
Ayuka melangkahkan kakinya perlahan menaiki anak tangga, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya sejak ia meninggalkan kediaman suaminya. Seolah diam adalah hal yang paling benar yang ia lakukan saat ini. Dipikirannya masih terekam jelas bagaimana saat ia melihat suaminya yang kesakitan karena merasa ketakutan dengan air mata yang terus mengalir juga nafas yang sesak dan sewaktu-waktu bisa saja berhenti. Hati Ayuka semakin sakit karena hingga saat ini ia masih bisa merasakan tubuh bergetar suaminya saat ia memeluknya, tubuh yang terasa dingin karena di penuhi oleh keringat. Air mata Ayuka kembali menitik, ia tidak bisa membayangkan sesakit apa yang di rasakan suaminya saat itu.
"Yuka.. "
Suara Arka seolah tidak sampai di pendengaran Ayuka, meskipun sekarang Arka sedang duduk di sampingnya yang sejak dua jam lalu terdiam dengan air mata yang terus menitik tampa isakan, dengan tatapan kosongnya. Sampai akhirnya Ayuka tersadar dari lamunannya saat di rasakannya Arka tengah mengusap surai panjangnya yang nampaknya belum terkena sisir sejak hari itu, dan kembali mengusap air mata yang seolah tidak ada habisnya dari pelupuk mata Ayuka. Dan menyaksikan semua itu sungguh membuat hati Arka semakin teriris saat melihat keadaan adiknya saat ini yang bahkan sudah seharian tidak menyentuh makanan sedikitpun. Arka meraih tangan Ayuka yang masih terluka, mengolesinya dengan salep dan membungkusnya dengan perban.
"Kak,"
"Iya.. Apa kau lapar?" Tanya Arka perlahan.
"Tidak," Jawab Ayuka dengan gelengan.
"Tapi kau belum makan sejak semalam."
"Aku.. Merindukannya," Balas Ayuka bergumam lirih.
"Apa kau ingin pulang ke sana?"
"Tidak,"
"Ada apa? Bukankah kau merindukannya?" Tanya Arka lagi.
"Aku.... Takut.. Takut membuatnya merasakan sakit lagi, tapi... "
Arka meraih tubuh Ayuka untuk di dekapnya. Butiran bening begitu saja keluar dari sudut mata Arka, entah kata apa lagi yang harus ia ucapkan untuk membuat Ayuka mengerti jika dia sangat tersiksa dan sakit dengan keadaan Ayuka saat ini. Untuk pertama kalinya Arka tidak bisa berkata kata lagi, yang berada di dalam kepalanya saat ini hanya ingin memeluk tubuh ringkih adiknya, ingin melindunginya dan membawanya sejauh mungkin dari sini.
"Apa kita harus pergi dari sini?" Tanya Arka perlahan, untuk berberapa detik tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Ayuka, ia masih terdiam dengan tatapan kosongnya. Seolah tidak merespon pertanyaan kakaknya. Sebenarnya berat baginya untuk meninggalkan Radika, namun hatinya terlalu takut untuk membuat pria yang sangat di sayanginya itu menderita lagi. Arka kembali meremat jarinya yang sudah terbungkus oleh perban sambil tertunduk seolah ia bisa mendapatkan jawaban di bawah sana. jawaban yang setidaknya bisa menenangkan hatinya untuk saat ini.
"Yuka.. Jika kau sudah merasa lelah untuk melangkah, kakak akan membantumu untuk melangkah, agar kau tidak terjatuh, kau tinggal mengatakannya kepada kakak." Ucap Arka perlahan.
"Apa.. Kita akan pergi jauh?" Tanya Ayuka perlahan sembari menatap wajah Arka, seolah sedang meminta Arka untuk membantunya berjalan, sebab ia sendiri merasa jika sudah tidak sanggup untuk melangkah seorang diri lagi.
"Iya.. Kita akan pergi." Jawab Arka mengangguk pelan.
