
* RESTORAN.
Suasana di sebuah Restoran yang siang ini tidak begitu ramai oleh pengunjung, nampak Bian termenung, tatapan matanya jauh menerawang dengan pikiran yang terlihat kosong. Hingga lima menit berlalu sejak ia datang di sebuah restoran steak yang tidak jauh dari cafenya itu untuk menunggu seseorang yang sampai saat ini belum juga datang.
Seolah betah dengan keterdiamannya yang kembali mengamati tumbuhan merambat di samping tempat duduknya, pikirannya kembali tertuju pada satu sosok yang selalu menemaninya di sini, ia kembali teringat dengan senyum manis dan mata biru indah yang tidak di pungkirinya selalu memenuhi pikirannya tiap saat. Meski lagi lagi ia harus kembali merasakan sakit karena tidak bisa memiliki semua itu, itulah pil pahit yang harus ia telan. Ia kembali menghela nafas panjang hingga seorang sosok yang baru saja datang dan telah berdiri tepat di hadapannya membuyarkan lamunannya.
"Maaf, aku sedikit terlambat."
"Kau datang?" Tanya Bian perlahan, kepada Radika, sosok yang ia tunggu sejak tadi.
"Hmm," Jawab singkat Radika sambil menarik kursi yang berada di depan Bian.
"Maaf.. Aku tidak melihatmu."
"Bukankah kau terlalu banyak melamun?" protes Radika.
"Entahlah.. Aku terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini."
"Apa yg kau pikiran?" Tanya Radika lagi.
"Pekerjaan menumpuk," Jawab Bian seadanya.
"Tsk, aku tidak yakin pekerjaan menumpukmu bisa membuatmu terlihat seperti seorang yang sedang patah hati."
"Aku memang sedang patah hati." Balas Bian yang entah keceplosan atau tidak.
"Benarkah? Haruskah aku memberikan selamat untukmu?" Balas Radika santai.
"Hei hentikan.. Ini juga karena dirimu Tuan Muda Zaferino Radika yang terhormat." timpal Bian.
"Cih, apa hubungannya denganku, kau bercanda?" Balas Radika yang sepertinya belum mengerti dengan perkataan Bian.
"Karena wanita yang aku cintai..... "
Bian menghentikan kalimatnya, untuk sesaat ia hampir saja berteriak di hadapan Radika, jika Ayuka adalah gadis yang ia cintai namun sudah membuatnya terluka. Bian menarik nafas dalam dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Dengan lekat Radika mengamati wajah Bian yang seketika berubah murung, bahkan Radika mulai merasakan ada hal yang aneh pada sahabatnya saat ini.
"Ada apa?" Tanya Radika dengan tatapannya yang lekat menatap wajah Bian.
"Ahh.. Lupakan." Balas Bian.
"Apa dia gadis itu?" Tanya Radika yang sepertinya tidak puas dengan jawaban Bian yang masih terdiam menatap bayangan wajahnya di dalam cangkir yang berisi kopi.
"Kau benar mencintainya?" Tanya Radika lagi dengan tatapan yang semakin mengintimidasi.
"Apa jawabanku penting sekarang?" Jawab Bian yang akhirnya bersuara.
"Berati benar kan?" Timpal Radika.
"Hei ayolah.. Tidak perlu seserius itu." Jawab Bian mencoba mengalihkan pertanyaan Radika.
"BIAN... KATAKAN KALAU ITU BENAR."
Teriak Radika yang membuat Bian terkejut, bahkan beberapa pengunjung yang sedang berada di Restaurant itu pun ikut terkejut dengan suara bariton Radika yang tiba-tiba naik satu oktaf.
"Hei hentikan. Yah aku mencintainya, sejak dulu aku sudah mencintainya." Jawab Bian yang membuat Radika semakin geram.
"Dan Kenapa kau tidak mengatakan hal itu dari awal?" Timpal Radika lagi.
"Apa itu bisa merubah segalanya?"
"Bisa saja, aku akan menolak permintaan Ayah untuk menikahinya, apa kau tau, sebagai sahabatmu kau membuatku merasa egois dan terlihat buruk saat ini." Balas Radika dengan nada yang mulai merendah.
"Dan aku tidak ingin jika kau melakukan itu,"
"Kenapa tidak? aku tidak seegois itu Bian,"
"Karena aku tidak ingin kau menyakitinya Dika?"
