I Still Want You

I Still Want You
Perasaan aneh Radika. * PANTHOUSE RADIKA.



Dengan langkah yang sedikit terburu-buru Ayuka menuruni anak tangga sambil melirik jam yang melingkar di lengannya, ini hari pertamanya untuk kembali bekerja, dan Ayuka sungguh tidak ingin jika dia harus terlambat untuk ke tempat kerjanya. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat Radika keluar dari kamarnya yang juga sudah mengenakan pakaian jas lengkapnya.


"Selamat pagi suamiku." Batin Ayuka menyapa suaminya yang tentu saja hanya ia yang bisa mendengarnya, sebab meskipun ia benar-benar menyapa Radika dengan ucapan seperti itu, toh ia akan kembali merasa kecewa sebab Radika tidak akan pernah memberi respon meskipun hanya sekedar membalasnya.


Sedang di ujung sana, nampak Radika tengah memandang istrinya yang sedang fokus menatap layar ponselnya dari kejauhan, bahkan ia sengaja menghentikan langkah kakinya dan lebih memilih untuk berdiri di depan pintu kamarnya di banding harus bertatap muka langsung dengan Ayuka yang pada akhirnya memicu philophobianya kambuh. Radika sengaja membiarkan Ayuka untuk keluar terlebih dahulu, meskipun ia tahu jika istrinya itu ingin mengucapkan sesuatu padanya. Namun yang dipikiran Radika saat ini hanyalah ingin menghindari Ayuka sebisa mungkin.


"Seharusnya Asisten Manajer juga harus memakai seragam khusus, bukan baju bebas seperti itu." Batin Radika yang masih fokus melihat istrinya yang pagi ini nampak terlihat cantik dengan dress putih, dan rambut yang di biarkan terurai begitu saja, bahkan dalam hitungan menit Ayuka sudah menghilang dari pandangannya.


Untuk sesaat Radika merebahkan tubuhnya di sofa untuk menenangkan dirinya, sambil mengusap wajahnya kasar, dan menunggu Ayuka benar-benar pergi agar ia juga bisa segera berangkat kekantor.


* KZR GRUP.


"Selamat pagi Tuan Dika," Sapa Arka membungkuk.


"Pagi Arka," Jawab Radika melangkah masuk kedalam lift khusus Presdir dan di susul oleh Arka. Hingga lift berhenti tepat di lantai 23 tepat di depan ruangannya.


Saat memasuki Ruang kerjanya Radika langsung merebahkan tubuhnya di sofa, melonggarkan dasinya sambil memijat pangkal hidungnya.


"Apa Anda baik-baik saja?" Tanya Arka perlahan.


"Hmm,"


"Tuan Dika... "


"Ada apa?"


"Apa saya boleh menanyakan sesuatu?" Tanya Arka sedikit ragu.


"Silahkan,"


"Anda tidak sedang mengkonsumsi obat obat itu lagi kan?" Tanya Arka sambil menatap dalam wajah Radika yang sempat terdiam untuk beberapa detik.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" Balas Radika alih-alih menjawab pertanyaan Arka.


"Maafkan saya Tuan, saya hanya merasa khawatir Anda akan kembali mengkonsumsi obat-obatan itu," Ucap Arka lagi.


"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan Arka, aku baik-baik saja." Balas Radika yang bahkan enggan mengarahkan pandangannya ke arah Arka.


"Iya Tuan, aku hanya merasa sedikit aneh, sebab semalam... "


"Semalam aku hanya kelelahan Arka," Ucap Radika tampa menyelesaikan kalimat Arka.


"Bukankah semalam philophobia Anda kambuh Tuan muda?" Tanya Arka yang sepertinya masih belum yakin dengan ucapan Radika.


"Hmm.. Aku kembali merasakan rasa sakit itu lagi." Jawab Radika perlahan yang masih memandang ke arah luar jendela.


"Saya mengerti Tuan," Balas Arka.


"Arka.. Kau tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasinya, dan adikmu akan Baik baik saja, aku tau apa yang harus aku lakukan, selama penyakit itu tidak menyerangku, aku akan Baik-baik saja." Ucap Radika mencoba untuk meyakinkan Arka yang masih terlihat khawatir.


