I Still Want You

I Still Want You
Kecemburuan Radika.



Pukul 22:16 malam


Ayuka beranjak dari duduknya dan langsung melangkah meninggalkan taman yang sejak beberapa jam lalu di kunjunginya, tempat yang sudah membuatnya banyak mengeluarkan air mata malam ini, tempat yang mebuatnya bisa mengeluarkan segala kelu kesahnya.


Saat memasuki mobilnya, Ayuka menginjak gasnya semakin dalam, hingga mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi membela malam yang sudah semakin larut. Hingga hanya butuh waktu 30 menit mobil Ayuka sudah terparkir di garasi kediaman suaminya.


Ayuka melangkahkan kakinya perlahan memasuki rumahnya yang terlihat sepi, ia terus melangkah masuk sampai akhirnya netranya menangkap sosok yang sedang duduk di sofa dengan Tablet di tangannya.


"Aku mengizinkanmu kerja, bukan berarti kau bisa seenaknya pulang sampai larut malam."


Suara rendah Radika yang jelas terdengar di telinga Ayuka yang otomatis langsung menghentikan langkah kakinya.


"Maaf.. tadi aku hanya singgah ke taman sebentar untuk mencari uda segar." Jelas Ayuka, berharap suaminya akan mengerti.


"Aku tidak peduli ke mana saja kamu, dan apa saja yang kau lakukan," Balas Radika yang masih fokus pada layar tabletnya.


"Aku hanya mengingatkan, sekarang kau sudah menjadi keluarga Zaferino, bisakah kau menjaga sikapmu?" Lanjut Radika yang sontak membuat Ayuka terkejut dengan kata-kata yang baru saja di dengarnya.


"Sikap? Tapi aku merasa tidak melakukan hal buruk, tadi aku hanya...."


"Pukul berapa sekarang? Apa wajar seorang wanita yang sudah bersuami masih berada di luar rumah?" Balas Radika yang masih dengan wajah datarnya.


"Apa sekarang anda peduli padaku?"


"Tsk.. Kenapa aku harus peduli? Bukannya sudah aku katakan tadi, aku tidak punya alasan untuk memperhatikan mu apalagi sampai peduli padamu. kau hanya perlu menjaga sikapmu." Balas Radika yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Sungguh satu sikap yang Membuat Ayuka benar-benar merasa jengah sekarang, namun sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap menekan perasaannya agar lebih tenang.


"Tunggu... " Seru Ayuka yang langsung menghentikan langkah kaki Radika.


"Bisakah saya bertanya sesuatu?" Tanya Ayuka yang membuat Radika kembali terdiam di tempatnya dengan posisi yang masih membelakangi Ayuka .


"Apakah anda membenciku?" Tanya Ayuka dengan suara yang mulai bergetar. Sedang Radika masih terdiam tampa menoleh sedikitpun kearah Ayuka.


"Apakah anda benar-benar tidak peduli padaku?" Tanya Ayuka lagi.


"Tidak sedikitpun." Jawab Radika yang akhirnya membalikkan tubuhnya dan sorot mata tajamnya langsung ia tujukan kepada Ayuka yang tengah menatapnya dengan tatapan nanar.


"Ke... Kenapa?" Tanya Ayuka terbata.


"Apa kau benar-benar ingin tau?"


"................. "


"Apa kau tidak merasa telah membuatku menderita?" Tanya Radika lagi yang sontak membuat Ayuka terdiam untuk sesaat.


"Maaf.. " Gumam Ayuka lirih.


"Apa hanya itu yang bisa kau ucapkan? Bahkan kata itu tidak akan merubah apapun,"


"Aku tau.... Aku..... "


"Lupakan, lagi pula aku yang merasakannya, kau cukup diam di tempatmu dan jangan pernah melakukan apapun lagi untukku."


"Maafkan aku..... Sekali lagi.. Maafkan aku.... "


"AKU BENCI KAU YG SELALU MENGUCAPKAN KATA ITU" Balas Radika dengan nada suara yang cukup keras, tangannya mengepal sempurna, sambil menatap wajah Ayuka yang kembali tertunduk.


Melihat reaksi Ayuka saat ini cukup membuat Radika prustasi, Radika menengadah ke atas sambil mencengkram rambutnya sendiri, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar, berulang kali hingga perasaannya kembali tenang.


"Aku hanya tidak ingin kau menderita sepertiku, jadi aku mohon, jangan menunjukkan kelemahanmu di hadapanku, karena itu akan membuatku semakin menderita." Batin Radika yang terus menatap wajah Ayuka yang masih berdiri di hadapannya itu, wajah yang semakin lama membuatnya merasa bahagia, tetapi tidak dengan reaksi tubuhnya yang seakan menolak itu, kebahagiaan yang di rasakannya hanya sesaat, berganti dengan rasa takut yang teramat besar, bersamaan dengan rasa sakit yang membuatnya kembali memejam untuk menekan perasaannya saat detak jantungnya kembali berdetak dengan sangat kencang.


