
"Apa kau sudah mengurus semuanya Ken?" Tanya Tuan Kaiden sambil meletakkan ponselnya.
"Iya Tuan, penerbangan pukul 21:10 malam ini, dan Dokter Michael sudah menunggu kedatangan Anda di sana." Jawab Ken.
"Baiklah."
"Selamat malam Tuan Kaiden." Sapa Arka yang baru saja datang, dan langsung membukuk memberi hormat.
"Kau datang, silahkan duduk." Jawab Tuan Kaiden yang langsung mengarahkan Arka dan mempersilahkan untuk duduk di sampingnya.
"Terima kasih Tuan."
"Ken, kau boleh pergi." Perintah Tuan Kaiden.
"Baik Tuan."
Jawab ken mengangguk dan langsung berjalan meninggalkan Tuan Kaiden dan Arka yang sepertinya akan membahas suatu masalah serius.
"Arka, Ken sudah menemukan siapa pelaku yang mengendarai mobil sore itu." Ucap Tuan Kaiden membuka pembicaraan, dan tentu saja, ucapan dari Tuan Kaiden langsung membuat ekspresi Arka jadi berubah.
"Maksud Tuan? Apa kecelakaan yang di alami Yuka ada unsur kesengajaan?" Tanya Arka was-was.
"Iya, dan pelaku tabrak lari itu orang yang sama, yang pernah membuat Dika hampir mengalami kecelakaan dulu." Jawab Tuan Kaiden yang yang membuat wajah Arka berubah gelap.
"Jadi, orang itu.. "
"Yah.. masih memiliki dendam yang sama, dan otak di balik itu semua adalah orang yang sama," Balas Tuan Kaiden yang benar-benar membuat Arka geram, meskipun ia tidak serta merta menunjukkan kemarahannya, namun sangat terlihat jelas dari tatapan matanArka, juga kedua tangannya yang mengepal sempurna dengan buku-buku jari yang terlihat memutih.
"Tapi kau tidak perlu khawatir, Ken bisa mengurus semuanya. untuk sementara orang tersebut sudah mendekam di jeruji, meskipun ia masih belum mau mengatakan siapa dalang di balik semua itu." Lanjut Tuan Kaiden.
"Tapi Tuan, saya tidak bisa tenang jika orang tersebut masih berkeliaran di sekitar sini." Jawab Arka.
"Iya saya mengerti, saya hanya mengkhawatirkan mu Arka, sebab kau juga adalah target mereka, tapi Saya janji, akan membereskan semuanya secepat mungkin." Balas Tuan Kaiden lagi.
"Baik Tuan," Jawab Arka perlahan.
"Arka.. saya minta kau jangan melakukan apapun, apalagi melakukannya sendirian. saya tau kau pasti merasa marah saat ini, tapi saya mohon, jangan ada lagi yang terluka." Ucap Tuan Kaiden yang menyadari jika saat ini Arka sedang sangat marah, dan ucapan itu sontak membuat Arka terhenyak, Baru kali ini ia mendengar kata memohon dari sang Kaiden Zaferino.
"Baik Tuan, saya tidak akan melakukan sesuatu." Jawab Arka.
"Arka, bukannya saya melarangmu untuk melakukan apapun, akan tetapi ada hal yang lebih penting yang saya ingin kau lakukan." Lanjut Tuan Kaiden lagi.
"Iya, saya mengerti Tuan, Apa yang harus saya lakukan?" Tanya Arka.
"Arka, malam ini Ziyi dan saya akan berangkat ke Belanda, kau tau kan?"
"Iya Tuan."
"Saya percayakan KZR Grup padamu, selama Dika melakukan pengobatan di Belanda saya ingin kau mengurus semuanya."
"Baik Tuan, saya mengerti."
"Dan satu lagi, jika dalam waktu satu minggu kondisi Yuka masih juga belum membaik, atau belum sadar, saya ingin kau mengirimnya ke Belanda."
"Iya Tuan."
"saya dengar tiga hari lalu Yuka sempat memberi respon, apa benar begitu?"
"Benar Tuan.. Tapi... "
"Ada apa?" Tanya Tuan Kaiden menunggu Arka untuk meneruskan kalimatnya.
"Yuka hanya akan merespon jika Tuan Muda berada di sampingnya, dan saat mendengarkan suara dari Tuan muda."
Lanjut Arka yang membuat Tuan Kaiden menarik nafas panjang, memijat pangkal hidungnya, merasakan beban yang seolah membuat kepalanya hampir meledak.
"Apa dia akan baik-baik saja jika Dika tidak di sampingnya?" Tanya Tuan Kaiden merasa ragu.
