
Malam ini suasana kediaman Radika cukup tenang sebab tidak terdengar suara teriakan, nyanyian, ataupun rengekkan manja dari Ryeon. Hari ini Ryeon di jemput oleh tuan Kaiden untuk di bawahnya ke Mansion.
Dengan semangat Ayuka menguncir rambutnya sembari meraih apron untuk di kenakannya dan mulai mengambil bahan bahan makanan di kulkas untuk di masaknya, sebab sebentar lagi sudah waktunya untuk mereka makan malam.
"Sepertinya enak,"
Bisik Radika yang tiba-tiba muncul dan langsung memeluk perut istrinya dari belakang, sambil menyandarkan dagunya di bahu istrinya yang masih sibuk dengan masakannya.
"Sayang.. Apa kau sudah lapar?" Tanya Ayuka perlahan sambil mengusap rambut suaminya yang masih merangkul tubuhnya, bahkan mengikuti pergerakan Ayuka yang bolak balik mengambil bumbu masakan tampa melepaskan pelukannya.
"Apa kau akan terus seperti ini? Aku jadi kesulitan untuk bergerak," Protes Ayuka namun masih dengan senyumannya, seolah menikmati tingkah manja suaminya yang malah semakin erat memelulnya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
"Aahhhh.. Hentikan sayang, kau akan mengacaukan masakannya, bisakah kau menunggu di sana saja?" Tanya Ayuka yang masih dengan masakannya meskipun sesekali ia terlihat meringis saat Radika mulai iseng dan sesekali menggigit dau telinganya.
"Sayang, hentikan.. " pinta Ayuka yang bahkan semakin membuat Radika semakin menggigit daun telinganya, seolah-olah larangan Ayuka adalah perintah buat Radika yang semakin gencar mengerjai Ayuka.
"Honey,"
"Iya sayang.. ada apa?"
"Apa kau masih bekerja di Cafe Bian?" Tanya Radika sesaat.
"Untuk saat ini tidak, tapi mungkin aku akan kembali bekerja di cafe itu, ada apa?" Tanya Ayuka sedikit membalikan wajahnya hingga ekor matanya bisa melihat reaksi Radika yang nampak terlihat tidak suka dengan jawabannya.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk kembali kerja di sana lagi," Balas Radika yang semakin mempererat pelukannya, hingga membuat Ayuka sedikit kesulitan untuk bernafas.
"Ada apa?" Tanya Ayuka perlahan.
Sebab aku tidak suka jika kau terus berdekatan dengan pria lain, meskipun itu Bian,
"Aku hanya tidak ingin kau mengurus hal lain selain aku dan Yon," Jawab Radika yang membuat Ayuka mengernyit, sampai akhirnya ia kembali tersenyum sambil mengusap rambut suaminya.
"Apa hanya karena itu?"
Apa kau tidak sadar jika aku sedang cemburu sekarang?
"Hmm.. aku hanya tidak ingin kau bekerja terlalu capek, lagi pula aku tidak ingin kau selalu di luar rumah."
"Baiklah.. aku tidak akan kbali kerja di sana lagi, tapi apa boleh aku sering mengunjungi Bian? biar bagaimanapun Bian adalah temanku juga,"
"Tentu saja, tapi dengan seizin ku, dan harus denganku, kau boleh keluar rumah dengan seorang pengawal,"
"Tapi sayang.. bukankah itu terlalu berlebihan?" protes Ayuka sedikit cemberut, bahkan ia langsung membalikan tubuhnya untuk menghadap ke arah suaminya.
"Tentu saja tidak, jika kau tidak ingin di temani oleh pengawal, maka kau tidak boleh keluar rumah,"
"Ah baiklah.. hanya satu pengawal, tentu saja tidak masalah," Balas Ayuka dengan senyumnya.
"Sebaiknya kau tidak membuat kesalahan, sebab sekali kau membuat kesalahan, aku akan menghukummu berkali-kali lipat," Bisik Radika sambil mengecup pipi istrinya.
"Memang hukuman seperti apa yang akan kau berikan?" Tanya Ayuka yang kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Suaminya dan mulai mengaduk masakannya.
"Tentu saja hukuman yang bisa mebuatmu tidak bisa keluar dari kamar semalam," Balas Radika yang langsung membalikkan tubuh Ayuka yang sudah terasa kaku. Apalagi di saat Radika mulai mengecup dahi, pipi, hingga bibirnya dengan lembut.
