I Still Want You

I Still Want You
posesif. * KZR GRUP.



Pukul 13:30 siang. Suasana gedung KZR Grup kembali terlihat berbeda saat istri dari presdir perusahaan itu berkunjung, dengan senyum ramah Ayuka melangkah memasuki loby dengan sesekali membungkuk membalas sapaan para karyawan di sana. Dengan di kawal dua bodyguard di belakangnya, Ayuka terus berjalan menghampiri sekretaris suaminya yang nampak tengah berlari kecil untuk menyambutnya.


"Selamat siang Nyonya Zaferino,"


Sapa sekretaris Radika dengan ramah menyambut Ayuka. Merekapun melangkah masuk kedalam lift menuju ruang presdir mereka.


"Honey.. Kenapa tidak bilang kalau sudah sampai, aku kan bisa menjemputmu,"


Tanya Radika seraya meraih tubuh istrinya yang baru saja masuk ke dalam ruangannya dan mendudukkannya di atas meja kerjanya.


"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu, sekretaris dan kedua bodyguardmu sudah cukup, kalau bisa lain kali kau tidak perlu menyuruh bodyguard lagi untuk menemaniku, aku sedikit tidak nyaman,"


"Astaga sejak kapan istriku jadi sangat cerewet seperti ini, dan lihat bibir itu, begitu menggoda" Batin Radika yang hanya terdiam menikmati wajah istrinya.


"Iya honey, aku hanya ingin kau selalu aman. Jadi kau membutuhkan bodyguard, oke"


"Tapi sayang.. "


"Tidak ada penolakan," Balas Radika tegas.


"Baiklah,"


"Good Girls," Balas Radika mengusap pucuk Kepala istrinya dengan lembut.


"Yon kemana?" Tanya Ayuka lagi saat ia menyadari jika sejak tadi ia tidak melihat sosok Ryeon di dalam ruang kerja suaminya.


"Yon sedang bermain bersama Arka di kamar,"


"Kamar?" Tanya Ayuka mengernyit.


"Hemm.. Di sana," Jawab Radika sambil mengarahkan pandangannya kearah pintu ruang pribadinya yang langsung di balas anggukan oleh Ayuka.


"Mumpung yon sedang bermain, bagaimana kalau kita juga bermain sekarang," Ucap Radika mulai mengecup bibir istrinya dengan lembut.


"Sayang.. Hentikan.. Kita sedang berada di dalam ruangan bersama Yon sekarang,"


Ucap Ayuka di sela ciumnya.


"Aahhh baiklah.. " Balas Radika melepaskan ciumannya dan langsung mengusap bibir lembut istrinya dengan menggunakan ibu jarinya. Perlahan ia mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Aku punya kabar baik untukmu honey,"


"Benarkah? Apa?" Tanya Ayuka antusias.


"Malam ini Arka akan menginap di rumah kita, dan akan menemani yon tidur,"


"Ha?"


"Arka akan menemani Yon malam ini," Ucap Radika lagi mengulangi kata-katanya.


"Oh.. Be.. benarkah?" Tanya Ayuka yang nampak terlihat gelisah.


"Hmmmm.. Apa kau senang?" Tanya Radika sambil memainkan ujung rambut istrinya dan menghirup aroma manis yang kini sudah menjadi Aroma vaforitnya.


"Iy.. Iyaa sayang.." Jawab Ayuka dengan smile boxnya sambil mengusap Tengkuk lehernya yang seketika merinding saat melihat senyum smirk suaminya dengan tatapan mata yang seolah ingin memakannya saat itu juga.


"Jadi persiapkan dirimu Honey," Bisik Radika sambil mencium daun telinga istrinya yang saat ini sedang meremat paha suaminya karena merasakan geli di area leher dan telinganya.


"Pa.. Pasti.. Iya sudah, aku akan menemui yon di kamar untuk bersiap, Bian sudah menunggu kita," Balas Ayuka bergegas turun dari pangkuan suaminya dan langsung melangkah menuju ke kamar pribadi suaminya.


"Baiklah honey," Balas Radika tersenyum penuh semangat.