"Saya tidak yakin akan hal itu Tuan." Jawab Arka menundukkan kepalanya.
"Baiklah.. Kita liat perkembangannya dalam minggu ini." Lanjut Tuan Kaiden.
"Baik Tuan."
"Arka.. "
"Iya Tuan Kaiden."
"Apa kau baik-baik saja?"
"Maaf Tuan, mungkin saya berbohong jika mengatakan baik-baik saja, tapi saya tidak apa-apa Tuan."
Jawab Arka perlahan, terdengar jelas ada nada kesedihan di setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, bahkan saat ia mengatakan jika ia tidak apa-apa sangat jelas terlihat jika mata Arka mulai memerah. Sebab kenyataannya ia sungguh dalam keadaan tidak baik. Sebenarnya saat ini ia sangat ingin berteriak sekeras mungkin untuk mengeluarkan beban di hatinya yang seolah membuatnya sulit untuk bernafas.
"Saya tau kau dalam keadaan tidak baik Arka, tapi percayalah, semua akan baik baik saja." Balas Tuan Kaiden berusaha untuk menenangkan hati perasaan Arka.
"Iya Tuan."
"Hem.. Kau bisa kembali kerumah sakit sekarang." Lanjut Tuan Kaiden, yang langsung di balas anggukan pelan oleh Arka.
"Baik Tuan, saya permisi."
Jawab Arka beranjak dari duduknya dan langsung berjalan keluar meninggalkan Tuan Kaiden yang masih terdiam. Ia kembali menatap bingkai foto istrinya, kali ini tatapan Tuan Kaiden terlihat nanar, matanya kembali berkaca saat mengingat kejadian silam. Di mana saat ia terbangun dari tidurnya dan membuka matanya, ia langsung mendapati sosok asing yang sedang memeluk tubuhnya erat, dan yang lebih mengejutkankan lagi, wanita yang bukan istrinya itu tidak menggunakan pakain sehelai pun, tubuh polos itu menyatu dengan tubuh Tuan Kaiden yang juga dalam keadaan polos.
* FLASHBACK (24 tahun lalu)
Kaiden Zaferino terbangun dari tidurnya saat ia merasakan tubuhnya terasa sesak dan sulit untuk bergerak, perlahan Kaiden membuka matanya yang masih terasa berat sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit, dengan sedikit meringis memijit tengkuk lehernya, hingga ia merasakan tiba-tiba ada satu pergerakan di belakang punggungnya. Untuk sesaat Kaiden terdiam, menurunkan pandangannya kebawah pinggangnya dan dengan mata yang melebar Kaiden mendapati sebuah tangan yang sedang memeluk pinggangnya dengan sangat erat.
"Tangan?? Tangan siapa ini?? Tidak.. Ini bukan tangan milik Adena, tidak.. Lalu.. Ini... "
Batin Kaiden dengan perasaan panik, dengan perlahan ia membalikkan tubuhnya dan benar saja, Kaiden mendapati sekretarisnya yang masih terlelap dengan keadaan polos tampa busana sedang memeluk tubuhnya.
"AP...APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU?"
Teriak Kaiden panik, yang sontak membuat sosok di sampingnya yang masih tertidur dengan sangat pulas itu tersentak kaget, dan langsung terbangun.
"Tu... tuan Kaiden.. Ada apa? Ini.... Apa yang terjadi?" Jawab sekretarisnya itu panik saat mendapati dirinya yang masih dalam keadaan tampa busana sedikitpun, dan hanya ada satu selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua.
Wanita itu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, air matanya mengalir begitu saja saat ia melihat kemarahan Presdirnya.
"Ma.. Maafkan saya Tuan, saya juga tidak tau bagaimana saya bisa berada di dalam kamar anda, sungguh saya tidak tau," Ucap Narha terbata dengan air mata yang masih menetes dari sudut matanya.
"Apa? Lalu? Kenapa kau bisa berada di dalam kamarku sekarang?" Tanya Kaiden mengernyit bingung dengan nada yang masih meninggi.
"Sumpah Tuan.. Saya tidak tau, yang saya ingat semalam kita hanya makan malam bersama Tuan Chris dan yang lainnya, selebihnya saya tidak ingat lagi." Jawab Narha saat kembali mencoba mengingat sisa ingatannya semalam.
"ARRRGGGHHH... " teriak Kaiden mengusap kasar wajahnya.
"Kita... Apa kita melakukannya?" Tanya Kaiden yang mulai panik, sedang Narha hanya bisa tertunduk dan menangis.
