I Still Want You

I Still Want You
Over dosis.



Percakapan antara Tuan Kaiden dan Bibi Zhu yang tadinya berjalan dengan sangat baik tiba-tiba berubah. Radika kecil yang malam itu mendengar percakapan mereka langsung menangis histeris.


"Tidaak.. Huuaaa...Dika tidak mau pergi Huuuaa... Dika tidak mau meninggalkan Ibu sendirian di sini Hhuuaaa... " Tangisan Dika semakin keras dan langsung berlari menaiki anak tangga sebelum Tuan Kaiden meraih tubuhnya.


Radika berlari menuju satu ruangan di mana tempat ia selalu melihat bayangan ibunya, dan mengurung dirinya di sana.


"Dika.. "


panggil Tuan Kaiden sambil mengetuk pintu tersebut, namun tidak ada jawaban satupun dari Dika yang masih terus menagisnsambil manggil manggil nama ibunya.


"Dika.. Ayah mohon buka pintunya," Panggil Tuan Kaiden sekali lagi yang masih belum mendapatkan respon dari Dika.


"Ayo bicaralah dengan Ayah Nak, berhentilah menangis." Ucap Tuan Kaiden yang masih terus mengetuk pintu tersebut.


"Dika tidak mau berbicara dengan Ayah, Dika benci Ayah.. Huuuaaaaa.. Dika benci Ayaah.. " Teriak Dika dari dalam, namun sangat terdengar jelas di pendengaran Tuan Kaiden, saat kata benci keluar dari mulut seorang anak sekecil Dika. Hati Tuan Kaiden seraya tersayat saat mendengar ujaran kebencian dari anaknya sendiri.


"Dika.. Maafkan Ayah, bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Tuan Kaiden lagi dengan suara yang kembali bergetar.


"Tidaaaak.. Dika tidak ingin berbicara dengan Ayah, kembalikan Ibu.. Dika mau ibuu Hhuuaaaa... Dika rindu ibuuu... Huuaaa.. " Balas Dika semakin menangis yang membuat Tuan Kaiden tidak bisa berkata apapun lagi.


"Tuan Besar, biarkan Tuan Muda disana dulu sampai hatinya tenang." Ucap Bibi Zhu, yang hanya di balas anggukan oleh Tuan Kaiden, dan membiarkan Radika terus menangis di dalam sana dengan hati yang teriris.


Hingga 15 menit berlalu, suara tangisan Radika sudah mereda, bahkan sudah terdengar hening. Dengan perlahan Tuan Kaiden membuka pintu ruangan tersebut dengan sedikit dobrakan, dan melangkah mendekati Radika yang sudah tertidur pulas di sana.


"Besok penerbangan pukul 5 pagi, sebaiknya persiapkan semua keperluan Dika." Ucap Tuan Kaiden yang langsung melangkah keluar ruangan tersebut sambil membawa Radika di dalam gendongannya.


Sedang Radika yang masih tertidur dengan pulas kini kembali sesegukan, beningan putih tiba-tiba menetea dari sudut matanya yang masih memejam, dengan sesekali bergumam sambil memanggil nama ibunya. Tuan Kaiden yang melihat ekspresi putranya yang sedang mengigau hanya bisa menarik nafas dalam, dengan lembut ia memeluk erat tubuh putranya yang kembali tenang, saat merasakan pelukan hangat menjalar di seluruh tubuhnya.


"Dika sayang, maafkan Ibu, maafkan Ibu yang sudah pergi meninggalkanmu, maaf.. Jaga dirimu baik-baik Nak, Ibu menyayangimu."


"Tidaaak.. Ibuuuuuu..... "


Teriak Radika yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya, dengan keringat yang mulai mengucur deras di tubuhnya bersamaan dengan nafasnya yang tercekik. Ia bahkan melihat darah segar memenuhi ruangan kamarnya, bau anyer yang menyengat, hingga tangisan ibunya yang terdengar pilu memenuhi indra pendengarannya.


"AAARRRRGGGHHH..... "


Teriak Radika sambil menutup kedua telinganya, mencengkram keras rambutnya, tangisannya semakin keras. Dengan tubuh yang bergetar Radika menyeret tubuhnya yang sudah tidak mampu untuk berdiri lagi, ia mengambil semua botol obat yang berisi obat penenang di dalam laci nakasnya dan lansung di telannya.


Nafasnya semakin tercekik, dengan sekuat tenaga ia mencengkram Pinggiran tempat tidur untuk menahan rasa sakit. tangannya berusaha menggapai bayangan ibunya yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya sambil mengulurkan tangannya ke arah Radika, pandangannya berubah gelap, ia merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya hingga membuat nafasnya benar-benar berhenti.