* * * * *


"Angkeeeellll Yaannnn..." Panggil Ryeon sambil berlari kecil menuju ke arah Bian yang sepertinya sudah menunggu kedatangan mereka.


"Halo jagoan kecil," Balas Bian membungkuk sambil mengulurkan tangannya menunggu Ryeon yang tengah berlari kecil menghampirinya, dan langsung di gendongnya.


"Sejak kapan putraku sangan dekat dengan Bian?" Batin Radika yang tiba-tiba merasa cemburu dengan kedekatan Putranya dan Bian.


"Dika apa kabar.. " Sapa Bian seraya menepuk-nepuk pundak Radika.


"Seperti yang kau lihat, Aku baik-baik saja Bian," Jawab Radika mengangguk pelan.


"Aku tau, kau pasti akan baik-baik saja,"


Balas Bian mempersilahkan mereka duduk di kursi yang sudah ia siapkan sejak tadi. Mereka mulai mengobrol satu sama lain sambil sesekali bercanda, tidak ada yang berubah dari mereka, bahkan suasana menjadi lebih menyenangkan dengan kehadiran Ryeon yang selalu membuat mereka gemas dengan tingkah lucunya.


"Lihat, uncle punya sesuatu untuk Yeon,"


Ucap Bian sambil menunjukkan sebuah boneka berwarna coklat yang terlihat lucu kepada Ryeon yang membuat anak itu kegirangan.


"Yeiii.. makaci Angkel Yan.. "


" Bahkan Yon nampak bahagia dengan hadiah yang di berikan Bian, astaga apa aku sedang cemburu dengan Bian sekarang?" Batin Radika.


"Yeon suka?"


"Huumm.. Yon cuka.. "


"Anak manis," Balas Bian menciumi pipi chubby Ryeon.


"Kau nampak menyukai anak kecil, kenapa kau tidak menikah saja?" Tanya Radika yang hanya di balas helaan nafas dalam oleh Bian.


"Aku pasti akan melakukannya, tapi tidak sekarang," Jawab Bian.


"Ada apa? Umurmu sudah cukup tua, dan sudah waktunya untuk menikah," Balas Radika.


"Heiii.. Jaga ucapan anda tuan Zaferino yang terhormat, aku bukan satu satunya pria tua di sini." Protes Bian bahkan pandangannya sekarang langsung tertuju pada Arka yang masih asik bermain dengan kemenakannya.


Sedang Arka yang sudah paham dengan perkataan Bian hanya tersenyum kecil saat tatapan Radika dan Ayuka tertuju ke arahnya.


"Astaga aku sampai lupa dengan kakak iparku sendiri," Balas Radika seraya menepuk dahinya yang langsung di balas tawa oleh mereka.


"Atau bagaimana klo aku melamar kakakmu?" Ucap Bian dengan wajah polosnya sambil menatap wajah Arka yang balas menatapnya dengan tatapan tajam.


"Jangan coba coba Bian" Batin Arka menatap Bian yang langsung terbahak saat melihat ekspresi Arka yang terlihat lucu.


"Tenang saja Arka, aku tidak akan mengambil seseorang yang sangat kau cintai dan kau jaga selama ini, sedang kau sendiri tau, siapa wanita yang selalu berada di dalam hatiku," Batin Bian seraya menyesap kopi miliknya.


"Sebaiknya kau melupakan niatmu Bian, sebab kak Yi sepertinya tidak akan menikah," Balas Radika sambil merangkul bahu istrinya.


"Benarkah? bukankah itu bagus?" Balas Bian.


"Ha? bagus apanya? Aku malah jadi mengkhawatirkan kak yi sekarang, takut jika dia akan menjadi perawan Tua," Timpal Radika.


"Sayang.. " Sela Ayuka seraya mencubit perut suaminya yang langsung meringis kesakitan.


"Mungkin kak Yi sudah mempunyai seseorang di hatinya," Balas Ayuka yang hanya membuat Arka dan Bian saling menatap dengan pikiran mereka masing-masing.


