
Saat usai membawa Radika ke kamar utama, Arka langsung meninggalkan kamar tersebut dan menuju sofa ruang tengah dimana disana ada Ziyi yang masih menenangkan Ayuka, namun langkah Arka seketika terhenti. Ia lebih memilih menenangkan dirinya di halaman samping. Arka menduduki kursi itu sambil menunduk menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menarik nafas dalam.
"Kakak tau selama ini kau menutupi kesedihanmu Yuka, kau menderita, dan kau menyembunyikan semuanya." Gumam Arka mengusap kasar wajahnya sambil menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran kursi.
"Jerman adalah tempat terbaikmu, kakak akan membawamu ke sana, kita akan pulang kesana." Lanjut Arka yang sepertinya sudah mengambil satu keputusan.
Sedang di dalam Panthouse, tepatnya bdi sebuah ruang keluarga, masih nampak Ziyi yang tengah memeluk tubuh Ayuka.
"Tenanglah sayang, semua akan Baik-baik saja." Ucap Ziyi lembut sambil merapikan rambut Ayuka yang nampak berantakan.
"Iya kak." Jawab Ayuka dengan suara seraknya yang sedang berusaha tersenyum untuk menyembunyikan lukanya.
"Tunggu sebentar."
Balas Ziyi beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ruang kerja Radika untuk mengambil kotak p3k. Air mata Ziyi seketika menitik dari sudut matanya. Ia bahkan tidak bisa lagi menahan tangisnya saat melihat kondisi Ayuka dan juga kondisi adiknya saat ini.
"Apa yang harus aku lakukan untuk kalian berdua, kalian sudah terlalu banyak menderita."
Gumam Ziyi yang masih terisak sambil memegang erat kotak P3K yang sedari tadi berada di tangannya. Hingga lima menit berlalu, usai melepaskan segala kesedihan yang membuat nafasnya sesak, Ziyi kembali ke ruang tengah dengan kotak itu dan langsung duduk di samping Ayuka yang masih terdiam menunduk sambil meremat ujung sweater yang dikenakannya. Perlahan Ziyi mulai mengobati luka yang berada di sudut bibir Ayuka yang nampak terdapat beberapa luka gigit di sana, ia juga mengolesi salep pada ruam keunguan di leher Ayuka.
"Kenapa dia sampai berbuat kasar seperti ini." Batin Ziyi yang masih fokus mengolesi salep di leher Ayuka, dan mulai berpindah ke bahunya yang tidak luput dari bekas gigitan Radika.
"Apa ini menyakitkan?" Tanya Ziyi perlahan.
"................. "
"Maafkan Dia," Ucap Ziyi penuh penyesalan.
"Kak Yi.. Apa dia Baik-baik saja?" Tanya Ayuka dengan suara yang masih terdengar serak.
"Hmm.. Untuk saat ini dia akan baik-baik saja, tapi..... " Ziyi menghentikan kalimatnya saat ia melihat wajah Ayuka yang sudah mulai menampakan kekhawatiran.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya, kenapa dia bisa menjadi seperti itu?" Tanya Ayuka lagi.
"Yuka... Apa kau tau penyebab Ibu kami sampai meninggal?" Tanya Ziyi perlahan seraya menatap wajah Ayuka yang hanya menggeleng pelan. Ziyi menarik nafas dalam sambil memasukkan obat ke kotak P3K lalu menaruhnya ke atas meja.
"Ibu kami meninggal karena bunuh diri."
Ucap Ziyi perlahan, sedang Ayuka yang baru saja mendengar perkataan Ziyi barusan nampak sangat terkejut, matanya membulat sempurna. tangannya menutupi mulutnya yang mengaga karena terkejut. Sebab yang ia dengar selama ini, Nyonya Adena meninggal karena sakit.
"Dan Dika orang pertama yang melihat mayat ibu." Lanjut Ziyi dengan mata berkaca.
"Tu.. Tuan Dika?"
"Iya.. Dika yang pada saat itu masih berusia 5 tahun." Balas Ziyi dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah sedih, tatapannya nanar saat menatap pintu kamar Radika yang masih tertutup rapat, dan kembali menatap Ayuka yang tidak bergeming lagi dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
"Apa kau bisa membayangkan, bagaimana perasaan anak umur 5 tahun saat melihat mayat ibunya yang tengah berlumuran darah?" Tanya Ziyi sambil mengusap air matanya.
"Sejak hari itu, Dika tidak berbicara selama beberapa bulan, dia hanya terus menangis memanggil Ibu. Dia juga tidak mau di dekati siapapun, tiap malam dia selalu bermimpi buruk, dan kembali menangis. Terus seperti itu." Ucap Ziyi mulai menceritakan semuanya.
