I Still Want You

I Still Want You
Kunjungan sang kakak ipar.



* PANTHOUSE RADIKA.


Malam dingin di awal bulan Januari, masih di Panthouse Radika yang sejak tadi masih terlihat sepi, seolah tidak berpenghuni. Radika sengaja menolak keinginan Tuan Kaiden untuk mengirim beberapa pelayan di Panthouse miliknya, sebab dengan sikap Radika yang tidak ingin kenyamanannya terganggu cukup menjadi alasannya. Bahkan Tuan Kaiden tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menuruti keinginan sang putra.


Sejak siang tadi saat pertama kalinya Ayuka menginjak Panthouse Radika suaminya, hingga empat jam berlalu, Radika masih belum juga kembali ke kamarnya. Ayuka terjaga dari tidurnya. Jam sudah menujukan pukul enam sore, dan perut Ayuka mulai berbunyi, ia teringat seharian ini ia hanya makan sepotong Sandwich saat sarapan bersama keluarga suaminya di Mansion utama.


"Haruskah aku memasak sesuatu untuk makan malam," Gumam Ayuka yang langsung beranjak dari tidurnya dan melangkah menuju pantry. Untuk sesat matanya tertuju ke arah ruang kerja suaminya yang masih tertutup rapat.


"Apa dia masih kerja?" Gumam Ayuka, tanpa mebuang waktu lagi, ia pun bergegas ke pantry dan mulai memasak untuk  menyiapkan makan malam suaminya.


"Kau sedang apa?"


Tanya Radika yang sontak membuat Ayuka terkejut, sebab tampa di sadarinya Radika sudah berdiri di belakangnya sambil membuka kulkas untuk mengambil air mineral.


"Aku sedang memasak untuk makan malam kita, makanlah."


"Aku tidak lapar." Tolak Radika.


"Tapi aku sudah memasaknya... "


"Kau bisa makan sendiri kan?" Balas Radika melangkah meninggalkan Ayuka yang hampir menangis, dan berusaha sekeras mungkin untuk menahan rasa kecewanya, sambil melepas apronnya Ayuka menatap meja yang sudah tertata rapi dengan berbagai macam menu makanan yang ia masak sejak sore tadi.


"Apa dia tidak menyukai menu ini? Haruskah aku memasak yg lain?"


Gumam Ayuka yang masih terdiam di kursi makan sambil menatap makanan yang sudah mulai dingin.


"Bagaimana aku akan menghabiskan ini semua?" Gumamnya Ayuka mulai mengunyah makanannya sambil sesekali menatap pintu ruang kerja suaminya yang kebetulan tidak jauh dari meja makan, berharap suaminya akan keluar dan menemaninya untuk makan malam, bahkan sampai makanan yang di piringnya habis, ia sama sekali tidak melihat bayangan suaminya.


Setelah menghabiskan makan malamnya Ayuka meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat pada kakaknya, dan selang 3 menit saat ia mendapat balasan teks dengan bergegas Ayuka kembali memakai apronnya, membuka kulkas, dan mengambil bahan makanan yang menjadi menu favorit Radika dan mulai memasak.


"Kata kak Arka ini makanan kesukaannya, Aku harap dia menyukainya"


Gumam Ayuka dengan senyum bahagianya saat melihat semua menu masakan yang sudah ia masak. Usai menata makanannya di atas meja, Ayuka melangkah menuju ruang kerja suaminya, lama ia berdiri di depan pintu, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu.


Tok... Tok... Tok...


Perlahan Ayuka membuka pintu itu, pandangannya langsung tertuju pada suaminya yang masih fokus dengan laptopnya.


"Ada apa?" Tanya Radika saat ia menyadari kedatangan istrinya, tampa mengalihkan pandangannya yang masih fokus pada layar laptopnya.


"Makanlah dulu, aku sudah menyiapkan makanan kesukaan Anda."


"Aku belum lapar." Balas Radika singkat.


"Tapi seharian ini Anda hanya makan Sandwich, itupun..... "


"Aku tidak lapar."


"Tapi Anda bisa sakit kalau... "


"Kenapa kau tidak mendengarku? Bukannya sudah aku katakan, aku tidak lapar?" Tanya Radika dengan nada yang mulai meninggi hingga membuat Ayuka sedikit tersentak.


"Maaf... "


"Keluarlah.." Perintah Radika dengan tatapan tajamnya.


"Baiklah.. Maafkan aku." Balas Ayuka sedikit membungkuk, sebelum akhirnya ia kembali melangkahkan kakinya.


"Bisakah kau menutup pintu itu sekarang?" Ucap Radika saat Ayuka berada di depan pintu ruangan tersebut.


