I Still Want You

I Still Want You
Philophobia Radika. * PANTHOUSE RADIKA.



Tok... Tok.... Tok.....


Suara ketukan pintu kamar membangunkan Ayuka dari lamunannya, meskipun ia tidak beranjak dari posisinya untuk melihat siapa yang mengetuk pintunya, toh pintu itu sudah terbuka, dan langkah kaki Ziyi sudah terdengar jelas di telinga Ayuka.


Suasana remang dan udara dingin langsung menyambut kedatangan Ziyi saat berada di kamar Ayuka, seluruh jendela di buka begitu saja, hingga angin malam memenuhi ruangan itu, bahkan ini terlalu hening dan hanya suara dentingan jam dinding yang terdengar di ruangan itu.


Ziyi yang langsung menyalahkan lampu agar kamar tersebut sedikit lebih terang membuat Ayuka mengerjapkan matanya saat sinar lampu menyapa retinanya, dan membuatnya sedikit tertunduk.


"Kak Ziyi,"


Sapa Ayuka dengan nada suara yang terdengar pelan sambil menampakkan senyum di bibirnya yang terlihat sangat pucat.


"Sayang, apa yang sedang kau pikirkan?"


Tanya Ziyi yang langsung duduk di samping Ayuka sambil membelai rambut Ayuka yang terlihat kusut.


"Aku tidak sedang memikirkan apa-apa kak," Jawab Ayuka singkat.


"Apa kau tidak merasa bosan? Kenapa kau tidak keluar untuk menikmati musim semi?"


"Iya kak, aku akan melakukannya, tapi tidak sekarang."


"Yuka... Aku minta maaf." Ucap Ziyi dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah menjadi murung.


"Maaf untuk apa? Kakak bahkan tidak pernah berbuat salah," Balas Ayuka.


"Maaf untuk semuanya." Ucap Ziyi dengan nada suara yang penuh dengan penyesalan.


"Kak Zi.. Jangan pernah ucapkan kata itu lagi, aku tidak apa-apa, semua baik-baik saja." Jawab Ayuka seraya meraih tangan Ziyi untuk di genggamnya dan kembali tersenyum.


"Dan lagi aku juga sangat berterimakasih, karena kak Zi sudah membantuku untuk meyakinkan kak Arka bahwa... " kalimat Ayuka menggantung, dan hal itu cukup membuat Ziyi memahami apa yang akan Ayuka katakan.


"Tapi kakak tidak akan bisa terus melakukannya seperti keinginanmu. Bukannya Arka berhak tau dengan apa yang terjadi denganmu?"


"Tapi aku benar tidak apa-apa kak, sebenarnya tidak ada yang perlu di khawatirkan, aku juga sudah terbiasa dengan perlakuan Tuan Dika selama ini" Ucap Ayuka, berusaha untuk menghilangkan rasa kekhawatiran Ziyi.


"Kakak tau, tapi tidak seharusnya kau merasakan ini semua, masalah ada pada Radika yang selalu berusaha untuk menjauhkan dirinya agar tidak dekat denganmu."


"Tapi kenapa dia melakukan itu?" Tanya Ayuka dengan tatapan sedih.


"Sebab sudah sejak lama Dika menderita Philophobia." Jawab Ziyi perlahan sambil menatap Ayuka.


"Apa?? Philophobia???" Tanya Ayuka yang terlihat begitu syok dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Iya.. Sejak umur 16 tahun Dika sudah menutup diri dari siapapun, bahkan dia tidak ingin di dekati oleh siapapun, sampai sekarang, dia hanya memiliki beberapa teman. Aku pikir dia akan baik baik saja, ternyata aku salah. Dia bahkan  takut untuk jatuh cinta kepada wanita, begitupun sebaliknya. Bahkan selama ini dia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita, menyukai mereka seperti remaja pada umumnya. Dia hanya menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang. Dan sejak Ayah memutuskan untuk menikahkan kalian, Dika sangat ketakutan dan langsung menentangnya, tapi kau tau sendiri, keputusan Ayah tidak ada yang bisa menentangnya. Apalagi Ayah menggunakan Arka untuk mengancam Dika." Jelas Ziyi.


"Kak Arka?"