"Saat melihat kondisi Dika, Ayah berniat untuk mengirim Dika ke Belanda, sebab Ayah berfikir, selama Dika masih berada di rumah itu, Dika akan terus menangis karena akan terus mengingat ibu. Awalnya Dika tidak menyetujui keinginan Ayah, Dika tidak ingin pergi dari rumah itu, karena dia merasa masih sering melihat ibu. Tapi Ayah tetap bersikeras untuk mengirim Dika ke Belanda. Dan kau tau kan, tidak ada yang bisa menentang Ayah saat itu."
"Lalu apa yang terjadi setelah itu? bagaimana dengan Tuan Dika?" Tanya Ayuka dengan air matanya.
"Setibanya kami di Belanda, kakak pikir Dika akan baik-baik saja, dan sudah melupakan kejadian itu, dan mulai menerima kematian ibu. ternyata kakak salah. Setiap malam Dika akan selalu menangis sambil menjambak rambutnya sendiri, dan yang lebih parahnya lagi, dia akan mulai sesak nafas dan mengeluarkan keringat dingin di seluruh tubuhnya."
"Apa separah itu?" Tanya Ayuka perlahan.
"Iya, Setelah Dokter memeriksanya, Dika di vonis menderita PTSD atau biasa di sebut Traumatic stres di solder. Menurut penjelasan Dokter penyakit itu timbul karena Gangguan stres pascatrauma. Gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa ya tidak menyenangkan. Gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis." Jawab Ziyi.
"Dan sejak saat itulah sampai sekarang, Dika tidak pernah mau mengingat masa lalu, atau mengingat Ibu. Dan untunglah, sejak Arka menjadi Asisten Dika, keadaan Dika sedikit membaik. Arka yang mengetahui semua masa lalunya adalah hal yang baik, sebab hanya Arka yang mempunyai kesabaran ekstra untuk menghadapi Dika juga mengontrol penyakit Dika. Dan Dika juga hanya akan mau menerima Arka , lebih mempercayai Arka di banding siapapun." Jelas Ziyi panjang lebar, Ayuka yang sejak tadi mendengarkan hanya terus terisak. Air matanya semakin deras membasahi wajah pucatnya.
"Lalu... philophobia itu?" Tanya Ayuka lagi seraya menatap Ziyi yang masih berusaha mengatur nafasnya. Ayuka dapat jelas melihat kesedihan yang teramat besar di mata coklat Ziyi, sebab mata yang mulai berkaca itu jelas menunjukkan kesedihan dan juga ketakutan. Dengan perlahan Ayuka meraih tangan Ziyi untuk di genggamnya.
"Dika di ketahui mulai menderita philophobia sejak umur 10 tahun, dan Philophobia itu muncul karena Trauma Dika yang pernah sekali melihat Ayah.... "
Ziyi menghentikan kalimatnya, air matanya menitik dari sudut matanya.
"Kak Yi.. Kakak tidak perlu menceritakan semuanya, aku takut kakak akan kembali mengingat masa lalu, dan akan membuat Kakak bersedih." Balas Ayuka.
"Kakak tidak apa-apa, sebab kau juga harus tau tentang masa lalu suamimu, dan semua penyakit yang selama ini membuatnya menderita. Kakak hanya tidak ingin kau jadi membencinya, karena hanya kau yang sudah membuatnya jatuh cinta."
"Jatuh cinta?"
"Iya.. Dika jatuh cinta padamu, dan hal itu yang membuatnya menderita karena Philophobia yang di deritanya. Dan hari ini saat dengan tidak sengaja dia melihat Bian memelukmu, hatinya kembali terluka karena ia kembali mengingat masa lalu, dimana ia dan Ibu melihat Ayah tengah memeluk dan mencium wanita lain."
Ayuka kembali terisak, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar sesegukan, hingga ia bisa merasakan Ziyi tengah mengusap punggungnya lembut.
"Maafkan aku kak.. Ini salah ku.. Jika saja aku..... "
"Jangan menyalahkan diri sendiri sayang." Balas Ziyi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku sudah benar-benar membuatnya sangat menderita."
"Yuka.. Tenanglah," Ziyi meraih tubuh Ayuka, kembali memeluk tubuh itu untuk memenangkannya.
"Sebaiknya kau mandi, bersihkan dirimu."
