
Saat membuka pintu kamar, kebahagiaan yang teramat besar langsung di rasakan oleh Ayuka seketika itu juga. Dan hal itu nampak terlihat jelas saat senyum terulas di bibirnya ketika pandangannya tertuju pada kedua sosok kesayangannya yang sedang tertidur dengan sangat pulas di sana.
Dengan perlahan Ayuka menghampiri tempat tidur dan mendaratkan pantatnya di pinggiran tempat tidur sambil menatap kedua pria besar dan pria yang bertubuh mungil sedang terlelap secara bergantian, mengusap rambut mereka satu persatu dengan senyum yang masih tergambar di wajahnya, senyum yang seolah tidak pernah luntur dari wajah Ayuka.
"Anak Mommy bahagiakan sekarang, karena sudah bisa memeluk daddy sepuasnya," Gumam Ayuka perlahan seraya mengusap punggung putra kecilnya yang tengah tertidur pulas di atas dada bidan Ayahnya yang juga sedang terlelap.
"Terimakasih sayang, karena kau sudah kembali untukku dan putra kita," Bisik Ayuka mengusap lembut rambut suaminya yang terurai turun menutupi dahinya, sambil terus menatap wajah suaminya, wajah yang sangat ia rindukan sejak dulu.
Aku pikir akan kehilanganmu selamanya, dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana Yon akan tumbuh tampa dirimu, tapi sekarang kau benar-benar kembali, apa kau tahu, bagaimana bahagianya aku saat ini,
Ayuka yang terus menatap wajah suaminya, bahkan tidak menyadari, jika air matanya kembali menitik membasahi kedua belah pipinya.
"Apa kau begitu merindukanku Honey?"
Gumam Radika dengan suara beratnya sambil sedikit membuka matanya. Bahkan matanya melebar sempurna saat melihat mata sembap istrinya. Dengan perlahan Radika mengulurkan tangannya sembari mengusap air mata yang masih tersisa di sudut mata Ayuka.
"Apa aku membangunkanmu?" Tanya Ayuka perlahan.
"Hmmm.. Kau membangunkanku dengan aroma tubuhmu," Jawab Radika dengan senyum tipisnya.
"Benarkah?"
"Benar, aroma tubuh yang sangat aku rindukan, dan membuatku jadi ingin menikmatinya sekarang juga." Balas Radika dengan senyum tengilnya yang membuat Ayuka menarik nafas dalam.
"Yaakk.. Sejak kapan anda jadi mesum seperti ini tuan Dika?" Tanya Ayuka sembari menyedekapkan tangannya.
"Sejak aku sadar jika selama ini aku ternyata sangat mencintaimu, aku jadi selalu ingin memilikimu." Jawab Ayuka sambil membelai wajah istrinya, dengan tatapan intens. perlahan ia mengusap bibir istrinya dengan menggunakan ibu jarinya, sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Aku ingin... "
"Ssssttt.. Kau bisa membangunkan putra kita," Sela Ayuka yang langsung menempelkan telunjuknya kearah bibir Suaminya yang tampa terduga langsung mengecup jari lentik istrinya.
"Aakkhh.. Hentikan sayang tidurlah, hem?"
"Aahhhh.. Aku benar-benar tidak bisa menahannya Honey."
"Kita masih punya banyak waktu, malam ini biarlah Yon memelukmu sampai pagi," Rayu Ayuka.
"Tentu saja honey, tapi bisakah kau mendekat sebentar?" Pinta Ayuka saat dirinya tidak bisa bergerak sebab ada tubuh mungil di atas dadanya yang masih terlelap bahkan semakin erat memeluk tubuhnya. Perlahan Ayuka menundukkan wajahnya untuk mengikuti keinginan suaminya.
"Ada apa?"
Cup,
Tanpa basa basi Radika langsung menarik tengkuk leher istrinya dan langsung menciumi bibir istrinya lembut.
"Bukankah aku pernah berkata, jika kau sangat manis honey?" Bisik Radika kembali menciumi bibir istrinya hingga beberapa menit. Merekapun saling melepaskan ciuman masing-masing saat di rasakan tubuh mungil Ryeon mulai bergerak tidak nyaman.
"Aahh.. Sepertinya kita harus melakukannya lain waktu," Bisik Radika seraya mengusap bibir lembut istrinya yang basah oleh salivanya.
"Sebaiknya kau persiapkan dirimu honey, aku sudah lama menahannya, dan jika saatnya tiba, aku ingin bermain seharian penuh denganmu." Timpal Radika yang seketika membuat jantung Ayuka berdebar dengan sangat kencang.