Hingga suara dering ponsel Radika terdengar dan membuat semuanya terdiam sesaat saat Radika menjawab panggilan tersebut.


"Halo Ayah.. "


"Dimana kalian membawa cucu Ayah?"


Tanya tuan Kaiden di sebrang sana, sedang Radika langsung mengarahkan pandangannya ke arah putranya yang masih asik bermain bersama Bian, lalu pandangannya kembali di arahkan ke wajah istrinya yang sedari tadi menatapnya dengan sedikit menaikkan satu alisnya. Radika hanya memberi isyarat bahwa sekarang ia sedang bicara dengan Tuan Kaiden. Seolah paham, Ayuka hanya mengangguk sambil beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Bian dan Ryeon yang masih bermain.


"Yeon sedang bersama kami Ayah, di cafe Bian,"


"Ayah akan menjemputnya dan membawanya ke Mansion, Ayah merindukannya."


"Baik Ayah.. Tapi.. Ayah sedang berada di mana sekarang?"


"Di Panthouse,"


"Baiklah Ayah, sampai juga lagi,"


"Jaga cucu Ayah Baik Baik. Sebentar lagi Ayah akan menjemputnya"


"Iya Ayah"


Radika langsung memutuskan panggilan telfonnya. Dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah Bian yang masih sibuk mengajak Bian bermain sedang Ayuka yang ikut menemani Ryeon di sana malah membuat Radika sedikit terganggu.


"Honey, kemarilah.." Panggil Radika seketika.


"Iya sayang.. sebentar,"


"Sekarang Honey," Balas Radika lagi. sedang Bian yang melihat gerak-gerik Radika hanya bisa menyembunyikan senyumnya.


perlahan Ayuka melangkahkan kakinya menuju ke arah Radika yang sudah mengulurkan tangannya, bahkan ia langsung meraih pinggang Ayuka dan di dudukan di atas pangkuannya, dan hal itu sungguh membuat Ayuka merona menahan malu, apalagi saat beberapa pengunjung memperhatikan tingkah manis Radika yang terus merangkul tubuh istrinya.


"Sayang, hentikan, bisakah aku duduk di kursiku sendiri?" Tanya Ayuka mulai bergerak gelisah saat Radika semakin erat merangkul pinggangnya.


"Ada apa? apa kau tidak suka berada di pangkuanku?"


"Tidak seperti itu Sayang, tapi posisi ini sedikit membuatku tidak nyaman,"


"Tapi aku menyukainya,"


"Sayang ayolah.. " Rayu Ayuka yang terus bergerak.


"Tidak, dan berhentilah bergerak seperti itu, kau membuatnya terbangun," Balas Radika sambil mengalihkan pandangannya ke arah bawah, yang sontak membuat Ayuka terdiam.


"Baiklah.. " Ucap Ayuka pasrah.


"Aku suka jika kau menurut," Balas Radika dengan senyumnya. Sedang Bian yang sejak tadi tidak berkedip sedikitpun saat melihat tingkah Radika hanya bisa melongo.


Apakah itu sungguh dirimu? astaga.. Bian menggeleng perlahan sambil terus mengalihkan perhatian Ryeon agar tidak sampai melihat kelakuan Ayahnya yang seperti remaja baru merasakan jatuh cinta.


"Ayah sedang berada di rumah sekarang," Kata Radika saat puas memeluk tubuh Ayuka.


"Benarkah? Aku akan pulang sekarang," Balas Ayuka yang langsung beranjak dari pangkuan Radika.


"Honey, aku belum menyuruhmu untuk berdiri," Balas Radika yang membuat Ayuka menarik nafas panjang dan kembali duduk. mungkin sikap ini yang di maksud Diri, sikap manja dan posesif Radika.


"Sayang, bukankah kita harus pulang?" Tanya Ayuka.


"Tidak perlu Honey,"


"Kenapa?"