"Aku tau.. Ma..maaf..."


"Kenapa kau selalu menyulitkan ku?" Guman Radika dengan suara tercekik.


"Aku.... Mencintai mu Tuan Dika," Ucap Ayuka perlahan.


"AARRGGGHH.....MENJAUHLAH DARIKU."


Teriak Radika dengan tatapan tajamnya. Tubuhnya bergetar hebat, nafasnya naik turun sambil mencengkram dadanya sendiri. Teriakan Yang nyaris saja membuat Ayuka mengeluarkan air matanya, namun ia berusaha untuk menahannya. Ia bahkan sudah berjanji pada dirinya sendiri agar tidak mengeluarkan air mata setetes pun di hadapan Radika.


"Baiklah.. " Jawab Ayuka dengan suara seraknya.


"Tidak usah pedulikan aku, aku akan menjauh agar tidak menyulitkan anda lagi, aku akan melakukan apapun yang anda inginkan, tapi satu hal..... Aku tidak bisa berhenti untuk mencintai anda."


"Tsk.. " Senyum smirk nampak terukir di bibir Radika yang langsung beranjak meninggalkan Ayuka yang masih mematung di ruangan itu seorang diri.


BRAAKK..


Suara pintu yang di banting sangat keras memenuhi ruangan itu, hingga membuat Ayuka tersentak. 


"Teruslah bersikap seperti itu, aku ingin kau terus membenciku, agar saat meninggalkanmu tidak membuatku sakit."


Guman Ayuka sambil menatap pintu kamar Radika yang sudah tertutup rapat. Ayuka melangkahkan kakinya yang ia rasakan sudah tidak memiliki tenaga lagi, dengan sekuat tenaga Ayuka menaiki anak tangga, menuju kamarnya. Menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat, seketika tubuhnya merosot ke bawah, sambil memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana.


Ayuka mulai terisak, lagi dan lagi ia hanya bisa menangis untuk meredam semua rasa sakitnya. Meskipun ia sadar jika air matanya saat ini tidak akan mungkin menghilangkan semua rasa sakitnya, sebab rasa sakit itu tidak akan pernah hilang, seolah sudah mengakar di dalam hatinya.


Sedang di kamar lain nampak Radika yang tengah menelan beberapa pil pemenang untuk menghilangkan rasa sakitnya, dan menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang sambil mengatur nafasnya.


"Apa kau benar-benar akan menjauh? Setelah kau berhasil membuatku sakit karena sudah jatuh cinta padamu, dan kau akan pergi... Bagus.. Pergilah sejauh mungkin.. " Gumam Radika dengan seringaiannya yang terlihat menakutkan.


"Aku hanya ingin menatap wajahmu. aaaggghhhh.. Kenapa ini sangat menyakitkan..." Umpat Radika yang langsung beranjak dari duduknya dan kembali berlari kecil menuju kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya.


Setelah 10 menit berada di dalam kamar mandi, Radika keluar dengan langkah terseok, ia hampir kehabisan nafas dengan tubuh yang gemeteran, hingga akhirnya ia bisa mencapai tempat tidurnya dan kembali menyandarkan tubuhnya yang sudah kehabisan tenaga. Radika kembali mengambil beberapa pil untuk di telannya, tidak peduli dengan tatapan matanya yang mulai kabur dan kepala yang serasah akan pecah, yang ada di dalam pikirannya sekarang hanya ingin agar ia bisa tertidur dan melupakan sakitnya saat ini. Bahkan ia tidak memperdulikan lagi efek obat yang di minumnya lambat laun akan merenggut nyawanya.


"Maafkan aku, kucing kecil.. Apa kau sudah benar benar membenciku sekrang?" Radika terus bergumam, air mata yang keluar dari sudut matanya membasahi wajah pucatnya. Hingga akhirnya obat yang di konsumsinya membuatnya benar-benar Tertidur.


* * * * *


Satu bulan berlalu, sejak pertengkaran Radika dan Ayuka. Suasana rumah mereka jadi benar-benar berbeda sekarang. Ayuka yang lebih memilih menyibukkan dirinya dengan bekerja. Begitupun dengan Radika. Mereka hanya bertemu di saat makan malam, jika Radika pulang tepat waktu dan tidak lembur.