"Kenapa dia harus merasa tersakiti? Aku bahkan tidak sedekat itu dengannya."
"Karena dia sangat mencintaimu, dan aku tahu itu." Balas Bian yang sontak membuat Radika sesaat terdiam, ia mulai merasakan sulit untuk mengatur nafasnya hingga harus melonggarkan dasinya agar nafasnya terasa lega.
"Tidak.. Dia tidak boleh mencintaiku." Gumam Radika perlahan.
"Tapi itulah kenyataannya Radika, dia jatuh cinta padamu."
"Tapi kenapa harus aku, aku pria sakit, aku bahkan bukan pria yang baik, aku tidak akan pernah bisa membahagiakan dirinya, kau tahu itu." Balas Radika dengan ekspresi yang tiba-tiba di penuhi oleh kekhawatiran.
"Dika aku mohon.. Jangan menyakitinya, aku tau kau tidak bisa mencintai wanita manapun, entah karena alasan apa, tapi untuk dia, bisakah kau buat pengecualian? aku mohon."
"Aku benar-benar tidak bisa melakukannya." Gumam Radika terdengar lirih.
"Kau tidak bisa melakukannya karena kau takut akan jatuh cinta padanya, itulah kenyataannya."
"BIAN... " Bentak Radika.
"Ada apa? Aku benar kan? Aku mohon Radika, setidaknya jangan buat dia selalu menangis, dia sudah cukup merasakan kesedihan selama ini, Bahkan kau adalah satu-satunya pria yang bisa membuatnya jatuh cinta."
"AAARRRRGGGHHH..... sial kau Bian... "
Teriak Radika sambil mencengkram rambutnya sendiri, bahkan tidak ada kata-kata lagi yang bisa ia katakan saat ini. Perasaannya benar-benar tertekan.
"Maafkan aku Dika, aku hanya ingin kau menjaganya untukku, apa permintaanku ini terlalu sulit?"
"Tapi kau mencintainya." Balas Radika dengan suaranya yang mulai melemah, sambil menatap wajah Bian yang terlihat sedih.
"Dia seharusnya mencintai pria sepertimu, pria yang bisa memberikannya kebahagiaan. pria yang tidak akan pernah membuatnya menangis." Ucap Radika.
"Kita tidak bisa memaksanya untuk mencintai siapa, besok kalian akan menikah, aku harap kau bisa memenuhi keinginanku."
"Aku bukan Jin yang bisa memenuhi keinginan siapapun." Balas Radika dengan wajah datarnya, yang membuat sudut bibir Bian tersungging.
"Tsk, tapi kau selalu memenuhi keinginan ayahmu." Balas Bian yang akhirnya terkekeh dengan ucapan Radika.
"Ah tua bangka itu." Keluh Radika terlihat kesal.
"Hei.. Itu hal yang wajar, karena Tuan Kaiden yang memegang lampu Jin itu."
Balas Bian yang masih terkekeh saat melihat ekspresi kesal di wajah Radika.
"Hentikan.. Kau membuatku ingin membunuhmu." Timpal Radika.
"Hei ayolah.. Kau akan kehilangan sahabat terbaik sepertiku." Goda Bian yang membuat Radika semakin jengah.
"Tsk."
"Apa Arka yang mengambil alih semua pekerjaanmu lagi?"
"Hmm,"
"Aku tidak tau, bagaimana jadinya kau tampa si pria kaku itu." Ucap Bian seraya menyesap kopinya.
"Jika bukan karena Arka aku tidak akan menerima tawaran singa tua itu." Balas Radika.
"Maksud kamu?" Tanya Bian dengan kening menyatu.
"Ah tidak apa-apa" Jawab Radika dengan senyum tipisnya.
"Apa perasaanmu sudah membaik sekarang?" Tanya Bian lagi saat melihat Radika yang sepertinya sudah tenang.
"Apa maksudmu? Aku tidak sedang sakit sekarang."
"Kau lupa beberapa menit lalu kau hampir menelanku hidup-hidup?"
"Sebenarnya aku masih ingin melakukannya, asal kau tau."