"ARRRGGGHHH... SIAL.. SIAL... " Teriak Kaiden yang beranjak dari tempat tidur dan langsung melangkah menuju kamar mandi. Sedang Narha masih terisak membenamkan wajahnya di atas lututnya yang menempel di dadanya.
"Apa yang kau lakukan padaku Chris, apa yang sudah kau lakukan padaku,"
Gumam Narha yang masih terisak, hingga 15 menit berlalu Kaiden keluar dari kamar mandi, dan mulai memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Apa kau akan terus berada di sana?" Tanya Kaiden sambil berkacak pinggang saat melihat sekretarisnya yang masih di atas tempat tidurnya.
"Apa kau tidak merasa aneh? Semalam kita hanya makan malam biasa, menikmati wine, dan berakhir kau di kamar hotelku dengan keadaan bugil, apa kau tidak merasa aneh?" Tanya Kaiden yang merasa aneh dengan kejadian saat ini. Di mana ia harus berakhir di dalam kamarnya dengan sekretarisnya sendiri dengan keadaan yang tidak wajar. Hatinya bahkan ingin menjerit saat bayangan Adena dan kedua anaknya Ziyi dan Radika terlintas di pikirannya, yang membuatnya hampir gila saat ini.
"Sepertinya kita telah di jebak." Ucap Narha dengan suaranya yang masih bergetar.
"Di jebak?"
"Iya Tuan.. "
"Siapa yang berani melakukan hal kotor seperti itu?" Tanya Kaiden yang seolah lupa dengan keadaan di sekitarnya yang di penuhi orang-orang munafik dan ingin menjatuhkan bahkan menghancurkannya.
"Baiklah kita urus ini nanti, sekarang kau boleh pergi, aku tidak ingin ada orang lain yang melihatmu keluar dari kamarku." Lanjut Kaiden.
"Baiklah.." Balas Narha mengangguk pelan sambil mengusap air matanya.
"Narha.. Kita tidak sampai melakukannya kan?" Tanya Kaiden was-was.
"................. "
"Kenapa kau diam saja?" Tanya Kaiden sekali lagi saat ia tidak mendengar jawaban apapun dari Sekretarisnya.
"Sa..saya tidak yakin Tuan." Jawab Narha terbata sambil meremat kuat ujung selimut yang masih menutupi tubuhnya.
"Tidak yakin? Apa kau tidak merasakan apa-apa di tubuhmu? Kau belum menikah, setidaknya kau akan merasakan sakit jika semalam kita ternyata melakukannya." Ucap Kaiden merasa prustasi.
"Ti.. Tidak Tuan, saya tidak merasakan apapun."
"Kau yakin?" Tanya Kaiden yang sepertinya masih belum yakin dengan jawaban Sekretarisnya.
"Iya Tuan, saya yakin."
"Baiklah, aku akan memberikanmu ruang, silahkan. Aku akan keluar sebentar, dan urus kepulangan kita sekarang juga." Lanjut Kaiden yang langsung memberi perintah.
"Tapi Tuan kita masih harus bertemu client di...... "
"Cancel sekarang, kita pulang sekarang, dan aku mau penerbangan malam ini juga." Jelas Kaiden sambil melangkah keluar kamar hotelnya dan menuju ke loby di mana Ken sudah menunggunya di sana.
"Aku ingin kau menyelidiki orang ini." Ucap Kaiden sambil meletakkan selembar foto di atas meja.
"Tuan Chris?" Tanya Ken mengernyit sambil meraih selembar foto yang di letakan Kaiden di atas meja.
"Iya." jawab Kaiden mengangguk.
"Bukankah dia klien Anda?"
"Benar.. Tapi ada yang aneh dengan orang ini, apa kau tau saat aku bangun tidur pagi ini aku mendapati Narha di atas tempat tidurku dengan keadaan telanjang bulat?" Mendengar perkataan Kaiden yang begitu Frontal membuat Ken tersedak, sekaligus terkejut.
"Apa?"
"Yah.. Seperti yang kau dengar tadi, aku bahkan tidak tau sudah melakukannya bersama Narha atau tidak, bukankah ini aneh? Jadi aku minta kau menyelidiki secepatnya. Karena malam ini juga kita akan meninggalkan Belanda." Balas Kaiden.
"Baik Tuan, saya akan mulai menyelidikinya sekarang." Ucap Ken yang langsung beranjak dari duduknya.
"Aku menunggu."
