I Still Want You

I Still Want You
Kekecewaan dan tangisan Ayuka.



"Sudah sangat lama kau duduk di sini, apa kau tidak lelah?"


Tanya Bian yang tiba tiba datang dari arah Cafe dan langsung duduk di samping Ayuka yang sepertinya masih larut dalam lamunan panjangnya.


"Karena aku tidak akan pernah bosan dengan tempat ini."


"Apa karena ini tempat yang sangat spesial bagimu?" Tanya Bian lagi yang membuat Ayuka menggeleng pelan.


"Tidak juga," Gumam Ayuka.


"Tapi sepertinya begitu, kau bahkan sudah berada di sini sejak dua jam yang lalu,"


"Ahh.. Aku tidak menyadarinya." Balas Ayuka tersenyum menatap Bian yang sedari tadi sedang menatapnya. Hingga pandangan Ayuka kembali tertuju pada danau kecil yang terletak di samping kursi yang mereka duduki sekarang.


"Kau tau dari mana aku di sini?" Tanya Ayuka lagi.


"Sejak tadi aku sudah memperhatikanmu Nona, apa kau lupa, Ruangan ku tepat di depan taman ini, jadi aku bisa melihatmu dengan jelas." Jawab Biannaambil menunjuk ke arah cafe lantai dua tepat di ruangan kerjanya, yang posisinya memang tepat berada di samping taman tersebut.


"Ahh.. Aku lupa." Balas Ayuka tersenyum kecil.


"Sepertinya sudah terlalu banyak yang audah kau lupakan Yuka," Ucap Bian yang tiba-tiba terlihat sedih.


".............., "


"Apa kau juga sudah melupakan hal-hal indah yang pernah kita lalui bersama?"


"Bian.."


"Yah, meskipun hal yang pernah kita lalui tidak penting untukmu, namun saat kebersamaan kita dulu sangatlah berarti untukku, dan mungkin kau sudah melupakannya."


"Tidak," Jawab Ayuka menggeleng pelan.


"Tapi yang aku lihat memang seperti itu, tidak bisakah kau hanya melupakan hal hal yang buruk saja?"


"Tidak sperti itu,"


"Iyaa.. Aku mengerti, maaf kalau aku terlalu menuntut banyak padamu, aku hanya tidak tahan melihatmu seperti ini."


"Bi,"


"Aku hanya merindukan Yuka yang dulu, yang selalu tersenyum ceria." Balas Bian.


"Heii ayolah.. Aku masih bisa tersenyum untukmu." Ucap Ayuka sembari memperlihatkan senyumnya.


"Tapi senyummu tidak sehangat dulu."


"Bian,"


"Hmm?"


"Haruskah aku tetap bertahan?" Tanya Ayuka perlahan.


"Ada apa? Apa kau sudah merasa lelah?"


"Tidak,"


"Lalu?"


"Aku tidak ingin melihatnya menderita lebih lama lagi,"


"Yuka.. "


"Aku tau, selama ia masih melihatku, selama itu pula ia akan merasakan sakit." Balas Ayuka dengan nada suara yang semakin bergetar.


"............ "


"Tadinya aku ingin mencoba untuk terus bertahan di sampingnya, tapi semakin hari aku semakin merasa sangat egois."


Ucap Ayuka seraya menutupi wajahnya yang sepertinya mulai menangis, bahunya terlihat bergetar. Dan hal itu membuat Bian merasa sangat terluka, entah kenapa, hatinya ikut sakit saat melihat Ayuka yang mulai menangis. Tanpa berfikir panjang di raihnya tubuh yang terlihat rapuh itu di dalam pelukannya, mengusap rambut Ayuka lembut untuk menenangkan wanita yang masih sangat di cintainya itu.


Sedang di sudut taman nampak telah berdiri satu sosok dengan tatapan tajamnya, wajahnya memerah menahan amarah, rahangnya terlihat mengeras saat grahamnya yang saling menyatu. Nafasnya naik turun menahan emosi yang sepertinya sebentar lagi akan meledak.


"Menjijikan,"


Guman Radika seraya mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat, hingga buku-buku jari tangannya kelihatan memutih.


"Tuan muda.. Apa.... "


Kalimat Arka terhenti saat dengan tiba-tiba ia melihat ekspresi presdirnya saat ini, dengan cepat ia menyentuh pundak Radika dan mengikuti arah tatapan Radika yang masih belum berpaling istrinya yang masih berada di dalam pelukan sahabatnya.


Mata Arka membulat sempurna saat ia mengalihkan pandangannya ke arah depan sebuah kursi taman tersebut, yang di mana dengan sangat jelas ia melihat Bian sedang memeluk tubuh Ayuka yang sepertinya belum menyadari kedatangan Radika.