"Baiklah.. Sekarang istirahatlah, kau pasti sangat kelelahan duduk berjam jam di pesawat."
"Hmmm.. Aku memang sangat lelah hari ini, tapi aku masih sanggup melakukannya dengan..... "
"Dika... Aku tau... Kita akan melakukannya nanti, sampai kau puas, tapi untuk malam ini istirahatlah dulu, kau baru pulih, dan masih butuh istrahat yang cukup." Sela Ayuka yang di balas tarakin nafas kasar oleh Radika yang sedikit cemberut.
"Baiklah honey, sekarang kau juga tidur ya?"
"Iyaa sayang," Jawab Ayuka mengangguk pelan sambil menciumi dahi suaminya, dan perlahan ia pun naik ke atas tempat tidur, tepat di samping suaminya, memiringkan tubuhnya agar ia bisa dengan leluasa menatap wajah suaminya.
Rasa bahagia tergambar jelas di wajah Ayuka, bagaimana tidak. Ini adalah malam uang pertama kalinya ia bisa tidur di samping suaminya, bisa menatap wajah suaminya, mendengarkan detak jantung dan nafas suaminya, ia bahkan bisa menyentuh dan merasakan kehangatan dari suaminya.
"Aku mencintaimu honey,"
Bisik Radika seraya mengusap pucuk kepala istrinya, sambil merentangkan tangan kanannya agar Ayuka bisa menjadikan lengan kekar itu sebagai bantal, dan tangan kirinya untuk memeluk tubuh mungil putranya.
* * * * *
"Morning Honey,"
Sapa Radika perlahan saat melihat Ayuka menggerakkan tubuhnya dari balik selimut, sambil mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk lewat tirai jendela. Senyum kecil terulas di bibirnya saat pertama kali membuka mata dan langsung melihat wajah suaminya yang sudah sejak tadi terus menatapnya.
"Morning sayang,"
Balas Ayuka dengan suara seraknya seraya membelai lembut wajah suaminya, hingga beberapa kecupan mendarat tepat di dahi, pipi, dan bibirnya.
"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Ayuka perlahan saat ia kembali membenamkan wajahnya di dada bidan suaminya, menghirup aroma yang khas dari tubuh suaminya.
"Hmm tentu saja, selama ini aku tidak pernah merasakan tidur selelap ini," balas Radika mengusap pucuk kepala istrinya dan menghirup aroma sampo yang terasa manis dari surai istrinya yang masih terlihat sedikit berantakan.
"Benarkah? Mungkin karena Yon kita memelukmu saat tidur,"
"Tentu saja, dan juga karena kau berada di sampingku," Balas Radika yang langsung berbalik dan mengecup pipi gembul putranya yang masih terlelap di balik selimut.
Dengan perlahan Radika menyelusup masuk kedalam selimut dan entah sejak kapan ia sudah berada di atas tubuh istrinya dan langsung menciumi bibir istrinya berkali-kali.
"Sayang.. apa yang akan kau lakukan?"
"Honey... Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?" Ucap Radika dengan suara beratnya, dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
"Sayang.. Kau lupa, pagi ini kak Arka akan kemari untuk menjempmu, bukankah kau akan ke perusahaan hari ini?" Tanya Ayuka perlahan.
"Benar juga, aisshh seharusnya aku tidak ke perusahaan dulu hari ini," Balas Radika sedikit kesal seraya membating tubuhnya sendiri ke samping.
"Baiklah.. Aku akan segera membuatkan sarapan untuk kalian, sebaiknya kau tetap disini sampai Yon bangun," Ucap Ayuka mengusap pucuk kepala suaminya dengan senyuman yang sungguh membuat suaminya manjadi semakin ingin memakannya.
"Sayang.. apa kau mendengaku?" Tanya Ayuka sekali lagi.
"Iya sayang.. " Jawab Radika mengangguk pelan dengan wajah lesu.
"Padahal aku ingin tubuhmu honey untuk menu sarapanku pagi ini, astagaaaa.. Ini membuatku sakit kepala." Gumam Radika seraya memegangi sesuatu di bawah sana yang sudah sangat mengeras, sambil kembali menarik selimut dan memeluk tubuh putranya.
Sementara di lantai bawah, Ayuka masih sibuk dengan masakannya yang sebentar lagi akan selesai.
"Molning mommy.."