"Iya Tuan.. Saya percaya, Anda bisa melakukannya,"


"Ah iya... Bukankah Hari ini Tuan Kang akan kembali ke cina?" Tanya Radika yang sepertinya sedang berusaha mengalihkan pembicaraan, yang sangat jelas terlihat jika Radika sudah tidak ingin membahas masalah itu lagi.


"Iyaa Tuan, dan beliau ingin Anda  bisa meluangkan waktu untuk makan siang bersama, sekaligus menyerahkan kontrak kerja sama." Jawab Arka.


"Baiklah," Balas Radika beranjak dari duduknya dan langsung menuju ke meja kerjanya, dan mulai fokus dengan beberapa berkas berkasnya. Begitupun dengan Arka yang juga mulai sibuk dengan dokumen-dokumen kerja sama yang akan di tanda tangani oleh Radika.


* * * * *


* CAFE AND RESTO.


Pukul 13:00 Siang.


Ayuka yang sekarang tengah berada di ruang kerjanya, sedang menyelesaikan semua kerjaannya yang sempat tertunda, hingga 3 berlalu Ayuka menutup laptopnya, sambil memijat pangkal hidungnya. Hari pertamanya kerja setelah cuti selama hampir dua bulan pasca pernikahannya cukup membuatnya kelelahan. Sesekali ia memandang ke arah ruangan manager yang sejak tadi pagi kosong sampai sekarang.


"Apa Bian belum pulang?"  Gumam kecil Ayuka sambil melirik jam tangan yang melingkar di lengannya. Ayuka melemparkan pandangannya ke arah luar jendela, sambil meraba kaca jendelanya perlahan saat melihat pohon Maple di luar jendela yang tertiup angin hingga membuat daun-daunnya berguguran. Lama Ayuka terdiam, pikirannya kembali kosong, hingga ia tidak menyadari adanya suara langkah kaki yang tengah menghampirinya.


"Berhentilah melamun Nyonya Radika," Ucap Bian perlahan yang sontak mengejutkan Ayuka yang sedari tadi larut dalam lamunannya.


"Bian,"


"Apa ada sesuatu yang menarik di luar sana?" Tanya Bian yang ikut mengarahkan pandangannya ke arah luar jendela.


"Hanya sebuah pohon Maple," Jawab Ayuka tersenyum kecil.


"Sepertinya pohon itu sangat spesial,"


"Hmm.. " Jawab Ayuka seolah membenarkan perkataan Bian.


"Yuka," Panggil Bian perlahan.


"Iyaa?"


"Apa kau baik baik saja?"


"Aku tidak sedang baik-baik saja, tapi aku tidak apa-apa,"


Jawab Ayuka kembali duduk di sofa yang di susul oleh Bian yang sekarang tengah duduk di hadapannya. Untuk sesaat tatapan Bian tertuju kepada Ayuka yang masih terdiam tampa ekspresi dengan tatapan kosongnya, Perasaan Bian seolah sedang duduk bersama orang asing saat ini, sebab ia semakin merasa jika di hadapannya saat ini hanyalah seorang sosok yang kaku dengan tatapan kosong, bahkan tidak ada senyum sedikitpun di wajahnya, sosok di hadapannya sekarang tidaklah jauh beda dengan sebuah tubuh tampa roh. Ia tidak lagi bisa melihat Ayuka yang ia kenal dulu.


"Bukankah seharusnya aku seharusnya menolak perjodohan itu."


"Apa yang kau katakan?" Tanya Bian.


"Ini semua salahku. Tuan Dika menderita sampai sekarang ini semua itu karena aku," Lanjut Ayuka lagi.


"Beby.. "


"Dan soal philophobia itu,"


"Apa kau sudah mengetahuinya?" Tanya Bian terkejut.


"Kenapa kau menyembunyikannya dariku?"


"Jika aku memberitahu mu, apa kau akan berhenti untuk mencintainya?"


"Semua sudah terjadi." Balas Bian perlahan.


"Dia menderita karena aku." Balas Ayuka dengan suara rendah yang terdengar serak itu.


"Beby, itu tidak benar."


"Itu benar Bi, dan kenyataannya sekarang dia makin menderita karena aku." Balas Ayuka seraya menunduk, dan kembali meremat jari-jari tangannya.


"Beby.. Ini bukan... "


kalimat Bian terhenti saat tidak sengaja ia melihat punggung tangan Ayuka yang memerah, ia menarik nafas dalam sambil meraih tangan Ayuka untuk di genggamnya. Bahkan tangannya sampai bergetar saat menyentuh jemari Ayuka yang terdapat banyak goresan-goresan kecil.


