I Still Want You

I Still Want You
Amnesia. * HOSPITAL.



"Aka,"


"Zizi, kau di sini?"


"Hmm"


"Ada apa? Bukannya kau harus bersiap? sebentar lagi kalian akan berangkat?" Tanya Arka terlihat lemas.


"Aku hanya ingin bertemu denganmu." Jawab Ziyi tersenyum, namun senyum itu tidak berlangsung lama, wajahnya kembali terlihat muram, saat menatap Radika yang masih terbaring di atas tempat tidur dengan beberapa alat bantu pernapasan di wajahnya juga di bagian dadanya. Untuk sesaat Ziyi menarik nafas dalam dan pandangannya kembali di arahkan ke wajah Arka yang masih terdiam di tempatnya.


"Apa Dika akan baik-baik saja jika berjauhan dengan Yuka?" Tanya Ziyi perlahan.


"Entahlah Zi," Jawab Arka yang terlihat nampak ragu.


"Meski dalam keadaan tidak sadarkan diri, tapi mereka saling membutuhkan, meskipun hanya sekedar saling berdekatan saja." Balas Ziyi yang hanya bisa membuat Arka terdiam.


"............... "


"Aka.. "


"Aku mengkhawatirkan kondisi Tuan Muda, begitu juga dengan Ayuka, Tuan muda bahkan tidak memberikan respon sedikitpun. Ini Untuk yang pertama kalinya aku merasa sangat takut dengan fikiran negatif ku. Apa Tuan muda akan....." Arka menghentikan kalimatnya, seolah berat baginya untuk mengeluarkan kata-kata yang sudah beberapa hari ini menumpuk di otaknya.


"Aka.... Aku tau, tapi aku selalu yakin, suatu saat Dika pasti akan bangun lagi."


Balas Ziyi yang berusaha lebih tegar lagi, namun ia tidak bisa menyembunyikan air matanya. Ia kembali terisak sambil membelai wajah Arka yang nampak memerah menahan tangis. Ziyi yang berdiri tepat di hadapan Arka yang masih duduk sedikit membungkukkan badannya dan mengecup pucuk kepala Arka lembut, kemudian merapikan rambut Arka yang terlihat sangat berantakan, lalu kembali mengusap wajah itu. Arka meraih tangan Ziyi yang masih menempel di wajahnya untuk di genggamnya.


"Saat berada di sana nanti... Jagalah kesehatanmu." Ucap Arka perlahan yang masih menggenggam tangan Ziyi erat.


"Iyaa.. Dan aku pasti akan sangat merindukanmu dan Yuka." Balas Ziyi tersenyum tipis.


"Iya, aku tau.." Balas Arka tersenyum dengan anggukannya.


"Benarkah?"


"Hmm"


"Aka, jika suatu saat nanti aku tidak kembali, apakah... " Ziyi menghentikan kalimatnya, ada perasaan sedih di hatinya yang sangat sulit untuk ia sembunyikan.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Arka sembari menatap wajah Ziyi tajam.


"Tidak... Tidak apa-apa." Balas Ziyi menggeleng pelan.


"Ada sesuatu yang ingin aku berikan kepada Ayuka, tunggu sebentar." Lanjut Ziyi yang langsung melepaskan genggaman tangan Arka lalu berjalan menuju nakas yang berada di samping tempat tidur Dika, dan mengambil sebuah kotak kecil. Untuk di berikan kepada Arka.


"Boneka?"


Tanya Arka saat membuka kotak tersebut, dan mendapati sebuah boneka Cat berwarna putih.


"Berikan ini kepada Yuka, aku menemukan ini di kamar Dika, aku yakin boneka itu di beli untuk di berikan kepada Yuka." Ucap Ziyi.


"Ini akan membuat Yuka bahagia, karena aku yakin ini adalah hadiah pertama yang di berikan Tuan Muda untuk Yuka, mengingat hubungan mereka selama ini tidak berjalan dengan baik."


"Iya.. Aku tau.." Balas Ziyi tertunduk, sampai akhirnya suara langkah dari beberapa perawat dan Dokter Rafindra mengejutkan keduanya, lalu di susul oleh Tuan Kaiden dan Ken. Dan selang beberapa menit nampak beberapa perawat menghampiri tubuh Radika, memeriksa beberapa alat untuk memastikan semua terpasang dengan benar di tubuh Radika, kemudian menyelimuti tubuh Radika sebelum memindahkan tubuh itu ke atas brankar.


"Helikopter sudah menunggu di atas, dan akan berangkat 5 menit lagi." Ucap Tuan Kaiden kepada Ziyi yang langsung mengangguk pelan.


"Baik Ayah." Jawab Ziyi sembari meraih telapak tangan Radika yang terasa dingin untuk di genggamnya erat.


"Ayah akan menemui menantu Ayah sebentar." Lanjut Tuan Kaiden lagi.