Sedang Arka yang sedang berusaha mencari keberadaan Radika semakin panik, saat ia membuka kamar utama dan tidak menemukan Radika di sana, begitupun dinruang kerjanya juga kamar tamu. Hingga ia memikirkan satu tempat yang kemungkinan besar Radika akan berada disana. Dengan sedikit berlari Arka menaiki anak tangga menuju lantai dua tepat di kamar Ayuka. Dan benar saja, saat Arka mendobrak pintu kamar tersebut, mata Radika membulat sempurna saat melihat tubuh Radika sudah tergeletak di pinggiran ranjang dengan mulut sedikit berbusa.


"Dikaaaa.. Bangun.. Radikaaaa... "


Teriak Arka yang langsung meraih tubuh Radika, mengguncangkan tubuh Radika beberapa kali, namun tidak ada repon sedikitpun dari Radika. Arka yang semakin panik saat merasakan denyut nadi Radika yang nyaris tidak berdetak lagi. Dengan sigap Arka meraih ponselnya dan langsung menghubungi Dokter Rafindra. Bahkan Arka sudah curiga jika Radika kembali mengkonsumsi obat penenang sejak masih di rumah sakit, dan kecurigaan Arka terbukti, saat ia melihat tubuh Radika yang sudah terbujur kaku di sana.


* * * * *


* HOSPITAL.


Mobil ambulance terparkir tepat di depan pintu rumah sakit yang di sana sudah berjejer para perawat dan Dokter Rafindra yang langsung menarik brankar yang di atasnya tergeletak tubuh Radika dengan tabung oksigen yang menempel di hidungnya. Arka mendorong brankar itu dengan perasaan panik dan takut. Pandangannya berkabut dan terus menatap tubuh kaku Radika yang sudah tidak bergeming lagi. Hingga brankar tersebut masuk ke ruang UGD.


"APA YANG TERJADI ARKA?"


Teriak Tuan Kaiden langsung mendekati Arka yang masih berdiri di depan pintu ruang UGD dengan langkah lebarnya. Wajahnya terlihat sangat panik saat melihat reaksi Arka yang hanya terdiam tampa satu katapun yang keluar dari mulutnya.


"ARKA AKU BERTANYA PADAMU." Tanya Tuan Kaiden sekali lagi dengan nada yang sama.


"Tuan muda over dosis obat penenang." Jawab Arka perlahan.


"APAA?" Tanya Tuan Kaiden dengan ekspresi yang terlihat sangat syok.


"Maafkan saya Tuan, saya lalai menjaga Tuan Muda," Jawab Arka membungkuk dengan nada yang terdengar penuh penyesalan.


"SEJAK KAPAN DIA MULAI MENGKONSUMSI OBAT PENENANG? APA YANG SALAH DENGANNYA?" Tanya Tuan Kaiden lagi dengan nada yang masih meninggi


"Ayah tenanglah... "


Ucap Ziyi dalam isakkannya. Sejak tadi wanita itu hanya bisa menangis ketakutan saat melihat tubuh adiknya tergeletak di atas brankar dengan beberapa alat dan selang yang sudah menempel di tubuhnya. Tubuh Ziyi bergetar menahan tangisnya.


"Arka.. "


Panggil Bian yang terengah dengan nafas ngos-ngosan. Dan hanya dengan melihat ekspresi Arka saja, tubuh Bian langsung terasa kaku, dan ia sudah bisa menebak jika saat ini Radika dalam keadaan sekarat sekarang. Bian mendudukkan pantatnya di kursi dengan kepala tertunduk sambil menunggu. Hingga 2 jam berlalu, Dokter Rafindra dengan ekspresi paniknya keluar dari ruang UGD dan langsung menatap tuan Kaiden yang sejak tadi duduk tampa suara sedikitpun.


"Tuan Kaiden, Arka, bisakah kita bicara sebentar di ruangan saya?" Tanya Dokter Rafindra dengan wajah yang nampak terlihat serius.


Sedang Tuan Kaiden hanya bisa mengangguk, ia tau sekarang jika Putranya sekarang dalam kondisi buruk. Sebab Dokter Rafindra tidak pernah seserius ini sebelumnya. Arka mengusap wajahnya kasar, matanya nampak berkaca dengan perasaan yang mulai gelisah. Ia menyeret langkanya mengikuti Dokter Rafindra dan Tuan Kaiden masuk keruangan Dokter Rafindra.


"Anda akan baik-baik saja, aku yakin.. Anda pasti bisa melewati semuanya." Batin Arka yang langsung mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi, begitupula dengan Tuan Kaiden dengan kegelisahan saat Dokter Rafindra mulai menjelaskan kondisi Radika saat ini.