"Ketempat yang jauh?"
"Iya, sangat jauh, sampai orang-orang tidak bisa menemukan kita lagi" jawab Arka mengusap wajah Ayuka lembut.
"Aku ingin secepatnya pergi ketempat itu."
"Iyaa sayang.. Secepatnya, kita akan pergi." Balas Arka kembali memeluk tubuh adiknya, mengusap rambutnya lembut hingga 10 menit berlalu, ia baru menyadari jika adiknya sudah terlelap dalam pelukkannya, setelah semalaman ia melihat Ayuka yang hanya terus duduk terdiam dan tidak tidur sedikitpun. Perlahan Arka menggendong tubuh adiknya, merebahkan dan menyelimutinya, sebelum akhirnya ia meninggalkan kamar tersebut.
Arka terdiam di sofa ruang tengah dengan pikiran rumitnya, memikirkan keputusan yang akan ia ambil saat ini, keputusan yang sangat sulit. Sebab tidak akan semudah itu ia melepas dan meninggalkan KZR Grup yang selama ini sudah sangat membantunya. Apalagi meninggalkan Presdirnya yang saat ini sangat membutuhkan dirinya.
Arka menarik nafas dalam, menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran sofa sambil memejam, memijat tengkuk lehernya yang mulai di rasakan menegang. sampai akhirnya suara ketukan pintu membuyarkan Lamunannya, dan belum sempat Arka beranjak dari duduknya, sosok Bian sudah berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan mata yang dipenuhi banyak pertanyaan. Arka juga dapat melihat kesedihan dan rasa menyesal di dalam sana. Arka menarik kedua sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyum kecil untuk menyambut kedatangan Bian.
"Kau datang.. Duduklah"
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Bian tampa berbasa basi lagi.
"................ "
"Arka, bagaimana keadaan Yuka?" Tanya Bian sekali lagi dengan mata yang sudah terlihat berkaca, Sedang Arka yang hanya bisa menarik nafas dalam, kembali membuat Bian merasa cemas, sebab ekspresi Arka saat ini sudah jelas menunjukkan jika kondisi Ayuka saat ini sedang tidak baik.
"Maafkan aku, ini semua salahku, andai saja saat itu aku tidak... " Kalimat Bian terhenti, ia mengusap wajahnya kasar, wajahnya nampak memerah menahan butiran bening yang sudah bertengger di sudut matanya.
"Tapi aku berterimakasih, setidaknya Yuka memilihmu untuk menceritakan semua beban yang di tanggunya, setidaknya dia tidak benar-benar sendiri." Balas Arka.
"Arka.. Apa aku boleh melihatnya?" Tanya Bian dengan wajah yang penuh dengan permohonan.
"Dia sedang tidur sekarang, dia akan baik baik saja, kau tidak perlu khawatir."
"Tapi aku tidak bisa jika tidak mengkhawatirkan Yuka, lalu bagaimana keadaan Dika?"
"Seharusnya dia yang harus kita pikirkan sekarang, sepertinya tuan Dika kembali mengkonsumsi obat-obatan itu, aku khawatir, sebab akhir akhir ini penyakitnya sering kambuh, dan aku tidak mengetahuinya, aku rasa dia sengaja menyembunyikannya." Balas Arka yang saat ini terlihat sangat kebingungan.
"Aarrggg... "
Bian kembali mengusap wajahnya, ia bahkan tidak bisa berkata kata lagi sekarang, ia tidak tau harus marah kepada siapa saat ini, ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang sudah terjadi saat ini. Andai saja saat itu ia bisa menahan dirinya untuk tidak menemui Ayuka, atau andai saja ia tidak mengikuti perasaannya yang ingin menenangkan perasaan Ayuka pada saat itu, mungkin masalah ini tidak akan pernah ada. Bahkan ia sampai berfikir, andai saja saat itu ia hanya diam saja di tempatnya. Segala macam penyesalan kini menghantui pikiran Bian.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Bian lagi dan mengalihkan pandangannya ke arah Arka yang masih betah dengan keterdiamannya.