Merekapun langsung mendorong brankar tersebut menuju ke lantai atas menggunakan lift khusus. Hingga 5 menit kemudian nampak Ziyi, Arka dan Bian yang baru saja keluar dari kamar Ayuka untuk berpamitan menyusul para perawat yang membawa brankar ke atas.


Sementara tuan Kaiden melangkahkan kakinya perlahan mendekati menantunya yang masih terbaring di tempat tidurnya.


"Maafkan Ayah, Ayah tidak bermaksud untuk memisahkan kalian, Ayah hanya ingin Dika segera sembuh dan kalian bisa bersama lagi." Ucap tuan Kaiden seraya menggenggam telapak tangan menantunya dengan mata yang mulai terlihat memerah.


"Kau harus lekas bangun, Dika membutuhkanmu, sekali lagi maafkan Ayah," Lanjut Tuan Kaiden, ia pun beranjak meninggalkan kamar Ayuka dan langsung menuju lantai atas.


Hingga 10 berlalu, Arka menatap helikopter yang membawa Radika dan lainnya sudah menjauh dari pandangan mereka, yang hanya dalam hitungan menit sudah menghilang di antara pekatnya malam di kota X tersebut. Angin malam kembali menyapa tubuh mereka yang masih saling terdiam. Arka memejam, pandangannya mulai berkabut, perasaan takut dan sedih kembali menyelimuti hatinya. Ia terdiam sejenak, menarik nafas dalam untuk mengatur perasaannya.


"Kita tinggal menunggu keajaiban dari Tuhan, Dia akan baik-baik saja, Tuan Dika akan di tangani Dokter Ahli di sana."


Ucap Dokter Rafindra seraya menepuk-nepuk pundak Arka, seolah paham dengan apa yang ada di dalam pikiran Arka saat ini.


"Saya harap juga seperti itu." Balas Arka mengangguk pelan.


"Arka, aku pulang sekarang, besok aku akan ke sini lagi, apa kau baik-baik saja?" Tanya Bian menghampiri Arka yang masih menatap langit pekat di atas sana.


"Iya aku baik-baik saja, pulanglah. Kau juga butuh istirahat." Jawab Arka perlahan.


"Hmm.. Jangan terlalu banyak pikiran, kau bisa sakit."


"Iyaa aku tau, Terima kasih Bian," Balas Arka mengangguk pelan dengan senyum tipis yang terukir di wajah lelahnya. Hingga selang beberapa menit, Arka melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut. memasuki kamar inap Ayuka yang masih terbaring di sana.


"Selamat malam putri tidur." Sapa Arka lembut seraya menghampiri tempat tidur Ayuka, dan kembali duduk di samping adiknya.


"Yuka.. Kau menangis lagi?"


Tanya Arka yang sedikit terkejut saat melihat air mata yang menetes dari sudut mata Ayuka yang masih memejam. Dengan perlahan Arka mengusap air mata Ayuka yang terus menetes, mengusap pucuk kepala Ayuka yang masih terbalut perban.


"Apa kau merindukannya? Dia akan segera kembali, kau tidak perlu khawatir."


Ucap Arka perlahan dengan senyuman yang bercampur dengan tetesan air matanya.


"Tuan Dika menitipkan boneka ini untukmu, dan boneka ini akan menjagamu." Lanjut Arka seraya mengambil sebuah boneka Cat berwarna putih yang terletak di atas nakas, dan meletakkan di samping Ayuka.


"Seharusnya kau bisa bangun dan melihat selucu apa dia, apa kau tidak penasaran?" Tanya Arka yang mulai mengajak Ayuka untuk mengobrol seperti yang biasa mereka lakukan untuk membuat Ayuka segera terbangun dari tidurnya, setidaknya untuk membuat Ayuka merespon kata demi kata yang mereka ucapkan.


"Apa kau tidak merindukan kakak? Sudah cukup lama kau tertidur, apa kau tidak lelah?" Tanya Arka perlahan.


"Tiap hari Bian juga selalu mengunjungi mu, bukankah dia seorang atasan yang baik, entah besok cerita apalagi yang akan dia ceritakan padamu." Ucap Arka tersenyum.


"Yuka.. Sekarang Tuan Dika juga sedang berjuang untuk hidup, dan dia pasti sangat membutuhkanmu sekarang." Ucap Arka lagi dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba terlihat sedih.


"Apa kau tidak merindukannya?" Tanya Arka seraya menyandarkan dagunya di pinggiran tempat tidur Ayuka sambil terus bercerita. Hal yang selalu ia lakukan selama hampir dua minggu ini, menemani Ayuka sambil menceritakan banyak hal, berharap akan ada respon dari Ayuka kali ini, sperti terakhir kali saat Radika berada di sampingnya dan bercerita banyak hal padanya. Bahkan Arka bisa melihat jari telunjuk Ayuka yang bergerak meskipun hanya sekali, ia bisa melihat air mata menetes di sudut mata yang memejam saat Radika mulai mengucapkan kata rindu.


