
Dengan wajah yang di penuhi kekhawatiran, Bibi Shu melangkah menyambut kedatangan Bian yang baru saja memasuki ruang tengah, bahkan tampa membiarkan Bian untuk duduk Bibi Shu langsung menghampiri Bian yang kini terlihat bingung.
"Ada apa Bibi Shu? kau anda nampak gelisa?" Tanya Bian saat melihat ekspresi Bibi Shu saat ini.
"Tuan... Bisakah anda membujuk nyonya muda untuk masuk ke dalam rumah? Udara Di luar sangat dingin, dan nyonya muda sudah berada di sana sejak empat jam yg lalu." Jawab Bibi Shu yang langsung mengarahkan pandangannya ke arah taman belakang rumah.
"Empat jam?"
"Iya Tuan, sejak pagi tadi nyonya muda terlihat sangat murung, bibi juga melihat nyonya muda mulai menangis, bibi takut jika terjadi apa-apa dengan nyonya muda. Tuan Arka hari ini sangat sibuk karena ada pertemuan penting di perusahaan, Bibi bahkan tidak bisa menghubunginya."
"Iya, Arka sempat menghubungi ku pagi ini. agar melihat keadaan Nyonya muda sebentar, tapi tidak ada yang mengungkit soal Tuan muda kan?"
"Tidak sama sekali Tuan." Jawab Bibi shu yang terlihat panik, begitupun dengan Bian yang siang ini kembali berkunjung ke rumah Ayuka dengan sebuah gitar di tangannya.
Dengan perlahan Bian melangkahkan kakinya mendekati Ayuka yang masih berdiri di tepi danau dengan tatapan jauh menerawang, bahkan sedikitpun ia tidak mendengar panggilan Bian yang sejak tadi memanggil namanya.
"Apa kau tidak lelah, terus berdiri di sana?
Tanya Bian perlahan saat menghampiri Ayuka yang masih berdiri sambil terus memegangi perutnya. Perlahan Ayuka mengusap air matanya yang sedari terus menetes dari sudut matanya saat baru menyadari kehadiran Bian yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.
"Aku sangat merindukannya." Gumam Ayuka perlahan yang masih berdiri di sana.
Sedang Bian hanya bisa terdiam sambil mencengkram gagang gitarnya dengan sangat keras. Hatinya seolah tercabik saat melihat kesedihan di wajah Ayuka, seolah bisa merasakan apa yang di rasakan Ayuka saat ini, bahkan tampa di sadarinya, butiran bening sudah menetes mambasahi kedua belah pipinya.
kenapa aku menjadi sangat cengeng saat melihatmu seperti ini. Batin Bian.
"Tidak lama lagi kau dan baby akan bertemu dengannya." Ucap Bian perlahan dengan senyum di bibirnya.
"Dika kecil juga pasti sangat merindukan Ayahnya? Bisakah kau membawaku kesana?" Tanya Ayuka sembari menatap wajah Bian dengan air mata yang sudah menggenangi wajahnya sambil mengusap perut buncitnya yang tiba-tiba mengalami kontraksi.
"Kita akan menemuinya saat baby kecil lahir, bersabarlah.. " Jawab Bian.
"Tapi.. Aku sudah sangat merindukannya, apakah di sana dia baik-baik saja? Apakah dia makan dengan teratur?"
"Dia baik-baik saja, percayalah." Balas Bian yang terus berusaha meyakinkan Ayuka dengan senyuman yang terulas di wajahnya, membuat Ayuka sedikit tenang sambil mengusap air matanya dengan menggunakan punggung tangannya.
"Kau dengar kan baby, daddy baik-baik saja, dan sebentar lagi kita akan bertemu Daddy." Gumam kecil Ayuka yang terus mengusap perutnya saat lagi-lagi ia mengalami kontraksi. Bahkan kali ini tendangan sangat bayi semakin keras hingga membuat Ayuka sedikit meringis.
"Apa kau akan menyanyikan sebuah lagu untukku dan baby?" Tanya Ayuka yang akhirnya berpinda dari tempatnya dan perlahan duduk di samping Bian yang langsung mengangguk sambil tersenyum.
