
Mobil Arka yang melaju dengan kecepatan tinggi, menembus dinginnya malam di kota X. Tidak ada percakapan di sana, hanya suara deru mobil yang terdengar halus menyapa pendengaran mereka masing-masing.
Ayuka yang masih nyaman dengan kediamannya hanya bisa menatap keluar jendela mobil, memandangi jejeran pohon yang di terpa angin malam yang berhembus. Sedang Arka masih tetap fokus dengan kemudinya, hingga 54 menit berlalu, Mobil mereka sudah terparkir tepat di dalam garasi rumahnya.
Tampa mengucapkan satu katapun Ayuka melangkah masuk ke dalam rumahnya, menaiki anak tangga dan langsung menuju ke kamarnya, hingga langkah kakinya seketika terhenti saat ia mendengar Arka memanggil namanya, dan tampa berpaling sedikitpun Ayuka mematung di depan pintu kamarnya sambil menunggu Arka yang tengah menghampirinya dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Hmm, Yuka tidak apa-apa."
"Tapi kau nampak tidak baik, kakak benar benar menghawatirkan mu." Balas Arka seraya menangkup wajah adiknya, dan di sana ia dapat melihat dengan jelas, nampak mata yang begitu sembab menghiasi wajahnya, bahkan sejak beberapa jam lalu Arka sudah tidak melihat senyum di wajah adiknya.
"Kau sudah berjanji untuk tidak menangis, tapi apa yg kau lakukan sekarang?"
"Kak Arka, Yuka baik-baik saja."
"Kau sedang tidak baik baik saja Yuka, kau menangis tersedu disana, sendirian, kau bahkan tidak berbicara satu katapun. kakak melihat semuanya, apa itu yang kau sebut baik-baik saja?" Balas Arka, sedang Ayuka hanya bisa tertunduk dalam diam, meremat tali tas yang di kenakannya, sambil berusaha keras untuk tersenyum, meski saat ini ia tidak punya keberanian untuk menatap wajah kakaknya.
"Yuka hanya merasa kelelahan kak, dan soal tadi Yuka menangis, itu karena Yuka bahagia, sebentar lagi Yuka akan menikah dengan pria yang sangat Yuka cintai." Balas Ayuka dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Arka terdiam sejenak sambil menatap nanar adiknya yang sedang berusaha menunjukkan bahwa dia baik baik saja.
"Apa kau yakin, jika keputusan yang sudah kau ambil bisa membuatmu bahagia?" Tanya Arka perlahan.
"Iya kak, Yuka sudah memikirkannya. Yuka hanya butuh Doa juga sebuah dukungan dari kakak, sebab hanya itu yang Yuka butuhkan saat ini."
"Kenapa kau malah memilih jalan yang sukar untuk kau lalui?"
"Yuka akan mampu melewatinya, percayalah, kakak jangan lupa, Yuka adalah gadis yang cukul tangguh."
"Kakak takut kau akan lelah di tengah perjalanan."
"Maka Yuka akan terus berusaha, dan Yuka butuh dukungan kakak untuk selalu menyemangati Yuka, kakak bersedia kan melakukannya untuk Yuka?"
"Ayuka.. Kenapa kau selalu membuat kakak gelisah?" Ucap Arka lirih sambil meraih tubuh adiknya untuk di peluknya, ia dapat dengan jelas merasakan kegelisahan pada adiknya saat ini, bahkan ia yang sekarang sedang terpurukpun harus melupakan sakitnya dan kembali berdiri untuk menjadi tameng buat adiknya yang jelas lebih membutuhkannya saat ini untuk memberi semangat dan kekuatan agar adiknya tidak merasa tertekan dalam menjalani semuanya.
* * * * *
"Selamat siang Beby"
Sapa Bian yang masih berdiri di balik pintu ruangan Ayuka dengan senyuman yang tergambar di sudut bibirnya.