"Iyaa.. " Dengan mata yang mulai berkabut Ayuka bergegas menutup pintu ruang kerja suaminya, dan melangkah pergi dengan air mata yang mulai menitik dari sudut matanya, air mata yang sejak tadi di tahannya dengan susah paya akhirnya keluar juga dengan derasnya.


"Tidak.. Aku tidak boleh menagis, ini hanya masalah sepele, dia hanya tidak lapar, bukannya tidak suka dengan masakanku."


Gumam Ayuka yang dengan cepat mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya sambil tersenyum untuk menyemangati dirinya sendiri dan langsung berjalan menuju kamarnya, terus melangkah ke arah balkon untuk menenangkan pikirannya, angin malam langsung menyambut dan menyapa wajah lembutnya yang menengadah sambil menatap bintang yang berjejer rapi di permukaan langit yang gelap.


"Kak Arka,"  Panggil Ayuka dalam gumanannya. Tiba tiba Ada rasa rindu yang menyelimuti hatinya yang terasa kosong. Lama ia berdiri di sana, hingga rasa dingin menyergap tubuhnya.


Ayuka menghela nafas panjang, melangkah perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, merilekskan tubuhnya dengan berendam. 15 menit berlalu Ayuka usai dengan mandinya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bahkan rasa lelah tidak mebuatnya harus menunggu waktu lama untuk terlelap.


* * * * *


Pukul 05:30 pagi


Ayuka terbangun dari tidur lelapnya, sesekali ia nampak mengerjapkan matanya, mencari sosok yang seharusnya saat ini berada di sampingnya.


"Apa dia tidak tidur di kamar ini lagi?"


Gumam Ayuka terus menatap sisi kanan ranjangnya yang kosong. Hanya bisa menghela nafas dalam, ia beranjak dari pembaringannya dan kembali duduk di tepi ranjang menatap tiap sudut ruangan yang terlihat begitu sepi.


"Apa hari ini dia akan mulai kerja?"


Guman Ayuka yang langsung beranjak keluar dari kamarnya. Sambil mengedarkan pandangannya di setiap sudut ruangan untuk mencari sosok Radika. Namun ia tidak menemukannya sama sekali. Wajahnya kembali terlihat murung sambil melangkah masuk ke dalam pantry dan membuat sarapan pagi untuk mereka berdua. Dan sesampainya ia di pantry, mata itu kembali tertuju pada meja makan yang tertutup tudung saji, membukanya dengan tarikan nafas dalam saat melihat makanan yang ia masak semalam masih utuh tidak kurang sedikitpun.


"Apa dia ketiduran dan tidak sempat makan?"


Gumam Ayuka yang dengan perlahan langsung membereskan makanan yang berada di atas meja tersebut, menaruhnya ke tempat sampah karena sudah tidak bisa di makan lagi.


Ayuka terdiam sejenak, menarik nafas panjang sambil menguncir rambutnya dan kembali mengenakan apronnya dan mulai menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dan 20 menit berlalu saat usai dengan semuanya Ayuka melangkah menuju ruang kerja suaminya, untuk sesaat ia tertegun di depan pintu yang masih tertutup rapat itu.


"Apa dia ketiduran di sini, pasti dia sangat lelah, bahkan tidak makan malam, bagaimana kalau dia sampai sakit."


Gumam kecil Ayuka yang seolah sedang mengajak pintu di hadapannya untuk berbicara. Sebelum tangannya mengetuk pintu itu, indra pendengarannya mendengar suara knop pintu yang terbuka, dan juga langkah kaki yang lebar, dan sangat jelas itu adalah langkah kaki suaminya.


"Apa yang kau lakukan di sana?"


Tanya Radika yang sudah berdiri tidak jauh dari tempat Ayuka sekarang dengan setelan jas lengkapnya sambil merapikan dasinya.


Radika mengarahkan pandangannya ke arah meja makan yang di sana sudah tersusun rapi menu sarapan pagi untuk mereka dan kembali menatap Ayuka yang masih menggunakan apron pink dengan rambut yang dikuncir ke atas, bahkan dengan tidak sengaja mata Radika malah tertuju pada leher jenjang istrinya yang putih. Sesaat Radika merasakan sesak, dan mulai merasa gerah, bahkan tiba-tiba mual.


"Aagghhh sial... " Umpat Radika kembali melonggarkan dasinya yang saat ini membuatnya sesaknya.


"Ada apa Tuan?" Tanya Ayuka sedikit panik saat melihat suaminya yang mulai berkeringat.


"Tidak apa apa." Jawab Radika yang masih berusaha menenangkan pikirannya.


"Ma.. Maaf, saya pikir Anda masih di dalam sana," Ucap Ayuka yang kembali memandang pintu kamar kerja suaminya.


"Siapa yang akan tidur di ruangan kerja?"


"Ah iya.. "


"Aku berangkat sekarang." Balas Radika dengan langkah kakinya yang perlahan meninggalkan Ayuka.