"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri." Ucap Bian dengan nada rendahnya yang terdengar bergetar.


"Bian.. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Ayuka dengan suara yang semakin serak, bahkan nyaris tidak terdengar itu.


"Beby.. "


"Tuan Dika memang benar, Tidak seharusnya aku berada di sisinya. Dan memang sudah seharusnya seprti itu." Timpal Ayuka.


"Tapi dia suami kamu sekarang, apa bisa kau menghindarinya? Kalian berdua sudah terikat dalam satu hubungan pernikahan,dan itu adalah ikatan sakral yang tidak semudah itu kalian putuskan."


"Aku bisa pergi jauh dari rumah itu." Lanjut Ayuka dengan nada yang terdengar putus asa.


"Jangan pernah memikirkan hal bodoh sperti itu. Itu bukanlah jalan keluar."


"Tapi hanya dengan cara itu, aku bisa menghindarinya."


"Beby.. Apa kamu benar-benar berfikir bahwa dengan menghindarinya akan membuatmu bahagia pada akhirnya?"


".............. "


"Bukankah kau akan semakin merasakan sakit? Kau bahkan sangat mencintainya."


"Terlalu mencintainya malah membuatku nampak terlihat seperti orang bodoh." Balas Ayuka yang mulai berkaca.


"Mencintai seseorang dengan sangat berlebihan bukanlah hal yg bodoh."


"Bukankah ini terlihat lucu?" Tanya Ayuka yang hanya bisa tertawa rendah  bersamaan dengan butiran bening yang mengalir bebas dari sudut matanya.


"Bahkan aku tidak bisa seharipun tampa melihatnya, meskipun ia selalu bersikap dingin, namun hatiku tetap mau menerimanya. Semakin hari aku semakin menginginkannya dan tidak bisa membencinya," Sambung Ayuka dengan air matanya yang kembali menitik membasahi wajah pucatnya.


Bian yang mendengar semua perkataan Ayuka hanya bisa mengusap bahu Ayuka yang nampak bergetar, hatinya seperti teriris, terasa sangat perih di sana. untuk pertama kalinya ia melihat Ayuka benar-benar terpuruk seprti sekarang ini.


"Aku mohon, jangan sakiti dirimu sendiri."


Batin Batin saat kembali melihat punggung tangan Ayuka yang nampak memerah dan nyaris mengeluarkan darah, terdapat juga luka gores yang sudah mengering. Bian mengusap wajahnya kasar bahkan ia tidak punya kata kata lagi untuk di keluarkan. Satu satunya yang bisa ia lakukan hanya melihat air mata yang terus mengalir dari sudut mata kebiruan yang sudah mulai terlihat sembap itu.


* * * * *


Pukul 21:00 malam


Ayuka terdiam di sebuah kursi taman dekat Cafenya. Kepalanya menengadah ke atas menatap langit gelap yang malam ini mendung dan sepertinya akan turun hujan, sebab ia tidak melihat satu bintang pun di atas sana.


Angin malam semakin berhembus dengan kencang menyapa tubuh Ayuka yang masih termenung dalam lamunannya. Cuaca yang dingin bahkan enggan membuatnya untuk beranjak dari duduknya. Seandainya ia bisa berlari, ia akan memilih untuk menghilang dan berlari sejauh mungkin, hingga tidak ada seorang pun yang bisa melihat dan menemukannya, namun entah mengapa saat ini ia merasakan kakinya seolah telah lumpuh. Rasa sakit yang selalu di terimanya tiap saat bahkan enggan membuat hatinya untuk membenci. Apa sebegitu bersarkah rasa cinta yang ia miliki untuk Radika, pria yang sekarang telah menjadi suaminya, hingga hanya untuk menjauh saja ia tidak mampu melakukannya.


Sungguh Ayuka mulai membenci dirinya sendiri saat ini, bahkan sejak tadi ia terus mengutuk dirinya sendiri, meskipun ia sendiri menyadari jika hal itu tidak akan merubah segalanya, membuat semuanya kembali dari awal lagi, di mana ia tidak pernah bertemu dengan Radika. Hingga kata-kata Radika pada malam itu kembali terngiang di ingatan Ayuka, di mana Radika mengatakan jika pertemuan mereka adalah suatu kesalahan.