"Arka.. "
"Aku akan membawa Yuka jauh dari sini." jawab Arka yang sontak membuat Bian terbeliak kaget dengan mata yang membulat sempurna.
"Ap... Apa?"
"Yuka yang menginginkannya." Balas Arka.
"Ta.. Tapi.. Bagaimana dengan Dika?" Tanya Bian yang kembali membuat Arka kembali terdiam, terlalu banyak yang mengganggu pikirannya saat ini, ia juga tidak mungkin mengabaikan Radika yang sudah menjadi prioritas utamanya sejak dulu, namun ia juga tidak ingin terus menerus melihat penderitaan Ayuka yang juga sangat di sayanginya. Dan pasti orang yang pertama tidak akan membiarkan ia pergi adalah Tuan Kaiden. Sosok yang sudah sangat banyak membantunya hingga membuatnya merasa banyak berutang budi.
"Arka, apa tidak ada cara lain? Selain membawanya pergi dari sini?" Tanya Bian yang sepertinya kurang menyetujui ide Arka tersebut.
"Memang apalagi yang harus kita lakukan? Sudah tidak ada jalan lagi." Jawab Arka dengan nada suara yang terdengar sangat putus asa. Bahkan saat ini Arka nampak terlihat tidak seperti dirinya yang biasa, dirinya yang keseharian selalu merasa percaya diri dengan apapun yang ia kerjakan dan putuskan kini sudah tidak ada lagi, bahkan kali ini, Arka malah terlihat seperti seorang sosok yang tengah berdiri di jalan buntu, dan tidak tau harus melangkah ke arah mana.
"Kau tau sendiri, tidak akan semudah itu, apa kau akan benar-benar meninggalkan Dika?" Tanya Bian yang Lagi-lagi hanya bisa membuat Arka terdiam. sebab ia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu, ia hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Apalagi saat notifikasi masuk di ponselnya. Matanya nampak melebar saat membaca notifikasi dari Ziyi
"Ayah sedang di rumah dengan keadaan marah"
Isi notifikasi dari Ziyi yang membuat Arka langsung bergegas, beranjak dari duduknya, dan meraih hoodie yang tersampir di sandaran sofa untuk di pakainya.
"Bian, bisakah kau menjaga Yuka sebentar? aku akan ke rumah Tuan Dika sekarang." Tanya Arka yang kini terlihat nampak panik.
"Ta.. Tapi ada apa?"
Arka tidak mendapat jawaban apapun dari Bian, sebab Arka sudah berlalu pergi meninggalkannya dan dalam hitungan detik bayangannya sudah menghilang dari balik pintu.
Arka menginjak pedal gas lebih dalam, hingga mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi, menembus jalan raya kota X yang sore itu terlihat mendung.
* PANTHOUSE RADIKA.
* Dua jam sebelumnya.
"Dika.. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ziyi perlahan sambil mengusap dahi adiknya yang nampak berkeringat.
"Aku Baik baik saja." Balas Radika yang masih merebahkan tubuhnya di sandaran tempat tidurnya, perlahan ia mengedarkan pandangannya, seolah sedang mencari sesuatu, sebelum akhirnya ia kembali menatap Ziyi yang masih duduk di pinggir tempat tidurnya dengan wajah lelah dan mata yang keliatan sembab, sebab sudah hampir 24 jam ia menemani tidur panjang Radika yang akhirnya terbangun.
"Kemana dia? Bagaimana keadaannya?" Tanya Radika perlahan, saat ia tidak melihat sosok Ayuka disana.
"Dika... Mungkin dia Baik-baik saja sekarang." Jawab Ziyi perlahan yang membuat Radika tiba-tiba merasa gelisah.