"Sarapanlah dulu, aku sudah menyiapkannya untuk Anda."


"Tidak perlu. Aku akan sarapan di kantor."


"Ta.. Tapi, saya sudah membuat..."


"Lain kali buatlah sarapanmu sendiri." Balas Radika menghentikan langkah kakinya dan kembali menatap Ayuka.


"Apa Anda tidak suka dengan masakanku? Apa saya perlu melakukan kursus masak untuk...."


"Tidak perlu." Balas Radika, bahkan tampa menunggu Ayuka menyelesaikan kalimatnya.


"Semalam aku makan di luar, dan satu hal, mulai hari ini kau tidak perlu lagi memasak untukku." Timpal Radika dan langsung melangkah keluar meninggalkan Ayuka yang masih berusaha mengatur perasaannya, Ayuka meremas ujung Apronnya dengan sangat kuat, berusaha menahan air matanya yang sudah bertengger di sudut matanya.


"Apa Anda akan terus mengabaikanku?"


Gumam Ayuka yang masih berdiri memandang ke arah pintu rumahnya yang masih terbuka lebar.


* * * * *


* KZR GRUP.


"Selamat pagi Tuan Muda."


Sapa Arka membungkuk menyambut kedatangan Radika, begitupun dengan semua karyawan yang berada di loby yang ikut membungkuk memberi hormat pada Presdir mereka yang terus melangkah ke arah lift menuju ruangannya.


"Apa Schedule hari ini?" Tanya Radika saat mereka sudah sampai di dalam ruang kerja.


"Meeting bersama dewan direksi akan di mulai satu jam lagi, pukul Dua siang Anda akan makan siang bersama dengan klien, pukul empat sore presiden direktur dari perusahaan Diamont akan berkunjung di perusahaan kita. Dan pukul delapan malam nanti Anda akan makan malam bersama Tuan kang, investor asal Cina. Dan pukul 10 malam Anda punya Party bersama dengan rekan bisnis untuk merayakan pernikahan Anda di sebuah club tempat biasa." Jelas Arka.


"Party?" Tanya Radika mengernyit.


"Iya Tuan." Balas Arka mengangguk pelan.


"Batalkan." Perintah Radika yang mebuat Arka mengernyit.


"Batalkan??" Tanya Arka sekali lagi, untuk memastikan pendengarannya.


"Hmm..." Jawab Radika singkat sambil menyandarkan tubuhnya di kursi putarnya dan memijat tengkuk lehernya.


"Apa tidak salah, Tuan muda membatalkan party, biasanya dia yang paling antusias" Batin Arka sambil mencansel janji temu Radika dengan rekan bisnisnya.


"Aku hanya tidak mood untuk melakukan party malam ini." Ucap Radika yang seolah paham dengan apa yang dipikirkan Asistennya itu.


"Apa Anda baik baik saja?" Tanya Arka sedikit cemas.


"Hem.. Aku hanya sedikit lapar."


"Lapar? Anda tidak sarapan di rumah? Baiklah saya akan membelikan sarapan untuk Anda."


"Trimakasi, dan dia..... Dia baik baik saja, bukankah dari tadi kau ingin menanyakan kabar adikmu?" Lanjut Radika lagi.


"Iyaa Tuan, terimakasih telah menjaganya," Balas Arka tersenyum lega.


"Sekali kali berkunjunglah ke sana, aku yakin dia pasti merasa kesepian di rumah sendirian." Lanjut Radika.


"Iya Tuan, dia akan baik baik saja."


"Hari ini schedule padat, sepertinya aku akan lembur, aku akan menyuruh Kak Ziyi untuk menemaninya di rumah."


"Iyaa Tuan, itu ide yang bagus, naiklah, saya akan membelikan sarapan untuk Anda." Balas Arka membungkuk lalu bergegas melangkah keluar meninggalkan ruangan tersebut.


* PANTHOUSE RADIKA.


"Selamat sore sayang."


Sapa Ziyi dengan langkah lebarnya menghampiri Ayuka yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa, dan langsung memeluknya erat, seolah ini pertemuan mereka setelah berpisah selama beberapa tahun.


"Apa kabar sayang, apa kau Baik baik saja?" Tanya Ziyi sembari menangkup wajah oval Ayuka yang hanya bisa mengangguk dengan senyum yang berbinar.


"Iya kak, aku baik baik saja." Jawab Ayuka dengan wajah yang masih berada dalam tangkupan Ziyi yang sepertinya masih ingin bermain-main dengan wajah oval Ayuka.


"Tapi kau nampak tidak baik-baik saja,"


Batin Ziyi yang langsung melepaskan tangannya dari wajah Ayuka dan mengusap rambut panjang itu saat mereka berdua kembali duduk di sofa ruang tengah.