"Maksud Anda?" Tanya Tuan Kaiden dengan ekspresi terkejutnya.


"Selama ini Tuan Muda sudah mengkonsumsi obat penenang jenis Benzodiazepin. Bukan hanya jenis itu, Tuan muda juga mengkonsumsi Obat jenis Antidepresan Trisiklik dan SSRI atau biasa di sebut selective serotonin Reuptake inhibitor. Yang di mana bila berlebihan mengkonsumsi obat-obatan tersebut akan menyebabkan gangguan pada otot dan saraf." Jelas Dokter Rafindra.


"Untuk apa Dika mengkonsumsi obat-obatan seperti itu?" Tanya Tuan Kaiden, "Arka apa kau tau masalah ini?"


"Maafkan atas keteledoran saya Tuan, saya pikir Tuan muda sudah tidak mengkonsumsi obat-obatan itu lagi sejak 10 tahun lalu." Jawab Arka perlahan.


"Apa? jadi Dika sudah sejak lama menkonsumsi obat-obatan itu?" Tanya Tuan Kaiden yang langsung nampak terlihat panik bercampur dengan rasa marah.


"Tenanglah Tuan Besar." Ucap Dokter Rafindra, sedang Arka hanya tertunduk pasrah, ia sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi Tuan Kaiden selanjutnya saat ia mengetahui tentang penyakit yang selama ini di sembunyikan Radika darinya.


"Maaf Tuan, sebelum saya menjelaskan lebih dalam tentang obat-obatan ini dan tujuan Tuan Muda mengkonsumsi obat-obatan ini, saya ingin memberi tahu sesuatu hal yang penting kepada Anda."


"Katakan sekarang juga, sebenarnya apa yang terjadi dengan anak itu," Balas Tuan Kaiden.


"Sejak umur 6 tahun, Tuan muda sudah menderita penyakit PTSD atau poct traumatis stres di solder, akibat gangguan stres pasca traumatis." Ucapan Dokter Rafindra.


"Ap.. Apa???"


"Iya Tuan, dan saya rasa Anda pasti mengetahui penyebab gangguan mental yang Tuan Muda alami saat itu." Lanjut Dokter Rafindra lagi.


Tubuh Tuan Kaiden tiba-tiba menjadi kaku, kejadian 25 tahun yang lalu kembali terlintas dipikirannya, di mana Dika kecilnya menyaksikan kematian ibunya, di mana Dika kecil menagis meneriakkan nama ibunya terus menerus, dan di mana tubuh kecil Dika yang juga berlumuran darah saat terus memeluk tubuh ibunya. Hingga air mata menitik dari sudut mata Tuan Kaiden tampa ia sadari. Rasa marah, kecewa, dan sedih menggerogoti hati dan pikirannya saat ini, dan terlihat ia mengepalkan tangannya dengan sangat keras hingga buku-buku jarinya terlihat memutih.


"Arka, apa kau mengetahui hal ini?" Tanya Tuan Kaiden dengan suara datarnya.


"Maaf Tuan, saya sudah mengetahuinya sejak awal." Jawab Arka perlahan.


"Sejak awal? Apa Ziyi..... " Tanya Tuan Kaiden lagi.


"Iya Tuan.. "


"ARRRGGGHHH... APA YANG SUDAH KALIAN BERDUA PIKIRKAN?" Teriak Tuan Kaiden dengan amarahnya, yang reflek mencengkram kerah baju Arka dengan sangat keras.


"Maaf.. " Ucap Arka menunduk.


"Sudah selama itu, dan kalian menyembunyikan itu semua dariku? KENAPA?" Teriak Tuan Kaiden mendorong tubuh Arka hingga sedikit terhuyung kebelakang.


"Tuan Kaiden.. Tenangkan diri Anda, mereka punya alasan untuk melakukan itu." Balas Dokter Rafindra.


"Apa? Apa yang membuat kalian menyembunyikan semuanya? KATAKAN ARKA." Tanya Tuan Kaiden dengan nada yang kembali meninggi.


"Maaf, Tuan muda Radika sendirilah yang tidak ingin Anda mengetahui penyakitnya, begitupun dengan Nona Ziyi yang tidak ingin Anda merasa khawatir seperti sekarang ini." Jawab Arka mencoba memberi penjelasan kepada Tuan Kaiden.


"ARRRGGGHHH.. ANAK BODOH ITU." TeriaknTuan Kaiden yang terlihat nampak prustasi.


"Tuan maafkan saya." Ucap Arka kembali menundukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana anak saya sekarang? Bagaimana kondisinya saat ini?" Tanya Tuan Kaiden dengan suara yang perlahan merendah.