Balas Kaiden sembari menatap kepergian Ken. Ia kembali menarik nafas dalam sambil mengetuk ngetuk pinggiran meja dengan jari telunjuknya, sambil berusaha mengingat kejadian semalam, yang Kaiden ketahui ia memang sudah di jebak, namun ia belum mengetahui apa motif dari semua itu, sebab masalah yang terjadi kali ini bukan hanya akan menghancurkan perusahaannya, tapi juga rumah tangganya. Apalagi jika semalam ia benar-benar telah meniduri sekretarisnya sendiri, entah apa yang akan terjadi dengan rumah tangganya nanti. Dan saat memikirkannya saja sudah membuat Kaiden sangat prustasi.
17.00 Kaiden nampak duduk tenang, menyesap kopinya sambil menunggu Ken, hingga 5 menit kemudian, nampak Ken dengan sebuah amplop coklat di tangannya.
"Bagaimana?" Tanya Kaiden yang terlihat sudah tidak sabar.
"Seperti yang Anda duga, Anda telah di jebak Tuan, dan pelakunya adalah Tuan Chris"
"Tsk, permainan busuk apa lagi yang akan mereka mainkan." Balas Kaiden dengan senyum smirknya.
"Tapi ada satu masalah serius lagi Tuan," Ucap Ken dengan wajah yang nampak serius.
"Apa?"
"Nona Narha sedang mengandung sekarang, dan Ayah dari anak yang di kandungnya adalah Tuan Chris."
"Ap... Apa?" Tanya Kaiden yang nampak terlihat terkejut.
"Iya Tuan, tapi belum lama ini hubungan mereka berakhir, sepertinya Tuan Chris sudah merencanakannya sejak awal, dia sengaja menggunakan nona Narha untuk mendapatkan informasi penting dari perusahaan, dengan cara menjadikan nona Narha sebagai kekasihnya."
"Lalu?"
"Beruntungnya sampai saat ini Nona Narha tidak pernah memberikan informasi apa-apa kepada Tuan Chris."
"Yah.. Dia hanya memberikan tubuhnya, dasar wanita bodoh, apa yang dipikirkan wanita itu." Umpat Kaiden.
"Sepertinya Nona Narha sangat mencintai Tuan Chris, sementara Tuan Chris hanya memanfaatkan Nona Narha saja" Jelas Ken yang membuat Kaiden benar-benar merasa jengah.
"Di mana bajingan itu sekarang?" Tanya Kaiden.
"Tuan Chris tiba-tiba menghilang, sepertinya ia sudah meninggalkan Negara ini semalam, dan tidak ada yang tau persis tentang keberadaan Tuan Chris saat ini, dia seperti menghilang di telan bumi." Jawab Ken.
"Apa?? Lalu bagaimana dengan anak yang di kandung Narha?"
"Sepertinya ini salah satu rencananya Tuan, menjebak Anda dengan kehamilan Nona Narha."
"Aaarrhhh sial.. Dasar bajingan itu, jemput Narha sekarang juga."
"Baik Tuan."
Balas Ken yang langsung beranjak dari duduknya, dan meninggalkan Kaiden yang masih dalam keadaan marah. Hingga suara dering ponselnya berbunyi, seketika wajah yang terlihat gelap itu berubah sumringah saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Halo,"
"Sore sayang," Sapa seorang wanita dari sebrang sananyang kembali membuat Kaiden berbunga, di tambah lagi saat ia mendengar suara teriakan anaknya yang tengah memanggilnya dari sebrang sana.
"**Sore sayang, bagaimana keadaan kaliann disana? bagaimana kabar Dika juga Ziyi? Ayah sangat merindukan kalian."
"Benarkah? bahkan ini baru sehari sayang pergi."
"Tentu saja, Ayah sudah sangat merindukan kalian,"
"Iya, aku tau. kita semua baik-baik saja di sini, kita juga merindukan Ayah di sini,
Ayaaaaah.. Dika rindu Ayaaaaahh**.... " Terdengar suara teriakan Dika dari sebrang sana yang membuat Kaiden tertawa sambil mengangguk.
"Ayah juga sangat merindukan Dika, tunggu Ayah yah? Ayah akan pulang secepatnya."
"Iya Ayah.. Dika akan menunggu Ayah, Dika sayang Ayah."
"Iya, Ayah juga menyayangi kalian semua."
Panggilan telfon pun terputus, menyusahkan Kaiden dengan kegelisahannya saat ia kembali menatap layar ponselnya. Menatap wajah cantik Adena juga kedua anaknya di wallpaper ponselnya.
"Semoga Ayah tidak membuat kalian semua kecewa. Adena sayang, maafkan aku." Gumam lirih Kaiden sambil mengusap wajahnya kasar.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.