"Selamat siang Bian,"
Balas Ayuka dengan Senyum untuk menyambut kedatangan Bian yang langsung melangkah masuk ke ruangannya, mendudukkan dirinya di sofa. Lama Bian terdiam sambil mengamati Ayuka yang masih fokus dengan laptopnya, menatap tiap inci wajah Ayuka, mata biru, hidung mancung yang mungil, bibir tipis yang nampak manis, semua tidak luput dari pandangan Bian, hingga akhirnya ia tersenyum, saat ia baru saja menyadari betapa ia sangat merindukan sosok yang saat ini tengah duduk di hadapannya, tepat di depan matanya, bahkan Bian sudah sangat lama tidak melihat Ayuka sedekat seperti sekarang ini.
"Sampai kapan kau akan terus menatap ku Tuan Bian? dan Sepertinya kau sangat nyaman di sana."
Ucap Ayuka sambil melirik Bian yang sedikit terkejut dan langsung tersadar dari lamunannya, meskipun demikian ia tidak mempunyai niat sedikit untuk beranjak dari sana, ia lebih memilih tetap duduk dengan posisi ternyamannya.
"Aku suka dengan ruangan ini." Jawab Bian yang terus mengamati ruangan Ayuka.
"Benarkah?"
"Hem... "
"Tapi tidak mungkin kan kau disini hanya untuk mengamati ruanganku, Ada apa Bi?"
"Mengajakmu untuk makan siang."
"Tapi aku masih.... "
"Kamu bisa mengerjakannya nanti."
Lanjut Bian yang langsung beranjak dari duduknya, melangkah mengintari meja kerja Ayuka dan begitu saja menarik tangan Ayuka yang masih duduk didepan laptopnya dengan kerjaan yang sedikit menumpuk.
"Hei... Apa yang kau lakukan, jangan seenaknya menarikku." Protes Ayuka sambil memegang tangan Bian yang tengah menarik lengannya, meskipun demikian ia tetap mengikuti langkah Bian yang sedang tersenyum saat melihat Ayuka menekuk wajahnya.
"Setidaknya biarkan aku merapikan diri dulu." Pinta Ayuka yang terus mengikuti langkah Bian yang masih menggandeng tangannya hingga mereka sampai ke lantai bawah.
"Tidak perlu Beby, kau sudah sangat cantik, jadi tidak perlu merapikan diri lagi."
"Tsk, kebiasaan.. Mau sampai kapan kau akan menggandengku? Aku masih bisa berjalan sendiri, kamu pikir aku...." Kalimat Ayuka menggantung saat kepalanya menabrak punggung Bian yang juga tiba tiba berhenti.
Mata Ayuka melebar saat melihat sosok yang tengah berdiri di hadapan Bian dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana slimfit hitamnya.
"Hai Tuan Radika, apa kabar?"
Sapa Bian menepuk pundak Radika yang hanya di balas senyum oleh Radika, sedang Ayuka masih belum beranjak dari tempatnya, ia masi berdiri terpaku di balik punggung Bian yang masih menggenggam tangannya tampa ia sadari.
"Kau sendirian? Kemana Arka?"
Tanya Bian lagi yang ia yakin Ayuka juga pasti ingin tau ke mana kakanya yang biasanya selalu bersama Radika kemanapun pria itu pergi.
"Sedang menghadiri rapat penting."
Jawab Radika sambil melirik jam tangannya. Sesaat netranya mengarah kepada Ayuka yang masih terdiam menatapnya, hanya ada senyum tipis yang tergambar dari sudut bibir Radika hingga akhirnya ia kembali fokus kepada Bian.
"Apa aku mengganggu acara kalian?" Tanya Radika lagi.
"Ahh tidak juga, aku hanya akan makan siang dengannya." Jawab Bian tersenyum seraya meraih pundak Ayuka untuk kemudian di rangkulnya.
"Iyakan Beby?"
Tanya Bian kepada Ayuka yang sudah terlihat nampak tegang, ia meremat jari jari tangannya, sambil mencoba untuk melepaskan diri dari rangkulan Bian, namun saat melihat sikap acuh Radika yang tidak bereaksi apa-apa saat melihat calon istrinya dalam rangkulan sahabatnya membuat Ayuka merasa terluka, sikap ketidak pedulian Radika sungguh membuatnya ingin menjerit.