"Apa yang mereka lakukan," Batin Arka panik dan mulai merasa gelisah saat melihat Radika yang tiba-tiba tidak bereaksi lagi.


"Tuan Dika... "


"Kita pergi dari sini." Ucap Radika dengan nada suara datar.


"Baik Tuan muda," Balas Arka melangkah meninggalkan tempat itu.


Di tengah perjalanan, suasana di dalam mobil sangatlah hening dan di juga di penuhi aura gelap, Radika pun masih terdiam tanpa ekspresi, dan sikap itulah yang membuat Arka semakin panik.


"Katakanlah sesuatu Tuan, jangan diam saja, aku lebih memilih mendengarkan semua ocehan tidak masuk akal anda saat marah dan merasa cemburu, di bandingkan melihat anda terus terdiam seperti ini." Batin Arka yang terus menatap Radika lewat kaca spion di depannya.


"Suruh dia pulang ke rumah sekarang juga." Perintah Radika dengan suara rendah yang terdengar sangat menakutkan.


"Baik Tuan." Jawab Arka.


"Antar aku kerumah."


Mendengar perintah Radika, Arka langsung membelokkan mobilnya dan langsung menuju ke Panthouse.


* PANTHOUSE RADIKA.


Sesampainya di Panthouse, Radika langsung melangkah masuk ke dalam kamar utama dan membanting pintu kamar dengan sangat keras, hingga menimbulkan suara yang terdengar sangat nyaring. Ziyi yang sejak tadi sedang duduk di sofa langsung tersentak, dan hanya bisa terdiam melongo saat melihat tingkah anek adiknya, bahkan ia sempat panik saat melihat ekspresi Radika yang terlihat sangat menakutkan.


"Aka.. Apa yang terjadi? Ada apa dengannya?" Tanya Ziyi sambil berlari kecil menghampiri Arka. sedang Arka hanya bisa menghela nafas panjang sambil memegangi tengkuk lehernya yang di rasakannya mulai menegang sejak tadi.


"Sepertinya akan ada masalah besar." Jawab Arka.


"Maksudnya?"


"Tuan muda memergoki Bian sedang memeluk Yuka," Balas Arka perlahan yang membuat Ziyi terkejut.


"Ap... Apaaaa??"


"Yah.... Dan sekarang Tuan muda sedang merasa cemburu, aku takut masalah ini bisa memicu penyakitnya akan kambuh,"


"Astaga.. Bian.. Lalu ke mana Yuka?" Tanya Ziyi panik.


"Dia sedang dalam perjalanan pulang."


"Zizi.. Jangan kemana-mana, aku harus kembali kekantor. Jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku."


"Iyaa.. Baiklah," Jawab Ziyi mengangguk sambil memandang punggung lebar Arka yang hanya dalam waktu sekejap langsung menghilang di balik pintu.


Sementara di dalam kamar nampak Radika yang masih berdiri di depan jendela kamarnya, mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, rasa marah dan kecewa belum juga hilang sampai detik ini. Bayangan Ayuka yang sedang berada dalam pelukan Bian kembali mengingatkannya pada kejadian 25 tahun lalu, di mana saat ia melihat sang Ayah tengah memeluk erat seorang wanita, bahkan dia juga masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana tangisan ibunya yang harus di dengarnya tiap malam.


Dan tidak berselang lama, mobil Ayuka sudah terparkir di garasi rumahnya, dengan langkah kaki yang sedikit di percepat, Ayuka yang belum mengetahui masalah apa-apa langsung menuju ke dalam Panthouse dengan sedikit berlari dan langsung menghampiri Ziyi yang dari tadi berdiri dengan wajahnya yang terlihat gelisah.


"Kak Yi.. Ada apa?" Tanya Ayuka dengan wajah polosnya smeraih tangan Ziyi untuk di genggamnya.


"Yuka sayang.. Apa yang telah terjadi? Kenapa Dika bisa semarah itu?"


"Ma.. Maksud kakak?" Tanya Ayuka dengan wajah bingungnya.


"Astaga... Jangan bilang jika kau... "


"Ada apa kak? Aku tidak.. "


"Apa kau puas sekarang sekarang?"


Tanya Radika yang keluar dari kamar dengan suara rendah dan ekspresi wajah yang terlihat sangat menakutkan.


Tatapan dinginnya seolah menusuk jantung Ayuka, hingga membuat Ayuka ketakutan dengan tubuh yang sedikit bergetar.


"Ap.. Apa.. Maksud Anda?"