Tapi sekarang ini, Arka sudah tidak pernah melihat respon itu sejak Radika juga mengalami koma dan tidak berada di samping Ayuka. Namun kali ini Arka kembali melihat Ayuka kembali meneteskan air mata bersamaan dengan perginya Radika meninggalkan Negara ini.


* * * * *


Satu minggu berlalu sejak kepergian Radika ke Belanda. Bian yang saat ini sedang bercerita banyak kepada Ayuka tiba-tiba tersentak saat melihat jari-jari Ayuka mulai bergerak, bahkan bukan hanya sekali, namun jari Ayuka bergerak berkali-kali untuk memberikan respon, begitupun dengan pupil mata Ayuka yang mulai bergerak meski kelopak matanya masih terpejam.


Dengan cepat Bian memencet tombol hijau yang berada di samping tempat tidur Ayuka untuk memanggil Dokter. Hingga dua menit kemudian Dokter Rafindra muncul dengan beberapa perawat khusus untuk memeriksa kondisi Ayuka.


Sedikit demi sedikit Ayuka mulai membuka kelopak matanya, mengedarkan pandangannya ke tiap sudut ruangan, sampai akhirnya ia meringis memegangi kepalanya.


"Yuka.. Kau sudah bangun?"


Tanya Bian perlahan seraya mendekati Ayuka yang masih terdiam menatap beberapa perawat yang berjejer di sampingnya juga Dokter Rafindra secara bergantian.


"Nyonya muda sedang berada di rumah sakit sekarang." Ucap Dokter Rafindra tersenyum. Saat melihat Ayuka kembali memegangi kepalanya dengan sedikit meringis.


"Istirahatlah dulu, Nyonya muda baru terbangun setelah hampir empat minggu terbaring tidak sadarkan diri, jangan banyak berfikir dulu." Lanjut Dokter Rafindra lagi. Sedang Ayuka masih terdiam dengan tatapan kosongnya. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya, Ayuka hanya terdiam menatap jauh keluar jendela kamarnya.


Bian segera menghubungi Arka yang saat ini masih berada di kantor. Hingga pandangannya kembali mengarah kepada Ayuka yang masih terdiam, hingga membuat perasaan Bian mulai gelisah, sebab sejak satu jam Ayuka terbangun dari komanya Ayuka tidak berbicara sedikitpun, tatapannya pun terlihat kosong, tidak ada pergerakan sedikitpun, terakhir saat terbangun Ayuka hanya memegangi kepalanya sambil meringis.


"Yuka.. Bicaralah, meski hanya satu kata, jangan terus diam seperti ini." Ucap Bian perlahan meraih tangan Ayuka untuk di genggamnya, namun tetap saja tidak ada respon dari Ayuka.


"Yuka.. " Panggil Arka yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dalam keadaan nafas yang tersengal.


"Yuka.. Kau akhirnya bangun sayang, bagimana keadaanmu?" Tanya Arka seraya menangkup wajah Ayuka yang tidak memberi respon sedikitpun.


"Yuka.. Apa.. Apa kau baik-baik saja? Ini kakak.. " Tanya Arka yang mulai terlihat panik.


"Arka, sepertinya ada yang salah dengan Yuka." Ucap Bian yang membuat Arka mengeryit bingung. Sambil menatap wajah Bian yang nampak di penuhi dengan kekhawatiran.


"Sejak terbangun Yuka tidak memberikan responnya, dia hanya terus diam, aku khawatir apa dia.. "


"Maksudnya?"


"Entahlah.. Ini hanya pikiranku saja, aku akan memanggil Dokter Rafindra untuk memeriksa kondisi Yuka." Balas Bian menepuk pundak Arka dan langsung bergegas melangkah keluar kamar tersebut.


Hingga 15 menit berlalu Bian kembali kekamar bersama Dokter Rafindra dan beberapa perawat khusus yang menangani Ayuka selama ini. Sedang Arka dan Bian menunggu di depan ruangan sambil menunggu hasil pemeriksaan Ayuka.


"Dokter Rafi, apa yang terjadi dengan adik saya?" Tanya Arka yang terlihat panik, saat Dokter Rafindra keluar dari kamar Ayuka dan langsung menghampiri Arka.


"Nyonya muda terkena Disorientasi." Jawab Dokter Rafindra.


"Apa?? Ta..tapi kenapa..."


"Arka, Disorientasi terjadi akibat penurunan kesadaran seseorang yang ditandai dengan ketidak mampuan orang tersebut untuk merespon terhadap lingkungan di sekitar mereka. dan itu yang terjadi kepada Nyonya muda saat ini." Jelas Dokter Rafindra.