"Selama ini Dika bersikap baik kan padamu?" Tanya Ziyi lagi.


"Ahh.. Iyaa kak, Tuan Dika sangat manis dan perhatian."


"Tuan? Yuka sayang, Dika itu suami kamu, kenapa masih menyebutnya dengan panggilan seperti itu?" Protes Ziyi yang sepertinya sedikit terkejut saat mendengar cara Ayuka menyebutkan nama suaminya.


"Tidak apa apa kak, aku sudah terbiasa dengan panggilan itu, aku menyukainya." Balas Ayuka tersenyum sbil menampakkan deretan gigi putihnya.


"Yah.. Baiklah, kakak mengerti, jika kau sendiri yang merasa nyaman dengan sebutan itu, kau boleh melakukannya, tapi kakak minta jangan sampai berlangsung lama, kau juga harus belajar sedikit demi sedikit untuk memanggil nama Suamimu dengan sebutan yang wajar." Jelas Ziyi.


"Ha? memang sebutan Yuka sekarang tidak wajar?" Tanya Ayuka yang langsung di balas anggukan cepat oleh Ziyi.


"Kau seperti sedang memanggil majikanmu, bukan suamimu." jawab Ziyi.


"Bahkan jika boleh memilih, aku lebih memilih untuk menjadi seorang pembantu yang selalu di butuhkan tiap saat, dari pada menjadi seorang istri yang tidak di pedulikan." Batin Ayuka yang masih membiarkan Ziyi membelai rambut panjangnya. Setidaknya Ayuka masih sangat beruntung, sebab hanya Radika Satu-satunya orang yang mengabaikannya.


"Hari ini kakak akan menginap disni." Ucap Ziyi sambil mengedipkan matanya.


"Benarkah?" Tanya Ayuka berbinar.


"Tentu saja, kakak sudah sangat merindukan kalian, dan kakak juga sangat penasaran, sebenarnya seperti apa keseharian pasangan pengantin baru," Goda Ziyi yang membuat Ayuka hanya bisa tersenyum hambar.


"Bukan hanya kakak, aku juga sangat ingin mengetahui bagaimana keseharian pasangan pengantin baru yang sebenarnya." Batin Ayuka lirih dengan raut wajah yang sedikit berubah, kini wajah berbinarnya seketika berubah sedih.


"Aku senang kakak di sini, padahal aku sempat berpikir akan sendirian lagi malam ini."


"Iyaa.. Sepertinya Dika akan sangat sibuk beberapa hari ini, jadi dia meminta kakak untuk menemanimu, dan sepertinya kau harus terbiasa dengan kesibukan suami kamu."


"Apa? dia meminta kak Yi untuk menemaniku? sejak kapan Tuan Dika peduli, aku akan merasa kesepian atau tidak. Batin Ayuka.


" Hei, kau melamun lagi?"


"Ah, tidak. aku mengerti, ah iya.. Aku akan memasak sesuatu untuk kakak." Jawab Ayuka menyangkal, dan langsung bersiap untuk memasak.


"Benarkah? Kau bisa masak?" Tanya Ziyi yang sepertinya kurang yakin dengan kemampuan memasak Ayuka.


"Lumayan." Jawab Ayuka singkat.


"Woww.. Dika beruntung punya Istri sepertimu, selain cantik kau juga bisa masak. Astaga, haruskah aku mulai belajar memasak darimu?"


"sepertinya, dan aku akan dengan senang hati mengajari kakak, Tapi, apa kak Yi sudah punya niat untuk menikah?" Tanya Ayuka yang membuat Ziyi terbatuk.


"Kakak tidak apa-apa?" Tanya Ayuka terlihat panik.


"Ah tidak, kakak hanya sedikit terkejut dengan pertanyaan kamu." Balas Ziyi.


"Maaf kalau aku lancang," Ucap Ayuka dengan nada penyesalan, sambil mengatupkan bibirnya.


"Astaga, kenapa kau lucu sekali Ayuka," Balas Ziyi yang langsung tersenyum sambil mencubit pipi Ayuka yang sedikit mengembung.


"Kakak belum punya niat sedikitpun untuk menikah, bahkan kekasih saja kakak.. " kalimat Ziyi menggantung, dengan mata yang di penuhi kesedihan. "sudahlah, yang intinya kau adalah istri yang sangat di idam-idamkan oleh pria manapun, dan sepertinya hanya Dika Satu-satunya pria yang sangat beruntung karena sudah memilikimu."


"Seandainya saja itu benar, seandainya saja dia benar benar merasa beruntung karena sudah memilikilu, mungkin dia tidak akan menghabiskan waktunya sendirian di ruang kerjanya." Batin Ayuka termenung dengan senyuman yang masih tersungging di bibir tipisnya.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.