"JANGAN BERPURA-PURA LAGI, APA KAU SENANG TELAH DI PELUK OLEHNYA?" Teriak Radika dengan lantang, suaranya memenuhi ruangan tersebut, air mata Ayuka langsung mengalir begitu saja, rasa takut menguasai hatinya, hingga ia tidak mampu lagi untuk berucap lagi.


"Dika.. Kalian bisa bicarakan ini secara baik baik"


Balas Ziyi lembut berusaha meredam amarah Adiknya yang sudah memuncak. Sedang Ayuka masih menangis di dalam pelukan Ziyi dengan tubuh bergetar.


Dengan amarah yang sepertinya sudah memuncak Radika menarik lengan Ayuka menaiki anak tangga, seolah tidak peduli dengan isak tangis Ayuka yang tengah memohon agar Radika melepaskan cengkraman tangannya yang semakin kuat. Sedang di bawah sana, Ziyi hanya bisa pasrah dengan wajah yang sudah terlihat panik.


"Lepaskan aku.. Ini menyakitkan.. Aku mohon.. " Pinta Ayuka memohon dan semakin terisak saat Radika dengan kasar mendorong tubuhnya di atas tempat tidur, hingga tubuh ramping itu terpental menghantam sandaran tempat tidur.


"Ap... Apa Yang akan Anda lakukan?" Tanya Ayuka dengan tangisnya.


"Tentu saja akan menidurimu." Balas Radika datar dengan wajah dinginnya.


"Tidak.. Tidak.. Jangan.. "


"Kenapa? KENAPA BIAN BISA MEMELUKMU SEMENTARA AKU TIDAK, KENAPA?" teriak Radika yang saat ini memang sudah di kuasai oleh rasa cemburu, hingga ia tidak menyadari jika ia sudah mencengkram tangan istrinya dengan sangat kuat.


"Tidaak.... Jangan.. Jangan seperti ini, aku mohon.... " Pinta Ayuka yang semakin panik.


"Jangan seperti ini katamu? LALU APA YANG HARUS AKU LAKUKAN? AKU SANGAT MARAH PADAMU, HINGGA RASANYA AKU INGIN MEMBENCIMU."


Teriak Radika dengan mata yang mulai berkaca sambil mencengkram kedua belah pipi Ayuka dengan sangat keras, sedang Ayuka hanya bisa menggeleng dengan cepat berusaha untuk melepaskan diri dari kungkungan Radika yang membuat tubuhnya tidak bisa bergerak.


"Tuan Dika... Aku mohon... Lepaskan aku.... Biarkan aku pergi.."


"Apa kau sedang memohon sekarang? Kau memohon dengan air matamu agar aku tidak menyentuhmu? Apakah kau benar-benar tidak ingin aku sentuh?" Tanya Radika dengan air mata yang sudah menitik dari sudut matanya.


"Apa kau begitu membenciku sekarang?" Tanya Radika dengan tatapannya yang begitu dalam.


"Tidak... Tidak.. Bukan seperti itu, tapi ini..... "


"Aku tidak suka melihatmu bersama pria lain," Balas Radika yang dengan cepat merobek Dress putih yang di kenakan Ayuka. Hingga matanya kembali melebar dengan sempurna saat melihat dada istrinya yang membiru.


"Kau.. Apa yang kau lakukan dengan tubuhmu? APA YANG TELAH KAU LAKUKAN DENGAN TUBUHMU?" Teriak Radika tampa sadar, dengan amarah dan juga kesedihan yang kini bercampur aduk menjadi satu di dalam hatinya.


"Jangan seperti ini Tuan... Aku mohon.." Pinta Ayuka dengan air mata yang semakin membanjiri wajahnya.


"Aku membencimu saat kau memohon agar aku tidak menyentuhmu." Ucap Radika yang sudah benar-benar di kuasai rasa amarah. Dan akhirnya melakukan hal yang membuat Ayuka benar-benar merasa kecewa padanya. Radika sangat sadar jika saat ini mungkin Ayuka sudah sangat membencinya sebab sudah melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan Ayuka, meskipun status mereka berdua adalah suami istri, namun hal yang di lakukan Radika kali ini sungguh membuat Ayuka sangat terpukul.


Hingga dua jam berlalu, Ayuka menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, bahkan ia semakin terisak di dalam selimut tebal yang sengaja Ayuka gunakan untuk menutupi wajah dan tubuhnya.


"Kenapa kau menangis? Apa kau merasa marah karena aku sudah melakukannya padamu?" Tanya Radika yang masih memperlihatkan amarahnya lewat tatapan dinginnya. Sedang Ayuka hanya bisa menggeleng seraya menarik tubuhnya ke sudut tempat tidur sambil Memeluk kedua lututnya.