"Kenapa aku selalu merasa suatu saat kau akan membenciku Bian." Batin Radika kembali menatap Bian yang masih terdiam dengan pandangannya yang ia arahkan ke luar. Lama ia terbungkam dengan perasaan kalutnya, hingga suara Bian kembali membuyarkan lamunannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Bian saat merasakan tatapan Radika yang sedari tadi di tujuhkan padanya.
"Entahlah,"
"Cobalah untuk menghilangkan rasa takutmu itu Dika. Aku yakin kau bisa mengatasi Filophobia mu itu." ucap Bian.
"Apa kau yakin? Aku sendiri bahkan tidak yakin." Balas Radika yang terdengar begitu putus asa.
"Itu karena kau yang tidak berusaha untuk menghilangkannya, kau membiarkan Filophobiamu itu bersarang di dalam pikiranmu, dan yang aku lihat kau malah menikmatinya, sebenarnya ada apa dengan dirimu, kau seolah sedang membentengi dirimu sendiri."
"Kau terlalu banyak bicara Bian," protes Radika.
"Cih.. Bahkan kau sudah tidak mau lagi mendengarkan nasehatku." Timpal Bian.
"Hei, kau bahkan sudah terlihat seperti Ayahku sekarang, tidak ada bedanya dengan Arka dan Kak Ziyi."
"Mereka melakukan itu karena peduli padamu Tuan Muda Zaferino Radika."
"Ahh aku lelah." Balas Radika yang langsung beranjak dari duduknya.
"Hei mau ke mana kau?"
"Pulang."
"Kerumah?"
"Mansion."
"Baiklah.. Sampaikn salamku kepada Tuan Kaiden dan kak Ziyi."
"Kenapa aku harus repot-repot melakukan itu? bukankah besok juga kau akan bertemu dengan mereka?" jawab Radika santai.
"Astaga.. Kenapa kau jadi sangat menyebalkan sekarang, kenapa tiba-tiba aku jadi merasa kasian kepada Arka yang 24 jam terus berada di samping pria menyebalkan sepertimu."
"Apa bedanya dengan dirimu, sudahlah.. Aku pulang.. "
"Berhati-hatilah."
"Hmm." Balas Radika yang terus berjalan sambil mengangkat satu tangannya. Sedang Bian hanya bisa menggeleng seraya tersenyum saat melihat tingkah menyebalkan Radika.
"Bahkan sikap mu itu tidak jauh beda dengannya, aku benci mengakui kalau kalian memang pasangan yang sangat serasi. Aku berharap kau bisa menjaga Ayuka dengan baik, jika kau membuatnya terus menangis mungkin kali ini aku tidak akan mengalah lagi untukmu."
Gumam Bian yang kembali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya ke udara, berharaf perasaan kecewanya bisa ikut keluar hingga tidak tersisa sedikitpun di hatinya.
* * * * * *
* MANSION UTAMA.
"Apa kau gugup?"
Tanya Ziyi sambil mengusap pipi merona Ayuka yang sudah terlihat sangat cantik dengan make-up di wajahnya.
"Iya kak." Jawab Ayuka yang terus meremat jari-jari tangannya.
"Yuka sayang, semua akan baik-baik saja, kau tidak perlu segugup ini, Hem?"
Balas Ziyi langsung memeluk tubuh Ayuka yang sudah terbalut gaun pengantin, pelukan hangat untuk sekedar menenangkan hati Ayuka yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya itu.
"Apa kau siap?"
Tanya Arka yang tiba tiba masuk kedalam kamar Ayuka. Untuk sesaat ia tertegun menatap wajah cantik adiknya yang memakai gaun pengantin. Ada perasaan sedih, gelisah, juga bahagia bercampur menjadi satu di hatinya.
"Apa sudah waktunya?" Tanya Ziyi sembari menatap Arka yang masih tertegun dalam pikirannya.
"Ehheemmm... "
"Ahh maaf.. Iya, lima menit lagi mempelai pria akan datang menjemputnya" Jawab Atas Arka.
"Ahh baiklah sayang, sudah waktunya." Ucap Ziyi seraya menangkup wajah cantik Ayuka.
"Iya kak, tapi apa boleh Yuka ke toilet dulu?"
"Tentu saja sayang, kau bisa memanggilku jika ada sesuatu." Jawab Ziyi mengusap punggung ramping Ayuka yang langsung beranjak dari duduknya dan langsung menuju toilet.
"Warna merah itu sangat cocok untukmu."