"Tuan muda mengalami koma,  dan...."


"Dan...??"


"Dan kemungkinan Tuan Muda untuk sadar hanya 20 persen. Sebab Tuan muda mengalami koma permanen." Jelas Dokter Rafindra.


"Apaa??" Tuan Kaiden dan Arka membelalak secara bersamaan. Dan sangat terlihat dengan jelas jika saat ini Arka sedang berusaha mengatur nafasnya yang serasa tercekik.


"Jantung Tuan Muda sudah tidak berfungsi dengan baik lagi, dia mengalami penurunan kesadaran, bahkan otaknya tidak merespon apapun saat ini, hingga membuat Tuan muda koma." Ucap Dokter Rafindra kembali menjelaskan.


"Arka, bukankah kau selalu berada di samping Dika selama ini? Bagaimana bisa kau tidak mengetahui jika dia tengah mengkonsumsi obat-obatan itu?" Tanya Tuan Kaiden dengan nada rendah namun terdengar sangat menakutkan.


"Maafkan saya Tuan." Jawab Arka yang tidak bisa lagi berkata apapun selain kata maaf.


"Bukankah ada obat untuk penyakitnya? Lalu kenapa Dika mesti mengkonsumsi obat penenang lainnya?" Tanya Tuan Kaiden lagi.


"Karena Tuan Muda juga menderita philophobia." Jawab Arka yang lagi-lagi membuat Tuan Kaiden terhenyak.


"APA?"


"Iya Tuan, itulah alasan Tuan Muda selama ini selalu menolak ide Anda untuk menikahkannya dengan siapapun." Jelas Arka.


"DAN KALIAN JUGA MENYEMBUNYIKAN HAL ITU DARIKU?"


"Maaf kan saya Tuan." Ucap Arka tertunduk pasrah. Sedang Tuan Kaiden beranjak dari duduknya, mengusap wajahnya kasar sambil berkacak pinggang, berusaha menenangkan amarahnya yang sepertinya akan meledak.


"Urus semua dokumen dan segala keperluan Dika, saya akan membawanya ke Belanda sekarang juga." Ucap Tuan Kaiden yang masih berdiri sambil mondar mandir di ruangan Dokter Rafindra.


Sementara Dokter Rafindra dan Arka hanya saling pandang dengan ekspresi terkejut mereka, terlebih lagi Arka yang terlihat benar-benar syok saat mendengar perintah Tuan Kaiden


"Apa harus dikirim ke Belanda Tuan Kaiden?" Tanya Dokter Rafindra perlahan.


"Apa Dokter Rafi pikir anak saya akan baik-baik saja sekarang? Dia sedang sekarat, dia Koma, dan kita tidak pernah tau kapan dia akan bangun lagi, aku ingin dia di tangani Dengan baik di sana." Jawab Tuan Kaiden.


"Tapi Tuan Kaiden," Selamat Dokter Rafindra.


"AKU INGIN DIKA HIDUP, DIA TIDAK BOLEH MATI DENGAN CARA SEPERTI ITU, AKU INGIN DIA BISA BANGUN LAGI."


Teriak Tuan Kaiden dengan mata yang mulai berkaca, tubuh kekar itu terlihat bergetar menahan air matanya.


"Dokter Rafi, urus semua secepat mungkin, dan menantu saya, saya ingin Dokter Rafi yang menanganinya secara langsung, jika dalam satu minggu dia belum sadarkan diri, urus dokumen dan kirim ke Belanda." Ucap Tuan Kaiden tegas yang hanya di balas anggukkan oleh Dokter Rafindra sambil menatap punggung Tuan Kaiden yang tengah berjalan keluar ruangan tinggal bayangan Tuan Kaiden menghilang dari balik pintu.


"Arka.. "


"Saya mengerti Dokter Rafi, lakukanlah sesuai dengan perintah Tuan Kaiden." Balas Arka lagi.


Sedang di luar ruangan tepat depan kamar UGD, nampak Bian yang tengah melangkah perlahan menghampiri dan menyentuh bahu Ziyi yang sejak tadi hanya bisa terisak.


"Dia akan Baik-baik saja." Ucap Bian sesaat berusaha menenangkan dan merendahkan tangis Ziyi.


"Bian.. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Yuka masih terbaring koma di sana, dan sekarang Dika yang sekarat." Balas Ziyi terisak, seraya menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya. Bahkan tidak pernah terbayangkan olehnya, jika ia akan menyaksikan kedua orang yang sangat di sayanginya secara bersamaan sedang terbaring lemah dan tengah berjuang untuk hidup.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.