Jemari lentik Bian mulai memetik senar gitarnya dan mulai menyanyikan sebuah lagu untuk Ayuka yang terlihat nampak menikmatinya. Dan entah mengapa, suara merdu Bian mampu menenangkannya saat ini, meski dalam lubuk hatinya ada rasa sakit dan gelisah yang entah di sebabkan apa. Sebab dengan tiba-tiba saja ia ingin selalu menangis saat merindukan pria yang sangat di cintainya.
cepatlah kembali Dika,
Batin Ayuka seraya melepaskan pandangannya keatas, menatap awan awan yang nampak terlihat gelap dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
* * * * *
Suara gerimis hujan terdengar sangat merdu di telinga Ayuka yang malam ini sedang berdiri tepat di depan jendela kamarnya, sambil memandangi tetesan air hujan yang tengah berjatuhan dari ranting pohon maple.
"Dika,"
Guman Ayuka sambil mengusap perutnya yang sejak tadi berkedut dengan pergerakan aktif dari sang bayi yang pasti akan terus bergerak jika sang ibu menyebutkan nama sang ayah ataupun melihat foto sang ayah, dan hal itu cukup membuat Ayuka merasa tidak nyaman.
"Baby tidurlah.. Ini nyamankan?"
Ucap Ayuka sambil meraih baju sweater suaminya dan menutupi perut buncitnya. Aroma dari sang Ayah cukup membuat sang bayi tenang dan berhenti bergerak.
"Apa baby juga merindukan daddy? Maafkan ibu, karena untuk saat ini ibu belum bisa membawa baby untuk bertemu daddy." Guman Ayuka yang terus mengusap perutnya lembut.
"Apa baby sudah tidak sabar ingin melihat ibu? Pasti baby juga sudah tidak sabar kan untuk melihat wajah Daddy? baby pasti akan setampan daddy. Baby sehat terus ya.. Biar kita bisa bertemu Daddy saat baby keluar nanti."
Gumam Ayuka yang terus mengulas senyum manis di wajahnya, rasa rindu, bahagia, dan sedih menjadi satu. Dengan perlahan Ayuka meraih boneka Cat putih yang selalu berada di tempat tidurnya dan langsung merebahkan tubuhnya, entah mengapa, saat memeluk boneka itu hati Ayuka bisa menjadi lebih tenang, namun belum lama Ayuka memejamkan matanya, tiba-tiba suara Kriuk di perutnya membuatnya terjaga.
"Apa babby lapar lagi?" Ucap Ayuka sambil mengusap lembut perutnya.
Bahkan tidak menunggu lama, Ayuka langsung beringsut turun dari tempat ternyamannya dan langsung melangkah pelan keluar dari kamar tidurnya menuju ke pantry. Namun dengan tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat tidak sengaja indra pendengarnya mendengar sesuatu yang berasal dari ruang tengah.
"Bibi Shu.. Ada apa dengannya?" Gumam Ayuka menghentikan langkahnya sambil terus mengamati Bibi Shu yang sedang berbicara lewat ponsel, bahkan Ayuka sempat khawatir saat melihat ekspresi Bibi Shu yang terlihat sangat sedih dengan mata yang berkaca.
"Apa yang terjadi?" Gumam Ayuka yang langsung melangkah menghampiri Bibi Shu yang sepertinya belum menyadari kedatangan Ayuka yang kini sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk dengan tubuh yang bergetar.
"Apa nyawa Tuan Dika sudah tidak bisandi selamatkan lagi?"
Tanya Bibi Shu kepada seseorang di sebrang sana dengan suara bergetar menahan tangis, begitupun dengan Ayuka yang masih berdiri di tempatnya dengan air mata yang sudah mengalir deras, nafasnya seolah tercekik, hingga membuatnya merasa sangat sesak saat mendengarkan semua pembicaraan Bibi Shu yang entah dengan siapa.
Dengan sekuat tenaga, Ayuka kembali melangkahkan kakinya yang sudah tidak bertenaga lagi, langkahnya terseok dengan pandangan yang mulai kabur, hingga ia harus memegangi beberapa benda di sana untuk membantunya agar tidak terjatuh.
"Pembohong.. kalian membohongiku.. kenapa.. kenapa kalian tega membohongiku.. kenapaaa... " Gumam Ayuka dengan air matanya yang langsung membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.
"Aaarrrggggg.. "
Teriak keras Ayuka bersamaan dengan suara keras dari suatu benda yang beradu dengan lantai keramik.