"Ayah akan menjemput Yeon sekarang dan mungkin akan membawanya ke Mansion malam ini,"


"Ohh.. Baiklah. Tapi bisakah aku duduk di kursiku sendiri sekarang? Ryeon akan cemburu jika melihatmu terus memangkuku dan bukan dia," Ucap Ayuka lagi, dan saat mendengar nama putranya Radika langsung merenggangkan pelukannya dan membiarkan Ayuka duduk di kursinya.


"Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengan pria lain" Bisik Radika perlahan yang membuat Ayuka mengernyit.


"Maksudnya?"


"Aku tidak suka jika kau terlalu dekat dengan pria lain selain diriku meskipun itu Bian, apa kau mengerti, kalu tidak aku akan menghukummu," Lanjut Radika lagi sambil mengusap pipi istrinya lembut.


Astaga kenapa Dika jadi sangat posesif begini, sebenarnya apa yang terjadi dengannya di Belanda.


"Apa kau mendengarku?" Tanya Radika lagi yang langsung di balas anggukan oleh Ayuka.


"Daddy... " Panggil Ryeon yang langsung berlari kepangkuan Ayahnya.


"Iya Nak," Balas Radika seraya mengendong tubuh putranya.


"Yon ngantuk,"


"Sini sama Mommy," Ucap Ayuka yang langsung meraih tubuh putranya dari gendongan Radika. Sedang Ryeon yang sudah merasa sangat mengantuk hanya bisa pasrah dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Ayuka.


"Sayang, aku akan membawa Yon ke taman sebentar sambil menunggu Ayah, dia butuh udara segar," Ucap Ayuka.


"Baiklah aku akan menemani kalian," Balas Radika yang langsung beranjak.


"Sayang tidak perlu," Tolak Ayuka perlahan.


"Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan kalian, tidak."


"Sayang, hanya di samping sana, bahkan kau masih bisa melihatku,"


"Tetap saja aku mengkhawatirkan kalian,"


"Sayang.. aku mohon, bahkan aku lebih bisa menjaga diri dari yang kau tau,"


"Honey itu sebelum aku berada di sisimu, berbeda dengan sekarang,"


"Sayang, aku tau, sekarang kau adalah pelindungku dan Yon, dan aku akan selalu membutuhkanmu, tapi bisakah kali ini aku taman itu hanya dengan Yon? semua akan baik-baik saja," Rayu Ayuka dengan kata-kata yang membuat Radika merasa sangat di butuhkan oleh dirinya dan Yon, dan kata-kata Ayuka barusan cukup membuat hati Radika luluh.


"Baiklah, tapi hanya di sana, jangan hilang dari pandangan mataku,"


"Iya, aku mengerti, aku hanya akan kesana,"


"Baiklah, Berhati-hatilah.. " Balas Radika yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah bodyguardnya untuk menemani istri dan putranya. Sedang Ayuka yang sudah mendapatkan izin dari suaminya setelah melewati drama kecil langsung melangkah keluar Cafe untuk membawa Ryeon ke taman. Sedang Bian dan Arka hanya saling tatap dengan ekspresi wajah tidak percaya saat melihat sikap Radika yang tidak biasa, bahkan terlihat sangat berbeda.


Apa anda benar Presdir saya sekarang? kenapa anda berubah jadi se posesif ini sekarang, sungguh tidak seperti diri anda. Arka.


Aku mohon, jangan bertingkah seperti itu di depanku, Bian


"Oh iya Arka.. Aku dengar jika pelaku tabrak lari satu tahun lalu sudah berada di dalam penjara," Lanjut Radika.


"Benar, bahkan seminggu setelah pelaku penabrakan di tangkap, dalang dari semuanya juga tertangkap." Balas Arka.


"Siapa dia?"


"Tuan Le, dia adalah orang yang sama yang pernah membuat Anda hampir terluka waktu itu," Lanjut Arka yang membuat Radika dan Bian terkejut. Terlebih lagi Radika yang tiba-tiba merasa sangat marah.


"Brengsek, beraninya dia," Balas Radika merasa geram saat ia kembali mengingat kejadian satu tahun lalu yang nyaris merenggut nyawa istrinya.


"Apa memang orang itu ada hubungannya dengan Tuan Kaiden?" Tanya Bian yang langsung di balas anggukan oleh Arka.