"Kau wangi sekali honey," Lanjut Radika sambil menghirup aroma favoritnya di rambut Ayuka.
"Benarkah? Bahkan aku belum mandi,"
"Kau tidak perlu mandi sekarang, kita selesaikan dulu pekerjaan kita." Balas Radika yang lagi-lagi membuat tubuh Ayuka membeku.
"Pekerjaan apa sayang?" Tanya Ayuka yang berpura-pura tidak mengerti dengan maksud suaminya.
"Pekerjaan untuk membuat adik Yon," Bisik Radika dengan senyum miringnya.
"Sayaaang.. Kita bisa melakukannya nanti, tapi setelah aku menyelesaikan ini,"
"Tidak.. Aku sudah tidak bisa menunggu."
Balas Radika yang dengan cepat mematikan kompor dan membalikkan tubuh istrinya, menggendongnya dan membawanya ke kamar.
"Ayolah sayang setidaknya kita makan dulu,"
"Aku ingin makanan pembuka," Bisik Radika yang mulai menciumi bibir istrinya lembut dan mulai membuka kancing piyama istrinya, untuk sesaat Radika terlihat nampak tersenyum dengan mata yang sedikit berkaca saat melihat dada istrinya yang sudah tidak terlihat biru lagi, Radika seketika merasa lega sebab tidak mendapati bekas lebam dibawa istrinya lagi seperti waktu itu.
"Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri lagi, sebab aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika kau melakukannya," Ucap Radika sambil mengecup dada istrinya.
"Iya sayang, hal itu tidak akan terjadi lagi, dan tidak ada alasan bagiku untuk melakukan itu, sebab aku tau, jika Radika sangat mencintaiku," Balas Ayuka mengusap wajah suaminya dengan penuh kasih.
"Apa kau siap melakukannya lagi denganku?" Tanya Radika yang seolah paham dengan ketakutan istrinya yang pasti akan kbali mengingat kejadian dulu, di mana ia menjamah tubuh istrinya dengan sangat kasar.
"Hmm.. aku siap," jawab Ayuka perlahan sambil menggigit bibir dalamnya dengan keras.
"Apa kau yakin tidak apa-apa? kita bisa melakukannya lain waktu jika kau belum siap,"
"Aku baik-baik saja, Lakukanlah.. "
"Tapi.. Aku takut kau akan merasakan sakit lagi jika aku tidak bisa menahannya," Balas Radika yang bahkan terlihat cemas dan gugup.
"Tapi aku menginginkannya," Ucap Ayuka perlahan yang membuat Radika tersenyum bahagia sambil mengangguk perlahan.
"Aku akan melakukannya dengan perlahan," Bisik Radika yang hanya di balas anggukan oleh Ayuka yang sedang berusaha menghilangkan rasa gugupnya saat Radika mulai mencumbunya. Hingga beberapa saat kemudian permainan panas merekapun di mulai, dengan Ayuka yang nampak mengimbangi permainan suaminya yang seolah tidak memiliki rasa capek sedikitpun, bahkan 2 jam berlalu, Radika masih terus meluapkan semua hasratnya, hasrat yang selama ini di tahannya, hingga membuat Ayuka kewalahan setelah berjam-jam melayani suaminya. Bahkan ada kebahagiaan di hati Ayuka saat melihat senyum puas yang tergambar jelas di wajah lelah suaminya yang saat ini sedang berbaring di sampingnya dengan nafas yang masih tersengal. Meskipun Ayuka tidak yakin jika saat ini ia masih bisa berjalan atau tidak, sebab ia baru merasakan rasa ngilu di seluruh tubuhnya setelah pergulatannya bersama sang suami.
"Apa kau lelah?" Tanya Radika perlahan saat nafasnya mulai teratur.
"Kau bahkan tidak memberiku waktu untuk beristirahat," Jawab Ayuka yang hanya di balas senyum lebar oleh Radika yang terlihat sangat puas setelah membuat istrinya kewalahan.
"Aku akan membantumu untuk membersihkan tubuhmu," Balas Radika lagi yang langsung menggendong tubuh istrinya.
"Tapi aku bisa sendiri,"
"Apa kau yakin bisa berjalan sendiri?" Tanya Radika lagi.