"Aaaarrrggg... Diikaaaaaa... "
Tangisan pilu Ayuka terdengar memenuhi ruang kamarnya yang sontak membuat semua penghuni di rumah tersebut terkejut dan langsung merasa panik.
Pukul 21:30
Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dilonggarkan dasi yang masih menempel di kerah bajunya.
"Apa yang terjadi, Ayuka.. kau baik-baik saja kan?" Gumam Arka yang sudah terlihat sangat panik saat 15 menit lalu ia menerima telfon dari Bibi Shu, jika Ayuka dalam kondisi tidak baik. Bahkan Arka langsung menghubungi Bian agar bergegas ke rumah untuk melihat kondisi Ayuka.
"Tidak.. aku mohon.. jangan pernah melakukan hal bodoh, kau masih memiliki kakak,"
Arka yang terus bergumam sambil menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam hingga mobil benar-benar melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dan tidak berselang lama mobilnya sudah berhenti tepat di depan pintu masuk rumahnya, bahkan tampa mematikan mesin mobilnya, Arka terus berlari masuk kedalam rumah. Hatinya semakin gelisah saat mendengar suara tangis Ayuka.
"Bian Apa yang terjadi?" Tanya Arka panik sambil memutar knop pintu kamar Ayuka yang terkunci dari dalam.
"Yuka sepertinya sudah mengetahui tentang keadaan Dika saat ini." Jawab Bian yang sontak membuat Arka semakin panik.
"Apa? Tapi dari mana dia mengetahui?"
"Aku belum mengetahuinya."
"Yuka... Tolong buka pintunya." Panggil Arka sambil terus mengetuk pintu kamar itu, sedang Ayuka masih terus menagis memanggil nama Radika. Tubuh Arka seketika bergetar dengan air mata yang tiba-tiba saja menitik di sudut matanya.
"TIDAK... KENAPA KAKAK TEGA MEMBOHONGIKU.." Teriak Ayuka dengan tangisnya dari dalam kamarnya yang sontak membuat Arka semakin takut.
"Ayuka sayang.. Kakak akan menjelaskan semuanya, tapi kakak mohon buka dulu pintunya.. "
"TIDAAAK.... KALIAN TEGA... AAARRRHHHH.... "
terdengar suara jeritan dari dalam kamar itu yang sontak membuat mereka yang berada di luar kamar merasakan panik, hingga tampa aba-aba Arka langsung mendobrak pintu kamar tersebut, dan hanya dalam satu tendangan saja langsung membuat pintu itu terbuka lebar.
Arka berlari menghampiri Ayuka yang tengah mengerang sambil memegangi perutnya menahan sakit, hingga keringat membasahi tubuh Ayuka yang sudah bergetar menahan sakit bersamaan dengan cairan bening bercampur darah yang tiba-tiba merembes keluar hingga membuat Arka semakin ketakutan.
"Aahh kk.. Sakit kak.. Hikkssss.. Sakit... "
Jerit Ayuka sambil mencengkram kuat tangan Arka yang sudah sangat panik saat melihat begitu banyak darah di atas tempat tidur Ayuka.
"BIBIIII SHUUUU.... PERAWAAAT LIIIING..... " Teriak Arka panik sambil terus memeluk tubuh Ayuka yang masih mengerang kesakitan.
Hingga 15 menit kemudian terdengar mobil ambulance, dan terlihat beberapa perawat yang langsung memasang alat oksigen ke hidung Ayuka. Arka mengangkat tubuh Ayuka ke atas brankar dan tidak berselang lama mobil ambulance melaju menuju rumah sakit.
* HOSPITAL
Arka berjalan mondar mandir di depan kamar persalinan rumah sakit sambil sesekali mengusap wajahnya kasar. Dua jam berlalu sejak Ayuka masuk kedalam ruang bersalin tersebut hingga sampai sekarang belum ada kabar apapun.
"Arka tenanglah," Ucap Bian perlahan saat melihat Arka terus mondar-mandir di hadapannya.
"Bagaimana aku bisa tenang sekarang Bian, kondisi Yuka sedang tidak stabil sekarang, aku takut dia akan kembali..... "
"Arka.. Yuka akan baik-baik saja, dia sangat menyayangi bayinya, dia pasti akan berjuang demi kehidupan bayinya."
Balas Bian mencoba menenangkan Arka yang masih nampak gelisah.