"Iya.. Sejak Arka menjadi Asisten pribadinya, Radika sedikit demi sedikit jadi berubah. Bisa di katakan hanya Arka yang bisa membuat Radika jauh lebih baik, dan hanya Arka yang mengetahui banyak hal tentang Dika terutama soal penyakit yang di deritanya selama ini." Jelas Ziyi lagi.


"Tapi kenapa kak Arka tidak pernah menceritakan hal ini padaku?" Tanya Ayuka yang mulai terlihat sedih.


"Bukannya tidak ingin menceritakan semuanya, tapi karena Radika yang tidak ingin orang-orang tau tentang penyakitnya. Selain Arka dan sahabatnya Bian, tidak ada lagi yang mengetahuinya bahkan Ayah sekalipun."


"Ap.. Apaa?"


"Iya.. Ayah tidak mengetahui apapun soal Philophobia yang di derita Dika selama ini, sebab sejak ibu meninggal di usia Dika yang saat itu masih berusia 5 tahun, Ayah langsung mengirim kakak dan Dika ke Belanda, hingga Dika berusia 21 tahun. Dan saat Dika kembali ke sini untuk mengambil alih KRZ Grup, Arka adalah orang pertama yang Dika kenal bahkan langsung menjadi Asistennya. Dan itu Ayah yang mengaturnya, karena Ayah pikir sikap Dewasa dan kemampuan Arka bisa menghadapi sikap Arogan Radika saat itu. Jelas Ziyi.


"........... "


"Bahkan Ayah tidak curiga sedikitpun saat mengetahui Dika yang tidak ingin menjalani hubungan serius dengan wanita. Ayah memiliki fikiran jika Dika hanyalah anak yang keras kepala, liar, yang hoby menghabiskan waktu untuk bersenang-senang." Lanjut Ziyi


"Kak Zi.. Apa yang menyebabkan Tuan Dika bisa menderita philophobia? Pasti ada penyebabnya kan?" Tanya Ayuka dengan suara bergetar.


"Iya.. Dan hal itulah yang membuat Dika sangat menderita selama ini. Percayalah.. Dika bukan pria yang jahat ataupun egois, dia hanya sedang membentengi dirinya sendiri, dan ada hal yang membuat dia selalu menderita selalu ini."


Jelas Ziyi yang membuat air mata Ayuka kembali menitik, ia meremat jari jari tangannya saat mendengar seluruh cerita dari Ziyi. Tiba-tiba saja ia merasa sudah menjadi orang yang sangat egois sebab telah menerima perjodohan itu, tanpa memperdulikan penderitaan Radika selama ini.


"Ini semua salahku,"


Gumam kecil Ayuka sambil terus meremat jari-jari tangannya hingga mengeluarkan darah akibat gesekan kuat dari kukunya, bahkan tidak sampai di situ, Ayuka kembali memukuli dadanya sebab ia mulai merasakan nafasnya yang semakin tercekik oleh kenyataan yang sungguh membuatnya sangat merasa bersalah. Dan saat melihat hal itu membuat Ziyi panik dan langsung mencengkram tangan Ayuka agar berhenti menyakiti dirinya sendiri.


"Hentikan... Apa yang kau lakukan?"


Seru Ziyi terus mencengkram tangan Ayuka. Bahkan Ziyi sempat syok saat melihat dada Ayuka yang nampak membiru keunguan.


"Apa yang terjadi denganmu?"


Tanya Ziyi seraya membuka kancing baju Ayuka, mata Ziyi membulat sempurna saat dengan jelas melihat dada Ayuka yang banyak terdapat bekas pukulan yang membiru, bahkan ia juga melihat punggung tangan Ayuka yang juga terdapat banyak luka dengan bekas cakaran jarinya sendiri.


"Sejak kapan kau melakukan ini? Sejak kapan kau sering melukai dirimu sendiri?"


Tanya Ziyi dengan nada meninggi yang penuh kepanikan seraya mencengkram sambil mengguncang kedua sisi bahu Ayuka yang hanya tertunduk dengan isakannya yang semakin terdengar.


"Apa yang telah kau lakukan pada tubuhmu? Kenapa kau melakukan ini?"


Tanya Ziyi dengan suaranya yang mulai bergetar sambil meraih tubuh Ayuka untuk di peluknya.


Jawab Ayuka dengan suara seraknya, suara tangisnya semakin terdengar pilu, ia bahkan menagis seperti seorang anak kecil.


"Tidak sayang.. Tidak ada yang salah dalam hal ini, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri." Balas Ziyi.