Terdengar suara sapaan Ryeon yang mengejutkannya, dengan sedikit membalikkan tubuhnya,Ayuka tersenyum manis saat melihat Ryeon yang juga tersenyum dengan sangat lebar di dalam gendongan Ayahnya.
"Morning anak mommy,"
Balas Ayuka sambil mengusap rambut Yon yang masih nampak berantakan. Dengan gemas Radika mengecup pipi Ayuka yang lansung di sambut tawa oleh Ayuka sambil mengusap wajah sang suami.
"Duduklah dulu, sebentar lagi sarapannya siap," Ucap Ayuka yang di sambut antusias oleh ayah dan anak tersebut. Dengan sabar Radika dan Ryeon duduk di kursi masing-masing untuk menunggu sarapan mereka sambil terus bernyanyi, bahkan terdengar juga suara tawa Ryeon saat Radika mulai menggelitiki perut putranya, menciumi wajah putranya berkali-kali hingga membuat Ryeon semakin tertawa karena merasa geli. Dan suara tawa itu membuat suasana pantry jadi terdengar ramai oleh suara ayah dan anak tersebut. Hingga 10 menit berlalu, Ayuka membawa beberapa sarapan untuk dua pria kesayangannya.
"Wuuaaww.. Telima aci mommy," Seru Ryeon kegirangan saat mendapatkan sarapan dengan menu favoritnya yang setiap harinya di siapkan oleh Ayuka untuknya.
"Waahh ini keliatan sangat enak, bukankah begitu Yon?" Puji Radika sembari memegangi garpunya sambil tersenyum dan merekapun mulai memakan sarapan masing-masing sampai habis.
Dan 30 menit berlalu, nampak Radika yang sudah terlihat tampan seperti biasa dengan stelan jas lengkapnya. Dan dengan telaten Ayuka membantu untuk memasangkan dasi suaminya.
"Kau terlihat tampan hari ini,"
Puji Ayuka tersenyum sambil mengusap jas suaminya lembut, merapikan rambut suaminya dan mengecup dahi suaminya.
"Terimakasih honey, pokoknya malam ini kita harus...... "
"Daddyyyyyy.... "
Teriak Ryeon yang tiba-tiba langsung berlari menghampiri Radika, memeluk kaki ayahnya dengan bibir manyunnya yang terlihat lucu.
"Anak Daddy, sini sayang," Radika meraih tubuh putranya untuk di gendongnya.
"Daddy mau pelgi ya?" Tanya Ryeon saat melihat Ayahnya yang sudah terlihat nampak rapi.
"Iya sayang, Daddy akan ke perusahaan. Kan Daddy harus kerja."
"Yon mau ikut daddy," Rengek Ryeon dengan mata yang mulai berkaca sambil memeluk tubuh ayahnya dengan sangat erat.
"Yon sayang.. Daddy tidak akan lama kok, Yon di rumah saja yah sama mommy,"
Bujuk Ayuka sambil mengusap punggung putranya yang bahkan mulai terisak.
"Daddy tidak akan lama kok, sebentar...."
"Jangan pelgiiiii hhuaaaaaa.... " Tangisan Ryeon pecah, yang sontak membuat Radika panik, dan terus memeluk putranya dengan sangat erat sambil mengusap punggung putranya yang sesegukan.
"Jangan menangis jagoan Daddy, cup.. Cup.. " Rayu Radika berusaha untuk menenangkan putranya, sedang Ayuka yang melihat hal tersebut hanya bisa menarik nafas dalam dengan senyum sambil mengangkat kedua bahunya.
"Sepertinya Yon tidak ingin kau pergi," Ucap Ayuka.
"Apakah aku harus membatalkan semuanya? aku akan menelfon Arka sekarang,"
"Tidak perlu, Kau hanya perlu membujuknya saja, mungkin Ryeon masih takut jika kau akan meninggalkannya," Balas Ayuka yang paham dengan pikiran dan ketakutan Ryeon.
Sebab sejak kedatangan Radika, Ryeon selalu menempel kepada Ayahnya, semenitpun Ryeon tidak pernah jauh dari Ayahnya, dan jika beberapa menit Ryeon tidak melihat Ayahnya, anak itu akan mulai panik dan mencari keberadaan Sang Ayah.
"Yon.. Daddy tidak akan pernah meninggalkan Yon lagi, Daddy janji," Bisik Radika yang masih memeluk tubuh putranya erat.
* * * * *
* KZR GRUP.