Tentu saja tidak, setelah apa yang sudah anda lakukan terhadap saya selama berjam-jam.
Ayuka hanya menggeleng pelan yang langsung membuat Radika terkekeh sebelum akhirnya membawa istrinya ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuh mereka. Hingga 25 menit berlalu, Radika kembali mbaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur setelah usai memakaikan istrinya piyama yang terlihat seksi dan transparan.
"Seingatku aku tidak pernah membeli piyama dengan model seperti ini," Ucap Ayuka saat ia mengamati piyama transparan berwarna merah muda yang di pakaikan Radika padanya.
"Aku yang meminta Kak Yi untuk membelikannya untukmu," Balas Radika yang nampak menikmati penampilan seksi istrinya dengan balutan piyama Yang terlihat sedikit transparan.
"Tapi ini sedikit terbuka sayang.. "
"Sayang... "
"Baiklah.. untuk malam ini saja," Balas Radika yang langsung memeluk tubuh istrinya, menenggelamkan wajah istrinya di dalam dadanya, hingga beberapa menit berlalu.
"Apa kau tidur honey?" Bisik Radika sambil terus memeluk tubuh istrinya yang di tutupi selimut.
"Hhmmm.. Aku kelelahan," Jawab Ayuka dengan suara seraknya.
"Maafkan aku," Ucap Radika sesaat.
"Maaf untuk apa?" Tanya Ayuka yang langsung membuka matanya sambil menatap wajah suaminya yang ternyata sedari tadi menatapnya.
"Maafkan atas sikapku dulu yang pernah menyakitimu, dan membuatmu selalu menagis, aku sungguh menyesal," Jawab Radika dengan suaranya yang sedikit bergetar, bahkan matanya sudah nampak memerah sebelum akhirnya ia membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya dan menangis di sana.
"Sayang.. Aku bahkan sudah melupakan semuanya, aku hanya ingin terus melangkah dan melihat kedepan, dan tidak ingin menengok ke belakang lagi, jadi aku mohon.. Kita lupakan hal hal yang buruk di masa lalu," Ucap Ayuka sambil mengusap punggung Radika yang masih terisak, dengan perlahan Ayuka mengeratkan pelukannya, mmbiarkan Radika untuk melepaskan semua rasa sakit dan sesak yang di rasakannya, hingga beberapa menit berlalu.
"Terimakasih honey, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, i still want you, forever," Bisik Radika perlahan.
"Aku juga sangat mencintaimu, suamiku, pria kesayanganku," Balas Ayuka seraya mengecup dahi suaminya lembut.
"Akhh.. " Ayuka tiba-tiba meringis sambil memegangi perutnya yang lapar, ingatannya kembali tertuju pada masakan yang belum sempat di selesaikannya. Tapi tubuhnya terlalu lelah untuk berjalan.
"Aku lapar." Ucap Ayuka sambil terus memegangi perutnya.
"Haruskah aku memesan makanan untuk makan malam kita?" Tanya Radika terlihat panik sambil memegangi perut istrinya.
"Sayang.. aku hanya merasa lapar, bukan untuk melahirkan," Jawab Ayuka yang malah merasa lucu dengan kepanikan Radika.
"Tapi perutmu sakit kan? Aku akan memesan makanan sekarang," Balas Radika yang langsung meraih ponselnya yang terletak di atas nakas samping tempat tidur mereka.
"Tidak perlu sayang, aku cukup menyelesaikan masakan yang sempat tertunda tadi,"
"Apa kau yakin honey? Bukankah kau lelah?" Tanya Radika sambil mengusap dahi istrinya.
"Tapi aku sangat lapar sekarang,"
"Baiklah.. Aku akan menggendongmu turun ke bawah," Balas Radika meraih tubuh istrinya dan menggendongnya keluar kamar dan terus menuruni anak tangga.
"Mommy... Daddy... Yon lindu.... "
Suara teriakan Ryeon yang sontak membuat Radika dan Ayuka terkejut dengan tubuh yang mematung di ujung tangga. Hingga terlihat seperti sebuah manekin di depan tokoh baju.
Wajah Ayuka seketika berubah menjadi merah padam saat melihat ekspresi tidak biasa dari tuan Kaiden yang langsung tersenyum, begitu juga dengan Ziyi yang masih memangku Ryeon.