Nyaris Tidak ada komunikasi lagi di antara mereka berdua, Ayuka yang memenuhi keinginan Radika agar menjauh darinya benar-benar ia lakukan. Namun siapa sangka jika hal itu malah membuat Radika merasa tidak nyaman sekarang, sikap ketidak pedulian Ayuka sungguh membuatnya merasa marah, namun ia tidak bisa berbuat apa apa. Bahkan setiap saat Ziyi yang mesti merasakan ketegangan karena suasana yang teramat dingin di rumah itu tidak bisa berbuat apa-apa.


Meski beberapa kali Ziyi harus melihat Ayuka yang tiap malam menyendiri di dalam kamar dengan isak tangisnya, begitu juga dengan Radika yang selalu menghabiskan waktunya di dalam ruang kerjanya, hingga saat keluar ruangan, mata coklat itu sudah terlihat sembap dengan lingkaran hitam di bawah mata.


Satu keadaan yang membuat Ziyi selalu merasa gelisah, dan terus berfikir sampai kapan mereka akan menjalani kehidupan seperti sekarang. Kehidupan yang seperti mati, gelap tidak bercahaya sedikitpun.


"Apa kau akan berangkat sekarang?"


Tanya Ziyi saat melihat Radika yang keluar dari kamar sambil membenarkan dasinya.


"Hem.. Ada pertemuan penting di perusahaan pagi ini." jawab Radika.


"Apa kau tidak akan sarapan dulu?" Tanya Ziyi lagi sbil mengalihkan pandangannya ke arah meja makan, yang di sana sudah tertata rapi berbagai jenis menu.


"Tidak perlu." Tolak Radika.


"Tapi sebelum berangkat kerja istrimu sudah menyiapkan sarapan untuk mu." Ucap Ziyi lagi yang membuat Radika mengernyit.


"Apa? Dia sudah berangkat kerja? Sepagi ini?" Tanya Radika sambil melirik jam tangannya, yang hanya di balas anggukan oleh Ziyi.


"Sepertinya dia juga sibuk, pagi tadi Bian menjemputnya, kata Bian mereka akan melakukan survei lapangan." Jelas Ziyi.


"Bian? Bian? Survei? Di mana?" Tanya Radika antusias.


"Entahlah.. Kata Bian, dalam waktu dekat ini ia akan membuka cabang Restauran yang baru." Lanjut Ziyi menjelaskan.


"Benarkah?"


"Iya.. Maka dari itu, Ayuka yang sebagai Asistennya juga akan sangat sibuk."


"Apa dia tidak punya karyawan lain?"


Tanya Radika dengan ekspresi datarnya.


"Meskipun ada, tapi tetap saja kan, dia harus melakukan survey itu dengan asistennya" Jelas Ziyi.


"Bian pasti akan menjaga Ayuka dengan baik, kamu tidak perlu khawatir" Lanjut ziyi


"Baguslah.. Jika kau tidak mengkhawatirkan istrimu, maka ada Bian yang selalu mengkhawatirkannya, setidaknya Yuka masih merasa jika ada yang memperhatikan dirinya."


Balas Ziyi yang kembali membuat Radika bereaksi, ia bahkan merasa tidak nyaman saat mengetahui jika Bian sedang bersama istrinya sekarang. Namun Radika berusaha mengendalikan perasaannya. Ia sendiri tidak mengerti, perasaan apa yang sedang di rasakannya saat ini, yang jelas ia merasa gelisah.


* * * * *


* KZR GRUP.


"Cansel semua schedule siang ini."


Perintah Radika seraya menutup laptopnya sambil beranjak dari duduknya menuju sofa, menyandarkan tubuhnya di sana sambil memejam.


"Apa ada yang ingin anda lakukan siang ini?" Tanya Arka perlahan.


"Tidak, aku hanya tidak dalam mood yang bagus hari ini." Balas Radika sambil melonggarkan dasinya yang entah sejak kapan dasinya itu membuatnya merasa sesak.


"Arka.. Apa kau pernah bertemu dengan Bian baru-baru ini?" Tanya Radika penuh selidik.


"Tidak Tuan, ada apa?"


"Tidak apa apa, aku hanya lama tidak mengunjunginya."


"Apa anda ingin ke sana?" Tanya Arka lagi.


"Ah tidak."


"Sepertinya dia sangat sibuk akhir-akhir ini."


"Aku tau." jawab Radika singkat.


"??? Nampaknya anda sedang memikirkan sesuatu," Tanya Arka lagi.


"Bukan sesuatu yang serius."


"Benarkah? Tapi saya liat sejak tadi anda nampak gelisah." Lanjut Arka.


"Mungkin penglihatan kamu sedang bermasalah." Balas Radika asal.


"Baiklah, mataku yang salah sekarang."