".............. "
"Kemana dia?" Tanya Radika yang langsung menghempaskan selimutnya dan beringsut turun dari tempat tidurnya Dengan berlari kecil Radika menaiki anak tangga dan membuka pintu kamar tidur istrinya yang sudah kosong dan masih terlihat berantakan. Kembali Radika mengedarkan pandangannya sambil memeriksa kamar mandi, juga ruang ganti yang akhirnya membuat Radika kecewa, sebab ia tidak menemukan sosok yang ia cari di sana. Hingga netranya menangkap sesuatu yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya.
Dengan tangan sedikit bergetar Radika meraih kertas yang nampaknya sudah lama tergeletak di sana. Mata coklatnya nampak berkaca hingga butiran bening lolos keluar dari pelupuk matanya saat membaca kata demi kata yang tertulis rapi di sana, tulisan tangan yang indah meski sedikit buram akibat air mata yang sudah mengering di kertas itu. Bahkan Radika bisa menebaknya jika saat menulis kalimat tersebut, istrinya sedang dalam keadaan menangis.
"Untuk pria kesayanganku, pria yang amat aku cintai, maafkan aku, aku tidak bisa mengikuti langkahmu sampai akhir,
maaf.. Aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk terus bersamamu.
Aku membenci diriku yang dengan mudahnya menyerah, aku terlalu lelah dan tidak bisa melangkah lebih jauh lagi denganmu.
Maaf.. Meskipun kau sangat membenci kata itu, tetapi aku akan mengucapkannya, sebab hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menebus segala kesalahanku kepadamu.
Berbahagialah pria kesayanganku, pria yang akan selalu aku rindukan dan selalu ada di dalam hatiku.
"Aku mencintaimu."
Kucing kecilmu.
Seolah tidak memiliki tenaga lagi untuk berdiri, tubuh Radika merosot kebawah, bersimpuh dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
"ARRRGGGHHH.... "
Teriakan Radika memenuhi kamar tidur tersebut. Ia hanya terus tertunduk memeluk kedua lututnya yang menempel di dadanya.
"Kenapa.... Kenapa... Kau juga.. akhirnya kau juga meninggalkanku.. Kenapa.... "
Gumam kecil Radika di sela-sela isakkannya.
"Dika... Sayang, ada apa.. "
Tanya Ziyi yang tiba-tiba muncul dari pintu kamar dan langsung meraih tubuh adiknya yang terus terisak untuk di peluknya, berusaha menenangkannya.
"Dia.. Dia.. Pergi? Dia pergi kak... " Jawab Radika terbata dengan air mata yang terus menitik dari sudut matanya.
"Dika tenanglah, dia pasti akan kembali." Balas Ziyi perlahan sambil menepuk pelan pundak Radika yang masih terisak di dalam pelukannya. Sungguh ini adalah kali pertama Ziyi kembali melihat Radika menagis sejak Ibu mereka meninggal. Dan keterpurukan Radika saat ini benar-benar membuat Ziyi khawatir dan ikut merasakan rasa sakit seperti apa yang di rasakan Radika saat ini.
"Dia pasti akan kembali," Ucap Ziyi lembut dan terus meyakinkan Radika.
"Tapi dia pergi sekarang.. dia pergi."
"SIAPA YANG PERGI?"
Suara bariton yang terdengar lantang tiba-tiba mengejutkan keduanya. Ziyi terhenyak saat melihat Tuan Kaiden dengan tatapan marahnya menatap tajam ke arah Radika yang masih tertunduk.
"A.. Ayah.. " Gumam Ziyi terbata.
"Apa yang telah kau lakukan dengan menantu Ayah?"
"Ayah... Tenanglah.. Dika sedang... "
"ANAK KURANG NGAJAR."
Teriak Tuan Kaiden menyela perkataan Ziyi, dan dengan cepat menghampiri Radika, meraih kerah baju anaknya, memaksanya untuk berdiri dan langsung mendaratkan satu pukulan keras ke wajah pucat itu, hingga membuat tubuh Radika tersungkur ke lantai.