"Bisakah aku membencimu untuk sehari ini saja, agar aku tidak selalu memikirkan mu? maafkan aku karena sudah lancang mencintaimu, maafkan aku yang sudah memilihmu hingga membawamu dalam rasa sakit yang membuatmu menderita, maafkan aku Dika,"


Gumam kecil Ayuka yang terdengar lirih dengan nafas yang semakin tercekik, Ayuka terus memukuli dadanya, bahkan semakin keras, sambil meremat baju yang menutupi dadanya yang semakin membiru.


"Ibu.. "


Gumam Ayuka lirih saat netranya melihat bayangan sang ibu yang tengah duduk tepat di sampingnya dengan senyum teduh yang membuat Ayuka semakin terisak.


"Ibu.. Yuka merindukan ibu.. " Ucap Ayuka yang mulai berbicara dengan bayangan ibunya sendiri.


"Anak Ibu sudah dewasa sekarang,"


"Ibu... " panggil Ayuka perlahan dengan air mata yang mulai menitik saat ia mulai berhalusinasi dangan bayangan ibunya.


"Berhentilah menangis sayang, semua masalah yang tengah Yuka hadapi saat ini tidak akan selamanya Yuka rasakan, Yuka hanya perlu bersabar sedikit lagi, dan semua akan baik-baik saja,"


"Ibu, tapi Yuka sudah menyakitinya, Yuka menyakiti seseorang yang Yuka cintai,"


"Itu semua tidak benar sayang, jangan pernah berfikir jika Yuka telah menyakiti seseorang, jika memang dia sedang terluka, maka dengan cinta yang Yuka miliki saat ini bisa mengobati lukanya suatu saat nanti, Yuka harus yakin dengan hal itu."


"Tapi Ibu.. "


"Semua butuh waktu Nak, semua butuh proses, jangan menyerah dengan sesuatu yang membuatmu merasa sakit, sebab suatu hari nanti rasa sakit itu akan berubah menjadi kebahagiaan, asal Yuka mau bersabar, sebab Ibu yakin, suamimu juga sangat mencintaimu, suamimu sangat membutuhkan dirimu Nak, jadi jangan pernah meninggalkannya sendiri."


"Ibu.. " Lirih Ayuka dengan suara bergetar.


"Jangan pernah merasa lelah anakku, Ibu dan Ayah selalu bersamamu, sampai kapanpun, ibu akan selalu bersamamu, ibu dan Ayah menyayangimu,"


"Ibu.. jangan pergi.. " Pinta Ayuka saat tatapan matanya mulai berkabut, membuatnya semakin sulit untuk melihat bayangan ibunya yang masih tersenyum kepadanya, meskipun senyum teduh itu mulai memudar di tiap detiknya.


"Ibu.. " Panggil Ayuka sambil mengusap air matanya.


"Suatu saat nanti, Yuka pasti bahagia.. Ibu menyayangimu Nak."


"Ibu.. " Gumam Ayuka dengan air mata yang menitik dari sudut matanya, bersamaan dengan bayangan ibunya yang menghilang tertelan kabut malam yang semakin menebal dengan udara dingin yang semakin menusuk.


"Ibu.. tapi aku merasa lelah sekarang,"


Bisik Ayuka yang masih terus menatap kursi kosong di sampingnya, berharap agar bayangan ibunya kembali hadir, meskipun hanya sebentar saja,


"Yuka bahkan belum memeluk Ibu.. " Gumam Ayuka tertunduk lemas dengan air mata yang terus menitik tampa henti, bahkan tangisannya kini telah berubah menjadi isakan yang terdengar memecah kesunyian malam di taman tersebut. Taman yang di penuhi oleh kenangan dirinya bersama Radika, tempat di mana pertama kali ia melihat sosok Radika yang siang itu tengah tertidur dengan sangat pulas, di mana untuk pertama kalinya ia berbicara dengan Radika saat dengan tidak sengaja ia melihat Radika yang juga tengah berbaring dengan luka memar di wajahnya, di mana ia bisa tertawa dan berdebat dengan Radika karena hal sepele, bahkan di taman ini juga terakhir kalinya mereka bertemu, dan dengan gampangnya Radika memintanya agar tidak mencintai Radika lagi, bahkan menyuruhnya untuk melupakan semuanya, sementara pada saat itu, cinta Ayuka sudah sangat besar kepada Radika.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.