"Baiklah, biar aku kembali lain waktu saja," Balas Radika yang bersiap untuk beranjak pergi.
" Hei mau ke mana Tuan muda?
Sepertinya ada hal penting yg ingin kau bicarakan padaku, ada apa?" Tanya Bian yang bisa menebak maksud kedatangan Radika di Cafenya tersebut, apalagi saat melihat raut wajah Radika yang nampak penuh dengan kegelisahan.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita makan siang bertiga."
Tawar Bian yang sontak membuat mata Ayuka melebar sempurna dan langsung menatap kearah Radika yang hanya mengangguk setuju, lalu tatapannya kembali tertuju kearah Bian yang sedang tersenyum menatapnya.
'Sebenarnya apa yang kau pikirkan Tuan muda, tidak kah kau merasa canggung?'
Batin Ayuka yang masih larut dalam pikirkannya hingga tampa ia sadari jika Bian kembali menggenggam dan menarik tangannya meninggalkan Cafe tersebut, lalu di susul juga oleh Radika yang mengikuti langkah mereka dari belakang. Radika yang tidak mengeluarkan satu katapun hanya bisa menatap tangan Bian yang dengan erat menggenggam tangan Ayuka saat mereka menyebrangi jalan dengan kening yang menyatu.
Hingga 5 menit berlalu, Mereka sampai ke restaurant steak yang tidak jauh dari Cafenya, lalu menempati tempat duduk ternyaman, di pojok samping sebuah jendela. Bian menarik sebuah kursi yang terletak di sampingnya untuk Ayuka, lalu Radika sendiri duduk tepat di hadapan mereka berdua. Tampa melepaskan pandangannya, Radika terus mengamati Radika yang mulai melihat menu dan memesannya buat Ayuka juga buat dirinya sendiri.
"Steaknya tidak perlu di kasih lada, dia tidak menyukai lada, begitupun dengan kentang, gorengnya jangan terlalu lama, dan satu lagi, jus Alpukatnya bisa di tambah susu coklat yang banyak." Terang Bian pada pelayan Restoran tersebut, yang sempat membuat Radika terkesima. sebab sejak awal kedatangan mereka di restoran tersebut Radika terus melihat sikap manis dan perhatian Bian kepada gadis yang sebentar lagi akan ia nikahi itu, dan hal itu cukup membuatnya canggung.
'Seharusnya Bian yang kau cintai, bukan aku, dia bahkan mengetahui semua tentang dirimu, sedang aku... '. Batin Radika yang masih terus memperhatikan gerak gerik keduanya dengan tatapan tajamnya. Menyadari akan tatapan Radika pada mereka berdua kembali membuat Ayuka merasa tidak nyaman.
"Oh iyaa.. Kalian sudah saling mengenal satu sama lain kan?" Tanya Bian seraya menatap Ayuka dan Radika secara bergantian, yang hanya di balas anggukan pelan oleh Ayuka.
"Hmm, cukup dekat, meskipun tidak sedekat dirimu."
Jawab Radika kembali menatap Ayuka sambil memutar mutar Ponsel yang ada di tangannya, seolah benda pipih itu sudah menjadi mainan yang menarik buatnya saat ini.
"Benarkah? Aku pikir kalian tidak saling mengenal, karena aku perhatikan dari kemarin juga kalian hampir tidak pernah saling menyapa."
"Apa kau ingin aku dekat dengannya?"
Tanya Radika asal yang tatapannya masih fokus ke arah Ayuka.
"Hei hentikan, dia tidak boleh dekat denganmu, gadis sebaik Ayuka tidak pantas di permainkan olehmu."
"Benarkah?" Tanya Radika dengan senyum smirknya.
"Sebaiknya kau belajar dulu bagaimana cara mencintai seorang wanita Tuan Muda."
"Tsk, aku tidak akan melakukannya."
Balas Radika dengan wajah datarnya, sambil terus menatap Ayuka yang masih terdiam sejak tadi.
"Sebentar lagi aku akan menikah."