Batin Arka mengangguk pelan.


"Apa Bian tidak punya karyawan di cafenya?" Tanya Radika secara tiba-tiba.


"Maksud anda?"


"Maksudku, jika dia tidak punya cukup banyak karyawan, aku bisa menyuruh beberapa karyawan di kantor ini untuk membantunya."


"Apa lagi ini, kenapa tiba-tiba jadi membahas masalah karyawan"


Batin Arka yang bahkan sudah merasa was-was terlebih dulu.


"Sepengetahuan saya, karyawan yang bekerja di cafe Bian cukup banyak." Balas Arka.


"Lalu kenapa dia harus bergantung pada asistennya untuk meminta menemaninya kemana-mana?" Tanya Radika yang membuat Arka bingung.


"Apa anda tidak? Apa anda sedang cemburu sekarang? Sepertinya aku harus hati hati dalam berbicara kali ini" Batin Arka yang terus berdoa agar Radika tidak memikirkan ide yang lebih tidak masuk akal lagi.


"Yah itu memang tugas seorang Asisten. Dan bukankah itu hal yang wajar, jika asisten selalu menemani atasannya untuk.... "


"Siapa bilang itu hal yang wajar? Aku bahkan tidak menyuruhmu terus mengikutiku kemanapun." Serga Radika yang langsung memotong kalimat Arka.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak punya pengalaman untuk menenangkan orang yang sedang di kuasai rasa cemburu." Jerit Arka membatin.


"Apalagi sampai memintamu untuk menjemputku di rumah." lanjut Radika dengan nada yang sudah di penuhi emosi.


"Apa yang sudah di lakukan Bian kali ini," Batin Arka.


"Arka.. Kirim beberapa karyawan kita untuk membantunya di cafe." Perintah Radika yang nampak terlihat serius.


"Apa sudah terlambat jika aku minta pensiun sekarang" Batin Arka berfikir.


"Jangan diam saja Arka, lakukan perintahku sekarang," Ucap Radika.


"Tapi Tuan, bukankah hal itu akan menyinggung perasaan Bian?" Balas Arka yang membuat Radika semakin prustasi.


"Aagghhh sial.... "


"Tuan Dika.."


"Hmm.. "


"Sebaiknya anda langsung membicarakan masalah ini kepada Bian, jika anda keberatan bila... "


"Siapa bilang aku keberatan?" Sangkal Radika.


"Anda sendiri Tuan." Jawab Arka membatin.


"Aku tidak keberatan." Ucap Radika tegas.


"Yah.. Anda hanya cemburu" Balas Arka dalam hati.


"Aku hanya tidak suka jika dia seenaknya pada Asistennya." Ucap Radika lagi.


"Astaga.. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan Tuan Muda, ini tidak seperti Anda." Batin Arka memohon.


"Dan kau.. Kenapa hanya diam saja sejak tadi?" Tanya Radika mulai kesal.


"Maaf Tuan.. Bukankah Asisten Bian lebih dekat dengan Anda, bahkan serumah, kenapa Anda tidak langsung membicarakannya secara langsung saja?" Balas Arka mencoba memberikan saran.


"Apa kau mau membuatku malu?" Tanya Radika.


"Sejak tadi Anda sudah mempermalukan diri sendiri Tuan"


"Yang ada aku akan di kira cemburu karena membahas hal yang tidak penting sama sekali." Lanjut Radika yang sungguh membuat Arka prustasi.


"Iya, hal tidak penting sampai sampai bisa membuat Anda naik darah seprti ini". Batin Arka yang hanya bisa membalas perkataan Radika dalam hati.


"Arka.. Lakukan sesuatu, jangan hanya diam saja, aku tidak bisa telepati untuk mengetahui isi kepalamu."


"Atau apa Anda ingin saya membantu Anda untuk membicarakan masalah ini?"


"Itu ide yg bagus." Jawab Radika dengan seringaian di wajahnya.


"Baiklah Tuan, saya akan mencoba untuk membicarakan masalah ini kepada Yuka."


"Dan satu lagi, jangan bilang jika aku yang menyuruhmu melakukan ini."


"Baik Tuan."


"Kita kesana sekarang." Balas Radika yang membuat Arka melongo.


"Sekarang? Bukankah tadi anda menolak untuk ke cafe itu?" Tanya Arka lagi.


"Siapa bilang aku akan ke cafe? Aku mau ke taman, sudah lama aku tidak kesana."


"Baiklah Tuan, saya pikir anda tidak akan menginjakkan kaki kesana lagi."


"Aku berubah pikiran, berhentilah bertanya dan ikut aku."


"Baiklah Tuan."


* * * * *


* TO BE CONTINUED.