"Tubuhku adalah milik anda, dan Anda punya hak untuk melakukan apa saja. Tapi ini.. Ini sangat menyakitkan.. Anda menyakitiku.. Ini terlalu sakit" Jawab Ayuka dengan suara seraknya yang di penuhi dengan kekecewaan, bersamaan dengan air mata yang semakin deras membasahi wajahnya yang sudah terlihat kacau.


Radika tercengang menatap tubuh istrinya saat ini. Amarahnya tiba-tiba menghilang saat melihat wajah pucat pasi istrinya. Mata yang terlihat sembap dengan bibir yang masih sedikit mengeluarkan darah, apalagi saat matanya kembali tertuju pada dada istrinya yang terlihat lebam kebiruan, juga punggung tangan yang terdapat banyak luka goresan. Tubuh Radika bergetar melihat banyak bekas darah di kedua paha istrinya juga di atas seprei putih yang sudah sangat berantakan.


"Apa... Apa yang sudah aku lakukan."


Ucap Radika dengan suara terbata dengan nafas yang mulai terasa tercekik.


"Apa aku sudah menyakitimu? Aku... Aku menyakitimu? Darah itu... Apa aku yang melakukannya? Aku.. Tidak.. Tidaaaak.. Aaarrrggg.. "


Teriak Radika sambil menjambak rambutnya dengan sangat keras. Ia berjalan mundur hingga tubuhnya membentur sudut dinding kamar. Nafas Radika semakin pendek dengan tubuh yang mulai mengeluarkan keringat dingin.


Melihat keadaan suaminya yang tidak seperti biasanya, Ayuka tiba-tiba merasa panik dan langsung beringsut turun dari tempat tidur, meneriakkan nama suaminya sambil meraih pakaian seadanya untuk di kenakannya.


"Tidaaak.. Tuan.. Ada apa denganmu,"


Seru Ayuka meraih tubuh suaminya untuk di peluknya, ia dapat merasakan nafas Radika yang semakin pendek dengan tubuh melemah dan air mata yang terus mengalir di mata coklatnya.


"Aaaarrggggg... Tidaaaaak... Sayang.. Kak Arkaaaaa... Kak ziyiiii... Tolooong.. "


Teriak Ayuka semakin panik dengan tangisannya yang semakin keras.


"Tidaaaaak.. Dikaaa banguuun.. "


Suara teriakan Ayuka kembali terdengar, bersamaan dengan suara pintu kamar mereka yang tiba-tiba terbuka. Hingga nampak Arka dan Ziyi tengah berlarian menghampiri mereka.


Dengan cepat Ziyi meraih tubuh Ayuka yang terus menangis untuk di peluknya. Sedang Arka berusaha mengembalikan kesadaran Radika dengan cara menyuntikkan obat ke lengan Radika.


"Apa yang terjadi dengannya, bagaimana keadaannya?" Tanya Ayuka masih dalam isaknya.


"Tenanglah sayang, dia akan baik-baik saja," Jawab Ziyi yang masih memeluk tubuh Ayuka , berusaha untuk menenangkannya yang sejak tadi terus menangis.


"Arka bagaimana keadaan Dika?" Tanya Ziyi perlahan.


"Tuan muda baik-baik saja Sekarang ia sedang tidur. Aku akan memindahkannya ke tempat tidur." Jawab Arka seraya memapah tubuh Radika sambil berjalan ke arah tempat tidur. Namun saat akan merebahkan tubuh Radika di sana, Arka nampak terkejut dengan keadaan tempat tidur yang sudah sangat berantakan tersebut. Bahkan bola matanya seketika melebar saat melihat bercak darah di atas seprei.


"Kekacauan apa ini?" Batin Arka dan langsung mengarahkan pandangannya ke arah Adiknya yang masih berada dalam pelukan Ziyi.


"Aku akan membawa Tuan Muda di kamar utama." Lanjut Arka langsung melangkah keluar dari kamar Ayuka.


Sesampainya di kamar utama, Arka merebahkan tubuh Radika perlahan, mengusap wajah Radika yang di penuhi keringat dengan sebuah handuk basah yang telah di siapkannya. Mengusap air mata yang masih menitik dariĀ  sudut mata Radika yang masih terpejam.


"Apa anda bermimpi buruk lagi?"


Tanya Arka sambil meraih selimut untuk menutupi tubuh Radika yang tengah terlelap akibat efek dari obat tidur yang Arka suntikan tadi.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.