Puji Arka seraya menatap Ziyi yang terlihat begitu anggun dengan dress Merahnya, satu pujian yang membuat wajah Ziyi merona.
"Benarkah? Apa aku terlihat cantik?"
"Hm.. Kau selalu terlihat cantik bagiku Zizi." jawab Arka tersenyum.
"Apa aku boleh memelukmu?" Tanya Ziyi lagi sambil melangkah mendekati Arka yang justru melangkah mundur kebelakang.
"Zizi.. Aku... " Jawab Arka terbata.
"Aku mengerti." Balas Ziyi yang langsung menghentikan langkah kakinya, sambil menundukkan kepalanya saat melihat reaksi Arka yang seolah sedang menghindarinya.
"Aku hanya sangat merindukanmu Aka,"
Gumam Ziyi yang sedang berusaha menyembunyikan kesedihan hatinya. Lama ia terdiam sampai akhirnya ia tersentak saat Arka menarik tengkuk lehernya dan langsung ******* bibirnya lembut, Arka semakin menekan tengkuk leher Ziyi untuk memperdalam ciumannya, hingga tiga menit berlalu mereka saling melepaskan ciuman masing-masing.
"Aku juga sangat merindukanmu."
Bisik Arka mengecup pucuk kepala Ziyi dengan lembut.
"Acara akan segera di mulai, bersiaplah kalian berdua, mana menantu Ayah?"
Tanya Tuan Kaiden saat memasuki kamar tersebut secara tiba-tiba, hingga membuat keduanya tersentak dan saling berpencar. Arka menata beberapa kembang di sudut kamar yang sebenarnya sudah sangat rapi, dan Ziyi yang membersihkan meja rias Ayuka yang sebenarnya sudah tertata rapi.
"Hei.. Apa kau berenacana untuk membawa bunga itu?" Tanya Tuan Kaiden pada Arka yang sekarang sedang memegang buket bunga milik adiknya.
"Aahh.. tidak Tuan.. Saya hanya merapikannya saja." Jawab Arka yang terlihat gugup.
"Ziyi berhentilah mengusap meja itu, mana menantuku? Ada apa dengan wajah merahmu itu?" Seru Tuan Kaiden sambil mengacak pinggang di depan pintu kamar.
"Iya Ayah, maaf Yuka baru saja dari Toilet." Jawab Ayuka yang keluar dari toilet, yang secara tidak langsung telah menyelamatkan kedua mahluk yang kini terlihat seperti orang bodoh.
"Bersiaplah Nak." Balas Tuan Kaiden tersenyum.
"Dan kau Arka bersihkan wajahmu terlebih dahulu sebelum keluar," sambung Tuan Kaiden yang membuat Arka kebingungan.
"Ha?"
"Makanan jenis apa yang kau makan hingga membuat mulutmu merah begitu."
Tanya Tuan Kaiden menggeleng sebelum melangkah keluar yang spontan membuat Arka terbatuk dan langsung berjalan masuk ke toilet untuk mencuci mukanya sebelum Ayuka melihatnya.
15 menit kemudian, dengan perasaan yang sangat gugup, Ayuka menggandeng tangan kakaknya melintasi karpet merah menuju Altar yang di ujung sana sudah terlihat Radika yang sedang berdiri menunggunya. Detik demi detik berjalan, langkah Ayuka semakin bergetar, saat akan mendekati Altar di kala melihat tatapan Radika yang semakin intens menatapnya.
"Tenanglah, semua akan baik baik saja"
Bisik Arka mengusap tangan Ayuka yang tengah di gandengnya. Ribuan mata yang memenuhi taman luas tersebut menatap kearah pengantin wanita dengan decak kagum, terdengar juga beberapa pujian untuk Ayuka yang mereka ucapkan dengan senyum bahagia mereka. Hingga akhirnya Ayuka melepaskan tangan kakaknya dan meraih tangan dingin Radika yang sejak tadi di ulurkannya.
Prosesi pernikahan pun di mulai dan berlangsung hikmat sampai akhirnya mereka di sahkan sebagai pasangan suami istri. Air mata Ayuka menitik, kala mendengarkan sorak bahagia dari para tamu undangan hingga semuanya berakhir, bahkan sekarang ia masih tidak percaya bahwa dia telah menjadi Nyonya Zaferino Radika.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.