"Bertahanlah.. Kakak mohon bertahanlah.. Jangan pernah tinggalkan kakak." Gumam Arka seraya memejam. Mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Hingga terlihat pintu kamar bersalin terbuka, bersamaan dengan dokter yang melangkah mendekati Arka.
"Dokter... "
"Selamat Tuan Arka, ibu dan bayi selamat."
"Me.. Mereka selamat? Jadi.. Aku sekarang.. Bian aku sudah menjadi seorang paman sekarang.. " Teriak Arka kegirangan.
"Iya Tuan, nyonya muda dalam keadaan sehat, begitu juga putranya." Balas Dokter tersebut dengan senyum yang ikut terkembang di bibirnya.
"Terimakasih Dokter, apa saya boleh melihat mereka sekarang?" Tanya Arka.
"Silahkan." Jawab Dokter Daniel tersenyum lebar sambil menepuk pundak Arka yang terlihat sangat bahagia saat ini.
"Kau lihat kan Bian, aku seorang paman sekarang." Ucap Arka bahagia yang membuat Bian hanya mengangguk pelan saat melihat reaksi Arka.
"Iyaa.. Selamat paman Arka, anda sudah sangat tua sekarang." Balas Bian mengangguk pelan, rasa lega dan bahagia menyelimuti hati Bian.
"Kau sudah bekerja sangat keras Yuka, aku harap kehadiran si little Boy bisa melupakan semua kesedihanmu." Batin Bian dengan perasaan lega dan bahagia di hatinya.
Sedang di dalam kamar VIP nampak Ayuka yang tengah menimang bayi kecilnya dengan senyuman di bibir pucatnya.
"Welcome my little Boy, Dika kecil Mommy, Mommy sangat menyayangimu."
Guman kecil Ayuka seraya mengusap pipi lembut sangat bayi yang masih nampak merah. Air matanya kembali menetes saat menatap wajah mungil sang bayi, betapa ia sangat merindukan Ayah dari Si bayi saat ini.
"Baby sangat mirip daddy." Bisik Ayuka yang terus mencium pipi sang bayi yang masih memejam.
"Selamat sayang.. Sekarang Kau sudah menjadi seorang ibu." Ucap Arka yang tengah berdiri di depan pintu dengan senyum yang seolah tidak pernah luntur di wajahnya.
"Kakak."
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Arka sambil melangkah menghampiri Ayuka yang masih mengusap wajah mungil bayinya.
"Iya.. Aku baik-baik saja sekarang."
"Yuka.. Maafkan kakak, kakak tidak bermaksud untuk menyembunyikan keadaan Tuan Dika selama ini, kaka harap kau bisa memahami tentang ketakutan kakak selama ini, juga kondisi kamu saat itu."
"Aku mengerti kak, maafkan aku, sebab selama ini sudah membuat kakak sangat khawatir."
"Dan soal Tuan Dika.. "
"Aku tau..."
"Yuka... "
"Kak.. aku ingin kembali ke Panthouse itu lagi."
"Maksudnya? Ke Panthouse kalian?"
"Iya.. baby pasti akan bahagia jika berada di sana karena merasa lebih dekat dengan ayahnya."
"Tapi.. Apa kau akan baik-baik saja?" Tanya Arka dengan raut wajah khawatir.
"Hmm.. Aku akan baik-baik saja, dan.... "
"Dan??"
"Aku akan terus menunggu Dika.. Aku yakin, Dika akan kembali suatu saat nanti."
"Yuka.. Kau tau sendiri Tuan Muda sudah..."
"Dia akan kembali untuk menemui anaknya," Balas Ayuka dengan tangisnya, tubuhnya bergetar sambil memeluk bayinya yang juga ikut menagis dengan sangat kencang, seolah bisa merasakan perasaan sedih ibunya saat ini.
"Baiklah.. Kalian akan kembali di sana,"
Ucap Arka yang mulai khawatir saat melihat Ayuka mulai menangis, bahkan ia juga merasa panik saat melihat bayi kecil yang tengah berada di dalam pelukan Ayuka ikut menangis.
"Kakak hanya ingin kau dan bayimu bahagia, itu saja. jika dengan menunggunya akan membuatmu merasa bahagia, maka lakukanlah," Lanjut Arka lagi mengusap pucuk kepala Ayuka dengan lembut.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.