"Tapi Tuan Dika semakin menderita karena aku.. Bahkan aku tidak berfikir cintaku bisa membuatnya semakin tersakiti." isakan Ayuka semakin terdengar memenuhi ruang kamarnya yang hening.


"Yuka sayang.. Tenangkan dirimu, Itu semua tidaklah benar, apa yang kau pikirkan itu salah. Aku mohon, berhentilah menyakiti dirimu sendiri."


Ucap Ziyi berusaha menenangkan Ayuka, membelai punggung itu dengan lembut, membiarkannya menagis untuk menumpahkan segala kesedihan yang di simpannya selama ini, hingga ia jauh lebih tenang dan mulai berhenti menagis.


Dengan perlahan Ziyi melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Ayuka yang basah dengan mata yang terlihat sangat sembab itu, sebab sudah stengah jam Ayuka terus menagis merutuki dirinya sendiri.


"Berjanjilah padaku, kau tidak akan menyakiti dirimu sendiri lagi." Pinta Ziyi penuh harap dengan wajah memohon.


"Aku pikir Luka-luka ini bisa mengurangi sakit di hatiku. Luka ini bisa menggantikan rasa sakit di dalam hatiku. Tapi entah mengapa, semakin hari luka dan memar ini bahkan tidak terasa sedikitpun sekarang, apa yang salah denganku?"


"Yuka sayang... "


Ziyi kembali meraih tubuh Ayuka untuk di dekapnya, ia baru mengetahui ternyata selama ini Ayuka sangatlah menderita, bahkan ia sampai memilih untuk merasakan sakit di tubuhnya dari pada harus merasakan sakit di hatinya. Ayuka  yang selama ini selalu tersenyum dengan wajah yang di penuhi dengan keceriaan ternyata sedang menyembunyikan sakit yang tidak di ketahui oleh siapapun, bahkan luka yang ia rasakan selama ini bukan hanya di dalam hatinya, tapi juga di tubuhnya. Dan hal itu yang membuat Ziyi tidak berhenti menitikkan air matanya sekarang.


Bahkan sekarang pikirannya kembali tertuju pada Arka yang entah akan sesedih apa dia jika tau bahwa selama ini adik yang sangat di sayanginya ini sangat menderita.


"Istrahatlah," Ucap Ziyi seraya menangkup wajah Ayuka yang hanya membalasnya dengan anggukan pelan.


"Yuka, semua akan baik-baik saja, semua akan berubah, bisakah kau lebih bersabar lagi? Dika membutuhkan waktu untuk dapat menerima semuanya, terutama waktu untuk menyembuhkan philophobia yang di deritanya, dan kakak tau, jika saat ini ia sedang berusaha untuk sembuh." Lanjut Ziyi lagi.


"Apa Tuan Muda bisa sembuh?"


"Tentu saja Yuka, Dika pasti sbuh, meskipun kita tidak pernah tau, kapan Dika akan terlepas dari philophobianya, namun Kakak selalu berdoa, agar Dika secepatnya bisa sembuh. kau mau kan menunggunya?"


"Iya Kak, aku akan menunggunya, menunggu sampai Tuan Dika benar-benar sembuh, aku akan melakukannya." Jawab Ayuka perlahan sbil mengusap sudut matanya yang masih sembap.


"Terima kasih Ayuka, terimakasih karena sudah mau menunggunya." Balas Ziyi yang akhirnya menitikkan air matanya, dengan perlahan sambil meraih tubuh Ayuka untuk di peluknya.


Saat Ziyi meninggalkan kamarnya, ia bahkan tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun, rasa bersalah kembali mengantui pikirannya, hingga kembali membuatnya menangis dalam diam, air matanya terus menetes tampa ia sadari, bayangan wajah Radika malam itu kembali memenuhi pikirannya. Malam di mana tampa berfikir panjang ia menyetujui perjodoham itu, bahkan ia tidak melihat raut wajah Radika yang saat itu penuh dengan ketakutan juga kecemasan, dengan egoisnya Ayuka menerima perjodohan itu tampa mengetahui jika saat itu hati Radika di penuhi dengan rasa sakit dan amarah.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membayar semuanya,"


Guman Ayuka sambil berjalan menuju balkon, pandangannya jauh menerawang ke atas langit yang terlihat gelap tampa pencahayaan bintang satupun, terus hingga lamunannya terhenti saat pandangannya tertuju pada cahaya lampu mobil yang memasuki halaman Panthouse.