Ucap Radika menatap mengalihkan pandangannya ke arah Bian,
"Benarkah? waooww..secepat itukah? Bukankah kau tidak menginginkan wanita......"
"Uuhhuukk.." Ayuka tiba-tiba tersedak saat meneguk air mineral, yang sontak membuat Bian menghentikan kalimatnya dan langsung mengusap lembut punggung Ayuka.
"Apa kau tidak apa apa?"
Tanya Bian yang terus mengusap punggung Ayuka yang masih terus batuk sambil meraih sebuah tisu untuk menyeka sudut bibir Ayuka yang basah terkena air.
"Aku tidak apa apa Bi," Jawab Ayuka perlahan sambil mengusap dadanya.
"Berhati-hatilah, apa itu masih terasa sakit?" Tanya Bian yang terlihat nampak khawatir karena melihat wajah Ayuka yang memerah.
"Tidak, aku tidak apa apa." Jawab Ayuka sedikit memelankan suaranya.
"Ahh syukurlah." Balas Bian merasa lega, hingga tampa mereka sadari jika sejak tadi Radika terus mengawasi mereka dan hal itu cukup membuat Ayuka merasa risih.
"Meskipun aku tidak menyukai wanita itu, tapi mau tidak mau aku harus menerimanya." Balas Radika yang kembali membuat Ayuka tertunduk sambil terus meremat jarinya. Bahkan ia tidak pernah mengira jika Radika sendiri yang malah mengumbar tentang pernikahan mereka.
'Bukankah Anda tidak menginginkan pernikahan ini, tapi kenapa Anda sendiri yang justru mengumbarnya.'. Batin Ayuka yang kembali meneguk air mineralnya.
"Bersikaplah baik kepada calon istrimu Tuan Muda, kau sudah diberikan seorang wanita yang aku yakin pasti dia sosok yang sempurna, meskipun kau tidak menginginkannya. Tapi setidaknya kau harus mensyukurinya, karena di luar sana ada yang sangat menginginkan sebuah pernikahan, tetapi ia belum bisa mendapatkan hati wanita yang sangat di cintainya." Ucap Bian dengan wajah seriusnya. Untuk sesaat Radika terdiam, ia menatap jauh keluar jendela.
"Aku takut wanita itu akan terluka olehku."
Balas Radika kembali menatap Ayuka, tatapan tajam yang ia tunjukkan sejak tadi berubah menjadi tatapan sendu. Meski hanya berlangsung selama beberapa detik sampai Radika kembali memalingkan pandangannya ke tempat lain. Dan mereka pun kembali melanjutkan makannya. Hingga 15 menit berlalu.
"Aku harus kembali ke kantor."
Ucap Radika seraya melirik jam tangannya. Ia beranjak dari duduknya, begitupun dengan Ayuka dan Bian.
"Semua akan baik baik saja Tuan Muda, kau tidak perlu mencemaskan pernikahanmu, aku malah jadi penasaran, wanita seperti apa calon istrimu."
Balas Bian yang tidak menyadari jika ada yang merasa gelisah mendengar perkataannya saat ini, Ayuka kembali menggigit bibir bawanya, dan gerak-geriknya saat ini membuat Radika menarik sudut bibirnya ke atas.
'Sepertinya kau belum memberitahu Managermu kalau akulah calon suamimu.'
Batin Radika yang kembali menatap wajah gugup Ayuka.
"Kau akan mengetahuinya dengan cepat, Terimakasih atas makan siangnya."
Balas Radika beranjak pergi meninggalkan mereka berdua, ia terus melangkah keluar tampa mempedulikan beberapa pasang mata dari pengunjung wanita yang tengah menatapnya sambil mengagumi ketampanannya.
"Sepertinya kita juga harus kembali."
Ucap Bian menatap Ayuka dengan senyumnya yang terlihat tampak begitu menawan.
"Bi.. Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu."
"Hal penting?" Tanya Bian mengernyit saat ia melihat ekspresi serius dan gugup dari wajah Ayuka.
"Ada apa Beby?"
* * * * *
* TO BE CONTINUED.