"Ayaah.. Hentikan Ayah... Ziyi mohon."
Seru Ziyi memegang erat tangan ayahnya yang sudah melayang ke atas untuk kembali menampar wajah Radika yang masih terdiam sambil mengusap darah dari sudut bibirnya yang terluka.
"Ayah tidak mau tau, dalam waktu 24 jam Istrimu sudah harus berada di rumah ini."
Ucap Tuan Kaiden mempertegas ucapannya. Sedang Radika yang sejak tadi terdiam menahan rasa perih di wajahnya hanya bisa mendongak ke atas menatap wajah murka sang Ayah, Bahkan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.
"Ayah tenanglah.. Ziyi mohon.. Dika sedang sakit." Pinta Ziyi dengan wajah yang sudah memerah menahan tangis.
"Dia sakit karena ulahnya sendiri, anak kurang ngajar. Apa yang kau inginkan sebenarnya?" Tanya Tuan Kaiden yang sudah di penuhi oleh rasa amarah.
"Ayah... "
"Apa kau senang sekarang? Apa kau pikir ibumu akan bahagia di sana jika melihat sikapmu seperti itu?"
"JANGAN MENYEBUT NAMA IBU." Teriak Radika seketika.
"kau bisa berteriak dengan keras sekarang setelah apa yang sudah kau lakukan? ada apa? Biar ibumu tau bagaimana kelakuan anaknya sekarang." Balas Tuan Kaiden semakin murka dengan wajah gelap.
"Ayah.. Dikaa.. Hentikan, Ziyi mohon." Seru Ziyi dengan mata yang sudah di penuhi air mata.
"INI SEMUA SALAH AYAH.." Balas Radika dengan nada meninggi.
"SALAH AYAH? KAU SEKARANG MENYALAHKAN AYAH ATAS SEMUA YANG SUDAH KAU LAKUKAN? AYAH HANYA TIDAK INGIN KAMU MENGULANGI KESALAHAN YANG SAMA." Balas Tuan Kaiden kembali melepaskan satu pukulan ke wajah Radika yang kembali terhuyung ke belakang, Radika terbungkam dengan perasaan sedih yang teramat dalam.
"Ayah... Dikaa... Berhenti." Seruh Ziyi yang sudah terdengar putus asa.
"Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau pikir selama ini Ayah tidak mengetahui semuanya?" Balas Tuan Kaiden yang benar-benar sudah di penuhi amarah membuat Ziyi merasa takut, sebab ini kali pertama ia melihat Ayahnya semarah ini, bahkan sampai memukuli Radika yang selama ini tidak pernah tersentuh tangan oleh Tuan Kaiden. Ziyi meraih handphonenya, dengan cepat ia mengirim pesan, dan kembali menghampiri Radika yang masih terdiam seolah pasrah dan menerima kemarahan sang Ayah saat ini.
"Dengar baik-baik, jika kau tidak bisa membawa istrimu kembali ke rumah ini, sekarang juga Ayah akan mengirimmu ke Belanda."
"Aku tidak peduli"
Balas Radika dengan suara pelan namun terdengar jelas di pendengaran sangat Ayah.
"Apa?"
"Lakukan saja apa yang Ayah inginkan, kirim aku kemanapun yang Ayah inginkan, aku sudah tidak peduli lagi."
Balas Radika dengan suara datarnya. Sambil menatap sang Ayah dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Lagi pula sudah tidak ada lagi yang tersisa dari hidupku, semua sudah pergi, dan semua karena Ayah dan keegoisan Ayah." Lanjut Radika lagi.
"DASAR ANAK KURANG NGAJAR."
Teriak Tuan Kaiden kembali meraih tubuh Radika, namun sebelum pukulan itu kembali mendarat di wajah yang sudah terdapat luka lebam, tiba-tiba tangan itu tertahan. Dan nampak Arka yang tengah bersimpuh di hadapan Tuan Kaiden yang terlihat terkejut.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.