Titah Ziyi mengusap punggung Ayuka yang langsung di sambut anggukan pelan oleh Ayuka yang kini beranjak dari duduknya dan melangkah perlahan dengan sedikit meringis sambil memegang perut bawahnya yang masih terasa nyeri. Sedang Ziyi hanya bisa menarik nafas dalam saat melihat langkah Ayuka yang terlihat sedikit aneh.
"Bagaimana keadaannya?"
Tanya Arka yang tiba-tiba muncul dari halaman samping dan langsung mendudukan dirinya di atas sofa tepat di samping Ziyi tampa di sadari wanita itu. Refleks Ziyi meraih tubuh kekar itu untuk di peluknya, menenggelamkan wajahnya di dada lebar itu, dan menyamankan dirinya saat Arka mulai mengusap punggungnya lembut untuk memenangkannya.
"Apa kau lelah?" Tanya Arka perlahan yang masih mengusap punggung itu.
"Tidak." Jawab Ziyi singkat.
"Lalu? Kenapa tiba-tiba seperti ini?" Tanya Arka lagi yang masih mendekap tubuh itu.
"Aku hanya merindukan mu." Balas Ziyi sedikit berbisik dengan suara bergetar.
"Kita bahkan selalu bertemu."
"Tapi sudah lama aku tidak memelukmu seperti ini." Balas Ziyi lagi.
"Aku benar-benar sangat merindukan mu Aka,"
"Iyaa.. Aku tau."
"Teruslah seperti ini Aka," Pinta Ziyi.
"Zizi.. Kita tidak bisa seperti ini, hubungan kita.... "
"Aku tau," Gumam Ziyi lirih.
"Zizi... "
"Lima menit saja, biarkan aku memelukmu lima menit saja." Balas Ziyi semakin erat memeluk tubuh Arka, air matanya menitik dari sudut matanya, mengingat bagaimana hubungannya dengan Arka yang sangat mustahil untuk bersatu. Ziyi sesegukan di pelukkan Arka yang hanya bisa terdiam saat mengetahui Ziyi yang sedang terisak di sana. Perlahan di raihnya wajah Ziyi, di tangkupnya wajah itu lalu mengusap air mata dengan menggunakan ibu jarinya. Mendekatkan wajahnya dan perlahan mengecup bibir itu lembut selama beberapa detik.
"Aka.... "
Tatapan Ziyi terlihat nanar menatap wajah Arka yang masih menatapnya. Arka kembali mengecup bibir itu, *******, semakin memperdalam ciumannya dengan menarik tengkuk leher Ziyi.
Ziyi memejam sambil menikmati ciuman hangat Arka yang dengan lembut mencium bibirnya, Air mata Ziyi kembali menetes di tengah ciumannya, sebab ia tahu mungkin ini bisa jadi ciuman terakhir dari Arka.
Menyadari Ziyi yang sedang mengeluarkan air mata, Arka melepaskan ciumannya seraya menangkup wajah Ziyi dan menatap mata yang terlihat jelas menujukan kesedihan, kepedihan, juga kekecewaan.
"Maafkan aku.. " Bisik Arka dengan suara beratnya.
"Tidak perlu minta maaf, aku mengerti." Balas Ziyi mengangguk pelan.
"Good Girls, kau wanita yang terbaik. Aku akan selalu menyayangimu Zizi," Lanjut Arka tersenyum.
"Apa suatu saat nanti kau akan menggantiku dengan wanita lain?" Tanya Ziyi dengan suara seraknya.
"Tidak." Balas Arka.
"Kenapa?"
"Aku hanya tidak ingin melakukannya," jawab Arka yang saat ini sedang memandang keluar jendela. Bahkan ia menolak untuk membalas tatapan Ziyi yang sejak tadi menatapnya.
"Jangan pikirkan aku, kau berhak memiliki pendamping.... "
"Aku tidak akan melakukannya karena aku akan selalu mencintaimu Zizi." Balas Arka yang langsung menatap mata Ziyi.
"Aka,"
"Aku akan terus mencintaimu, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu di hatiku." Jawab Arka tegas tampa memalingkan obsidiannya dari wajah Ziyi yang kembali terisak, namun kali ini tangisnya di sertai senyum bahagia, ia merasa lega sebab Arka benar-benar sangat mencintainya. Meskipun hubungan mereka telah berakhir. Tidak ada niat sedikitpun untuk menggantikan Arka di hatinya. Seperti halnya Arka yang telah memberikan hatinya untuk tetap di genggam Ziyi, begitupun sebaliknya. Ziyi juga telah memberikan Hatinya untuk di genggam Arka.