Pagi ini suasana di dalam kantor tidak seperti biasa, selain semua karyawan dari KZR Grup berkumpul di loby lantai bawah untuk menyambut kedatangan presdir mereka yang hampir setahun berada di Belanda. Di sana juga ada pemandangan yang tidak biasa, yang di mana Presdir mereka tengah berjalan sambil menggendong putranya dengan tangan yang memegang sebuah tas baby blue dan boneka Cat berwarna putih milik putranya.
"Selamat pagi Tuan Zaferino."
Sapa semua karyawan secara bersamaan menyambut presdir mereka yang hanya tersenyum dan mengangguk sambil terus melangkah masuk kedalam lift bersama Arka di sampingnya dan juga ke empat pengawal yang selama ini sudah menjadi pengawal Ryeon di belakang mereka menuju ke ruang kerja yang sudah sangat lama di tinggalkannya.
Dan tentu saja pemandangan tersebut menarik perhatian beberapa awak media yang menyadari kedatangan orang terpenting di perusahaan tersebut, dan langsung meliput moment kebersamaan seorang presdir KZR Grup bersama Sang buah hati yang juga untuk pertama kalinya terlihat oleh para awak media dan sebagian masyarakat yang sudah sejak lama penasaran dengan sosok Ryeon, seorang cucu pertama pengusaha ternama di Negri ini. Meski mereka melakukannya secara tersembunyi, mengingat Ryeon yang baru pertama go publik dan tidak terbiasa berhadapan dengan awak media, membuat Radika membatasi para media untuk mendekati mereka.
Dengan perlahan Ryeon mendudukkan putranya ke atas sofa yang terletak di tengah ruang kerjanya sambil membenarkan topi Ryeon yang terlihat sedikit miring.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Arka yang sedikit keterangan sambil menghampiri mereka dan langsung mengelus pipi chubby kemenakannya.
"Yon bersikeras untuk ikut, jadi aku bawah saja dia kemari," Jawab Radika.
"Mungkin Yon masih merindukan anda,"
"Iyaa Arka, aku mengerti. Selama ini aku sudah cukup lama meninggalkannya,"
Balas Radika seraya meraih tubuh putranya dan menaruh tubuh kecil itu dalam pangkuannya.
"Apa yon senang sekarang?" Tanya Arka mencolek hidung mancung Ryeon buang langsung mengangguk.
"Iya angkel.. Yon cenang bisa cama daddy," jawab Ryeon seraya memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Ya sudah sayang, tapi jangan nakal nakal yah, kasian Daddynya," Balas Arka tertawa gemas.
"Iyaa angkel.. Yon janji, tapi mommy mana?"
"Sebentar lagi mommy akan menjemput Yon, dan kita akan ke cafe paman Bian,"
Sambung Radika seraya mengusap kepala putranya.
"Benalkah? Yyeeiii.. Yon uda lindu cama angkel Bian," Seru Ryeon nampak bahagia. Sedang Radika hanya tertawa gemas melihat tingkah lucu putranya.
"Ya sudah, Ryeon main di kamar yah?" Lanjut Arka menggendong kemenakannya dan membawanya ke dalam ruang pribadi Radika yang di sana sudah terdapat banyak mainan.
"Ada apa? Apa anda sakit?"
Tanya Arka yang baru keluar dari kamar dan menemukan Radika yang tengah menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memijat tengkuk lehernya.
"Tidak, aku hanya sedikit pusing." Balas Radika yang masih memejamkan matanya.
"Saya akan menelfon Dokter Rafi," Ucap Arka yang terlihat panik dan langsung meraih ponselnya.
"Tidak perlu, ini bukan pusing seperti apa yang kau pikirkan," Balas Radika masih memejam.
"Maksud anda?"
"Sampai hari ini, aku belum mendapatkan jatah dari istriku," Jawab Radika santai yang sontak membuat Arka tersedak. Sungguh presdirnya tidak perna berubah sedikitpun,
"Dan kepalaku pusing sekarang,"
"Biar malam ini yon tidur bersama saya tuan," Ucap Arka perlahan yang membuat Radika langsung membenarkan posisi duduknya.
"Benarkah? Kau akan menginap di kerumah malam ini?" Tanya Radika antusias yang di balas anggukan oleh Arka.
"Terimakasih Arka, setidaknya aku butuh waktu semalaman untuk menyelesaikan semuanya," Balas Arka dengan seringaiannya yang membuat Arka kembali tersedak dengan liurnya sendiri saat mendengar kata kata frontal dari presdirnya yang sekarang nampak bersemangat, berbeda dengan beberapa menit yang lalu.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.