"Apa yang kalian lakukan di sana?" Tanya tuan Kaiden yang langsung menyadarkan mereka. Radika yang tidak berniat untuk menurunkan istrinya dari gendongannya semakin membuat istrinya itu memerah.
"Sejak kapan kalian di sini?" Tanya Radika seraya meletakkan tubuh istrinya dengan sangat hati hati di atas sofa sebelum ia menutupi tubuh istrinya dengan sebuah kain selimut yang terletak di sofa, kemudian meraih tubuh putranya untuk di gendongnya.
"Sejak tiga jam lalu," Jawab Ziyi yang membuat keduanya terkejut.
"Apa/Apa?? " Jawab Radika dan Ayuka secara bersamaan. Sebab jika sejak 3 jam lalu Tuan Kaiden dan Ziyi berada di sini sudah pasti mereka juga mendengar suara desahan-desahan yang keluar dari mulut istrinya akibat ulahnya.
"Berarti ayah.. "
"Ayah mendengar semuanya," Jawab tuan Kaiden santai sambil menyilangkan kakinya.
"Kau benar-benar tidak mengampuni istrimu," Timpal tuan Kaiden.
"Ini belum seberapa, bahkan aku masih menginginkannya," Balas Radika.
"Sasstttt.. Sayang.. " Seru Ayuka yang sedikit melotot, sedang Ziyi hanya bisa menggeleng mendengar obrolan Ayah dan adiknya.
"Kalian makanlah, aku sudah memasak semuanya dan sudah menyiapkannya di atas meja." Balas Ziyi, yang hanya di balas anggukan oleh Ayuka.
"Bukankah anak daddy ini mau menginap di rumah grandpa?" Tanya Radika sambil mengusap pucuk kepala putranya.
"Yon lindu mommy cama daddy, Yon pengen tidul cama daddy lagi,"
"Baiklah sayang, sekarang Yon tidur yah? Ini sudah larut. Daddy akan menemani Yon, okay."
"Ocee Daddy."
"Honey, makanlah dulu, aku akan menidurkan Yon sebentar,"
"Hmm,"
"Makanlah yang banyak, agar tenagamu kembali."
"Yaakk... "
Seru Ayuka memerah, sedang Radika hanya tertawa sambil melangkah menuju kamar untuk menidurkan putranya, sedang Yon yang sudah sangat mengantuk hanya bisa melambaikan tangannya, sebelum memberikan ciuman dan ucapan selamat malam pada tuan Kaiden dan Ziyi.
"Yuka, bisakah Ayah meminta sesuatu pada kalian?" Tanya tuan Kaiden yang terlihat nampak serius.
"Iya Ayah.. Apa yang bisa saya bantu?"
"Bisakah kalian memberikan cucu kedua buat Ayah lagi?" Tanya tuan Kaiden yang sontak membuat Ayuka tersedak. Namun akhirnya kembali tersenyum dengan anggukan perlahan yang di sambut senyum bahagia oleh tuan Kaiden.
"Baiklah, kalau begitu Ayah pulang dulu, kalian bisa melanjutkan aktifitas kalian lagi. Dan cepat berikan Ayah cucu lagi," Lanjut tuan Kaiden yang langsung beranjak dari duduknya.
"Ayah hentikan, wajah Ayuka sudah merah padam begitu," Ucap Ziyi seraya mengelus punggung Ayuka.
"Sampai jumpa lagi Yuka, besok kakak akan menjemput Yon lagi, sebenarnya kakak dan Arka punya rencana untuk mengajak Yon ke taman bermain minggu besok,"
"Iya kak, tidak masalah." Balas Ayuka tersenyum.
"Iya sudah, selamat malam Ayuka," Balas Ziyi beranjak dari duduknya dan langsung menyusul tuan Kaiden yang sudah keluar terlebih dulu.
Usai makan malam, Ayuka kembali ke kamarnya. Wajahnya kembali sumringah saat melihat senyum Radika yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil mengulurkan tangannya.
Ayuka mempercepat langkahnya dan langsung menenggelamkan tubuhnya di dalam pelukan suaminya. Kebahagiaan seolah tidak ada habisnya di dalam keluarga mereka. Setelah mereka melalui masa masa yang begitu sulit hingga masing-masing nyaris kehilangan nyawa. Kejadian itu membuat hubungan mereka semakin erat, tidak ada lagi air mata, dan kesedihan.
END
* * * * *
NEXT SEASON 2.