Sedang di dalam kamarnya, nampak Ayuka yang tengah berdiri di depan kaca riasnya dengan tubuh stengah telanjang. Matanya menatap bayangannya sendiri yang nampak menyedihkan dengan bekas luka dan beberapa tanda merah di sana, bekas lebam dan gigitan.
Perlahan ia melangkah ke arah kamar mandi, menyalakan shower yang mengeluarkan air dingin tampa air hangat sedikitpun. Ayuka memeluk lututnya di dalam bhatup, membiarkan dirinya terendam air dingin, meski ia harus beberapa kali menahan rasa perih di seluruh tubuhnya. Pikirannya kembali melayang, memikirkan Radika dan semua penderitaan yang telah di laluinya, hingga sampai saat ini, penderitaan dan rasa sakit itu bahkan tidak pernah hilang sedikitpun.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu, agar kau bisa lepas dari penderitaan dan rasa sakitmu." Guman Ayuka menengadah ke atas, membiarkan air dingin itu menyirami wajahnya.
"Haruskah aku pergi,"
Ayuka kembali menangis, kali ini tangisannya terdengar sangat pilu, sesegukan, ia menangis sekeras kerasnya hingga suara tangisnya memenuhi ruangan itu. Ayuka menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha meredam rasa sedihnya.
Hingga 60 menit berlalu. Ayuka keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dan menghampiri Arka dan Ziyi yang masih duduk di sana.
"Bagaimana perasaanmu? Apa sudah membaik?" Tanya Ziyi yang langsung meraih tangan Ayuka agar duduk di sampingnya.
"Iya kak," Jawab Ayuka mengangguk pelan dengan senyum di wajahnya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Ayuka lagi sambil menatap pintu kamar Radika yang masih tertutup. Sudah dua jam berlalu, dan ia belum melihat Radika sejak tadi. Hingga perasaan cemas dan takut kembali menyelimuti Ayuka.
"Dia baik-baik saja, dia sedang tidur."
Jawab Ziyi tersenyum sambil mengusap rambut Ayuka.
"Baiklah.. Spertinya kakak harus pulang, ini sudah larut, kalian istrahat lah, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku," Ucap Arka yang langsung beranjak dari duduknya.
"Aku ikut." Balas Ayuka seketika yang langsung beranjak dari duduknya saat melihat Arka berdiri.
"Tapi sayang... " Ziyi yang terkejut atas reaksi Ayuka langsung beranjak dan menghampiri Ayuka.
"Kak Yi.. Tolong titip Tuan Diak untukku,"
Pinta Ayuka yang membuat Ziyi lagi-lagi terkejut, ia menatap Arka yang juga terlihat bingung dengan sikap Ayuka. Namun akhirnya Arka mengangguk pelan untuk menyakinkan Ziyi, bahwa semua akan baik-baik saja.
"Baiklah sayang, kakak mengerti. Tapi jangan lama-lama yah pulangnya," Ucap Ziyi seraya mengusap rambut panjang Ayuka
"Iya kak," Jawab Ayuka tersenyum seraya memeluk tubuh Ziyi erat, seolah pelukan itu adalah pelukan sebagai tanda perpisahan dari Ayuka. Bahkan Ayuka kembali menatap pintu kamar Radika.
"Aku mohon jaga dirimu, aku menyayangimu Dika," Batin Ayuka dengan air mata yang menitik dari sudut matanya, namun dengan cepat di usapnya, dan kembali tersenyum sambil melambai kearah Ziyi yang masih terlihat sedih namun tetap membalas lambaian Ayuka yang sudah menghilang di balik pintu.
Ayuka menyandarkan tubuhnya di kursi samping kemudi dengan mata yang memejam juga bibir yang terlihat bergetar, dan sangat jelas terlihat jika saat ini Ayuka sedang berusaha menahan tangisnya. Sesaat Arka menatap wajah Ayuka yang terlihat sangat tertekan. Arka menarik nafas panjang lalu mematikan kembali mesin mobilnya.
"Apa kau tidak ingin melihatnya dulu?" Tanya Arka perlahan.
"Tidak." Jawab Ayuka yang masih memejamkan matanya.
"Yuka.. "
"Dia akan Baik baik saja, kak Ziyi pasti akan menjaganya dengan baik." Balas Ziyi yang langsung membalikan wajahnya ke arah jendela kaca mobil.
"Apa kau yakin?" Tanya Arka sekali lagi.
"Iya kak." Jawab Ayuka tegas.
"Baiklah." Balas Arka mengusap pucuk kepala Ayuka dan kembali menyalakan mesin mobilnya, menginjak gas, dan mobil merekapun melaju meninggalkan kediaman Radika.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.