"Dika,"


Gumam lirih Ayuka pada sosok yang terus ia pandang dari kejauhan, sosok yang tengah berjalan dengan wajah lelahnya, dengan cepat Ayuka membalikkan tubuhnya, berniat untuk menjemput sang suami seperti kebiasaannya, namun tiba-tiba langkah kakinya kembali terhenti. Ayuka kembali melangkah perlahan untuk manatap Radika hingga bayangan itu hilang dari pandangannya.


"Maafkan aku,"


Gumam Ayuka dengan tubuh yang merosot kebawah, membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya yang ia peluk erat, bahkan mulai terisak, hingga suara langkah kaki kembali terdengar di telinganya. Dengan perlahan Ayuka menengadahkan kepalanya, menatap sosok yang kini tengah berdiri tepat di hadapannya yang masih terduduk.


Tatapan dingin dari Radika kembali ia lihat, setelah beberapa minggu, akhirnya ia bisa melihat wajah dingin itu secara dekat, meski tidak ada yang berubah dari tatapan mata itu.


"Kenapa kau selalu menangis?" Tanya Radika yang tetap pada posisinya, begitupun Ayuka yang enggan untuk berdiri, ia lebih memilih menundukkan kepalanya, agar tidak melihat tatapan tajam itu.


"Maaf.. Aku hanya sedang merindukan Ayah dan ibuku," Jawab Ayuka seraya menampakkan senyumnya, meski itu tidak berlangsung lama, namun cukup membuat ekspresi wajah Radika berubah, bahkan tangannya sempat terulur ke depan untuk mengusap kepala istrinya, namun ia urungkan, tangannya menggantung dengan perasaan yang campur aduk, sampai akhirnya Radika kembali memasukan kedua tangannya di saku celananya.


"Arka nanti akan mengunjungi mu," Ucap Radika perlahan, yang membuat Ayuka kembali menengadahkan kepalanya ke atas, menatap wajah Radika sambil mengusap air matanya.


"Benarkah?" Tanya Ayuka lagi.


"Hmm.. " Jawab Radika singkat dan langsung membalikkan tubuhnya, melangkah meninggalkan Ayuka. Perasaan Radika menjadi tidak karuan saat sekilas melihat beberapa goresan di punggung tangan Ayuka, dan dengan langkah yang semakin di percepat, Radika menuju kamar mandi untuk memuntahkan semuanya isi perutnya karena mual yang kembali menyerangnya, bukan hanya itu, tubuhnya juga sudah di penuhi keringat dingin dengan detak jantung yang meningkat drastis.


"Ahk sial.. " Umpat Radika saat ia melihat bayangan wajahnya yang sudah terlihat pucat di cermin, dan kembali mencuci wajahnya yang di penuhi oleh keringat, mengusapnya kasar, sambil menenangkan perasaannya sendiri. Hingga 15 menit kemudian Radika keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke pantry.


"Dika,"


panggil Ziyi saat melihat Radika yang baru saja keluar dari pantry dengan segelas air mineral di tangannya.


"Ada apa dengan wajahmu? apa kau sakit?" Tanya Ziyi sedikit panik saat melihat wajah pucat Radika.


"Tidak, hanya sedikit mual dan sesak." Jawab Radika yang terus melangkah menuju ruang kerjanya.


"Tapi kau terlihat begitu pucat, kau yakin baik-baik saja?" Tanya Ziyi yang masih mengikuti langkah Radika hingga di depan pintu ruang kerjanya.


"Aku kelelahan kak, hanya itu, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Jawab Radika meyakinkan Ziyi.


"Apa perlu kakak menelfon Dokter Rafi?" Tanya Ziyi yang sepertinya masih belum yakin dengan perkataan Radika.


"Tidak perlu kak, Aku hanya butuh istrahatlah,"


"Tapi.. "


"Kak, aku baik-baik saja, Oke." Balas Radika mengusap pipi Ziyi lembut dan langsung melangkah masuk kedalam ruangan kerjanya, bahkan sebelum Ziyi mengikuti langkahnya, Radika sudah terlebih dahulu menutup pintunya, hingga Ziyi hanya bisa terdiam di depan pintu ruang kerja Radika dengan perasaan khawatir.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.