"Jadi adik saya??" Gumam kecil Arka yang hampir mengeluarkan air mata.


"Dia akan baik-baik saja Arka, hanya untuk saat ini nyonya muda belum bisa mengenali keadaan sekitar, seperti orang, benda, waktu, dan juga tempat."


"Adik saya mengalami amnesia?" Tanya Arka yang masih percaya.


"Tepatnya seperti itu, nyonya muda mengalami hilang ingatan jangka pendek." Jelas Dokter Rafindra yang langsung membuat Arka terdiam untuk sesaat, tubuhnya merosot kebawah, menyandarkan dirinya pada dinding rumah sakit, sambil mencengkram rambutnya dengan kedua tangannya.


"Arka, tenanglah.. Ini hanya sementara."


Ucap Dokter Rafindra seraya menepuk-nepuk pundak Arka, sedang Bian yang sudah sejak tadi mendengar percakapan mereka hanya bisa pasrah sambil menatap ke dalam ruangan di mana di sana nampak sosok Ayuka yang hanya duduk terdiam menatap keluar jendela.


Arka menatap adiknya dengan tatapan nanar, ternyata penderitaan adiknya masih belum berakhir begitu saja. Meski akhirnya Arka bisa merasa lega dengan keadaan Ayuka yang menderita amnesia, setidaknya Ayuka akan melupakan Radika untuk sementara waktu.


"Yuka.. Tidurlah, besok kita akan pulang ke rumah, apa kau bahagia?" Tanya Arka sambil menggenggam tangan adiknya yang hanya terdiam.


"Yuka.. Mungkin kita bisa jalan jalan ke tempat favorit mu, kakak yakin, pasti kau sudah merasa bosan kan di sini? Yah, ini sudah sebulan. Kau pasti merasa bosan." Lanjut Arka tersenyum sambil merapikan rambut Ayuka yang sedikit berantakan.


"Tidurlah.. Besok kita akan pulang." Ucap Arka seraya merebahkan tubuh adiknya, lalu menutupinya dengan selimut sebelum mengecup pucuk kepala Ayuka lembut.


Belum sempat Arka beranjak dari duduknya, tiba-tiba ia kembali mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar.


"Dokter Rafi," Seruh Arka beranjak dari duduknya dan lansung melangkah menghampiri Dokter Rafindra.


"Apa nyonya muda sudah tidur?" Tanya Dokter Rafindra seraya mengalihkan pandangannya ke arah Ayuka.


"Iya, baru saja."


"Arka, ada sesuatu yang akan aku sampaikan, ini tentang kondisi nyonya muda." Ucap Dokter Rafindra dengan wajah yang terlihat serius.


"Ada apa?"


"Sekarang nyonya muda sedang mengandung, dan usia kandungannya sudah menginjak tiga minggu." Ucap Dokter Rafindra yang membuat Arka terkejut.


"Apa... Apa?"


"Iya, saya sudah memastikannya, bahkan saya melakukan pemeriksaan sebanyak dua kali untuk memastikannya, dan hasilnya tetap positif." Jawab Dokter Rafindra lagi.


"Tapi kondisi Yuka sekarang sangat tidak memungkinkan, kondisinya tidak mengharuskannya untuk hamil, bahkan dia.... "


"Saya mengerti dengan apa yang kau khawatirkan Arka, memang sulit, bila dilihat dari kondisi nyonya muda sekarang ini, tapi kita tidak punya pilihan lain." Jelas Dokter Rafindra.


Arka mengusap wajahnya kasar, untuk sesaat ia terdiam menatap Ayuka yang sedang tertidur pulas.


"Yuka.. Apa kau bahagia? Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu." Batin Arka menarik nafas dalam.


"Arka, kau tidak perlu khawatir, saya sudah menyiapkan beberapa perawat khusus untuk memantau kondisi nyonya muda, menjaga dan membantu nyonya muda di masa kehamilannya." Ucap Dokter Rafindra.


"Terima kasih Dokter Rafi."


"Iya, dan sebaiknya kau lekas memberi tahu kabar bahagia ini kepada Tuan Kaiden, sebab berita bahagia ini bisa jadi sangat berguna untuk membantu mempercepat kesembuhan tuan Dika."


"Semoga saja, tapi apakah itu akan berhasil, sementara kondisi tuan muda sekarang ini semakin hari semakin memburuk, aku khawatir.. " Balas Arka.


"Kita hanya perlu berdoa, kemungkinan untuk kesembuhan Tuan muda memang hanya 10 persen saja, tapi itu tidak menutup kemungkinan kan Tuan muda akan sadar kembali, selama ia masih punya kesadaran meskipun hanya sedikit, Tuan muda masih punya harapan untuk hidup." Ucap Dokter Rafindra lagi berusaha untuk meyakinkan Arka.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.