gelisah.
"Zizi, apa yang membuat Tuan Radika bisa tertidur dengan pulas? Dia tidak akan semudah itu untuk tidur saat philophobianya kambuh." Tanya Arka yang sontak membuat Ziyi terdiam, ia bahkan tidak memikirkan hal itu.
"Aku hanya takut, jika Tuan Dika kembali mengkonsumsi obat penenang, kau sendiri tau kan efeknya sangat berbahaya dan bisa membahayakan nyawanya?"
"Obat penenang?" Tanya Ziyi terkejut.
"Iya.. Apa kau tidak mengetahui hal itu?"
"Tidak.. Aku tidak tau jika Dika pernah mengkonsumsi obat-obat itu." Jawab Ziyi yang nampak syok saat mendengar penjelasan dari Arka, ia mulai panik, saat melihat Arka menarik nafas dalam sambil memejam, dan memijat pangkal hidungnya.
"Sejak umur 12 tahun Tuan Dika sudah mulai mengkonsumsi obat penenang, aku pikir kau mengetahuinya." Ucap Arka perlahan.
"Ap... Apaa??" Tanya Ziyi dengan mata yang mulai berkaca, mulutnya menganga sambil menggelengkan kepalanya karena syok. Ziyi menutup mulutnya bersamaan dengan butiran bening yang keluar dari sudut matanya.
"Zizi.. Tenangkan dirimu."
Balas Arka yang langsung melayangkan pandangannya kearah pantry untuk memastikan jika Ayuka masih di sana dan tidak mendengarkan percakapan mereka.
"Aku kakak yang buruk Dika... Aku kakak yang sangat buruk.. Bagaimana aku sampai tidak mengetahui hal ini.... " Ucap Ziyi terisak sambil menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya agar suara tangisnya tidak terdengar oleh Ayuka.
"Zizi.. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku juga masih berharap jika Tuan Dika tidak memakai obat-obat itu lagi." Balas Arka mencoba menenangkan.
"Aku sangat menyesal, aku lalai menjaganya Aka,"
"Zizi, kau yang terbaik, Tuan Dika tumbuh menjadi seorang pria yang hebat itu berkat dirimu, kau tidak lalai ataupun buruk, kau adalah kakak yang sempurna untuk Tuan Muda. Jadi aku harap, kau tidak lagi menyalahkan dirimu sendiri" Ucap Arka tersenyum.
"Ada apa?"
Tanya Ayuka yang tiba-tiba muncul dari arah Pantry. Dengan cepat Ziyi mengusap air matanya dan kembali memasang senyum termanisnya.
"Dan berhentilah membuatku tergila-gila, kau bisa membuatku diabetes jika tiap saat melihat senyummu" Batin Arka yang justru sangat menikmati senyum Ziyi yang sebenarnya tidak di tujukan untuknya.
"Apa Tuan Dika masih tidur?" Tanya Ayuka terus memandang pintu kamar Suaminya.
"Sepertinya dia sangat kelelahan, biarkan saja di tidur sepuasnya." Jawab Ziyi sambil mengusap punggung Ayuka lembut.
"Ahh.. Iya kak." Balas Ayuka nampak terlihat menarik nafas dalam.
"Aku kekamar dulu untuk mandi." Lanjut Ayuka beranjak dari duduknya dan langsung melangkah menuju anak tangga menuju kamarnya.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.