"Apa kau tau, ada hubungan apa orang itu dengan Ayah?" Tanya Radika yang tiba-tiba merasa penasaran.


"Tidak, Tuan Kaiden hanya berkata jika orang itu ada hubungannya dengan Tuan Kaiden di masa lalu, tepatnya seperti apa saya tidak mengetahuinya." Balas Arka lagi.


"Mungkin seseorang tau," Sambung Bian.


"Maksudmu?" Tanya Radika mengernyit.


"Ken, bukankah dia orang kepercayaan Ayahmu? bahkan sudah sangat lama menjadi Asisten Ayahmu, tidak mungkin dia tidak mengetahuinya kan." Jawab Bian yang langsung di balas anggukan pelan oleh Radika.


"Tapi tidak mudah untuk membuat Ken bicara," lanjut Arka yang membuat Radika kembali berfikir.


"Tapi yang masih menjadi pertanyaanku sampai saat ini, kenapa dia juga ingin melukai Ayuka?" Tanya Bian lagi.


"Sebab Ayuka sudah menjadi bagian dari Keluarga Zaferino, terlebih lagi Arka perna menggagalkan rencananya untuk membunuhku, bahkan membuatnya terbaring koma selama beberapa hari di rumah sakit." Balas Radika yang membuat Bian melongo dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Arka.


"Apa benar kau pernah melakukannya?" Tanya Bian dengan ekspresi tidak percaya, sebab yang ia lihat selama ini, Arka adalah sosok pria yang kalem dan lembut, bahkan ia tidak pernah berfikir jika Arka mempunyai sisi lain yang merubahnya menjadi sebagai pria kasar berdarah dingin.


"Tidak perlu menatapku seperti itu, aku hanya melakukan tugasku untuk melindungi seseorang yang harus aku lindungi," Ucap Arka yang membuat Radika terharu saat mendengar perkataan Arka barusan, sebab ia juga menyadari jika selama ini Arka memang selalu melindunginya bahkan banyak membantunya, hingga ia sendiri tau jika sudah sangat bergantung pada Arka.


"Ternyata semua orang bisa berubah dengan sangat mudah," Balas Bian yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Radika.


"Apa?"


"Tsk, bahkan kau sudah berubah menjadi pria yang sangat posesif sekarang," Lanjut Bian yang membuat kedua sudut bibir Arka naik ke atas membentuk sebuah senyuman.


"Diamlah.. kalian juga akan berubah seprti itu jika sudah benar-benar mencintai seseorang," Balas Radika.


"Benarkah?" Tanya Bian ke pada Arka yang langsung tersedak.


"Hei ada apa dengan reaksimu? Arka.. jangan bilang jika kau sudah mempunyai seorang kekasih,"


Iya, tapi saya tidak se posesif Anda Tuan, saya hanya akan mematahkan leher pria yang berani mendekati wanita yang saya cintai, Arka.


"Tidak, memang siapa yang ingin menjadi kekasih saya," Jawab Arka yang seolah tidak menyadari jika ia juga memiliki wajah yang tampan.


Hingga obrolan mereka terhenti saat Tuan Kaiden dan Asistennya Ken datang adanya langsung menghampiri mereka.


"Selamat sore Tuan," Ucap Arka dan Bian secara bersamaan sambil membungkuk memberi hormat.


"Ke mana Cucu Ayah?" Tanya Tuan Kaiden yang tampa basa basi langsung menanyakan keberadaan Ryeon sambil menyapu setiap ruangan dengan mata tajamnya.


"Yon di taman samping dengan ibunya," Jawab Radika.


"Saya akan memanggil mereka," Jawab Bian yang tidak menyadari tatapan tajam dari Radika.


"Diamlah di tempatmu, aku yakin jika kau ke sana akan ada drama lagi," Bisik Arka yang membuat Bian kembali duduk manis di tempat duduknya. Sedang Radika langsung beranjak dari duduknya dan melangkah keluar menuju taman untuk menemui istri dan putranya.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.


* * * * *